BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
MELBOURNE


__ADS_3

"Halo Joe, sesuatu hal buruk telah menimpa Ameera. Malam ini tolong siapkan pesawat jet dan semua keperluan adikmu serta Tuan dan Nyonya Rinaldi. Mereka semua akan terbang bersama Mama!" titah Mama Aura saat terdengar suara diseberang sana.


"Baik Ma, akan Joe persiapkan semuanya."


"Apa kamu masih lembur?"


"Masih, kami semua diminta untuk lembur kemungkinan malam ini tidak akan pulang."


"Mark masih bersamamu?"


"Tentu saja! Ia bahkan tak memiliki waktu untuk mengisi perutnya."


"Baguslah, itu artinya Mama memiliki banyak waktu untuk mengemasi semua pakaian adikmu."


"Ma, apa tidak sebaiknya kita memberi tahu Mark terlebih dulu. Bahwa akan membawa istrinya pergi dari Indonesia! Bagaimanapun juga, ia adalah suami sah Ameera."


"Biarkan saja! Mama ingin memberikan pelajaran karena pernah menyia-nyiakan putriku. Jika pria itu tulus mencintai adikmu, maka ia akan mencari hingga ke ujung dunia."


"Tapi, Ma..."


"Stop Joe, ini sudah keputusan final. Kamu cukup laksanakan perintah Mama dan jangan sampai membuat kesalahan!"


"Baik, Ma!"


Kemudian sambungan telepon terputus.


"Mama jadi protektif terhadap Ameera!" ucap Joe lirih.


"Siapa yang meneleponmu!" tanya Mark di balik tubuh sahabatnya.


"T-tuan Mark... b-bukan siapa-siapa," ucap pria itu terbata-bata.


"Aku ingin kembali ke ruangan sebentar, perasaanku tak tenang. Bayangan Ameera selalu muncul dalam benakku."


"Aku akan mandi sambil mengisi daya ponsel, setelah itu menghubungi Ameera."


Mark langsung meninggalkan Joe yang masih mematung di tempat. Pria itu berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerjanya.


Tuan, entah bagaimana reaksimu saat mengetahui Ameera sudah tak lagi ada di negera ini, mungkin kau akan mengila bahkan hilang akal akibat kepergian adikku secara mendadak.


Maafkan kami sudah mengambil keputusan tanpa melibatkanmu, semoga kau mengerti. Ini semua demi kebaikan kita semua.


Joe langsung menyiapkan semua keperluan yang diminta sang mama. Ia menelepon pilot pribadi, menyiapkan semua berkas untuk kepindahan adiknya dan kedua orang tua angkat gadis itu.

__ADS_1


***


"Nyonya Aura, saya dan suami akan pulang ke rumah sebentar mengemasi pakaian kami setelah itu kembali ke sini."


"Baik, supir saya akan mengantar kalian."


Ayah Reza dan Bunda Meta segera bergegas menuju parkiran rumah sakit, seorang supir sudah menunggu bersiap mengantarkan kemanapun mereka pergi.


"Pak, tolong antarkan kami ke Jln. Nyiur Melambai No. 7."


"Baik, Bu!"


"Untuk menghemat waktu, kita bagi tugas. Bunda akan mengemasi pakaian Ameera di rumah kontrakan sementara Ayah, tolong siapkan keperluan kita selama di Australia."


"Hu'um."


Pria itu menganggukan kepala.


Setengah jam berlalu dan kini semua orang sudah berkumpul di rumah sakit.


Ameera mengerjapkan mata di saat kesadarannya kembali pulih. Ia membuka mata secara perlahan dan melihat tiga orang sedang duduk di sofa tak jauh dari ranjangnya.


"Ma, kenapa wajah kalian tegang? Dan ini mengapa banyak koper di sini, memangnya kita mau pergi kemana?" tanya gadis itu setelah sadar dari pingsan.


"Benar Meera, Bunda dan Ayah tidak mau ambil resiko dengan mengorbankan nyawamu dan janin ini," Bunda Meta mengusap lembut perut anaknya.


"Apakah Kak Mark tahu?"


"Untuk apa kamu masih memikirkannya! Pria itu tidak becus menjagamu. Ia hanya bisa menanam benih tanpa mampu bertanggung jawab!" ujar Mama Aura ketus.


"Ia pantas mendapatkan hukuman karena sudah menyia-nyiakanmu!"


"Tapi, Ma..."


