
Dua minggu setelah ditinggal pergi oleh istrinya, Mark dilanda rindu berat akan sosok gadis yang begitu ia cintai.
Sepulang bekerja, pria itu masuk ke dalam kamar yang biasa digunakan Ameera untuk beristirahat. Ia memandangi boneka beruang kecil berwarna coklat, meskipun warnanya sudah mulai memudar dan sebagian tubuhnya terkoyak akibat faktor usia namun istrinya masih menjaga benda kecil itu layaknya sebongkah berlian.
Terkadang pria itu sampai tertidur di ranjang, memimpikan bertemu istri dan anaknya dalam mimpi.
"Ameera!" ucapnya lirih dalam alam bawah sadar, pria itu memanggil nama istrinya.
Di dalam mimpi, pria itu bertemu anak dan istrinya. Ia menghampiri sepasang ibu dan anak berpakaian serba putih, tangannya saling tertaut satu sama lain.
Mark berjalan setapak demi setapak kakinya melangkah ke arah di mana dua orang insan manusia yang amat ia rindukan selama ini. Pria itu berdiri di belakang, saat mulutnya terbuka hendak meminta maaf perlahan-lahan kedua sosok di depannya menghilang, terbang entah kemana.
Tangannya terulur, menepuk-nepuk ruang kosong di sebelah. Menyadari tidak ada sosok Ameera di sampingnya, ia mengerjapkan mata menyesuaikan dengan sinar cahaya di dalam ruangan. Kemudian duduk menyenderkan kepala di sandaran ranjang.
Jantungnya berdegup kencang, frustasi, rindu bercampur menjadi satu membuat dadanya terasa sesak. Ia menyalahkan diri sendiri akibat perbuatannya di masa lalu membuat gadis itu pergi entah kemana.
Ia mengulurkan tangan meraih ponselnya di atas meja rias. Tangannya mencari nomor seseorang.
"Apakah kamu sudah menemukan keberadaan istriku?" tanya pria itu tanpa basa basi.
"Maaf, Tuan, saya belum mendapatkan informasi apapun. Sepertinya target sengaja dilindungi agar tak bisa dilacak oleh siapapun," ujar pria di seberang memberikan alasan agar lawan bicaranya tidak marah.
"Saya membayarmu untuk mencari Ameera bukan untuk mendengarkan alasanmu!" bentak Mark sambil melemparkan benda pipih itu ke samping.
"Sial. Mengapa Tante Aura ikut campur dalam urusan ini!" teriak pria itu, kakinya menendang selimut yang menutupi tubuhnya.
"Aku akan terus mencarimu, Meera."
Pria itu langsung bangkit dan menatap jam dinding di kamar. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, sayup-sayup Mark mendengar suara gaduh di dapur.
"Nampaknya Bi Mirna sudah datang, sebaiknya aku membersihkan diri agar perhatianku sedikit teralihkan. Lama-lama aku semakin gila jika terus memikirkan Ameera."
Kakinya yang jenjang satu per satu menyentuh lantai, dengan lesu ia keluar kamar tanpa menyapa Bi Mirna sama sekali. Tangan pria itu terulur membuka pintu kamar mandi.
Sebenarnya Mark tidak memiliki semangat bekerja semenjak kepergian Ameera akan tetapi nasib ratusan karyawan perusahaan ada di tangannya, jika ia malas-malasan bagaimana dengan nasib keluarga mereka? Sungguh egois bila pria itu mementingkan egonya sendiri dan malah mengorbankan pegawainya hanya untuk masalah pribadi.
Setelah membersihkan diri, Mark langsung berangkat ke kantor. Napsu makannya berkurang meskipun Bi Mirna memasakan makanan kesukaan tapi ia tetap tak berselera.
__ADS_1
"Hidupku seakan tak punya arah semenjak kau pergi, Meera," ujar Mark saat ia melajukan kendaraan roda empat miliknya meninggalkan halaman rumah kontrakan.
Hanya membutuhkan waktu lima menit saja, mobil itu sudah berada di parkiran khusus petinggi perusahaan. Para karyawan membungkuk hormat, menyapa saat pria itu berjalan dengan gagah dan penuh wibawa namun ekspresi wajah pria itu datar tak memberikan respon. Kebiasaannya kembali seperti semula saat ia belum bertemu dengan gadis cantik penyuka buah alpukat.
