BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
SUAMI MESUM!


__ADS_3

Wajah Gladys memerah dengan cepat ketika suaminya tanpa rasa malu mengucapkan kalimat ambigu yang mampu membuat pikiran orang travelling (jalan-jalan).


"Tidak tahu malu, di tempat umum membahas hal itu!" desis Gladys dengan suara pelan.


Sudut bibir Mark terangkat dan membalas, "mesum terhadap istri sendiri tidak masalah. Lagipula, kalau aku tidak mesum, mungkin selamanya Alpukat tidak akan hadir ke dunia ini. Benar 'kan?" tanyanya sambil mengerlingkan mata.


Wanita itu mendengus pelan dan memalingkan wajah ke arah lain, dia tidak mau menatap sorot mata aneh yang terpancar dari manik coklat milik suaminya.


"Ameera..."


"Cih, tadi panggil aku Gladys, kini Ameera. Benar-benar plin-plan," ejek Gladys.


Mendengar perkataan terakhir sang istri, membuat Mark menghembuskan napas panjang. "Aku memang tipe pria yang mudah terbawa arus tapi cintaku padamu tulus. Langit dan bumi menjadi saksi."


"Mulutmu memang manis, pantas saja Nyonya Stevanie mati-matian mempertahankanmu."


Mark menghela napas, lagi-lagi Gladys menyudutkan pria itu. Entah dia harus marah atau pasrah mendengar bibir mungil itu mencibirnya tiada henti.


Lama tidak bertemu, mulut istriku sekarang lebih pedas dan tajam. Bahkan lebih tajam dari sebilah pisau, menusuk tepat di jantung.


"Aku tahu, Sayang. Betapa kejamnya diriku dulu terhadapmu. Di saat kamu hamil, aku malah menghabiskan waktu lebih banyak dengan Stevanie, membiarkanmu menjalani fase kehamilan sendirian, tidak mengabulkan keinginanmu untuk mengumumkan status pernikahan kita ke publik dan lebih jahatnya aku menuduhmu memfitnah Stevanie padahal wanita itu punya rencana jahat untuk melenyapkan nyawa bayi dalam kandunganmu."


"Kesalahanku terlalu banyak dan mungkin kamu tidak bisa memaafkanku atas kejahatan di masa lalu."


"Ameera..."


"Panggil aku, Gladys. Tak sudi aku mendengar nama itu lagi. Nama Ameera mengingatkanku akan luka lama!" hardik wanita itu.


"Baiklah, Gladys. Kamu tahu, selama hampir satu tahun ini banyak hal terjadi padaku, Papa dan Stevanie."


"Secara bertubi-tubi kami mendapat teguran dari Tuhan. Papa terkena stroke, perusahaanku bangkrut, hutang di mana-mana, aset keluarga terjual dan Stevanie pun menerima karmanya. Akibat kecelakaan, Dokter terpaksa mengangkat rahim wanita itu dan semua agensi tidak ada yang mau menerimanya bekerja."


"Maksudmu?" tanya Gladys dengan mimik wajah yang terlihat sangat serius.


"Terdapat luka di kening wanita itu dan kariernya hancur karena semua agensi tidak mau menerima seorang model yang memiliki catat pada wajahnya. Meskipun dia model senior dan berprestasi, tetapi tetap saja mereka tidak mau ambil resiko."

__ADS_1


Mark tersenyum getir, "kami menerima buah atas perbuatan yang sudah dilakukan padamu. Karma yang langsung dibayar tunai."


Pria itu mendekatkan wajahnya lagi, aroma strawberry menyergap indera penciuman. Aroma yang selama ini sangat dirindukan. Dia memejamkan mata, menghirupnya dalam seraya berkata, "kamu manis, ingin rasanya aku mencicipi setiap inci tubuhmu, Sayang."


Kalimat terakhir yang terucap dari mulut pria itu cukup membuat pipi Gladys memanas dan rona merah dengan cepat menjalari wajah tirus wanita itu.


"Lebih baik ganti topik pembicaraan, oke?"


"Kenapa? Kamu takut kalau perdebatan kita akan berakhir... Di atas ranjang?"


Gladys sudah tidak tahan, perasaan dia saat ini campur aduk. Perpaduan antara malu, senang melebur menjadi satu membentuk sebuah titik hitam membuat wanita itu ingin rasanya masuk ke dalam perut bumi dan tak mau muncul lagi ke permukaan.


