BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
MELINDUNGI GLADYS


__ADS_3

Gladys menyingkap selimut yang membungkus tubuh polosnya. Tidak ada sehelai benang pun yang tersisa, tapi sisa percintaan semalam bersama Mark terdapat di mana-mana.


Dengan tenaga yang tersisa, wanita itu berjalan menuju kamar mandi. Dia merasakan seluruh tubuhnya remuk bagai dilindas mobil tronton bermuatan berat. Tadi malam, Mark seperti binatang buas, menerkam wanita itu tanpa memberinya ampun. Pria itu bahkan tidak membiarkan Gladys menghirup aroma kebebasan walau hanya sebentar saja. Dia terus menyerang dan kembali menyatukan tubuh mereka.


Gladys tidak dapat menghitung sudah berapa kali Mark menumpahkan lahar panas miliknya di luar namun yang pasti, mereka benar-benar mengakhiri momen indah tadi malam tepat saat fajar menyingsing.


"Astaga, tadi malam Kak Mark benar-benar tidak membiarkan aku beristirahat. Dia seperti orang yang sudah bertahun-tahun berpuasa," racau Gladys.


Wanita itu mengguyur tubuhnya di bawah air shower yang hangat. Dia merasakan setiap tetesan air yang keluar dari atas sana. Memberikan ketenangan dan mampu mengembalikan energi pasca permainan panas semalam.


Hanya berbalut kimono, Gladys keluar dari kamar mandi, lalu menuju walk in closet yang berada di samping kamar tidur. Dia mencari pakaian yang mampu menutupi bagian leher agar semua orang tidak melihat jejak percintaan semalam bersama suami tercinta.


Setelah berpakaian rapi dan merias diri secantik mungkin, dia turun ke lantai satu. Di ruang tamu sudah ada Yusuf, Tuan Ibrahim dan Bi Diah yang sedang bermain dengan Alpukat.


"Selamat pagi, semua," sapa Gladys sambil tersenyum cerah.


"Halo, anak Mama. Duh... Kamu pintar sekali, bangun tidur tidak rewel." Gladys mengangkat tubuh putranya, lalu memberikan ciuman di pipi tembem dan kening putranya.


"Alpukat sudah tiga hari ini tidak menangis ketika bangun tidur, Nyonya. Tampaknya dia sudah mulai terbiasa tidur sendirian di kamar." Tangan Bi Diah sibuk menyiapkan sarapan untuk bayi montok yang sedang digendong oleh Mamanya.


Wanita itu tersenyum, lalu mengusap lembut rambut Alpukat. "Hebat ya, anak Mama. Sudah mulai mandiri dan berani bobo sendiri," ucap Gladys dengan mata berbinar bahagia.


"Gladys, apakah Mark belum bangun?" tanya Tuan Ibrahim. Sejak tadi dia mengedarkan pandangan ke lantai atas, berharap menemukan sosok putra semata wayangnya berdiri di sana dengan setelan jas yang membuat pria itu terlihat lebih tampan.


"Belum, Pa. Mungkin sebentar lagi turun."


Sementara itu, Mark sedang bersiap di kamar. Dia sedang memandangi keindahan tubuhnya dari pantulan cermin di depan sana. Bekas goresan kuku menancap di punggung dan lengan bagian atas.


"Semalam benar-benar nikmat. Tubuh Gladys memang candu bagiku." Seulas senyum terlukis di bibir pria itu.


Tak berselang lama, suara deru mobil berhenti tepat di depan pintu. Seorang pria dengan postur tinggi menjulang ke atas, memiliki paras rupawan dan hidung mancung berjalan masuk ke dalam ruang tamu.


"Halo semua, selamat pagi," sapa Joe ketika melihat semua orang berkumpul di ruang tamu terkecuali Mark, adik iparnya.

__ADS_1


"Kak Joe, kenapa tidak memberitahuku kalau akan datang ke sini," ujar Gladys setelah melihat sosok Kakak tersayang datang berkunjung. Dia segera menghambur ke depan, memeluk tubuh pria itu.


"Dasar manja! Memangnya aku harus memberitahumu setiap kali akan mengunjungi keponakan tersayangku, hah?" Joe mengusap rambut adiknya yang masih sedikit basah.


Pria itu memincingkan alis, lalu memperhatikan penampilan Gladys. Rambut setengah basah, berpakaian menutupi hingga ke leher, wajah adiknya itu terlihat lebih bersinar dan dia bisa menyimpulkan sendiri bahwa tadi malam telah terjadi gempa lokal di kediaman keluarga Pieter.


