
"Tenanglah, istrimu baik-baik saja. Dia hanya tertidur karena terlalu lelah menangis. Sebaiknya kamu telepon Dokter dan minta datang ke rumah. Periksakan kondisi Gladys," ucap Stevanie ketika melihat Mark beberapa menoleh kebelakang kursi, memastikan kondisi istrinya.
"Bagaimana kamu bisa tahu, kami mengadakan acara konferensi pers di hotel itu?" tanya Mark dengan datar.
"Aku yang meminta Stevanie datang," ucap Joe sebelum mantan istri Adik Iparnya menjawab.
Mark mendengus kesal. "Untuk apa meminta orang luar terlibat dalam urusan pribadi keluarga kita, Joe?"
"Hei, Bung! Wanita yang kamu katakan orang luar itu adalah mantan istrimu. Dia juga berhak mengklarifikasi permasalahan yang terjadi. Jika hanya kalian berdua, aku sangat yakin para pemburu berita itu akan terus mengusik kehidupan rumah tangga Adikku."
Stevanie memutar bola mata dengan malas. "Tidak bisakah kalian diam sebentar saja! Jika terus bertengkar, Gladys akan terbangun. Biarkan dia beristirahat dengan tenang."
Berhadapan dengan dua pria menyebalkan itu membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Sejak dulu, Stevanie selalu mendengar pertengkaran kecil terjadi di antara mereka.
Stevanie, Mark dan Joe tumbuh bersama sejak kecil. Jadi, mereka tahu betul sifat dan kebiasaan masing-masing. Itulah sebabnya wanita cantik bertubuh sintal itu bosan mendengar Mark dan Joe bertengkar.
"Kita akan bahas lagi setelah sampai di rumah. Sekarang, tutup mulut kalian. Tidak boleh ada yang bersuara!" ucap Stevanie tegas.
Joe yang sedang fokus mengendarai mobil, menutup mulutnya kembali. Begitu pun dengan Mark, pria itu lebih memilih membaca email masuk.
Tak berselang lama, mobil yang dikendarai Joe sudah tiba di pekarangan rumah. Dengan sigap, Mark membuka pintu mobil lalu membawa tubuh Gladys dalam gendongan.
Sebuah tepukan mendarat di bahu Stevanie. "Masuklah ke dalam, temui Tuan Ibrahim, Mamaku dan keluarga angkat Gladys. Tidak perlu cemas, ada aku yang akan melindungimu."
Stevanie tersenyum, meski dia belum siap bertemu mantan mertua, Mama Aura dan orang tua Glayds tapi ini adalah kesempatan terbaik bagi wanita itu meminta maaf secara langsung.
"Terima kasih, Joe," ucap Stevanie. Wanita itu mengikuti langkah pria di depannya.
***
"Istri Anda hanya kelelahan saja. Biarkan dia beristirahat," kata Dokter.
Mark mengantarkan Dokter sampai ruang tamu. Di sana seluruh keluarga berkumpul, termasuk Stevanie. Raut wajah mereka cemas, menantikan diagnosa Dokter.
__ADS_1
"Gladys butuh istirahat. Sementara waktu, biarkan Bi Diah mengurusi Alpukat sampai kondisi tubuhnya pulih."
Mark duduk di sofa panjang, menatap ke arah Stevanie dengan tajam. Wanita itu memang sudah banyak membantu tapi dia tetap waspada, tidak ingin kelengahannya dimanfaatkan oleh rubah betina seperti mantan istrinya itu.
"Jangan menatap Stevanie dengan tatapan membunuh, Mark!" tegur Joe.
"Mau apa rubah betina ini di sini!" tanya Tuan Ibrahim. Meskipun berbicara dengan nada pelo tapi semua orang tahu bahwa saat ini pria itu sedang emosi. Terlihat dari sorot mata yang tajam serta kepalan tangan di atas sandaran kursi roda.
"Tuan, tolong kendalikan emosi Anda. Jika tidak, kondisi Anda akan semakin drop," tegur Suster Ochi.
"Kalian tenanglah dulu. Jangan membuat Stevanie semakin ketakutan. Biarkan dia menyelesaikan tugasnya." Joe menyugar rambut dengan kasar. "Tuan Ibrahim, Papa mertua adikku, tolong kendalikan emosi. Jika menuruti bisikan setan, saya jamin, kelak Alpukat akan bermain tanpa ditemani Grandpa."
"Joe!" tegur Mama Aura.
Pria itu mengangkat kedua tangan, menyerah. "Baiklah, anggap saja perkataanku barusan hanya angin lewat. Namun, tolong berikan kesempatan pada Stevanie untuk berbicara."
Joe menghela napas, lalu melanjutkan, "dia di sini, atas permintaan Gladys."
"Vanie, katakan yang ingin kamu sampaikan pada mereka. Aku takut, lebih lama lagi berada di sini, kamu akan menjadi santapan para hewan buas ini!" Joe meraih gelas di atas meja. Suasana di ruang tamu terasa panas, walau pendingin ruangan sudah dinyalakan tapi tak mampu menyejukan ruangan tersebut.
