
Gladys mengerjapkan mata, merasa asing dengan kamar tidurnya. Kamar itu dua kali lebih luas daripada miliknya serta di dominasi warna biru langit yang identik dengan seorang pria. Tidak ada ranjang bayi, tempat putranya tertidur.
"Kamu sudah bangun?" tanya seorang pria sambil menggendong bayi laki-laki pemilik pipi tembem seperti bakpao, makanan khas Tiongkok.
Wanita itu terlonjak kaget mendengar suara Mark dari balik pintu kaca sliding (geser). Rupanya pria berdarah campuran itu membawa buah cinta mereka duduk di balkon seraya menikmati pemandangan taman belakang rumah yang sangat asri.
Gladys beringsut duduk lalu menyenderkan punggung di sandaran ranjang.
"Sejak kapan Kakak berada di kamarku?" tanya Gladys. Dia menyingkap selimut, menghembuskan napas kasar. "Ehm, maksudku kamarmu." Wanita itu meralat kalimatnya.
"Tidak perlu meralatnya, Sweetheart. Kamar ini juga milikmu. Apa yang kumiliki, kelak akan menjadi milikmu juga." Pria itu duduk di tepi ranjang kemudian mencium puncak kepala istrinya.
"Tidurmu nyenyak sekali hingga suara tangisan Alpukat tidak mengusik mimpi indahmu. Itulah kenapa jam segini aku sudah berada di kamar bersama anak kita."
"Aku tidak tega membangunkanmu dan memutuskan membawa Alpukat ke bawah lalu meminta pelayan menghangatkan ASI yang sudah kamu sediakan semalam." Mark berjalan ke arah westafel lalu membantu putranya mencuci tangan. Bayi montok itu baru saja memakan cemilan berupa biskuit khusus bayi.
"Maaf, sudah merepotkan Kakak. Nampaknya aku mengalami jet lag. Akibat perjalanan kemarin," ucap Gladys lirih.
Mark terkekeh, lantas mendudukan Alpukat di kasur membiarkan tubuh si kecil berguling ke sana ke mari laksana sebuah gangsing yang terus berputar tanpa henti. "Tidak perlu meminta maaf. Kita sepasang suami istri dan sudah sepantasnya saling membantu. Aku tidak mau dicap sebagai laki-laki yang hanya mampu membuatmu hamil tanpa mau membantu merawat si kecil."
Gladys tersenyum masam, lalu meraih ponselnya di atas nakas. Terdapat lima panggilan tak terjawab. Dia mengernyitkan alis kemudian membuka kuncil pengaman benda berbentuk pipih tersebut.
"Naomi, ada apa dia meneleponku sepagi ini?" gumamnya. Jemari lentik itu mengirimkan sebuah pesan untuk sahabatnya.
"Ada masalah apa?" tanya Mark. Pria itu menggengam tangan istrinya. "Jika ada masalah, kita diskusikan. Jangan dipendam sendiri. Siapa tahu, aku bisa membantumu."
"Naomi menghubungiku tetapi tak sempat diangkat. Seandainya kami janjian bertemu, apakah Kakak akan mengizinkan?"
Mark mengacak rambut kecoklatan milik istrinya. "Tentu saja. Dia sahabatmu dan kalian sudah lama tidak bertemu. Mana mungkin aku melarang istriku menemui sahabatnya sendiri."
"Sekarang bersihkan dirimu, setelah itu sarapan. Hari ini akan menjadi hari melelahkan bagi kita." Mark mengerlingkan mata.
"Memangnya kita akan melakukan apa? Jangan melanggar janji yang sudah diucapkan di depan Mama dan Kak Joe. Kita belum mengulang ijab qabul jadi tidak mungkin melakukan itu!" ucap Gladys. Wanita itu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh.
__ADS_1
"Hei... Tenang, Sweetheart. Aku tidak akan melanggar batasan. Apa kamu lupa, hari ini kita akan survei rumah. Bukankah semalam sudah sepakat kita akan berangkat pagi agar bisa secepatnya pindah."
Perlahan-lahan Gladys menurunkan selimut, mata almondnya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti seekor kelinci yang sedang mengawasi musuh.
"Aku masih sanggup berpuasa, menunggu hingga kamu benar-benar siap," bisiknya di telinga Gladys.
