
Happy reading 🤗
Mendengar penuturan Stevanie sontak membuat Mr. Lee menegakan tubuhnya memandang wajah wanita itu secara intens.
"Aku yakin kamu pasti terkejut mendengar ceritaku, kan!" ujar Stevanie sambil meminum jus yang ada di atas meja.
"Ehm, iya... Benar, aku sedikit terkejut mendengarnya. Lantas reaksi Mark dan mertuamu, bagaimana?"
"Mark memang sudah lama tidak peduli padaku dan kini sepertinya Papa juga mulai tak memedulikanku."
"Kamu tahu, bahkan sekarang aku sudah kehilangan hak sebagai Nyonya rumah. Secara tidak tersirat, Mark menginginkan aku keluar dari mansion jika tak setuju bila Papa tinggal bersama kami."
Mr. Lee tersenyum simpul dan berkata, "maka dari itu lebih baik kamu meninggalkan mereka dan hidup berdua denganku. Kita jalani kehidupan rumah tangga yang harmonis walaupun selamanya kamu tidak akan memberikan keturunan kepadaku."
"Kita bisa mengadopsi anak, bagaimana?"
Wanita itu tercengang, mengira bahwa ia salah mendengar. Susah payah Stevanie menelan saliva guna untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.
"Lee, kamu jangan bercanda. Papa mertua saja sudah mencampakanku setelah mengetahui selamanya tidak akan memberikan penerus keluarga, bagaimana bisa kamu mau menerimaku. Mustahil!" Stevanie mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Aku serius. Asalkan kamu menggugat cerai Mark, setelah masa iddahmu selesai, kita akan menikah dan tinggal di Korea. Memulai hidup baru dan bahagia selamanya."
"Kamu pasti mabuk, iya kan?"
"Aku dalam keadaan sadar, Vanie. Kamu tahu, sejak dulu hingga sekarang perasaan ini tak kan berubah sedikit pun."
Pupil mata Stevanie bergetar, seluruh tubuhnya meremang dan ia berucap, "Lee, aku..."
Pria itu menangkup wajah Stevanie sambil berkata, "kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Masih banyak waktu untuk kita menghabiskan waktu bersama."
"Yang terpenting saat ini adalah kesehatanmu."
"Sebaiknya kita makan, selagi hangat," ucap Mr. Lee setelah kedatangan seorang pelayan sambil membawa nampan dan menghidangkan semua pesanan di atas meja makan.
***
Tak terasa waktu berputar dengan cepat, kini usia kandungan Gladys sudah memasuki fase terakhir atau berusia sekitar 36 minggu. Dokter Diana secara intens pulang pergi Jakarta-Melbourne hanya untuk memeriksa kandungan putri angkat dari sahabatnya. Ia akan mengunjungi gadis itu di minggu pertama setiap dua bulan sekali.
Hari ini sesuai agenda Dokter Diana akan berangkat dari Jakarta menuju Melbourne, Australia. Wanita itu ditemani seorang pria bertubuh jangkung yang tak lain adalah Joe tengah berada di dalam pesawat menunggu pesawat itu lepas landas.
"Dokter Diana, sejauh ini keadaan Glady baik-baik saja kan!" tanya Joe sambil memasang sabuk pengaman yang melingkar dibagian pinggang.
"Keadaan Gladys sejauh ini baik-baik saja Tuan Joe tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Ibu dan bayi dalam keadaan sehat."
"Syukurlah, aku bahagia mendengarnya."
__ADS_1
"Sebentar lagi adikmu melahirkan dan itu artinya akan ada cucu pertama di keluarga Kurniawan. Apa Tuan Joe tidak berniat mencari pasangan dan memberikan cucu juga untuk Nyonya Aura?"
Joe melirik ke arah wanita paruh baya yang usianya tidak jauh berbeda dari sang Mama.
"Sepertinya Dokter Diana, Dokter Firman dan Mama bekerjasama memaksaku untuk segera menikah," Joe mengalihkan pandangan keluar jendela pesawat.
"Tuan Joe, bukannya saya ingin ikut campur dalam urusan pribadi Anda tapi jika berada di posisi Nyonya Aura, saya juga akan merasa cemas. Di usia hampir kepala 3 tapi belum memiliki pendamping, ada kecemasan sendiri di hati seorang ibu."
"Saran saya, sebaiknya Anda mulai memikirkan masa depan sebab salah satu kebahagiaan seorang ibu adalah melihat anak-anaknya hidup bahagia bersama pasangannya."
Joe hanya tersenyum kecut, ia menyandarkan kepala di sandaran kursi, menatap langit-langit pesawat jet pribadi milik keluarga Kurniawan.
Pasangan? Gadis mana yang bersedia menerima cinta dari seorang pria yang gila bekerja sepertiku! Bahkan mantan kekasihku saja langsung memutuskan hubungan padahal kami baru berpacaran sekitar 1 bulan.
Sedangkan di tempat lain, seorang gadis tengah duduk di kursi goyang sambil membaca buku seputar kehamilan. Sesekali tangannya terulur, mengusap lembut perutnya, terdengar senandung lirih dari bibir mungil itu.
"Alpukat, anak Mama, sehat selalu dalam kandungan. Tumbuhlah jadi anak baik dan berbakti pada orang tua," sekilas lirik lagu yang dinyanyikan oleh Gladys. Ia akan selalu menyanyikan lagu itu saat sedang berdua dengan bayi dalam kandungannya.
