BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
PILLOW TALK VERSI AMEERA-NAOMI


__ADS_3

Ameera tersenyum seketika dan senyuman itu membuat Mark terpesona. Mata, hidung dan bibir gadis itu seperti ada magnet yang menarik tubuhnya untuk semakin mendekat. Perlahan namun pasti kini posisi mereka saling berhadapan, kedua mata saling beradu pandang dan...


"Tuan, Nona, makanan sudah matang," suara ART menyadarkan mereka.


"Maafkan kelancangan saya, Tuan!" ART tersebut menundukan pandangan karena melihat jarak kedua majikannya dalam posisi sangat dekat.


Mark berdehem menetralkan pikirannya yang sempat melayang ke nirvana sementara Ameera membenamkan wajahnya ke dalam selimut.


Sungguh, Ameera malu sekali kepergok oleh ARTnya sendiri tengah duduk berduaan dengan jarak yang begitu dekat apalagi matanya terpejam saat suaminya hendak memberikan ciuman pada bibir ranum gadis itu.


"Sampai kapan kamu akan berdiri di depan situ!" Mark melotot ke arah si bibi yang tengah menundukan pandangan.


"Cepat siapkan meja makan!" titah Mark.


Si Bibi langsung berlari mendengar perintah Mark.


"Sial sekali nasibku, baru kembali menjalankan tugas sebagai asisten sudah melakukan kesalahan. Semoga saja Tuan Mark tidak memecatku karena lancang mengganggu kegiatan mereka."


"Bibi sudah kembali ke dapur, lekas singkirkan selimut itu jika tidak, Alpukat akan kehabisan oksigen."


Ameera menyembulkan kepala dibalik selimut. Matanya yang indah bagai kacang almond dengan bentuk mata yang paling simetris dan kelopak mata lebih kecil memindai setiap sudut kamar.


"Ayo makan, Alpukat pasti sudah kelaparan," dikecupnya puncak kepala gadis itu sebelum membantu istrinya bangkit dari kasur.


"Setelah makan, kamu minta Naomi datang kesini. Minta dia menginap semalam, aku akan kembali ke mansion mengambil beberapa berkas dan pakaian ganti."


Ameera menjatuhkan sendoknya tanpa sadar ke lantai, Mark melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya.


"Maaf Mas, aku tak sengaja."


Gadis itu membungkuk mencari sendoknya yang terjatuh.


"Hentikan! Gerakanmu bisa menyakiti bayi kita."


"Bi, tolong ambilkan sendok bersih untuk Nona!"


"Kamu terkejut karena aku memberitahumu akan kembali ke mansion?"


Gadis itu tak bergeming, ia masih sibuk mengunyah makanan dan menelannya dengan kasar.


"Meera, aku cuma mengambil beberapa dokumen pekerjaan yang tertinggal di ruang kerja."


"Kamu tenang saja, aku sudah tidak menyentuh Stevanie sejak mengetahui kejahatannya," Mark berusaha membujuk istrinya agar tak cemberut lagi. Pria itu tahu bahwa saat ini istrinya sedang cemburu.


"Selain itu, aku juga ingin memberikan waktu padamu untuk saling bercerita dengan Naomi. Kalian sudah lama tak bertemu kan."


"Kenapa kamu tidak minta supir mengantarkannya kesini."


"Itu dokumen penting dan hanya aku yang berhak menyentuh bahkan Joe pun tak kubiarkan membawanya."


"Oke tapi Mas janji langsung pulang setelah semua urusan selesai."


"Janji!"


Beberapa menit kemudian, semua hidangan di atas meja habis tak tersisa. Lauk pauk dan sayuran yang dimasak oleh si bibi habis dalam hitungan menit.

__ADS_1


Mark dan Ameera begitu menikmati kebersamaan mereka, tak jarang terdengar tawa dan canda di sela kegiatan makan siang dengan menu ala kadar.


Meskipun Mark terlahir dari keluarga cukup berada dan berdarah bule tulen namun lidahnya merakyat, ia bisa menyesuaikan dengan situasi bahkan pernah suatu hari istri keduanya ngidam sayur asem, sambal terasi dan ikan asin pria itu ikut menikmati hidangan yang ada.