"Halo Tuan Ibrahim, apa kabar?" sapa Joe setelah melepaskan pelukan.


"Baik. Tumben, pagi-pagi sekali kamu sudah berkunjung ke sini."


"Iya Tuan, ada hal yang ingin saya diskusikan dengan Mark."


"Kak Mark sebentar lagi turun. Bagaimana kalau kita sarapan dulu. Kebetulan kepala pelayan sudah menata hidangan di meja makan."


Sementara itu, Mark sudah berdiri di ambang pintu, memperhatikan gerak gerik istrinya dari jarak kurang lebih dua meter. Dia memejamkan mata. Bayangan-bayangan permainan semalam kembali berputar dalam benaknya.


"Sweetheart, ayo sarapan. Aku sudah menyiapkan makananmu," ujar Gladys lembut.


Pipi Mark bersemu merah mendengar kata sweetheart. Rasanya seluruh tubuh pria itu melayang ke udara, debaran lembut di hatinya kembali bertabuh seperti sebuah parade.


"Atau jangan-jangan, semalam kamu lembur, memberikan aku keponakan baru?" timpal pria itu acuh.


Mark melotot. Dia meninju pundak iparnya dengan sangat keras. "Tidak usah banyak cakap!"


Joe terkekeh puas melihat, adik dan iparnya salah tingkah. Membuatnya semakin gencar menggoda mereka.


"Ada apa pagi-pagi kamu sudah ke rumahku?" tanya Mark setelah mendudukan bokongnya di kursi.


"Aku ingin membicarakan suatu hal penting, tapi hanya kita berdua."


"Baiklah, setelah sarapan kita ke ruang kerjaku."


"Memangnya ada apa, Kak? Mengapa aku dan Papa tidak boleh mengetahuinya!" ujar Gladys.

__ADS_1


"Belum saatnya kamu tahu, tunggu setelah semuanya jelas baru Mark memberitahumu," ucap Joe dengan intonasi tegas.


Gladys menghela napas kasar. Jika sudah mendengar Kakaknya berkata dengan intonasi tegas maka dia tidak berhak membantah lagi. Akhirnya dia melanjutkan aktivitasnya. Wanita itu menyuapkan makanan ke dalam mulut, sesekali melirik ke arah suaminya yang terlihat sangat tampan hari ini.


Ah... Hari ini suamiku terlihat lebih tampan. Aku baru menyadari bahwa dia benar-benar mempesona. Pantas saja Alpukat mewarisi ketampanan Papanya.


Setelah menghabiskan semua hidangan di atas meja makan, Gladys kembali ke kamar. Dia menjalankan tugasnya sebagai Ibu rumah tangga yaitu menjaga buah hati tercinta. Tuan Ibrahim ditemani Yusuf kembali ke kamar. Sementara Mark dan Joe berada di ruang kerja.


"Katakanlah, ada hal apa kamu datang ke sini?" tanya Mark tanpa basa basi.


Joe mendengus kesal mendengar pertanyaan adik iparnya. "Tidak bisakah kamu basa basi dulu sebelum mengobrol denganku!" ucap pria itu seraya mendudukan tubuh di atas sofa.


"Aku tidak punya banyak waktu melayani pria tengil sepertimu, Joe."


"Baiklah... Baiklah... Aku akan mengatakannya. Ada dua hal yang ingin kubahas denganmu. Pertama tentang gosip yang sedang beredar di luaran sana. Kamu pasti sudah mendengarnya kan?"


Mark mengerutkan kening. Ya, sudah beberapa hari ini dia melihat berita miring beredar di luaran sana membahas kemelut retaknya rumah tangga pria itu dengan Stevanie. Padahal dia sudah berusaha menutupi rumor itu tapi apa daya tetap mencuat kepermukaan.


"Hem... Aku sudah melihatnya. Untung saja Gladys tidak termakan oleh berita miring itu!"


"Baguslah. Tugas kita saat ini adalah, mencari dalang dibalik semua berita miring yang beredar. Sementara waktu, jangan biarkan Gladys pergi sendirian. Kalau bisa minta dia berdiam diri di rumah sampai berita itu hilang."


"Oke, aku akan meminta orang menyelidikinya. Lantas, yang kedua apa?" tanya Mark penasaran.


"Ehm... Yang kedua adalah..."


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


Mohon maaf baru bisa update. 🙏


__ADS_2