"Gladys, Mama boleh masuk, Nak?"
Suara seorang wanita paruh baya dari balik pintu kamar terdengar.
"Boleh Ma, pintu tidak aku kunci."
Dari balik pintu, Mama Aura datang dengan membaca segelas susu khusus ibu hamil yang tadi dipesan oleh Gladys pada kepala pelayan.
Gadis itu meraih gelas yang dibawa oleh Mama Aura. Sambil membaca buku, ia menyeruput susu hangat itu hingga habis tak tersisa.
"Enak?"
"Sangat enak."
"Ma, apakah Kak Joe dan Dokter Diana hari ini jadi datang?"
"Jadi dong, mungkin sebentar lagi sampai."
Tak berselang lama, terdengar suara pintu diketuk.
"Nyonya, Tuan Joe dan Dokter Diana sudah tiba di rumah," ujar salah satu pelayan menggunakan Bahasa Inggris.
"Persilakan mereka masuk."
"Halo Nyonya Aura," sapa Dokter Diana seraya melangkah kedepan, memeluk dan mencium pipi wanita itu.
"Halo Dokter."
__ADS_1
Terjadi perbincangan singkat diantara mereka.
Gladys menoleh ke sumber suara, meletakan buku yang sejak tadi dibaca olehnya ke meja nakas. Ia berdiri sambil berpegangan pada kursi, ukuran perut yang semakin membesar membuat gadis itu kesulitan bergerak. Dengan secepat kilat, Joe membantu sang adik dan memapah tubuh mungil gadis itu ke ranjang.
"Gladys, bagaimana keadaanmu. Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Dokter Diana.
"Perut saya terasa kencang, badan sakit di sekujur tubuh, nyeri panggul, sembelit dan sesak napas, Dokter. Selain itu saya juga sedikit cemas menjelang proses persalinan," jawab Gladys. Kini posisi gadis itu terbaring di atas ranjang.
"Itu hal wajar bagi seorang ibu yang sebentar lagi akan melahirkan," ucap Dokter Diana santai sambil membaca buku hasil pemeriksaan Gladys dari salah satu rumah sakit umum yang berada di Australia.
"Tapi sebaiknya kita periksa ulang untuk lebih memastikan."
Joe dibantu Miss Lucy mempersiapkan semua kebutuhan Dokter Diana, mulai dari alat USG yang terdiri dari monitor, sarung tangan berbahan latex dan gel doppler.
Semua peralatan sengaja Mama Aura beli, khusus untuk putri tercinta dibantu oleh Dokter Diana. Wanita itu ingin memberikan semua yang terbaik untuk anak dan cucunya sehingga ia menjadikan kamar Gladys sebagai ruang pemeriksaan untuk memudahkan gadis itu ketika dilakukan pemeriksaan.
Selama berada di Australia, Mama Aura rajin membawa Gladys check up kandungan di salah satu rumah sakit ternama di negara Kangguru itu namun ia juga meminta Dokter Diana untuk mengunjungi putrinya, memeriksa kandungan sang anak.
Alasan wanita itu mempercayakan putrinya diperiksa oleh dua dokter yang berbeda salah satunya adalah ia ingin memastikan kondisi janin dan sang ibu dalam keadaan baik-baik saja.
Selain itu, Mama Aura juga bukan tipe orang yang akan puas hanya dengan penjelasan satu dokter saja. Oleh sebab itu, ia tetap meminta Dokter Diana menjadi dokter kandungan keluarga Kurniawan.
Dokter Diana mulai melakukan pemeriksaan awal namun sebelumnya ia mencuci tangan terlebih dulu menggunakan sabun dan air mengalir, menuangkan gel pada perut serta menggeser-geser alat ke atas perut dengan hati-hati.
"Lihatlah, itu calon anakmu, Gladys. Ukurannya kini sudah sebesar sebongkah kol dengan panjang badan dari kepala sampai tumit kurang lebih 47 cm, berat badan 2.7 kg."
"Dia nampak sehat dan tentunya lebih gembul sekarang."
Mata gadis itu berbinar-binar tatkala melihat makhluk mungil yang selama 9 bulan ini berada dalam rahimnya. Bibirnya bergetar dan tanpa sadar air mata gadis itu meluncur tanpa meminta izin terlebih dulu.
"Alpukat, anak Mama," ucapnya lirih.
Sementara itu, Joe yang berdiri tak jauh dari ranjang terkesiap ketika mendengar suara detak jantung keponakannya, menatap wajah mungil yang tampak sedang menghisap ibu jari. Sungguh sangat menggemaskan menurut pria itu. Sebab ini merupakan kali pertama Joe melihat secara langsung Dokter Diana memeriksa kandungan sang adik.
"Pantas saja setiap pasangan suami istri begitu mendambakan kehadiran seorang anak, ternyata dia sangat menggemaskan."
"Tuhan, jika memang Engkau sudah menakdirkanku untuk memiliki pasangan dalam waktu dekat ini, tolong pertemukanku dengan gadis itu. Aku bersedia menikahinya asalkan dia baik, penyayang dan mau menerima kekuranganku," ucap Joe dalam hati.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak. 🙏