
"Sweetheart, ada keperluan apa kamu ke kantor? Bukankah aku sudah bilang, jangan keluar rumah sebelum gosip itu mereda," ucap Mark.
"Aku datang ke sini bukan tanpa alasan, Kak," jawab Gladys seraya menghampiri suaminya.
Wanita itu menyodorkan rantang makan siang untuk Mark. "Ini khusus untukmu. Aku membuat ayam goreng bagian paha bawah, mashed potato serta kacang polong dan juga buah, kamu pasti suka."
"Kak..."
Gladys tertawa kecil melihat suaminya melamun. "Aku tahu, Kakak pasti terpesona oleh kecantikanku, 'kan?"
Pria itu berdehem, lalu merapikan kemejanya. Kemudian dia meraih rantang makan tersebut, lantas membukanya mulai dari bagian teratas. Matanya membelalak lebar, melihat isi rantang itu. Aroma kelezatan di setiap masakan Gladys menguar membuat salivanya mengalir. Kali ini Mark mengeluarkan saliva bukan karena memandangi keindahan tubuh sang istri melainkan makanan yang ada di depan mata tampak begitu menggugah selera.
"Aku sengaja membuatnya khusus untukmu, Sweetheart." Gladys melingkarkan tangan di leher Mark. "Semoga kamu suka." Sebuah kecupan mendarat di pipi pria itu.
"Terima kasih." Mark menyentuh pipinya yang tadi dicium oleh Gladys.
Dia melepaskan diri dari tubuh suaminya. Wanita itu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan pria itu. "Lekas dicicipi, sekalian berikan komentar untuk masakanku."
Mark mulai mencicipi satu per satu. Ditatapnya wajah sang istri dengan penuh cinta. "Rasanya lezat, semua bumbu terasa pas. Kemampuan memasakmu kini semakin bagus. Jika setiap hari aku menikmati masakanmu, tubuhku akan lebih berisi."
"Sungguh?" tanya Gladys antusias.
Mart tertawa lantang. "Tentu saja aku berkata jujur. Aku tidak mau menodai kesucian rumah tangga kita dengan kebohongan-kebohongan kecil. Kebohangan itu akan tumbuh menjadi besar dan bisa saja menghancurkan rumah tangga kita untuk kedua kali. Dan aku tidak mau itu terjadi!" ucap Mark. Pria itu masih sibuk mengunyah makanan di mulut.
"Oh ya, kenapa menu makan siangku kali ini tidak ada nasi?" Mark menyuapkan sesendok mashed potato kepada istrinya.
"Karena kupikir kamu bosan bila setiap hari mengkonsumsi nasi. Oleh sebab itu, aku mengganti menu nasi dengan kentang. Bagaimanapun juga, darah yang mengalir di tubuhmu adalah campuran darah Amerika, dan kita tahu, mayoritas penduduk sana tidak mengkonsumsi nasi. Jadi, aku ingin membuat makanan yang berbeda untuk suami tercinta." Wanita itu menoel hidung mancung milik Mark.
Pintu ruangan diketuk, refleks keduanya terdiam. Setelah mempersilakan masuk, detik berikutnya muncul Barra dari balik pintu.
"Maaf sudah menggangu Anda, Tuan dan Nyonya."
__ADS_1
"Tidak masalah, kami hanya sedang makan siang saja." Gladys beranjak dari kursi lalu pindah ke sofa panjang yang ada di sudut ruangan.
"Tuan, saya sudah mengatur jadwal Anda untuk mengadakan konferensi pers. Besok, pukul sepuluh pagi di Hotel Cempaka, seluruh awak media hadir. Akan ada petugas keamanan berjaga, selama acara berlangsung."
"Apa itu tidak terlalu cepat?" sergah Gladys.
"Lebih cepat lebih baik, Nyonya."
"Ya sudah, terserah kalian saja." Gladys menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa.
***
Di sebuah ruangan yang cukup luas, beberapa awak media sudah berkumpul memenuhi ballroom hotel. Sejak pukul sembilan pagi, para wartawan satu per satu masuk dengan tertib ke dalam ruangan tersebut. Beberapa petugas keamanan berjaga, bersiaga di depan pintu masuk, memastikan semua tamu undangan aman tanpa membawa senjata tajam atau pun senapan yang dapat mencelakai orang lain selama acara berlangsung.