Tiba-tiba rona merah di wajah menjalar sampai ke leher dan daun telinga. Rasanya ingin memaki dirinya sendiri karena sudah berpikiran mesum sepagi ini. Dia bahkan lupa bahwa hari ini mereka sepakat mulai mencari rumah baru untuk tempat tinggal.
"Bergegaslah. Aku akan menunggu di bawah."
Mark menggendong Alpukat dan meletakannya di dalam stroller lalu keluar kamar. Meninggalkan Gladys yang masih terduduk di atas ranjang.
Gladys menghela napas kasar. Bisa-bisanya dia berpikiran mesum padahal dia sendiri meminta Mark segera mencarikan rumah baru karena tidak mau tinggal di bawah bayang-bayang Stevanie. Namun, wanita itu malah berpikiran negatif tentang suaminya sendiri.
Argh! Rasanya aku ingin menggali kuburanku sendiri dan tidak mau muncul lagi di hadapan pria itu!
***
Mark tersenyum menyambut kehadiran istri tercinta. "Alpukat bersama kepala pelayan sedang bermain di taman belakang," ucap Mark setelah istrinya duduk tenang di kursi.
Dua orang pelayan meletakan piring berisi sandwich isi sayuran dan daging ke atas meja. Aromanya menggiurkan. Terdapat satu gelas susu putih hangat dan satu gelas susu cokelat khusus ibu menyusui di atas meja makan.
"Papa tidak ikut sarapan bersama kita?"
"Beliau sudah makan, jauh sebelum kita bangun. Karena harus minum obat tepat waktu. Kalau terlambat, maka Yusuf atau Ochi akan mengoceh sepanjang hari. Sampai aku jengah mendengarnya."
"Mereka lebih galak daripada aku. Padahal yang menggaji mereka adalah aku," ucap Mark disertai tawa.
"Baguslah, setidaknya di dunia ini ada orang lain yang berani memarahimu selain Kak Joe." Gladys memasukan potongan sandwich ke dalam mulut lalu mengunyahnya hingga lu*at.
"Jangan sebut nama itu, aku masih marah atas perbuatannya dulu. Dia tega meninggalkanku di saat pikiran dan hatiku kacau akibat kepergianmu."
Wanita itu tidak menjawab. Dia masih belum bisa melupakan semua kejadian di masa lalu. Entah kenapa, setiap kali orang lain mengungkit masa lalu hatinya akan terasa sakit membuat moodnya tiba-tiba berubah.
__ADS_1
"Sweetheart, maafkan aku."
"Sudah, jangan diungkit lagi. Aku sedang tidak ingin membahas masa lalu yang akan membuat hatiku semakin terluka," sergah Gladys.
Pria itu mengangguk pasrah. "Baiklah, aku tidak akan mengungkit masa lalu lagi. Mari kita kubur dalam-dalam dan mulai menata kembali kehidupan kita."
"Kak, setelah kita pindah rumah, Papa akan tinggal di mana?" tanya Gladys setelah menghabiskan satu potong sandwich. Kini dia beralih meneguk susu cokelat yang dibuat khusus untuknya.
"Papa minta aku mengantarkannya ke panti wreda karena tidak ingin menggangu rumah tangga anak dan menantunya."
"Lalu, Kakak menyetujuinya?" Gladys memasang wajah serius.
"Tentu saja, aku menyetujuinya. Itu keinginan Papa, jadi sebagai anak berbakti akan kukabulkan," jawab Mark santai.
Brak!
Terdengar suara gelas dibanting, beradu dengan meja makan menimbulkan suara nyaring sehingga mengganggu indera pendengaran.
"Omong kosong! Kenapa malah menyetujuinya. Beliau adalah orang tuamu, Kak. Setelah Mama meninggal, bukankah hanya Papa yang mendidik dan membesarkanmu hingga dewasa. Lantas mengapa kini setelah Papa sakit dengan mudahnya menyingkirkan Beliau begitu saja."
"Seharusnya kita merawat Beliau di usia senja, bukan malah menyerahkannya ke panti wreda. Aku yakin, Papa berkata begitu karena tidak mau merepotkan kita. Kak, setiap orang tua itu menginginkan hidup bahagia bersama anak, menantu dan cucunya. Begitu pun dengan Papa."
"Jadi, tolong izinkan Papa tetap tinggal bersama kita. Selamanya," ucap Gladys bersungguh-sungguh.
Bersambung
.
.
.
Note : Panti Wreda \= Panti Jompo.
__ADS_1