BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
PERMINTAAN TUAN IBRAHIM


__ADS_3

Happy reading 🤗


Sebagai seorang CEO, Mark Pieter disibukan oleh berbagai agenda pertemuan dan tumpukan berkas di atas meja kerja. Ia lebih memilih menyibukan diri dengan bekerja daripada harus termenung memikirkan keberadaan Ameera. Sebab, semakin ia mengejar istrinya maka Mama Aura maupun Joe akan berada satu langkah di depan mencoba menutup semua akses sehingga pria itu menemukan jalan buntu dalam pencarian.


Seperti biasa, hari ini Mark sudah berada di kantor. Sebelum jam kerja di mulai, pria itu sudah datang dan mulai mencumbu semua laporan, berkas serta membubuhkan tanda tangannya di atas lembaran kertas berwarna putih.


Tubuhnya semakin hari semakin kurus, bahkan rambut dan jambangnya dibiarkan tak terurus. Ia terlalu sibuk dengan dunianya hingga melupakan kesehatan dan mengabaikan penampilan.


"Tuan, ada telepon untuk Anda," ujar Winda sekretaris perusahaan.


"Bilang saja saya sedang sibuk," jawab pria itu tanpa menoleh.


Mark terlalu fokus dengan layar monitor di depannya, bahkan pandangannya tak teralihkan sedikitpun.


"Tapi, Tuan..."


"Apa kamu tidak lihat saat ini saya sedang sibuk. Sudah, kembali saja ke mejamu!" kini Mark semakin meninggikan suaranya.


Winda bergeming dengan bola mata terbelalak, nampaknya wanita itu kebingungan mencari cara menyampaikan berita penting untuk sang bos.


"Tunggu apa lagi, cepat pergi dari sini!"


Wanita itu merinding melihat wajah bosnya yang sudah memerah menahan amarah, tangannya memilin ujung kemeja kerja yang ia kenakan.


"Apes sekali hari ini, pagi-pagi sudah kena omelan si Bos," gumamnya dalam hati.


"Maafkan saya, Tuan tapi ini merupakan telepon penting khusus ditujukan untuk Anda," ucap Winda memberanikan diri namun wajahnya masih tertunduk.


"Bukankah semua telepon masuk memang ditujukan khusus kepadaku!" Mark menggertakan giginya, sampai-sampai suara gertakan itu membahana memenuhi ruangan CEO dan membuat nyali wanita di hadapannya menciut seketika.


"Ini tentang Tuan Ibrahim."


Ucapan terakhir Winda membuat pria itu menautkan alis, ia menghentikan sejenak aktivitasnya, "katakan, ada kabar apa tentang Papaku!" tanya pria itu dengan nada berat.


"Tuan Ibrahim..."


Winda menghentikan sejenak kalimatnya, ia semakin keras meremas ujung kemejanya, "saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Kepala penjaga memberitahu bahwa beliau sakit parah dan Anda diminta untuk menemuinya sekarang."


Tamatlah riwayatku karena sudah menunda kabar ini dari Tuan Mark tapi ini mutlak bukan kesalahaku sebab sejak tadi beliau tidak mau mendengarkan penjelasanku.

__ADS_1


Diluar dugaan, ekspresi wajah pria itu datar tanpa ada raut cemas sama sekali bahkan terkesan masa bodo.


"Trik apa lagi yang digunakan Stevanie untuk menjeratku. Rasanya aku sudah muak dengan permainan wanita itu," gerutunya.


"Ya, kamu kembali bekerja."


Sebelum pergi meninggalkan ruangan, Winda menghela napas lega karena sudah menyampaikan hal yang seharusnya disampaikan.


"Baik, Tuan. Saya permisi dulu," wanita itu membungkuk dan berjalan menuju pintu.


Setelah mendapatkan kabar tentang Papanya, Mark langsung mengambil jasnya yang ia gantung di standing hanger. Pria itu keluar dari ruangan, meninggalkan monitor yang masih dalam keadaan menyala. Ia berjalan menuju parkiran mobil.


Setengah jam berlalu, kini Mark sudah berada di lobi rumah sakit tempat sang papa dirawat. Jarinya langsung menekan tombol lift, perlahan-lahan benda itu membawa tubuhnya naik ke atas. Saat terdengar denting pintu terbuka, ia keluar berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang nampak sepi.


"Pa," sapa Mark setelah pintu di depannya terbuka lebar.