Barra dan Joe menyusun acara konferensi pers sematang mungkin, mereka tidak ingin terjadi kesalahan sedikit pun selama acara berlangsung.
"Kalian pastikan jangan sampai ada yang berbuat kesalahan. Jika itu terjadi, bersiaplah dengan kemungkinan terburuk yang akan dilakukan oleh Tuan Mark," ujar Barra memperingatkan bodyguard yang dipekerjakan khusus untuk menjaga keamanan selama acara berlangsung.
Sementara itu, Gladys dan Mark masih dalam perjalanan menuju lokasi. Di dalam mobil, wanita itu hanya ditemani Mark seorang. Mama Aura dan Bunda Meta menjaga si kecil di rumah karena kondisi tidak memungkinkan untuk membawa Alpukat dalam kerumunan orang banyak, disinari cahaya blitz kamera akan membuat bayi tersebut tak nyaman.
Mobil yang dikendarai sopir melaju dengan tenang di jalanan ibu kota. Gladys yang duduk di sebelah Mark menatap keluar jendela. Sejak meninggalkan rumah, wanita itu hanya diam seribu bahasa. Mark pun terdiam, pria itu sibuk mempersiapkan mental berjaga-jaga semua pertanyaan akan diluar naskah yang sudah diketik oleh Joe.
"Apa kamu gugup?" tanya Mark.
"Sedikit," jawab Gladys singkat.
"Semoga hari ini berjalan sesuai rencana." Mark menyenderkan kepala istrinya ke dada bidang pria itu. Dengan posisi begini, Gladys bisa merasakan detak jantung suaminya tak beraturan. Kegelisahan tengah menyelimuti pria itu.
Kita akan berjuang bersama-sama. Meskipun berakibat fatal terhadap performa perusahaan, aku selalu berada di dekatmu, selamanya.
Tepat pukul sepuluh pagi, sepasang suami istri itu ditemani pengacara duduk di hadapan para wartawan yang siap dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
"Nona Ameera, apakah benar, Anda adalah orang ketiga yang merusak hubungan rumah tangga antara Tuan Mark dengan mantan istrinya terdahulu?"
"Benarkah Anda menggunakan berbagai macam cara untuk menyingkirkan posisi Nyonya Stevanie dari kehidupan Tuan Mark?"
"Bahkan, saya dengar Nona Ameera rela menjual tubuh Anda demi mendapatkan status sosial agar bisa diakui oleh masyarakat!"
Rentetan pertanyaan keluar dari mulut para wartawan. Mereka memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengorek informasi serta mencari celah letak kesalahan pasangan suami istri yang tengah duduk gelisah di depan sana.
"Baik, saya akan menjawab satu per satu pertanyaan dari rekan-rekan sesama wartawan. Mohon di dengar baik-baik," ucap Gladys. Terlihat wanita itu menghela napas panjang.
"Saya..."
"Biarkan aku yang menjawab semuanya." Suara lembut seorang wanita dari ambang pintu masuk ballroom menciptakan keheningan sementara.
Seluruh mata di tujukan pada sosok wanita cantik yang tengah berdiri di depan sana. Perlahan, dia melangkah maju menghampiri meja panjang di depan. Semula suasana hening, seketika riuh kembali tatkala netra semua wartawan mengetahui siapa wanita yang sedang berjalan ke depan.
"Biarkan aku yang menjawab semua pertanyaan mereka," pintanya pada Gladys dan Mark dengan mata penuh pengharapan.
Mark menatap tajam ke arah wanita itu, tangannya terkepal dan rahang menonjol keluar. "Mau apa dia ke sini?" tanya Mark lirih.
Gladys mengusap lembut tangan suaminya. "Biarkan dia membantu kita, Kak," ujar Gladys. Lalu, Gladys menganggukan kepala, memberikan izin pada wanita itu untuk mengambil alih.
Wanita itu menarik napas panjang, sebelum memberanikan diri menjawab semua pertanyaan dari para wartawan.
"Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih pada rekan-rekan sesama wartawan. Karena bersedia hadir dalam acara konferensi pers pagi hari ini. Setelah sekian lama, akhirnya kita berjumpa lagi. Mungkin kalian bertanya-tanya, ke mana aku selama ini, iya 'kan?" ucap wanita itu basa basi. Dia sengaja mengulur waktu seraya mengumpulkan keberanian untuk berbicara di depan umum.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.