"Aku pulang dulu, kamu hati-hati di rumah. Jika butuh sesuatu minta Bibi membelinya. Ingat, jangan keluar rumah sebelum aku kembali!"


"Baik, kamu hati-hati di jalan Mas," Ameera mencium punggung tangan suaminya dan mengantar pria itu sampai ke pintu.


"Bi, tolong jaga Nona baik-baik jangan sampai dia terluka!" pesan Mark pada ARTnya sebelum masuk ke dalam mobil.


"Baik, Tuan."


***


Setelah suaminya pergi, ia segera mengambil ponsel dan menghubungi Naomi meminta gadis itu datang.


"Nom, aku sudah pulang dari rumah sakit. Ada masalah yang ingin diceritakan, bisakah kamu kesini dan menginap semalam!"


"Loh, mengapa tidak memberitahuku! Andai saja kamu memberitahu lebih awal mungkin aku akan menjemputmu."


"Aku tahu kamu sibuk makanya tidak memintamu menjemput di rumah sakit," Ameera meluruskan kaki di sofa bed yang ada di ruang tamu, Bi Mirna memijat kaki gadis itu pelan.


"Ih, kamu selalu saja berkata begitu! Kita sudah bersahabat lama, bahkan aku tahu keburukanmu zaman SD dulu. Kamu..."


"Stop Nom, jangan ungkit lagi. Itu akan membuatku malu seumur hidup!" Ameera mendesis.


Naomi tertawa terkekeh membayangkan kejadian dulu di mana Ameera pernah menyatakan cinta pada seorang siswa laki-laki, namun dia malah dipermainkan oleh laki-laki itu.


Ameera kecil yang masih polos dan baru mengalami cinta monyet pada usia 12 tahun rela menyeburkan diri di kolam ikan koi sekolah hanya untuk membuktikan ketulusan cintanya pada siswa tersebut. Ia menjadi bahan tontonan satu sekolah dan mendapat teguran dari kepala sekolah namun cintanya malah ditolak dan lebih menyakitkan lagi siswa tersebut malah menjalin kasih dengan siswi lain setelah Ameera dimarahi habis-habisan oleh guru di sekolah.


"Oke, aku akan datang setelah pulang kerja. Kamu minta Bibi buatkan spaghetti bologness khusus untukku."


"Sip, akan aku laksanakan!"


Ameera memutuskan sambungan telepon dan meminta Bi Mirna berbelanja di minimarket terdekat.


Tepat pukul 20.00 WIB, Naomi sudah berada di rumah kontrakan. Gadis itu baru selesai mandi dan sedang berganti pakaian. Sebelum menemui Ameera, ia menyempatkan diri pergi ke mall terdekat membeli beberapa cemilan, minuman ringan dan pakaian ganti untuk digunakan olehnya saat bekerja besok karena tidak mungkin dia berangkat bekerja menggunakan pakaian kemarin.


"Meer, apa yang ingin kamu ceritakan padaku?" tanya Naomi setelah mengganti pakaian dan menuangkan body lotion ke seluruh tubuh. Gadis itu merebahkan tubuhnya di sebelah ruang kosong di samping Ameera.


"Nom, kemarin siang Bunda memberitahuku bahwa aku bukanlah anak mereka!"


"Apa!" Naomi segera duduk di sandaran ranjang.


"Kamu serius! Bagaimana bisa kamu bukan anak Ayah dan Bunda!"


"Terdengar mustihal namun itu kenyataannya. Aku diangkat sejak berusia 4 tahun oleh keluarga Rinaldi. Awalnya Ayah Reza berniat melaporkan kasus kehilangan anak tapi melihat kondisi Bunda yang tak stabil pasca meninggalnya Kak Nancy membuat beliau mengurungkan niat tersebut dan membawaku pulang ke Jakarta."


"Perlahan-lahan kondisi Bunda semakin membaik dan ia kembali dari keterpurukan, itulah sebabnya mengapa mereka begitu protektif dan selalu mengawasi pergaulanku."


"Aku kecewa Nom karena Bunda menyembunyikan rahasia ini selama 17 tahun dan kamu tahu siapa orang tua kandungku?"


