
Setelah menunggu beberapa saat, seorang hair stylist membuka tirai penutup yang sengaja digunakan untuk menyembunyikan hasil karyanya kepada tiga pasang mata yang sedang menatap ke arah kain berwarna abu-abu.
"Kalian pasti sudah tidak sabar ya," ujarnya dengan nada lembut.
"Ayo Nona Gladys, tunjukan pesonamu sekarang!"
Perlahan-lahan tirai itu terbuka, menampilkan sosok gadis cantik bertubuh mungil mengenakan dress diatas lutut, lengan panjang, bagian leher berbentuk V neck dengan potongan rambut blunt bob soft layer membuat si empunya terlihat dewasa.
"Ma, Bunda, Ayah!" sapanya saat tirai berwarna abu-abu itu terbuka sempurna.
"Oh astaga, putriku cantik sekali. Aku yakin, banyak pria yang akan tertarik melihatmu, Nak," ujar Mama Aura dengan wajah berbinar.
"Bu Aura benar, Gladys kita sangat cantik," timpal Bunda Meta.
Lantas bagaimana reaksi Ayah Reza? Pria itu hanya bisa mematung, mengedipkan mata berkali-kali melihat penampilan putrinya saat ini. Gadis itu sangat cantik bahkan ia sendiri terpukau oleh kecantikan Ameera.
Ameera tersipu, ia menunduk malu-malu mendapat penilaian bagus dari orang tuanya.
"Dress ini sangat cocok ditubuhku, terima kasih sudah membelikannya."
"Tentu saja, Mama membelikannya sesuai seleramu. Meskipun sudah 17 tahun aku tidak membelikan pakaian untuk putriku ini namun seleranya pasti tetap sama."
"Semua isi lemari pakaianmu terdiri dari dress dan rok tidak ada celana karena kamu sangat feminin," ujar wanita itu sambil terkekeh mengenang masa lalu.
"Putri Anda memang pada dasarnya sangat cantik, kami hanya memoles sedikit make up, merapikan rambut dan membelikan beberapa pakaian branded maka aura kecantikannya akan bersinar layaknya bintang di atas langit ketika malam hari," ujar hair stylist itu.
"Saya mewarnai rambut putrimu agar terlihat lebih fresh tapi kalian tenang saja, pewarna rambut ini sangat aman untuk ibu hamil," timpalnya. Ia tidak ingin mendapatkan aksi protes dari dua orang wanita yang begitu menyayangi Ameera.
Mama Aura mengacungkan ibu jari merasa puas dengan hasil kerja keras yang diberikan oleh pegawai salon milik temannya.
"Ms. Adam memang tidak salah merekrut kalian bekerja di salonnya. Saya sangat puas!" puji wanita itu.
Visual rambut Ameera sekarang. Dewasa dan tentunya terlihat lebih fresh dari sebelumnya. 😁
Mama Aura bangun dari sofa, mendekati putrinya. Ia memandangi gadis itu tanpa berkedip sedikit pun, mengelilinginya dan terpaku beberapa saat.
"Putriku memang sangat cantik," bisik wanita itu di telinga Ameera, "Mama yakin, Mark pasti menyesal sudah menyia-nyiakanmu dulu."
"Mama Donny juga pasti menyesal sudah menolakmu mentah-mentah."
Ameera semakin menundukan pandangannya ke bawah, ia menatap lantai yang memantulkan pantulan bayangannya.
__ADS_1
"No, Gladys. Jangan tundukan wajahmu!" wanita paruh baya itu menyentuh ujung dagu putrinya.
"Tersenyumlah agar Alpukat ikut tersenyum juga di sini," tangan Mama Aura terangkat dan mengusap lembut perut putrinya.
"Nah begitu dong, jika kamu tersenyum dunia ini terasa lebih indah. Benar tidak, Bu Meta!"
Bunda Meta mengangguk setuju, "apa yang dikata Mamamu benar, Meera. Sering-seringlah tersenyum agar semua penghuni bumi ini iri melihat kecantikanmu."
Gadis itu hanya tersenyum kaku, sebelum mulutnya berucap "terima kasih atas pujian Mama dan Bunda."
"Ayo, aku akan mengajak kalian makan di restoran Asia. Di sini ada salah satu restoran yang rasanya lezat," Mama Aura melingkarkan tangannya ke lengan kanan Ameera.
***
Mansion Keluarga Pieter
"Mengapa mansion ini sepi seperti tidak berpenghuni saja!"