Wanita itu melirik sekilas ke arah Joe, pria di sebelahnya menganggukan kepala seraya memberikan senyuman.
Stevanie menghela napas panjang lalu berkata, "aku menyesali semua perbuatan yang telah kulakukan di masa lalu. Dulu, aku terlalu dibutakan oleh cinta, dendam, iri, dan dengki sehingga tega berbuat jahat. Kesombongan dalam diri, menutup mata dan hatiku. Menilai orang lain lebih rendah. Padahal, kita diciptakan dari tanah yang sama. Tidak pantas menyombongkan diri di hadapan sesama manusia."
"Selama lima bulan ini, aku merenungi semua kesalahanku. Semua musibah yang menimpaku merupakan sebuah teguran dari Tuhan."
"Setelah selamat dari kecelakaan, seharusnya aku berubah menjadi manusia baik. Namun, sikapku masih tetap sama seperti dulu. Untung saja Tuhan masih berbelas kasih dan memberikan kesempatan padaku. Hingga suatu hari, aku menyadari bahwa diri ini sudah terlalu jerumus terlalu jauh dari lubang dosa."
"Maka dari itu, tolong maafkan semua kesalahanku," ucap Stevanie bersungguh-sungguh.
Stevanie melangkah maju menghampiri kursi roda mantan mertuanya. Dia berjongkok. "Papa, maafkan Vanie karena tidak bisa menjadi menantu yang baik selama menjalani rumah tangga bersama Mark. Padahal Papa begitu baik, mau menerimaku setelah Mami meninggal." Air mata wanita itu membasahi pipinya.
"Vanie menyesal, Pa." Bibir wanita itu gemetar, tangisnya pecah seraya menyentuh kaki Tuan Ibrahim.
__ADS_1
Tuan Ibrahim tercengang melihat mantan menantunya bersedia meminta maaf di hadapan orang banyak. Melakukan tindakan yang sangat mustahil dilakukan oleh Stevanie. Dia menatap mata wanita itu dengan lekat, tidak ada kebohongan sama sekali di sana. Yang ada hanya sebuah penyesalan.
Cairan bening mengambang di sudut mata Tuan Ibrahim. "Vanie bangunlah, Nak. Papa sudah memaafkanmu. Sebagai seorang mertua, seharusnya aku melarangmu tapi malah mendukung dan membantumu berbuat jahat. Tolong maafkan Papa juga, Nak." Dengan sedikit kekuatan yang dimiliki, pria itu menangkup kedua tangan di dada.
"Papa." Stevanie menghambur dalam pelukan Tuan Ibrahim.
Wanita itu melepaskan pelukan. Masih dengan posisi berjongkok, dia menatap ke arah mantan suaminya. "Mark, aku juga minta maaf karena selama menjadi istrimu, tidak menjalankan tugasku dengan baik. Selalu membuatmu susah dan menimbulkan masalah. Kumohon, tolong maafkan aku."
Mark mendesah. Bagaimana dia bisa tega, tidak memaafkan orang yang sudah meminta maaf padanya. Sungguh naif bila pria itu tetap membenci Stevanie. Bagaimana pun, dulu, wanita itu pernah singgah di hati, hidup bersama dengannya dan menjalani lika liku kehidupan rumah tangga.
"Asalkan kamu berjanji berubah menjadi orang baik, aku pasti akan memaafkanmu, Vanie." Mark tersenyum manis. Sebuah senyuman yang sering diberikan pada wanita itu ketika mereka masih menjadi suami istri.
"Tante Aura dan Tante Meta, aku juga minta maaf pada kalian karena..."
"Tidak perlu dilanjutkan lagi, kami berdua sudah memaafkanmu." Mama Aura bangkit. "Kemarilah!" Wanita itu merentangkan tangan ke samping.
Dengan ragu, Stevanie melangkah maju lalu menghambur dalam pelukan Mama Aura. "Maafkan, aku, Tante."
Mama Aura mengelus rambut wanita itu. "Jangan menangis lagi, kami sudah memaafkanmu. Aku yakin, kedua orang tuamu di sana pasti bahagia, melihat putri kesayangannya berubah menjadi wanita baik dan mau mengakui kesalahan."
"Mulai sekarang, kita akan menjadi keluarga. Dan jika kamu mau, panggil aku, Mama..."
"Mama..." Suara Stevanie terdengar gemetar.
Stevanie semakin mengeratkan pelukan. Dia merasakan kelembutan, kehangatan dan cinta dari seorang Ibu. Dan semua itu diberikan oleh Mama Aura. Wanita yang tengah memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
"*T*uhan, terima kasih atas segala kebahagiaan yang Kau berikan hari ini. Setelah melewati masa tersulit dalam hidupku, akhirnya kebahagiaan datang menghampiri," batin Stevanie.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Hampir mendekati ending. Kira-kira, mau sad ending atau happy ending nih? Bisa tulis di kolom komentar. 👇