
Seusai meminta izin pada orang tua angkat Ameera, Mama Aura menaiki tangga menuju lantai dua di mana letak kamar gadis itu berada.
"Meera, apakah kau sudah tidur?" tanya wanita itu sambil mengetuk pintu kamar.
"Pintu tidak dikunci, masuk saja."
Kemudian Mama Aura masuk ke dalam kamar membawa nampan berisi 3 buah yogurt dan segelas jus alpukat less sugar.
"Mama kira kamu tertidur setelah makan siang tadi," ia meletakan nampan di atas nakas.
Ia pun berjalan mendekati ranjang, mengusap lembut rambut putrinya yang tergerai di atas bantal.
Ameera merubah posisinya, kini ia duduk dan menyenderkan kepala dalam dekapan sang Mama. Lama gadis itu larut dalam suasana.
"Mama tahu yang kamu rasakan, Nak. Kak Joe sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan sejak dua minggu lalu."
Gadis itu mendongak, "Ma, aku ingin dipanggil Gladys lagi jika terus menggunakan nama Ameera rasanya hati ini sakit, sakit sekali," ujarnya sambil menyentuh letak di rongga perut kanan bagian atas, tepat di bawah rusuk bagian kanan.
"Bukannya Gladys tidak menghargai nama pemberian Ayah dan Bunda cuma dada ini selalu sesak jika mengingat bagaimana perlakuan mereka dulu."
"Apapun yang kamu inginkan, Mama pasti akan mengabulkan termasuk pergantian namamu, Sayang."
Wanita itu mengusut air mata yang terus mengalir di pipi.
"Jangan menangis lagi, Mama bawakan yogurt dan jus kesukaanmu."
"Ayo dimakan dulu!"
Mama Aura bangkit, membawakan nampan ke pangkuan Ameera. Gadis itu pun patuh dan melihat cemilan sehat di hadapannya. Semua cemilan itu begitu menggoda selera, membuat otakknya mulai bekerja yang seolah memberikan sinyal bahwa akan ada makanan masuk ke mulut tanpa sadar air liurnya menumpuk dan hampir menetes.
"Kamu bisa menikmatinya, semua itu milikmu." kata Mama Aura sambil mengupas bungkusan yogurt.
"Terima kasih, Ma tapi Meera..."
"Ehm... Maksudku, Gladys ingin minum jus dulu setelah itu baru makan yogurt."
"Ini, lekas habiskan. Sepertinya cucu Mama sudah tak sabar ingin mencicipi jus kesukaannya bahkan tanpa sadar air liurnya sudah menetes," wanita tua itu tertawa melihat putrinya menekuk wajah ke dalam.
"Saat kamu mengambek, mirip sekali seperti Papamu," ia mencubit hidung mancung gadis itu.
"Ih, Mama."
Protes gadis itu sambil meminum jus menggunakan sedotan, ia terlihat menikmati minuman itu dengan hati senang.
"Meskipun aku berpisah dengan Kak Mark tapi hidupku harus terus maju, tidak boleh menoleh kebelakang," gumamnya dalam hati.
***
__ADS_1
Brak!
Tersengar suara gebrakan meja yang dilakukan oleh seorang pria, ia sedang terbakar amarah saat mengetahui Joe mengajukan pengambilan saham milik keluarga Kurniawan.
Selama lebih dari 27 tahun keluarga Kurniawan menanam saham pada perusahaan milik Tuan Ibrahim kini tanpa alasan Joe menarik kembali asetnya, membuat pria itu kebingungan ditambah keadaan PT Indah Sentosa saat ini sedang dalam keadaan tidak baik.
"Lantas, di mana Joe sekarang?" bentak Mark.
"Tuan Joe saat ini berada di ruang rapat."
Mendengar hal itu, ia langsung meninggalkan ruangan CEO dan menemui Joe di ruang rapat.
Pria itu duduk secara perlahan, sebelum membuka suara ia menghela napas dalam dan memberanikan diri untuk menanyakan alasan mengapa keluarga Kurniawan menarik saham dari PT Indah Sentosa.
"Joe..." Mark mengatupkan kembali mulutnya serta melirik ke arah pria itu. Ia menatap manik hitam milik Joe secara intens.
Kali ini tatapan mata pria itu dingin, tak ada sorot bersahabat di dalamnya. Sangat berbeda jauh dibandingkan hari-hari sebelumnya.
"Mungkinkah ini ada hubungannya dengan berita hoax itu?" batin Mark.
"Kamu sudah tahu pasti mengapa aku datang kesini," ucap Joe singkat tanpa basa-basi.
"Kalau boleh, tolong jelaskan alasanmu mengapa menarik semua saham di perusahaan yang sudah orang tua kita bangun selama ini," tanyanya, seolah Mark lupa tentang pemberitaan yang sedang panas di dunia maya.
Joe tidak langsung menjawab, ia melirik sambil tersenyum sinis, "Gladysku pintar tapi mengapa ia bodoh telah mencintai pria brengsek seperti Mark," ujarnya dalam hati.
"Aku tak mau menghabiskan banyak waktu, cepat tanda tangani berkas ini setelah itu kita tidak akan memiliki hubungan apapun."
