BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
BONUS CHAPTER 07 (SPESIAL EPISODE JOE & KIRANA)


__ADS_3

Sejak sore hari awan gelap menyelimuti langit, tak ayal memancing suara gemuruh petir untuk menunjukan pesonanya pada seluruh penduduk di muka bumi ini. Perlahan-lahan cairan bening turun membasahi bumi, detik berikutnya seluruh kota Jakarta diguyur hujan tetapi tidak sampai menimbulkan banjir.


Joe dan Kirana sedang duduk di sofa panjang, mereka baru saja selesai melakukan gladi bersih di sebuah ballroom hotel. Posisi kaki wanita itu berada di atas pangkuan Joe.


"Apakah masih pegal?" tanya Joe seraya memijat lembut betis Kirana.


"Masih, Kak. Rasanya kakiku ini mati rasa ketika menggunakan high heels," keluh Kirana tanpa sungkan. Bibir wanita itu maju beberapa centi ke depan.


Joe terkekeh melihat wajah gemas wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. "Kamu harus belajar menggunakan hells mulai dari sekarang. Sebab, akan banyak pertemuan yang mewajibkanmu datang sebagai istri dari Joe Kurniawan."


"Tidak bisakah aku mengganti heels itu dengan alas kaki yang lain? Jujur saja, aku tidak nyaman jika terus menerus menggunakannya." Kirana merengek layaknya seorang anak kecil meminta jajan pada sang ibu. Dia menggesek-gesekan tubuh di pundak Joe, membuat pria itu menelan saliva.


Joe merasa seperti tersengat aliran listrik ketika Kirana semakin intens menggerakan tubuhnya di pundak pria itu. Napas mulai memburu, wajah memanas menjalar hingga keseluruh tubuh membuat sesuatu di balik pakaian mengeras dan memberikan reaksi manakala gudang pusat makanan untuk calon anak mereka tak sengaja bersentuhan dengan lengannya.


"Babe, kenapa diam saja. Bicaralah, apakah aku boleh menggantinya dengan alas kaki lain?" Kirana terus merajuk.


"Ehm ... itu ..." ucap Joe terbata-bata.


"Kamu kenapa? Apakah kamu demam?" Kirana cemas melihat wajah suaminya memucat. Dia menurunkan kaki dari pangkuan Joe, lalu merubah posisi duduk kemudian menyentuh kening Joe. "Tidak demam kok," ucapnya setelah memastikan keadaan Joe baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja, Babe. Hanya saja, itu ...." Joe melirik sekilas ke bagian di bawah sana, lalu memalingkan wajah ke arah lain. "Sial, kenapa kamu bereaksi di waktu yang tidak tepat!" Joe merutuki kebodohannya.


Refleks, Kirana mengikuti ke mana arah pandangan Joe semula.

__ADS_1


Deg!


Jantung Kirana rasanya mau copot, tatkala melihat ada sesuatu yang menyembul di sana. "Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi? Mungkinkah suamiku terangs*ng walau hanya menyentuh kakiku saja? Jika benar, berarti selama kami pacaran bagian inti Kak Joe selalu bereaksi ketika kami bergandengan tangan!"


Untuk beberapa saat, Kirana terpaku setelah melihat bagian inti suaminya mengeras. Melihat organ vital pria dalam keadaan on sebenarnya sudah menjadi makanan sehari-hari, karena tugasnya sebagai seorang perawat mewajibkan wanita itu berinteraksi dengan pasien. Mulut wanita itu terbuka, kemudian dia berkata. "Maafkan aku karena belum bisa mempersembahkan kesucianku padamu, Kak."


"Jangan lagi ucapkan kata maaf atas kesalahan yang tidak pernah kamu perbuat. Aku tahu saat ini kamu belum siap. Percayalah padaku, aku akan menunggu hingga waktu itu tiba." Joe memberikan ciuman lembut di kening Kirana.


