BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
AMEERA VS STEVANIE


__ADS_3

"Kamu dengar kan tadi Dokter Maria bicara apa, jangan stres dan perbanyak konsumsi vitamin E," begitulah ucapan Mark kepada istrinya.


"Iya, aku dengar semua yang dikatakan Dokter Maria. Kamu tidak perlu mengulanginya lagi," Stevanie cemberut namun tangannya masih menggandeng lengan Mark.


"Tunggu, ponselku berbunyi. Kamu duduk di sana, aku angkat telpon dulu," Mark berjalan mencari tempat sepi dan menerima panggilan via telpon.


Stevanie menghembuskan napas berat, "saat berdua kamu masih saja mengurusi pekerjaan."


"Sayang, cepatlah hadir di dalam perut Mami, agar Papimu memiliki waktu untuk kita bersama," ucapnya sembari mengusap perutnya.


"Aku ke toilet dulu lah, Mas Mark pasti membutuhkan waktu lama membahas pekerjaan dengan Joe," Stevanie berjalan dengan angkuh. ia mengayunkan lengan dan pinggul secara berlebihan, membusungkan dada, dagu terangkat dan tatapan mata fokus ke depan tanpa mempedulikan lingkungan sekitar.


Stevanie terus berjalan sampai tubuhnya menghilang di ujung koridor rumah sakit. Ia masuk ke sebuah toilet khusus wanita.


"Aduh, Bunda lama sekali. Aku sudah tak tahan, ingin ke toilet," ucap Ameera. Beberapa kali ia melirik ke arah sang bunda yang sedang mengantri di kasir.


Ameera memutuskan menghampiri sang bunda memberitahunya jika ingin ke toilet, "Bunda, Meera ke toilet sebentar," bisiknya di telinga Bunda Meta.


"Perlu diantar?"


"Tidak perlu, hanya sebentar saja kok."


"Ya sudah, Bunda tunggu di sini. Hati-hati, ingat kandunganmu."


Ameera masuk ke dalam toilet dan tak berselang lama ia keluar dan segera mencuci tangannya menggunakan sabun.


Sebelum meninggalkan toilet, ia menyempatkan diri bercermin memandangi perutnya yang buncit "Nak, hanya kamu satu-satunya harta berharga bagi Mama jadi tolong jangan pergi ya."


Saat Ameera sedang sibuk mengusap perutnya, seorang wanita berjalan ke arah westafel. Ia memandang sinis ke arah gadis itu.


"Mengapa dunia ini terasa sempit!" ucapnya seraya menyalakan kran air, ia mencuci tangannya di bawah air mengalir.


Ameera hanya melirik, ia pura-pura tak mendengar ucapan Stevanie.


"Bukan hanya pelakor tapi kamu juga t*li ya!"


"Cih! Aku heran, bagaimana Mark bisa bercinta dengan gadis t*li sepertimu."


"T*li, b*su, pelakor bahkan kini mengandung anak haram!" sindir Stevanie.


"Pasti dulu kedua orang tuamu tidak mendidik dengan baik sehingga tumbuh menjadi gadis ja*ang, yang menjual tubuh demi kekayaan!"


Ameera menatap penuh kemarahan mendengar hinaan istri pertama suaminya yang seakan sengaja menyindir dirinya. Tak terima dengan semua tuduhan, ia menyibakan rambut ke belakang dan berjalan ke depan Stevanie.


"Anda boleh menghina saya dan memaki sesuka hati tapi jangan pernah menjelek-jelekan Ayah dan Bunda serta bayi ini!" ucap Ameera penuh penegasan.


"Kamu berani membentak saya, dasar gadis murahan!" maki Stevanie.


"Dulu saya diam karena Anda merupakan istri pertama Tuan Mark namun dalam waktu dekat diantara kami sudah tidak ada hubungan apa-apa."

__ADS_1


"Jadi, mulai sekarang setiap hinaan yang keluar dari mulut kotormu akan saya balas!" tantang Ameera.


Kemarahan menyelimuti tubuh Stevanie, ia tak menyangka Ameera berani menantang dan mempermalukannya di tempat umum meskipun toilet dalam keadaan sepi namun menurut wanita itu semua ucapan madunya merupakan sebuah penghinaan besar.


Tanpa ragu, Stevanie menaikan tangan dan berniat menampar Ameera namun gadis itu menepis dan menghempaskan tangannya.


"Jangan pernah mencoba menampar saya, jika Anda tidak ingin menyesal!" ancam Ameera.


Stevanie semakin marah, tangannya mengepal, rahang mengeras dan derus napas mulai tak beraturan. Melihat ada kesempatan ia langsung menjambak rambut panjang Ameera dan mencaci maki gadis itu dengan kata-kata kasar.