Suara serak yang menggelegar di ujung pintu masuk mansion bergaya Eropa membuat semua pelayan merinding dan menundukan seketika. Seorang pria bule paruh baya berusia hampir 50 tahun berjalan di antara barisan para pelayan berseragam hitam dan putih. Ia bertolak pinggang dengan tatapan dengan sorot mata penuh amarah, dua orang pengawal berdiri di samping kanan dan kini.
"Tuan dan Nyonya kalian kemana? Mengapa tidak menyambut kedatanganku!"
"I-itu, Tuan besar," kepala pelayan tergagap, ia menelan saliva dengan susah payah mengisi tenggorokannya yang tiba-tiba saja kering.
"Jawab! Di mana mereka!" bentaknya sambil menghentakan tongkat yang biasa digunakan untuk membantu pria itu berjalan.
"Bagaimana mungkin menantuku menghilang, kalian sudah coba menghubunginya?" tanyanya dengan penuh emosi.
"Sudah, Tuan tapi tidak ada jawaban. Terakhir kali malah suara operator menjawab panggilan saya," ujar kepala pelayan dengan raut wajah yang semakin pucat.
Namun tampaknya pria tua berdarah Amerika itu tidak peduli dengan penjelasan kepala pelayan. Tatapan Tuan Ibrahim tajam, menatap fokus ke satu titik membuat semua penghuni mansion terdiam, suasana hening tak ada satu orang pun berani membuka mulut.
"Papa!" sapa seorang wanita berbadan sintal masuk ke dalam aula utama yang terletak di ruang utama mansion.
"Kapan datang? Mengapa tidak memberitahuku dulu!" wanita itu duduk di sofa dan merangkul lengan Tuan Ibrahim erat.
"Jika aku tahu Papa akan datang, sudah kuminta para pelayan ini membuat pesta penyambutan khusus untuk Papaku tercinta," Stevanie menyenderkan kepala pada pria tua itu.
"Papa datang kesini karena kalian sudah lama tidak mengunjungiku di villa. Apa kamu lupa jika aku masih hidup!" tanya pria itu berang.
"Ih, Papa, jangan bicara omong kosong. Vanie dan Mark sibuk jadi tak sempat mengunjungi Papa. Maaf ya."
"Kalian pergi, tinggalkan aku berdua dengan menantuku!" titah Tuan Ibrahim pada pengawal dan para pelayan.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi, ceritakan pada Papa!" ujar pria itu dengan nada tegas.
Stevanie melepaskan rangkulan, kedua bola matanya mulai berkaca-kaca ketika mendapati sorotan tajam dari mertuanya.
"Pa, Vanie sudah lama tidak tinggal satu kamar dengan Mark. Bahkan kini, ia tinggal di rumah kontrakan meninggalkanku seorang diri di mansion megah, mewah dan luas ini."
"Aku kesepian, itulah mengapa kemarin sore tidak pulang ke mansion," sambung wanita itu.
"Sejak kapan kalian bertengkar?"
"Sejak gadis itu dirawat di rumah sakit, perhatian Mark tertuju padanya!"
Tuan Ibrahim menghembuskan napas panjang, pantas saja akhir-akhir ini perasaanya tak tenang, tidur pun tak nyenyak ternyata firasat pria itu benar jika hubungan rumah tangga anak dan menantunya saat ini sedang tidak harmonis.
"Papa akan membantumu, membuat Mark kembali ke mansion ini dengan 1 syarat."
"Apa Pa, katakan pada Vanie!" Stevanie duduk tegap.
"Berikan Papa cucu yang lucu dan menggemaskan!" ujarnya seraya mencubit hidung menantunya.
"Kalau syaratnya hanya itu saja, Vanie janji akan mengabulkannya."
"Berikan cucu yang banyak agar villa Papa semakin ramai oleh tangisan, teriakan dan celotehan anak-anakmu."
"Memang Papa ingin cucu berapa?"
"Berikan aku 5 orang cucu. Oh tidak, berikan 11 orang cucu laki-laki agar Papa membentuk club sepak bola beranggotakan cucuku semua," ujar pria itu sambil tertawa.
"Papa, itu terlalu banyak. Vanie tak sanggup mengasuh mereka," wanita itu memajukan bibirnya ke depan.
"Tenang saja, masing-masing anak akan memiliki pengasuh. Tugasmu hanya melayani Mark dan menjaganya dari pandangan nakal para wanita ja*ang seperti gadis itu."
"Tentu saja, Pa. Vanie akan menjaga Mark dengan sebaik mungkin," wanita itu memberikan ciuman sebagai tanda ucapan terima kasih.
Bersambung
.
.
.
Maaf baru sempat update. 🙏
__ADS_1
Visual Glayds atau Ameera setelah dimake over