"Tapi Joe, bagaimana dengan perusahaan ini jika kamu menarik semua saham mendiang Om Taufiq."
"Dan perusahaan ini akan berada diambang kehancuran jika kamu mengundurkan diri," ujar Mark dengan suara nyari tak terdengar.
Mendengar perkataan pria itu, Joe mendekatkan tubuhnya ke arah Mark. Ia mendelik, bahkan memberikan sorotan mata menghunus tajam.
"Aku tidak peduli dengan kalian."
"Saat istri dan Papamu menyakiti Gladys, apakah kalian memikirkan perasaan gadis itu? Apakah kamu memikirkan bagaimana menderitanya dia selama menjadi istri yang tidak dianggap oleh siapapun bahkan oleh mertuanya sendiri!"
"Inikah balasan atas jerih payah yang dilakukan oleh mendiang Papa dan aku!"
"Kalian menyiksa badan dan psikis adikku, Gladys!" ucap Joe menggebu-gebu.
Joe terdiam sejenak, leher pria itu terasa tercekik dan kerongkongannya kering.
Mark tertunduk lesu, pria itu mengalihkan pandangan kebawah meja berplitur coklat muda. Jemarinya saling meremas satu sama lain. Sungguh ia menyesali semua kekhilafan yang sudah diperbuat selama ini pada Ameera, seorang gadis berusia 21 tahun pemilik mata almond dan penyuka buah alpukat.
"Maaf, karena dulu mata dan hatiku begitu buta sehingga tanpa sadar sudah menyakiti hati istriku yang lain."
__ADS_1
"Dulu aku bodoh karena terlalu mencintai wanita itu!"
"Ya, kamu memang bodoh Mark bahkan tidak bisa membedakan mata berlian asli dan imitasi."
Joe menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, "semua sudah selesai dan tolong segera kau bubuhkan tanda tanganmu di berkas ini."
Pria itu menyodorkan berkas dan pena ke depan meja Mark.
"Joe, apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bisa bersatu dengan Gladys dan putraku?" tangannya sudah menggenggam pena berwarna biru di atas kertas putih.
"Hanya takdir yang dapat menjawab pertanyaanmu."
Kemudian Mark menanda tangani berkas yang menyatakan bahwa keluarga Kurniawan sudah menarik semua sahamnya dari PT Indah Sentosa.
"Meskipun Ameera bukan Gladys, kamu tidak pantas memperlakukan istrimu dengan tidak adil. Dia adalah gadis yang kesuciannya telah kau rampas, seharusnya berikan kebahagiaan untuknya bukan malah memberikan penderitaan," ucap pria itu sambil bangkit dari kursi.
Joe melangkahkan kakinya keluar ruang rapat, ia berpamitan pada seluruh karyawan perusahaan sebab mulai hari ini pria itu sudah tak lagi menjabat sebagai asisten sekaligus kaki tangan Mark.
"Tuan Joe, apakah Anda yakin akan meninggalkan perusahaan ini?" tanya Barra salah satu mahasiswa magang yang kini menjabat sebagai salah satu karyawan tetap di perusahaan.
Dulu, saat Ameera meminta Mark menceraikannya, pria itu memberikan perintah pada Joe untuk menawarkan pekerjaan pada kelima mahasiswa magang seperti Ameera, Donny, Naomi, Emon dan Barra untuk bekerja di PT Indah Sentosa meskipun mereka belum lulus kuliah.
Pria itu mulai takut kehilangan istrinya, ia melakukan segala macam cara untuk mempertahankan Ameera sehingga Mark menghalalkan segala macam cara termasuk menawarkan pekerjaan pada gadis itu dan teman-temannya yang lain.
Dari kelima, hanya Naomi dan Barra saja yang bersedia sementara Donny memilih untuk menolak atas paksaan sang Mama. Emon lebih memilih melanjutkan usaha Mamanya dibidang katering.
"Barra, menurutmu apakah aku akan berdiam diri melihat adikku disakiti terus oleh mereka?"
Pria itu menggelengkan kepala, "tentu saja tidak. Anda pasti akan melakukan sesuatu untuk membela adikmu."
"Itulah yang aku lakukan saat ini. Kamu dan Naomi teruslah bekerja, meskipun hanya tersisa kalian berdua tetaplah bersemangat dan jangan pernah menyerah."
"Kalian punya potensi untuk bisa terus berkarier," ucapnya sambil menepuk pundak Barra dan Naomi bergantian.
"Ingat semua pesan yang kuucapkan kemarin," bisiknya sambil meninggalkan ruangan.
"Tentu, Tuan. Saya akan mengingat semua pesan yang Anda ucapkan kemarin. Terima kasih sudah memberikan kepercayaan padaku untuk mengemban amanah ini," gadis itu tersenyum simpul sambil menatap kepergian Joe.
Bersambung
.
.
.
Maaf baru sempat update, soalnya author sedang di kampung halaman suami nengokin mertua jadi mesti curi-curi waktu agar bisa ngetik. Jangan lupa dukungannya. Terima kasih. 🙏
__ADS_1