BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
DUA WANITA BEDA GENERASI


__ADS_3

"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Ameera setelah merapikan kembali barang belanjaannya.


"S-saya, hanya sedikit lelah," jawab Mama Aura menyembunyikan keterkejutannya.


"Lebih baik Anda duduk dulu di sana," kata Ameera menunjuk sebuah bangku yang disediakan khusus bagi para pengunjung mall untuk beristirahat setelah lelah berbelanja.


Ameera membantu Mama Aura duduk di bangku dan meletakan semua barang belanjaan miliknya ke samping.


"Nyonya, perlukah saya membawa Anda ke rumah sakit?" tanya Ameera dengan posisi sedikit membungkuk, ia menyentuh lengan wanita itu.


Mama Aura menatap wajah Ameera dan merasakan gejolak hebat di dalam diri ketika memperhatikan sosok gadis cantik di hadapannya.


Gadis ini sangat mirip sekali dengan putriku, apakah dia benar-benar Gladys!


"Nyonya!" panggil Ameera.


"I-iya, Mbak!"


"S-saya baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir," ucap Mama Aura terbata-bata.


"Syukurlah!" Ameera menghembuskan napas lega kemudian tersenyum manis.


Wajah dan senyumannya mirip anakku, Gladys!


Ameera memperhatikan raut wajah Mama Aura yang terus saja menatapnya.


Mengapa wanita ini terus memandangi wajahku, apakah ada yang salah dengan penampilanku?


"Gladys!"


Ameera membulatkan matanya mendengar nama yang begitu familiar di telinga.


"Ehm, maksud saya, Mbak..."


"Ameera, panggil saja Meera," gadis itu beringsut duduk dan mengulurkan tangan.


"Mbak Ameera, terima kasih sudah membantu. Perkenalkan, saya Aura Wijaya Kusuma," Mama Aura menjabat tangan Ameera.


"Nyonya, panggil saja Ameera," ujarnya.


"Baik, tapi kamu panggil saya Tante saja jangan Nyonya. Itu terdengar terlalu berlebihan."


Ameera tersenyum dan menganggukan kepala "baik, Tante Aura."


"Oh iya, apakah Tante sudah tidak apa-apa?"


"Iya, saya sudah baikan tadi hanya sedikit lelah mungkin terlalu bersemangat berbelanja jadi lupa kalau usia sudah tak lagi muda."


"Kamu habis berbelanja pakaian bayi?" tanya Mama Aura melirik belanjaan di samping gadis itu.


"Iya, eh bukan. Aduh, bagaimana ya menjelaskannya."


Mama Aura terkekeh melihat perilaku Ameera, "mana yang benar?"


"Meera memang baru saja berbelanja di toko maternity namun yang dibeli dress ibu hamil bukan pakaian bayi."


"Berapa usai kandunganmu?"


"Tujuh belas minggu, Tante."


"Semoga diberikan kelancaran sampai proses melahirkan."

__ADS_1


"Aamiin, terima kasih."


Saat Ameera dan Mama Aura asyik berbincang, ponsel wanita itu berdering.


"Halo, kamu di mana?" tanya Mama Aura saat sambungan telpon terhubung.


"Joe sudah sampai, posisi Mama di mana?"


"Di lantai satu di depan toko buku."


"Baik, Joe akan ke sana."


Kemudian Mama Aura mematikan sambungan telpon dan memasukannya kembali ke dalam tas.


"Maaf ya Meera, tadi anak Tante telpon."


"Tidak apa-apa."


Tak lama berselang seorang pria lajang dengan postur tubuh atletis dan tinggi menjulang berlari menghampiri dua orang wanita beda generasi yang sedang duduk di kursi.


"Ma!" panggil Joe saat ia sudah berada di depan sang mama.


"Kak Joe!" ucap Ameera lirih.


"Loh, kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Mama Aura menatap Ameera dan Joe secara bergantian.


"Sudah Ma, Ameera ini salah satu mahasiswa magang di kantor," Joe menjelaskan pada mamanya secara detail tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun.


"Baguslah, berarti nanti Mama ada alasan untuk berkunjung ke kantor. Lagipula sudah dua tahun tidak main ke sana. Oh iya Joe, apakah si tua bangka masih sering sidak?" Mama Aura menggeser tubuhnya agar Joe duduk di sebelah.


"Ma, panggil beliau dengan sebutan Tuan!" Joe memperingatkan mamanya.


"Cih! Membicarakan orang seperti dia tidak perlu sopan, jika didengar olehnya biarkan saja!" cibir Mama Aura.


Mama Aura dan mendiang istri Tuan Ibrahim merupakan sahabat. Sejak SMP hingga SMA mereka bersekolah di sekolah yang sama. Lama tidak terjalin komunikasi diantara keduanya, hingga suatu hari dipertemukan kembali saat kantor mengadakan Family Gathering di mana setiap karyawan perusahaan di wajibkan membawa keluarga maupun pasangan.


