BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
KUNJUNGAN ISTRI DAN ANAK


__ADS_3

Happy reading 🍃


Empat bulan merupakan waktu yang sangat melelahkan bagi Mark. Dia harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan menemani Gladys mengawasi renovasi rumah yang kelak akan menjadi istana bagi keluarga kecil mereka.


Hari ini seperti biasa, Mark terbangun di atas ranjang empuk tempat dia mengistirahatkan tubuhnya dari rutinitas sehari-hari. Pria itu membuka mata tatkala sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, lalu dia menyibak selimut dan berjalan dengan malas menuju kamar mandi.


Setengah jam berlalu, kini Mark sudah rapi dengan setelan pakaian kerja dan dasi yang melilit kerah kemejanya. Dia berdiri di depan cermin seraya menyisir rambut.


"Kenapa waktu 24 jam berlalu begitu cepat? Aku masih ingin menghabiskan waktu bermain bersama putraku tapi sekarang harus bersiap berangkat kerja."


Dia mengendus kesal dan melempar sisir ke sembarang tempat. Lalu pria itu berjalan keluar kamar menuju ruang makan.


Di ruang makan, semua anggota keluarga sudah menunggu. Mark melirik istrinya yang sedang menyuapi si kecil. Sudah seminggu ini istri dan anaknya menginap di mansion. Setiap hari, Gladys membuatkan sarapan sehat untuk buah hati tercinta, mencampur dua jenis buah dan dua jenis sayuran kemudian mencampurnya dengan ASI yang sebelumnya sudah dihangatkan terlebih dulu.


"Mark, wajahmu murung. Apakah ada masalah di kantor?" tanya Tuan Ibrahim. Dia tengah mengunyah bubur yang sudah dimasak oleh pelayan khusus untuknya, sesuai dengan anjuran ahli gizi di rumah sakit.


"Aku hanya bosan, Pa, setiap hari berangkat kerja. Waktu 24 jam rasanya tidak cukup bagiku untuk bisa menikmati quality time bersama Alpukat." Mark mengambil satu buah roti isi selai jeruk (marmalade) dan menyantapnya.


Tuan Ibrahim terkekeh melihat sikap putra semata wayangnya itu. Tangan pria itu terangkat ke udara, memberikan instruksi pada Ochi untuk membawakan segelas air putih untuknya.


"Ini airnya, Tuan."


Suster Ochi membantu pria itu minum menggunakan sedotan.


"Memangnya kamu pikir, dulu Papa tidak merasa jenuh setiap hari bekerja, mengurusi perusahaan. Belum lagi harus membagi waktu untuk merawatmu. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya Papa menjadi single parent setelah kepergian Mama."


Mark terdiam sejenak. "Ya, saat itu merupakan waktu tersulit bagi kami menjalani kehidupan tanpa kehadiran Mama. Semenjak Mama meninggal, Papa memutuskan hidup melajang dan semua peran serta tugas sebagai seorang Ibu diambil alih oleh Beliau."


Saat Mark sedang berperang dengan pikirannya, Gladys meletakan secangkir kopi kesukaannya dengan takaran air dan gula sesuai selera.


"Minumlah dulu, semoga setelah ini harimu kembali ceria," ujar Gladys seraya meletakan cangkir kopi di hadapan pria itu.


Tanpa diperintah kedua kali, pria itu menghirup aroma kopi tersebut, mengaduk lalu meminumnya sedikit demi sedikit.


"Hari ini aku akan membawa Alpukat ke kantor, agar suasana hatimu baik. Jika tidak, semua karyawan akan terkena imbasnya dan Naomi akan protes padaku. Dia tidak akan membiarkan putraku bermain dengan tenang."


Mark menggeser tubuhnya menghadap kursi khusus bayi (baby chair). "Kamu dengar, Sayang, hari ini Mama janji akan membawamu ke kantor. Jadi, kita bisa melanjutkan permainan kita tadi malam tanpa diganggu oleh siapa pun." Pria itu menyentuh hidung Alpukat dengan jari telunjuk.


Tepat pukul setengah delapan pagi, Mark bersiap meninggalkan mansion menuju kantor. Alpukat masih sibuk bermain dalam gendongan Papanya.


"Aku akan meminta supir mengantarkanmu menuju kantor. Jangan pernah sekali-kali keluar rumah tanpa diantar oleh supir," ujar Mark.

__ADS_1


"Baiklah, aku mengerti," jawab Gladys pasrah. Semenjak kembali ke Indonesia, Mark jadi lebih posesif. Dia tidak akan membiarkan istrinya pergi sendirian tanpa diantar supir.


Gladys merapikan dasi dan jas suaminya. "Jangan lupa, nanti malam akan ada pesta makan malam bersama keluarga."