"Dasar pelakor, ja*lang, gadis murahan, brengsek, sialan, berani sekali kamu menantangku hah!" tangannya masih menggenggam erat rambut Ameera.


Ameera meringis kesakitan, ia meronta berusaha melepaskan diri dari cengkraman Stevanie namun tenaganya kalah.


"Lepaskan aku!" teriak Ameera.


"Melepaskanmu, enak saja!"


"Ini balasan bagi perusak rumah tangga orang sepertimu."


Stevanie mulai melonggarkan cengkaramnnya dan kesempatan itu digunakan Ameera untuk melepaskan diri.


"Anda gila, Nyonya!" ucap Ameera. Gadis itu menjauhi Stevanie dan berdiri di depan pintu toilet merasakan rambutnya terasa sakit akibat dijambak oleh istri pertama suaminya.


"Apa katamu, gila!" Stevanie berjalan dengan sangat cepat dan mendorong tubuh Ameera hingga gadis itu terjerembab ke belakang.


Bugh!


"Nyonya, tolong saya," ucapnya lirih.


"Mampus, kau! Itulah balasan bagi pelakor sepertimu. Semoga saja kamu dan bayi itu pergi dari dunia ini selamanya," ucap Stevanie.


Wanita itu meninggalkan Ameera dalam kondisi lemah tak berdaya, ia tersenyum puas karena berhasil mencelakai Ameera dan bayinya.


"Tuhan begitu baik, hari ini aku diberikan kesempatan mencelakai seorang gadis yang mencoba merusak rumah tanggaku."


Sementara itu Ameera masih terkulai di lantai, menahan perutnya yang terasa sakit, darah segar masih mengalir. Dress biru yang ia kenakan kini berubah warna akibat tercampur oleh darah yang keluar dari bagian inti.


"Tolong!" ucapnya lirih.


"Selamatkan bayiku!"


"Tolong selamatkan Alpukat!"


"Astaga, Nona!'" ucap seorang pengunjung wanita. Ia berencana membuang hajat namun saat berada di depan pintu toilet bola matanya melihat sosok wanita hamil terkulai di lantai dengan kondisi paha dipenuhi darah.


"Nona, tolong selamatkan bayi saya," ucap Ameera lirih.


Pengunjung wanita berlari keluar toilet, ia mengedarkan pandangan ke segala arah mencari bantuan seseorang namun karena kondisi sepi tak ada satu orang pun yang bisa dimintai pertolongan.

__ADS_1


"Bagaimana ini!" ucap wanita itu.


"Tuan, tolong. Ada seorang wanita hamil terkulai lemah di lantai," ucapnya setelah melihat pria muda berjalan ke arah toilet.


"Di mana?"


"Di dalam sana. Ayo, Tuan!"


Pengunjung wanita dan pria muda itu berjalan setengah berlari menuju toilet.


"Meera!" mata pria itu terbelalak tatkala melihat gadis pujaan hati terbaring di lantai dengan kondisi bersimbah darah.


"Donny!" cairan bening mengalir dari sudut mata wanita itu.


Donny dengan sigap menggendong tubuh Ameera, ia tak mempedulikan pakaiannya yang kotor terkena darah. Dalam pikiran pria itu hanya memikirkan keselamatan Ameera dan berharap semoga dalam keadaan baik-baik saja.


"Don, sakit!"


"Kamu bertahan, aku akan membawamu menemui dokter."


Donny berjalan menghampiri tiga orang petugas yang berjaga di balik meja.


"Sus, tolong!"


Ketiga perawat tersebut segera bertindak dan membawa kursi roda. Donny mendudukan Ameera, tangannya tak mau lepas menggenggam erat jemari lentik Ameera.


Suasana tenang poli kandungan seketika berubah ricuh, beberapa orang perawat hilir mudik memberikan pertolongan untuk Ameera.


"Bu, ada apa kok ribut-ribut?" tanya Bunda Meta pada pengunjung yang mengantri di belakangnya.


"Itu loh Bu, ada wanita muda sedang hamil jatuh di toilet."


"Kasihan deh, semoga saja bayinya bisa terselamatkan."


Tanpa menunggu lama, Bunda Meta langsung keluar dari barisan antrian, ia berlari mencari keberadaan Ameera.


"Nak, semoga itu bukan kamu."


bersambung....


.


.


.


Gimana nih, makin penasaran enggak? Hihihi... Sabar ya kak, akan ada waktunya kok di mana Ameera pergi meninggalkan keluarga Pieter. Untuk saat ini kita ikutin aja yuk alurnya.


Oh iya, mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati kalian. Author menceritakan semua adegan di atas berdasarkan pengalaman Mama dari Author selama mengandung anak pertama jadi jika ada yang tersinggung mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya Kak. ❤


__ADS_2