"Kamu sudah datang, Nak."


Mark melihat sekeliling ruangan, di sana hanya ada Stevanie, kepala penjaga dan dokter yang bertugas merawat Tuan Ibrahim selama ia berada di rumah sakit.


"Iya, maaf aku baru sempat membesuk Papa."


Mark menghela napas dalam, sungguh rasanya ia ingin berlari dari ruangan itu. Berada di dekat istrinya membuat suasana tak nyaman.


"Kamu harus bersabar Mark, bukan waktunya untuk bertengkar dengan wanita itu. Redam emosimu untuk sesaat," ia mencoba memperingatkan dirinya dalam hati.


"Aku dengar Papa dirawat, memang sakit apa?"


"Loh, memangnya Tuan Mark tidak tahu bahwa Ayahanda tercinta mengidap penyakit ginjal stadium 4," tanya sang Dokter kebingungan.


"Sejak kapan Papa menderita penyakit itu?"


"Mengapa tidak memberitahuku!" lanjutnya.


"Bagaimana Papa bisa memberitahumu, Nak. Kamu selalu sibuk dengan pekerjaan bahkan sekarang tidak punya waktu walau hanya 10 menit untuk menegokku di villa."


Terdengar helaan napas panjang dari pria muda itu, sungguh ia tak menyangka bahwa Papanya menginap penyakit ginjal stadium 4 yang artinya kondisi ginjal sudah rusak dengan tingkat sedang atau parah.


Pada kasus ini, penyakit ginjal yang diderita oleh Tuan Ibrahim harus segera mendapatkan penanganan medis secara tepat agar tidak berujung gagal ginjal.

__ADS_1


"Nak, sekarang Papa sudah tua dan sering sakit-sakitan. Ingin sekali rasanya sebelum Tuhan memanggil raga ini untuk kembali pada-Nya, Papa ingin memangku cucu buah cinta kalian berdua."


"Papa ingin bermain, tertawa bersama mereka sebelum ajal menjemput," pintanya sambil mengusap lembut punggung tangan putranya.


"Jangan bicara seperti itu, semua Dokter di sini memiliki sertifikat dibidangnya dan juga handal. Mark yakin mereka bisa menyembuhkan penyakit Papa."


"Lagipula, setahu Mark stadium 4 belum terlalu berbahaya bagi kesehatan," lanjutnya.


Dokter yang bertugas menangani Tuan Ibrahim ikut membuka suara, "ehm, Tuan Mark sebaiknya Anda turuti saja keinginan beliau sebab umur manusia tidak ada yang tahu."


"Meskipun kita berusaha tapi semua hasil berada di tangan Tuhan," timpal Dokter itu.


"Papa mohon padamu Nak, kembali ke mansion dan jalani kehidupan rumah tangga seperti biasa bersama Stevanie."


"Tapi Pa, Mark tidak bisa kembali ke mansion itu tolong mengertilah."


"Nak, Papa mengerti perasaanmu pada gadis itu tapi Stevanie juga istrimu. Kamu masih memiliki tanggung jawab untuk membimbingnya."


"Untuk kali ini saja, tolong penuhi keinginan terakhir Papa, setelah itu jika Tuhan mengambil nyawaku, aku ikhlas."


Pria itu menggeleng cepat setelah mendengar perkataan terakhir sang Papa. Ia dilema dengan permintaan Tuan Ibrahim.


Di satu sisi, Mark tidak ingin mengkhianati Ameera namun di sisi lain ia juga tak mau menjadi anak durhaka karena menolak permintaan Papanya apalagi saat ini orang tuanya sedang terbaring lemah di rumah sakit.


"Mengapa Papa melibatkanku dalam situasi rumit seperti ini," ujar pria itu sambil mengusap wajah dengan kasar.


"Lagipula, secara negara dan agama hanya Stevanielah satu-satunya istrimu yang diakui oleh banyak orang."


"Lupakan Ameera dan mulai kembali menata rumah tangga kalian seperti sedia kala. Papa yakin, kali ini kebahagiaan akan menyelimuti keluarga Pieter."


Bagaimana aku bisa membina kembali rumah tangga bersama Stevanie sementara cintaku padanya sudah mulai pudar. Mungkinkah kebahagiaan itu akan kuraih jika memutuskan untuk kembali padanya?


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


Hayo, kira-kira Mark akan mengambil keputusan apa nih? 🤭


__ADS_2