BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
LOOKING FOR A DREAM HOUSE


__ADS_3

Mark menatap wanita di hadapannya dengan tatapan cengo, mengerjap beberapa kali untuk memastikan pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Dia tak menyangka Gladys akan berani membentaknya demi membela sang Papa.


Setelah tersadar dari keterkejutan, pria itu meraih gelas air putih lalu meminumnya hingga kosong.


"Kamu yakin ingin mengajak Papa tinggal bersama?" tanyanya sedikit ragu.


Gladys mengangkat alisnya, kemudian berkata, "aku sangat yakin, Kak. Jika Papa tinggal bersama kita, rumah akan semakin ramai. Kehadiran Alpukat, bisa menjadi obat tersendiri bagi proses pemulihan Beliau."


Tangan mungil wanita itu menyentuh lengan suaminya. Sentuhan lembut itu seperti sengatan listrik dengan tegangan ratusan volt, mampu membuat tubuh Mark meremang seketika.


Mata Mark berbinar bahagia. Dia membalas sentuhan itu dengan mencium tangan istrinya. "Aku akan mengabulkan semua keinginanmu, Sweetheart. Jika itu baik menurutmu."


Gladys tersenyum puas. Dia bisa bernapas lega akhirnya Mark mengizinkan Tuan Ibrahim tinggal bersama. Meskipun dulu pria berdarah Amerika itu, pernah berbuat jahat padanya, tetapi Gladys tidak mau membalas semua kejahatan dengan kejahatan serupa. Mencoba berdamai dengan masa lalu adalah salah satu terapi untuk mengobati rasa sakit di hati.


Gladys bukan Tuhan maupun Malaikat, yang tidak mempunyai perasaan. Dia bisa marah, kecewa dan sakit hati apabila disakiti. Mungkin sebagian orang menganggapnya bodoh karena mau kembali dan memaafkan semua kejahatan mereka tapi, bukankah Tuhan saja mau memaafkan semua kesalahan setiap umat-Nya? Selama mereka mau berubah dan berusaha memperbaiki diri.


Dia hanya manusia biasa, tidak pantas bersikap sombong apalagi terus menerus larut dalam kebencian, sementara Tuhan sudah menghukum para pelaku dengan cara-Nya sendiri. Saat ini, wanita itu cuma mau hidup damai dan bahagia bersama keluarga tercinta.


Dari jarak tiga meter, sepasang mata biru memperhatikan tingkah laku anak dan menantunya. Dia baru saja selesai berjemur di bawah sinar matahari pagi ditemani Ochi, perawat pribadi yang bertugas menjaga Tuan Ibrahim.


Pria itu sengaja meminta perawat pribadinya itu membawa kursi roda melewati lorong yang terhubung dengan ruang makan dan dapur. Namun tanpa sengaja dia mendengar perdebatan sengit antara Mark dan Gladys.


Awalnya dia mengira Gladys akan merasa senang bila mertuanya tinggal di panti wreda tapi wanita itu malah memberikan reaksi yang berbeda. Jauh diluar perkiraan.


Tuan Ibrahim mengusap sudut matanya, dia menangis haru mendengar menantu yang dulu pernah dihina kini malah mempertahankannya untuk tetap tinggal bersama.


"Kamu mendengar semuanya, Ochi?" tanya Tuan Ibrahim dengan suara parau.


"Ya, Tuan." Gadis itu mendongakan kepala ke atas, menghalau agar air mata tidak jatuh ke pipi.


"Anda menangis, Tuan?"


"Aku menangis haru. Tak menyangka menantu yang dulu pernah kuhina kini malah berdebat dengan suaminya demi membelaku."

__ADS_1


"Sementara menantu yang kubela habis-habisan malah ingin aku enyah dari mansion yang kubeli dengan keringat dan air mata."


"Anda beruntung memiliki menantu baik dan cantik seperti Nyonya Gladys."


***


Mark duduk di kursi kemudi dengan wajah bahagia. Setelah melewati sarapan penuh drama rumah tangga, akhirnya sepasang suami istri itu sepakat mengajak Tuan Ibrahim tinggal bersama.


Pria itu menginjak pedal gas mobil warna silver melaju di jalanan cukup padat Ibu Kota. Hari ini mereka akan mulai survei rumah sesuai keinginan istri tercinta.