"Mana mungkin lupa. Malam ini akan menjadi malam bersejarah bagi kita berdua. Besok, aku akan meminta Barra mendaftarkan pernikahan kita di catatan sipil agar hidupku lebih tenang, tidak khawatir lagi di grebek massa, saat tengah berduaan denganmu."


"I-itu tidak perlu kamu ucapkan secara lantang," ucap Gladys lirih, hampir saja tidak terdengar. Detak jantung wanita itu berdebar lebih kencang.


"Ayolah, Sweetheart. Kenapa harus malu seperti itu? Aku hanya menggodamu saja."


Mark menarik pinggang Gladys, lalu mencium puncak rambut sang istri. "Aku tunggu di kantor."


Seorang supir berdiri tegap di samping mobil, membukakan pintu untuk Mark. Kemudian, menyalakan mesin kendaraan. Melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan Ibu Kota.


***


Di kantor...


Mark duduk di kursi kebesarannya, sibuk dengan layar monitor dan setumpuk berkas yang harus ditandatangani. Sementara waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang. Namun semua pekerjaan Mark tak kunjung usai.


Pria itu bersandar di kursi sambil melakukan gerakan-gerakan ringan untuk meregangkan otot yang tegang.


Tak berselang lama, suara ketukan pintu terdengar. Seorang wanita yang tak lain adalah Winda, sekretaris Mark masuk ke dalam ruangan.


"Suruh dia masuk dan tolong minta OB buatkan minuman untuknya."


Setelah dipersilakan masuk, Gladys membawa putranya ke dalam ruang kerja sang Papa. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Mark.


"Kalian datang di waktu yang tepat." Pria itu menggendong Alpukat dalam pangkuan.


"Aku ke sini sekalian membawa bekal makan siang untukmu, Kak. Kebetulan, hari ini Ayah masak rendang." Gladys mengeluarkan kotak makan warna biru toska dari dalam tas. Dia membuka penutupnya lalu membersihkan sendok menggunakan tisue.


"Makan dulu, kamu pasti lapar."


Pria itu menggeleng, dia malah menghujani wajah dan pipi putranya dengan ciuman.


"Ayah sudah membuatkan makanan ini khusus untukmu, jadi jangan mengecewakannya!"


"Kakak mau, Ayah ngambek lalu memutuskan untuk tidak hadir dalam acara nanti malam?"


"Kalau Ayah dan Bunda tidak hadir, maka..."

__ADS_1


"Oke... Oke... Aku makan sekarang!"


Senyum manis terkembang di bibir tipis Gladys. Dia menyodorkan wadah makan dan sendok di atas meja.


Dengan wajah masam, Mark mengunyah makanan itu. Sesekali melirik ke arah istrinya. Entah mengapa, setiap hari penampilan Gladys semakin terlihat lebih cantik membuat pria itu hampir lupa berkedip karena terlalu fokus mengagumi kecantikan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri sahnya, baik di mata agama maupun di mata negara.


Beberapa menit kemudian, seorang OB masuk membawa nampan berisi minuman hangat untuk Gladys.


"Silakan dinikmati," ucapnya. Tanpa sengaja, tatapan OB itu bersitatap dengan pemilik mata almond yang sedang duduk di sofa. Dia terperanjat manakala melihat wanita itu adalah mantan salah satu mahasiswa magang di perusahaan itu.


"Anda... Ameera, 'kan?" tanyanya seraya menunjuk Gladys dengan jari telunjuk.


Gladys tersenyum manis, karena OB itu masih mengingatnya. Meskipun sudah hampir satu tahun an lebih tidak bertemu.


"Benar, tapi tolong panggil Gladys saja," ucap wanita itu ramah.


"Loh, kenapa begitu?" tanya OB itu penasaran.


Mark berdehem, lalu memberikan tatapan tajam pada pegawainya.


"Maafkan saya. Silakan dinikmati," ujarnya seraya bangkit dan berjalan setengah berlari meninggalkan ruangan CEO.


"Lain kali tidak boleh bersikap ramah pada pria lain. Apalagi memberikan senyuman manis pada mereka!"


Gladys menghela napas kasar. Lihatlah, kini Mark berubah menjadi suami posesif. Bukan hanya membatasi ruang geraknya saja tapi juga pria itu melarangnya memberikan senyuman pada pria lain.


Wanita itu bangkit dan duduk di kursi kebesaran milik Mark. Dia berputar-putar di atas kursi empuk itu sambil bersandar ke belakang.


"Kamu sedang membuat proposal proyek baru?" tanyanya seraya menggerakan mouse.


"Benar. Ada lelang proyek dengan nominal yang cukup besar."


Gladys membaca layar monitor tersebut. Bola matanya bergerak, mulutnya komat kamit lalu sudut bibir wanita itu tertarik ke atas.


"Serahkan padaku. Aku yakin, proyek kali ini akan jatuh ke tangan PT Indah Sentosa."


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


Mohon maaf, baru sempat update.


__ADS_2