***


Keesokan hari, seluruh tamu undangan mulai memadati ballroom tempat resepsi pernikahan berlangsung. Sebagian ada yang tengah menikmati hidangan sambil menunggu pasangan pengantin memasuki ruangan dan ada pula yang berbincang dengan sahabat, teman maupun orang terkasih. Mereka larut dalam suka cita.


Tepat pukul sembilan kurang satu menit, seorang ketua panitia yang bertugas mengatur kelangsungan acara memberikan instruksi pada semua anggota.


Ketika pintu terbuka, seluruh mata memandang kagum pada pasangan pengantin. Dalam balutan pakaian pengantin modern berwarna putih, Joe dan Kirana bagai raja dan ratu semalam. Kedua sejoli itu berjalan perlahan di atas karpet merah, tangan Kirana tak pernah lepas dari lengan suaminya.


"Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru! Pelaminan itu tidak akan lari, dia akan tetap berada di sana sama seperti diriku yang akan selalu setia di sampingmu."


"Berhentilah menggodaku, Kak! Jangan buyarkan konsentrasiku di saat aku tengah berjuang melawan heels ini."


Joe melirik Kirana sekilas. Kemudian, tanpa aba-aba, pria itu menggendong sang istri ala bridal style. Semua tamu yang hadir seketika bersorak dan terdengar suara riuh tepuk tangan disertai gelak tawa memenuhi seisi ruangan.


"Wow, Joe, kamu memang pria sejati!" puji Mark dari barisan kursi tamu yang berada di barisan paling depan.

__ADS_1


Mendengar pujian itu, Joe semakin besar kepala karena dia sukses menampilkan pertunjukan menarik bagi seluruh tamu undangan.


Berada di atas pelaminan, Joe dan Kirana menyalami tamu-tamu yang memberikan ucapan selamat. Para tamu yang hadir berasal dari kalangan kelas menengah ke atas, membuat wanita itu merasa minder akan status sosial yang dimiliki.


"Apakah Kakak tidak menyesal menikahi gadis miski sepertiku?" Pertanyaan itu sukses membuat senyuman manis memudar di wajah Joe.


"Untuk apa menyesal. Toh, di hadapan Tuhan semua manusia itu sama saja. Mau kaya ataupun miskin tidak menjamin seseorang akan masuk surga. Hanya amal yang bisa digunakan untuk bisa memasuki pintu surga," jawab Joe enteng.


"Namun, aku ...."


Belum selesai Kirana menyelesaikan kalimatnya, Joe sudah menghentikan. "Buang jauh-jauh pikiranmu itu, Babe! Percayalah, aku, Mama dan Gladys menerimamu apa adanya bukan ada apanya denganmu."


Di saat semua orang larut dalam suka cita, Pak Arief malah sibuk mengamati satu per satu tamu undangan yang hadir. Dia mengawasi penampilan mereka dari atas kepala hingga ke ujung kaki.


"Rupanya menantuku ini bukan orang sembarangan. Pantas saja ketika aku meminta uang 500 juta dia langsung menyetujui. Baginya, uang 500 juta tidak ada arti apa-apa. Bodoh sekali aku, kenapa tidak terpikirkan olehku untuk meminta dia menghadiahkan rumah, mobil dan deposito untuk bekalku berjudi nanti!" ucap Pak Arief kesal.


Pak Arief menghela napas panjang merutuki kebodohannya. Dia tidak tahu bahwa pria yang datang ke rumahnya saat itu merupakan seorang pebisnis sukses terlahir dari keluarga sederhana, tetapi akibat kerja keras mengantarkan keluarga Kurniawan menuju level tertinggi dan bisa dihormati oleh siapa saja.


Ketika Arief tengah sibuk dengan pikirannya, dari belakang seorang pria berusia lima puluh tahun datang menghampiri.


"Arief ...."


TBC

__ADS_1


Double update untuk membayar hutangku kemarin. Terima kasih karena masih setia menunggu kelanjutan ceritaku. 😊


__ADS_2