Dia sudah bangkit dari kursi berjalan meninggalkan cafe, baru dua langkah tiba-tiba tangan kekar Mark mencekal lengannya.


"Jangan pergi dulu, aku belum selesai."


Wanita itu melotot seraya tersenyum sinis, "aku tidak punya banyak waktu melayani pria mesum sepertimu. Waktuku sangat berharga, bahkan gajimu saja tidak mampu membelinya."


Ada penyesalan dalam diri Gladys setelah mengucapkan kalimat itu, hatinya terasa teriris tatkala melihat kesedihan di wajah suaminya.


"Maafkan aku, seharusnya tidak membuang waktu dengan mengucapkan kata-kata tak bermakna. Jika diizinkan, tolong duduk sebentar, kita akan bahas inti percakapan siang hari ini," ucap Mark penuh pengharapan.


Tanpa mengucapkan kata-kata, Gladys duduk kembali di kursi.


"Kamu pasti sudah tahu mengapa Tante Aura dan Barra menyusun rencana mempertemukan lagi kita berdua."


"Aku memang berencana mengembangkan sayap di bidang usaha lain, yaitu bisnis berlian. Namun, sebagai gantinya, Mama Aura menginginkan saham perusahaan sebanyak 30%. Jika itu yang diinginkan, aku siap menerimanya."


"Lebih dari itu pun, aku rela. Karena kelak PT Indah Sentosa akan menjadi milik putra kita. Hanya Alpukat satu-satunya penerus perusahaan. Usiaku sudah tak lagi muda, kondisi Papa juga tidak memungkinkan untuk terjun lagi ke dunia bisnis. Jadi, mari kita tentukan kapan akan menanda tangani surat perjanjian kontrak serah terima saham. Kapan pun kamu mau, aku siap."


"Itu... Aku..." jawab Gladys terbata-bata.


"Kamu bisa diskusikan dulu dengan Tante Aura dan Joe. Jika sudah mendapatkan kesepakatan, bisa menghubungi asistenku, Barra."


"Atas kejadian tadi, tolong maafkan aku. Tidak seharusnya menggodamu, aku terlalu bahagia hingga melupakan tujuan awal pertemuan kita."

__ADS_1


Mark tersenyum, dia mengaduk kopi kesukaannya dengan sendok, menghirup kemudian menyeruputnya.


"Bagaimana keadaan Alpukat, apakah selama ini kerepotan mengurusnya?"


Gladys mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kelopak matanya mengerjap bersamaan dengan cairan bening yang keluar dari mata almond itu.


"Alpukat baik-baik saja, dia tumbuh menjadi anak pintar dan sehat. Kini usianya memasuki bulan ke 6, sudah bisa merangkak, mulai bisa menggulingkan badan ke depan dan ke belakang, sudah bisa mengangkat benda dengan satu tangan dan mulai kuberikan MPASI."


"Oh iya, aku memberi nama anak kita dengan nama Rafandra Avocado."


"Rafandra artinya tampan dan jantan. Avocado... Kamu tahu sendiri artinya apa."


Mark tersenyum sambil menyeruput kembali minumannya, "tak kusangka kamu sungguh-sungguh menyematkan nama buah dengan warna kulit hijau itu di tengah nama lengkap putra kita."


"Sungguh unik tapi aku menyukainya."


"Memang sedikit absurd tetapi terdengar keren 'kan?" ucap Gladys, seulas senyum mengembang seraya menatap suaminya.


"Tentu saja!"


Pria itu tersenyum lagi, ditatapnya wanita cantik yang tengah duduk di hadapannya. "Kamu terlihat bahagia saat membahas Alpukat, aku bersyukur Tuhan sudah menitipkan bayi mungil itu di tengah rumah tangga kita. Semoga, kehadiran dia menjadi jembatan untuk kita bisa hidup berumah tangga lagi seperti dulu," ucap Mark dalam hati.


"Apakah Naomi bekerja dengan baik selama ini?"


"Tentu saja. Dia dan Barra menjadi dua orang pegawai junior kepercayaanku. Mereka menjadi kaki tanganku di perusahaan."


"Perlakukan mereka dengan baik. Jika tidak, aku akan menghukummu, Kak."


"Kamu tenang saja, aku tidak mungkin mencelakai karwayan setia, jujur dan pekerja keras seperti mereka."


"Kupegang ucapanmu," ucap Gladys sambil menyendokan kue tart ke dalam mulut.


Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2