Naomi menggelengkan kepala, jiwa keponya bangkit dan ia mencondongkan tubuhnya, membuka telinga lebar-lebar serta menyiapkan mental karena sebentar lagi gadis itu akan mengetahui jati diri Ameera yang sebenarnya.


"Siapa, cepat katakan!" Naomi tak sabar, tangannya menggoyangkan kedua pundak Ameera.

__ADS_1


"Hentikan, Nom! Kamu bisa masuk penjara jika mencelakai Alpukat."


"Cih, kamu sombong sekali mentang-mentang Tuan Mark sudah mulai menentukan pilihan jadi bertindak sesuka hati," gadis itu mengerucutkan bibir.


"Jangan sembarangan bicara, bisa menimbulkan gosip!"


"Aku berbicara sesuai fakta, buktinya sekarang Tuan Mark lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu itu artinya dia sudah mulai memilihmu ketimbang Nenek Lampir itu!" Naomi meninggikan dua oktaf suaranya, ia selalu geram jika mengingat kejahatan yang sudah dilakukan oleh istri pertama dari suami sahabatnya.


"Eh, kenapa malah membahas Nenek Lampir sih. Sudah ayo, cepat katakan siapa orang tua kandungmu!"


"Orang tua kandungku adalah Nyonya Aura Kurniawan."


Mata Naomi terbelalak sempurna, mendadak gadis itu merasakan bumi ini berputar lebih kencang dan semua barang-barang di dalam kamar itu menari seirama dengan deru napasnya yang berhembus lebih cepat dari biasanya.


"J-jadi, kamu anak orang kaya dong!" gadis itu balik bertanya dengan suara terbata-bata.


Ameera sedikit terkejut dengan respon di luar perkiraannya, 'bagaimana bisa sahabatku menanyakan hal tidak penting seperti itu.'


Ia memutar bola matanya dan menjetikan jari ke kening Naomi.


"Dasar Nom-Nom, aku sedang serius cerita kamu malah bertanya hal tak penting!"


"Aduh Meer, maaf. Aku hanya terkejut. Tak kusangka sahabatku Ameera ternyata orang kaya bahkan kekayaanmu melebihi kekayaan orang tuaku."


"Kamu tahu, kekayaan keluarga Kurniawan tidak akan habis sampai 7 turunan."


"Kalau tahu kamu akan berkata hal tak masuk akal, lebih baik tadi tak memintamu datang dan memaksa Bi Mirna berbelanja," gerutunya seraya merubah posisi tidur.


"Ya elah, bumil sensitif terus ih!"


Ia membalikan tubuh sahabatnya dan kini posisi mereka saling berhadapan.


"Maafkan aku, tadi tak bermaksud menyinggungmu. Jujur saja, aku sedikit terkejut mendengar ceritamu karena selama ini aku bersahabat dengan salah satu anak pemilik saham terbesar kedua di PT Indah Sentosa."


"Lantas, apa yang mengganjal pikiranmu saat ini!"


"Aku kecewa karena Ayah dan Bunda sudah membohongiku selama ini!" ucap gadis itu lirih.


"Meera sayang, aku bisa memaklumi perasaanmu. Jika jadi kamu, aku pun pasti marah dan kecewa."


"Namun mau sampai kapan kamu bersikap dingin terhadap mereka. Coba pikirkan, bagaimana sakitnya hati Bunda melihat putri yang dibesarkannya selama ini berubah dan malah membencinya."


"Seharusnya kamu bersyukur karena dua orang itu sudah membesarkanmu dengan penuh kasih sayang meskipun mereka salah."


"Jadi saranku, cobalah memaafkan mereka dan menerima kenyataan ini. Dijamin deh hidupmu akan jadi lebih tenang seperti sebelumnya. Kamu beruntung bisa memiliki 2 ibu, 1 ayah dan 1 orang kakak yang mencintaimu dengan tulus."


"Kamu benar Nom, seharusnya aku tidak bersikap dingin terhadap Ayah dan Bunda."


"Besok, mintalah mereka datang menemuimu untuk menyelesaikan masalah. Oh iya, jangan lupa minta juga Nyonya Aura kesini kamu wajib mengetahui cerita versi wanita itu agar tak terjadi kesalahpahaman diantara kalian," ujar Naomi panjang lebar.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2