"Semua laporan ini harus segera direvisi, siang sebelum waktu istirahat semuanya sudah ada di meja!" bentak Mark pada salah satu karyawan yang bertugas memberikan laporan keuangan perusahaan.
"Tapi Tuan, saya sudah merevisinya sesuai permintaan Anda," wanita itu masih membela diri sebab baru kemarin ia diminta bosnya merubah laporan itu.
"Di sini yang menjadi bos, saya atau kamu!" tanyanya dengan mata melotot.
"Kamu sudah bosan kerja makanya membantah perintah saya. Mau dipecat!" pria itu mendorong tumpukan berkas di atas meja.
"Tidak, Tuan. Saya akan langsung merevisinya sesuai permintaan Anda."
Karyawan wanita itu segera undur diri karena ia tak mau bosnya khilaf dan malah berujung pemecatan.
"Kamu dimarahi juga oleh Tuan Mark?"
"Iya, padahal kemarin beliau memintaku merubah laporan sesuai permintaanya," keluh karyawan wanita.
"Mungkin si bos sedang PMS jadi sensi terus," celetuk salah satu dari mereka membuat seisi ruangan tertawa karena candaan rekan kerjanya tadi.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang berdiri mendengarkan keluh kesah para karyawan. Pria itu melipat kedua tangannya di dada, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan.
"Pertunjukan semakin menarik, kita lihat sampai mana usahamu mencari adikku," gumam pria itu sambil berjalan menuju ruang CEO.
"Sudah, lebih baik kita lanjutkan bekerja jika ketahuan bergosip tamatlah riwayat kita."
Suasana riuh seketika hening kembali, semua karyawan bekerja sesuai tugas masing-masing.
Pria itu langsung masuk ke dalam ruang CEO tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Hatinya berbunga-bunga mendengar suasana hati anak pendiri PT Indah Sentosa dalam keadaan gundah gulana.
"Selamat pagi adik iparku tersayang," sapa Joe. Ia langsung duduk di sofa, mengangkat kaki ke atas meja sambil bersiul.
"Nampaknya suasana hati adik iparku sedang galau. Sudah hampir gila karena belum menemukan adikku?" tanyanya sambil merogoh ponsel di saku celana.
"Lebih baik kamu keluar jika tidak ingin kena omelanku!"
__ADS_1
"Take easy bro, aku punya sesuatu dan pasti membuat moodmu bagus lagi."
"Lihatlah ini!" ia mengangkat ponselnya ke udara.
Di dalam ponsel tersebut terpampang sebuah foto seorang gadis tengah melakukan foto maternity, memperlihatkan perut buncitnya ke arah kamera namun wajahnya sengaja diblur.
Tanpa membuang waktu, pria itu beranjak dari kursi kebangaan, lututnya tak sengaja membentur ujung meja kerja namun ia tak menghiraukan rasa sakit yang tengah dirasakan hati Mark begitu senang bisa melihat kembali gadis kecil pujaannya.
"I-ini..." tangan dan bibirnya bergetar saat melihat foto dalam galeri ponsel milik sahabatnya.
Pria di sampingnya hanya melirik sekilas, sedetik kemudian ia mengalihkan pandangan ke depan. Joe memasang wajah acuh sebelum tangannya merebut kembali benda pipih persegi panjang yang memiliki banyak manfaat di era modern zaman sekarang ini.
Mark yang tengah terharu melihat pemandangan di depannya begitu terkejut saat sebuah tangan kekar merampas benda persegi panjang itu dari genggamannya.
"Hei!" teriak Mark.
"Sudah cukup kamu memandangi foto kekasihku," ucap Joe santai.
"Kekasih!" tanya pria itu sambil membelalakan mata sempurna.
"Sejak kapan kamu menjalin kasih, setahuku Joe Kurniawan sangat alergi terhadap wanita!" sindir Mark.
Ia tak terima kesenangannya diganggu oleh tangan jail si empunya ponsel. Entah mengapa akhir-akhir ini sikap Joe semakin menyebalkan dan membuatnya ingin memukul perut pria itu.
"Sialan!" maki Joe sambil tangannya meraba sofa mencari suatu benda yang bisa dilempar ke wajah pria di sampingnya.
"Jangan sembarangan bicara, jika didengar oleh karyawan reputasiku hancur!" pekiknya dengan suara melengking.
"Bodo amat!" balas Mark.
Bersambung
.
.
__ADS_1