"Nak, kamu harus menuruti keinginan Mama. Percayalah, jika Mark tulus mencintaimu, ia akan mencarimu hingga ke ujung dunia sekali pun. Mengerti!"


Kali ini Mama Aura bersikap tegas, wanita itu tak mau lagi anaknya ditindas oleh orang-orang jahat seperti Tuan Ibrahim, Stevanie, Mama Donny ataupun yang lain. Bagi wanita itu sudah cukup selama ini Ameera menderita dan kini saatnya ia bahagia dengan identitas yang baru.


Setelah menghabiskan waktu sekitar 6 jam 50 menit dengan jarak tempuh 5500 km, kecepatan penerbangan 900 km/jam, kini Ameera, mama kandungnya serta kedua orang tua angkat gadis itu sudah tiba di Bandara Melbourne, Australia. Merupakan bandara utama yang melayani kota Melbourne dan menduduki peringkat kedua tersibuk di Australia.


Melbourne merupakan ibu kota dan kota terpadat di negara bagian Victoria sekaligus kota terpadat kedua di Australia dan Oseania.


Banyak tempat wisata yang bisa dijadikan destinasi liburan seperti Albert Park, Federation Square, Akuarium Melbourne dan masih banyak lagi.

__ADS_1


"Selamat datang di Melbourne!" Mama Aura merentangkan kedua tangan setelah menuruni jet pribadi.


"Mulai saat ini, kamu akan memulai hidup baru dan identitas yang baru."


"Kamu bukan lagi Ameera yang dulu. Seorang gadis lemah yang selalu dihina orang lain."


"Sekarang, kamu adalah Gladys putri dari Taufiq Kurniawan pemilik saham kedua PT Indah Sentosa dan penerus toko berlian dengan anak cabang di mana-mana."


"Bukan begitu, Tuan dan Nyonya Rinaldi!" Mama Aura melirik ke arah sepasang suami istri yang sedang berdiri tak jauh dari kursi roda putrinya.


"Benar Nyonya, kini tak ada lagi Ameera. Melainkan Gladys, seorang gadis tangguh, kuat dan tak mudah ditindas oleh siapapun!"


"Nyonya, kendaraan Anda sudah siap!" ujar salah satu asisten Mama Aura menggunakan Bahasa Inggris.


Disini author menggunakan Bahasa Indonesia saja ya sebab khawatir susunan kata berantakan, selain itu agar para reader lebih mudah membaca jika menggunakan Bahasa Ibu. 😊


"Oke, mari Tuan dan Nyonya Rinaldi!" Mama Aura berjalan di depan, mendorong kursi roda Ameera. Ayah Reza dan Bunda Meta berjalan mengekori dari belakang.


Ini merupakan perjalanan pertama bagi pasangan suami istri itu, mereka nampak takjub dengan pemandangan di sekitar.


Seumur hidup tak pernah terpikirkan olehnya bisa menginjakan kaki di negara itu, bahkan memimpikannya pun tak pernah ada dalam benaknya.


"Ma, apakah kita selamanya akan tinggal di sini?" tanya Ameera penuh keraguan.


Sepanjang perjalanan pikirannya melayang-layang jauh di atas awan. Sekelebat bayangan Mark terlintas di memori ingatannya, kilasan kejadian saat pertama kali bertemu pria itu mengusik ketenangannya.


Gadis itu begitu gelisah, ini merupakan hari pertama baginya berada jauh dari Keluarga Pieter seharusnya ia bahagia kelak tak kan berurusan lagi dengan orang-orang jahat yang berniat mencelakai janinnya tapi hatinya terasa hampa seperti ada sesuatu yang hilang dala. genggamannya.


Tuhan, seharusnya aku bahagia karena bebas dari cengkraman kejahatan Nyonya Stevanie tapi mengapa aku gelisah dan merasakan kehampaan dalam hidupku!


Apa Kau sedang menegurku karena pergi tanpa meminta izin Kak Mark?


Jika iya, tolong maafkan aku karea sudah pergi tanpa berpamitan kepada suamiku.


"Kamu masih bisa kembali ke Indonesia jika waktunya sudah tiba. Untuk saat ini, Mama akan membekali kamu ilmu dan merubah penampilanmu agar terkesan lebih berkelas hingga orang lain segan terhadapmu."


Gadis itu hanya termenung sambil menatap ke luar jendela, memandangi keindahan Kota Melbourne di pagi hari.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2