Seharian ini sudah ada delapan rumah yang disambangi oleh sepasang suami istri itu tapi tidak ada satu pun yang sesuai dengan keinginan Gladys.


Di dalam mobil, raut wajah Mark berubah menjadi frustasi sebab dia sudah mulai lelah jika harus berkeliling lagi.


Gladys mengernyitkan dahi. "Kamu kenapa, Kak? Sudah lelah menemani istrimu mencari rumah baru?" Wanita itu sedang menyusui putranya. Dia duduk di samping suami.


Mark sengaja mengajak anaknya karena belum terbiasa menitipkan Alpukat pada orang asing. Meskipun ada kepala pelayan, orang paling bisa dipercaya tetapi tetap saja nalurinya sebagai seorang Papa tidak tega jika harus meninggalkan sang buah hati dalam jangka waktu berjam-jam lamanya.


"Lelah, tentu saja tidak. Aku masih semangat kok." Pria itu memaksakan diri untuk tersenyum, padahal dalam hati dia memang merasa sudah lelah.


"Baiklah, baiklah! Terserah kamu saja," ujarnya sambil meringis kesakitan.


"Kamu kenapa, Sweetheart?" tanya Mark.


Dia langsung menghentikan kendaraannya di bahu jalan, setelah mendengar rintihan dari mulut sang istri.


"Sepertinya Alpukat protes karena sejak tadi aku terlalu fokus mengobrol denganmu, Kak."


Pria itu mengerutkan dahi lalu menatap anaknya yang tengah lahap menyusu ASI langsung dari pabrik.


"Alpukat, kamu tidak boleh menyakiti Mamamu, Nak. Ingat, jadi laki-laki harus melindungi wanita dan menjaganya!" Mark berkacak pinggang dan pura-pura memarahi putranya.


Namun, bayi pemilik pipi tembem itu malah tersenyum ke arah Papanya.

__ADS_1


Tingkah menggemaskan Alpukat membuat Mark tidak tahan. Dia mengelus dan mencium pipi anaknya dengan penuh cinta. "Kamu sengaja mengerjai Papa ya!" ucapnya pada bayi montok itu.


"Lain kali tidak boleh menyakiti Mamamu ya, Nak. Kita berdua harus bekerjasama melindungi Bidadari ini agar hidupnya selalu bahagia. Oke?" ujar Mark seraya mengedipkan sebelah mata ke arah putranya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dari lokasi perumahan sebelumnya, kini mobil warna silver itu memasuki kawasan perumahan elite di Jakarta.


Perumahan itu berada di lokasi cukup stategis. Di kelilingi berbagai fasilitas umum seperti, restoran, rumah sakit, apotek, taman kota, pusat perbelanjaan dan jaraknya pun tidak terlalu jauh dari kantor, tempat Mark mencari rezeki.


Dalam satu blok perumahan terdapat beberapa fasilitas yang disediakan oleh pihak developer seperti sarana ibadah, jogging track, taman, area bermain anak dan sarana olahraga lengkap yang bisa digunakan oleh penghuni cluster. Gerbang masuk ke perumahan cluster terbatas hanya ada satu atau dua buah gerbang masuk utama. Dilengkapi sistem keamanan 24 jam dan diawasi CCTV sehingga memberikan rasa aman bagi penghuni perumahan.


Sesampainya di lokasi, Gladys dan Mark disambut hangat oleh marketing perumahan. Pria jangkung dalam balutan kemeja lengan pendek berjalan menghampiri pasangan itu.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya."


"Perkenalkan, saya Hans. Marketing yang akan membantu Anda." Pria itu mengulurkan tangan dan disambut oleh Mark.


"Senang sekali bisa bertemu dengan pengusaha sukses seperti Tuan Mark."


"Saya..."


Mark mengangkat tangan ke udara, menginstruksikan agar pria itu berhenti berbicara.


"Bolehkah kami langsung melihat-lihat kondisi rumah ini?" tanya Mark. Pria itu memberikan tatapan tajam hingga membuat Hans membisu.


"Tentu, Tuan. Tentu saja. Mari silakan."


Kemudian pasangan suami istri itu berjalan, saling menautkan tangan satu sama lain.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2