Family Gathering merupakan serangkaian kegiatan yang diadakan oleh perusahaan dalam rangka mempererat hubungan para karyawan dengan seluruh keluarganya.


Kebetulan saat itu mendiang Papa Joe merupakan pemegang saham nomor dua setelah Tuan Ibrahim. Ia memiliki tiga puluh persen atas saham PT Indah Sentosa.


Pada tahun 90-an keadaan ekonomi Keluarga Wijaya Kusuma masih dalam keadaan merintis menyebabkan pasangan suami istri tersebut harus menjalani rumah tangga secara terpisah.


Mama Aura tinggal bersama kedua anaknya di Yogyakarta sementara sang suami bekerja di Jakarta.


Sementara itu, mendiang istri Tuan Ibrahim semenjak menikah ia memutuskan menetap di Amerika mendidik dan membesarkan Mark, itulah sebabnya mengapa Mama Amanda (nama Mama Mark) tidak mengetahui ternyata suaminya telah bekerjasama membangun perusahaan bersama suami dari sahabatnya.


"Meera, setelah ini rencananya kamu mau ke mana?" tanya Mama Aura.


"Mau langsung pulang saja Tante, Ayah dan Bunda pasti khawatir jika Ameera pulang malam," jawab gadis itu sopan.


"Joe, kita antarkan saja Ameera pulang. Kamu pasti tahu kan alamat rumahnya?"


"Tidak perlu Tante, Meera bisa memesan taxi online kok!"


"Benar, kamu ikut saja dengan kami. Uangnya bisa ditabung untuk biaya persalinan nanti loh," bisik Joe.


Seketika senyum simpul terkembang di bibir mungil gadis itu. Wajahnya akan selalu merona setiap kali membicarakan tentang persalinan karena itu merupakan momen yang sangat dinantikan oleh setiap ibu hamil, di mana ia akan bertemu dengan sang buah hati.


"Jika tidak merepotkan kalian."


"Tentu tidak. Ayo Joe, kita pulang sekarang!" Mama Aura beranjak dari bangku dan menarik paksa putranya.

__ADS_1


Joe memekik kesakitan merasakan tarikan tangan Mama Aura begitu keras menarik lengannya.


"Aduh Ma, sakit!"


"Dasar cemen! Kamu tidak malu ditertawakan Ameera!" sindirnya.


"Tarikan Mama benar-benar membuat lengan Joe kesakitan!" ia mengusap-usap lengannya.


"Begitu saja kesakitan!" Mama Aura semakin terpancing untuk mencubit lengan Joe.


"Aduh, Ma! Ampun!"


Ameera tersenyum melihat kedekatan antara anak dan orang tua, hubungan keduanya begitu bersahabat.


"Tante Aura begitu baik dan tidak memandang rendah diriku. Sebenarnya bisa saja kan bersikap angkuh karena memiliki kekayaan berlimpah namun beliau tetap rendah hati dan tidak sombong," ucapnya dalam hati.


Ameera, Joe dan Mama Aura turun ke lantai bawah menggunakan eskalator. Kini mereka sudah berada di dalam mobil.


Mama Aura tak henti-hentinya bercerita pada Ameera mengenai masa kecil Joe.


Sementara Joe hanya mendengarkan di balik kursi kemudi, sesekali menatap kedua wanita cantik di belakangnya lewat kaca spion.


"Sudah lama aku tak melihat senyum bahagia terukir di wajah Mama dan semua ini berkat Ameera, adik angkatku!" sudut bibirnya terangkat.


Empat puluh menit kemudian, akhirnya mobil yang dikemudikan Joe tiba di depan pekarangan rumah Ameera.


"Tante dan Kak Joe, terima kasih sudah mengantarkan Ameera," ia melepaskan sabuk pengaman dan berpamitan sebelum turun dari mobil.


"Sama-sama, Meera. Terima kasih juga karena sudah menolong Tante!"


"Kalau begitu, Meera turun dulu. Sampai ketemu lagi, Tante dan Kak Joe," ucap Ameera sebelum membuka pintu.


"Bye, Meera!" ucap Joe dan Aura hampir bersamaan.


Ameera turun dari mobil dan berjalan hingga masuk ke dalam rumah.


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan, Joe!" tanya Mama Aura datar.


"Maafkan Joe, Ma belum sempat memberitahu," ucap Joe lirih.


"Jika Mama tidak berbelanja di mall sampai kapan kamu akan menyembunyikannya!"


"Kamu pasti tahu bagaimana perasaan Mama selama ini," Mama Aura meremas kedua tangannya.


"Iya Ma, Joe mengaku salah."


"Segera selidiki asal usul gadis itu!" titah Mama Aura.


"Baik, namun ada satu hal yang perlu Joe sampaikan," Joe menghentikan perkataannya dan menarik napas dalam. Dadanya terasa sesak karena harus menyampaikan sebuah berita yang kelak pasti akan membuat sang mama terkejut.


"Apa?"


"Ameera...."


bersambung....


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa jejak cintanya ya Kak. ❤


__ADS_2