BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
MARTABAK TELUR


__ADS_3

Hari ke-3 di rumah sakit pasca tragedi yang nyaris merenggut nyawa janin dalam kandungan Ameera kondisi gadis itu berangsur-angsur membaik namun Dokter Firman masih memantau perkembangan kesehatannya.


Selama itu juga Mark tak sedetik pun meninggalkan istrinya, ia dengan setia menemani Ameera.


Pria itu menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang suami seperti menyuapinya makan, memijat punggung sang istri, membawanya jalan-jalan di taman rumah sakit untuk menghirup udara segar dan membantu gadis itu ke kamar mandi. Semuanya ia lakukan suka rela tanpa ada paksaan dari siapapun.


Malam ini, Mark duduk di sofa yang tak begitu jauh dari ranjang pasien pria itu baru saja mematikan televisi ia menonton siaran luar negeri melalui saluran TV berbayar.


Sudah lama Mark tidak menonton film, ia terlalu sibuk bekerja hingga melupakan kapan terakhir kali mengistirahatkan tubuh dan pikirannya dari pekerjaan. Rencana pria itu untuk berlibur belum dapat direalisasikan akibat jadwal padat dan kondisi perusahaan yang tidak stabil.


"Tidurmu nyenyak sekali, pasti kamu sedang bermimpi bermain bersama anak kita," Mark tersenyum namun senyuman itu sirna tatkala melihat sepasang mata almond terbuka.


"Kamu membutuhkan sesuatu?" ucap Mark cemas dan mendekati gadis itu.


"Sudah berapa lama aku tidur?" Ameera menyentuh kepalanya.


"Dua jam kamu tertidur," Mark duduk dtepian ranjang.


Ameera melihat keluar jendela, di luar gelap gulita dan jam dinding menunjukan pukul 12 malam.


Cukup lama aku tertidur, entah mengapa setiap kali berada di dekat Tuan Mark tidurku nyenyak dan si Alpukat juga tidak rewel. Biasanya malam hari dia terus bergerak membuat aku kesakitan tapi malam ini dia patuh sungguh ajaib!


Sepertinya dia memang merindukan belaian dari Papanya.


"Meera!" suara Mark mengembalikan kembali lamunannya.


"I-iya Tuan."


"Aku suamimu jangan panggil Tuan dan satu lagi, tolong gunakan kata kamu dan aku saat kita berdua."


"Saya sudah terbiasa memanggil Anda dengan sebutan Tuan, lagipula nanti kena tegur Pak Bos jika mulut ini lancang memanggilnya tanpa embel-embel Tuan!" Ameera menegaskan kata Tuan di depan suaminya.


"Baiklah, aku salah karena sudah menegurmu tapi sekarang tolong biasakan panggil namaku saja."


"Tergantung lidahku, jika keseleo ya harap maklum."


Mark membelalakan mata sempurna, "apa! Bagaimana bisa lidah keseleo."


"Ya bisa saja, suka-suka mulutku berbicara apa. Anda tidak usah protes!" Ameera mendelik dan sikapnya sukses membuat bulu kudu Mark merinding.


Ya Tuhan, sikap Ameera saat sedang marah menakutkan sekali. Kupikir beberapa minggu tidak tinggal satu atap dengannya sikap gadis itu berubah ternyata sama saja.


Ternyata berbicara dengan ibu hamil harus hati-hati dan tidak membuatnya salah paham. Ia mengusap ujung hidung dengan gugup. Setiap patah kata yang terucap dari mulut selalu salah di mata istrinya, oleh sebab itu Mark hanya bisa pasrah dan mengalah agar masalah cepat selesai.

__ADS_1


"Oke, terserah kamu saja. ngomong-ngomong, ada yang bisa kubantu?" Mark meletakan satu bantal di belakang punggung Ameera.


Gadis itu menatap Mark dengan ekspresi campur aduk. Ingin rasanya ia mengutarakan isi hatinya namun ragu karena takut pria itu tak mampu mengabulkan keinginannya.


"Hei, aku bertanya padamu, butuh apa?" Mark meraih bahu dan menatap lekap kedua mata istrinya.


"Katakan, apa kamu menginginkan sesuatu?"


"Ehm, itu... Aku sedang ingin makan martabak telur dekat kampusku. Apakah Tuan bisa membelikannya?" gumam Ameera pelan.


"Aku akan membelikannya tapi tolong hilangkan kata Tuan dari depan namaku. Terdengar aneh dan sedikit arogan."


'Cih, dasar suami plin-plan. Dulu dia memintaku memanggilnya Tuan namun sekarang meminta menghilangkan sapaan tersebut. Suami bunglon, plin-plan!' gerutu Ameera dalam hati.


Oh astaga, mengapa mulut ini malah mencaci suamiku sendiri. Ya Tuhan, maafkan aku karena telah mengatakan hal buruk tentang pria ini.


Mark mengusap rambut pendek istrinya, mencium aroma wangi shampo. Ia memejamkan mata sambil menghirup aroma stroberi dari rambut gadis itu, setelah puas tangannya menyingkirkan rambut Ameera ke belakang daun telinga.


"Aku akan meminta perawat menjaga dan mengawasimu selama pergi."


Perlahan-lahan pria itu bangkit dan berdiri serta mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja.


"Aku pergi dulu."


"Tentu, aku akan segera kembali membawa sekotak martabak untuk anak kita," ucap Mark seraya tersenyum tipis.


Meskipun Ameera dirawat di kamar kelas 1 namun ia mendapatkan pelayanan istimewa dari pihak rumah sakit. Semua jenis obat, dokter, perawat yang ditugaskan merupakan tenaga medis pilihan dan memiliki sertifikat dibidangnya masing-masing.


Semua itu atas permintaan Mark karena ia ingin Ameera dan bayinya mendapatkan perawatan terbaik.


Sebenarnya ia sudah berdiskusi dengan mertuanya perihal pemindahan kamar Ameera namun mereka menolak karena akan menjadi bahan gunjingan orang lain apalagi status gadis itu sebagai istri siri Mark belum terungkap ke publik.


***


Suasana di sekitar kampus cukup ramai, banyak motor dan mobil lalu lalang serta beberapa mahasiswi nongkrong sambil bermain gitar.


Langit malam ini juga terlihat sangat cerah, bulan dan bintang turut andil meramaikan suasana malam hari.


"Demi kamu, Nak, Papa rela keluar malam hanya untuk membelikan martabak. Semoga kelak kamu akan tahu bahwa Papa begitu menyayangimu."


Mobil mewah berwarna silver berhenti tepat di depan gerobak pedagang martabak. Pedagang tersebut menjajakan dagangannya persis di depan gerbang kampus tempat Ameera menimba ilmu.


Terlihat lima orang muda-mudi sedang mengantri duduk di bangku. Mereka bercanda dan bergurau sembari menunggu pesanan matang.

__ADS_1


"Permisi Pak!" ucap Mark.


"Pesan apa Mas!" tanya pedagang tersebut.


Mark nampak celingukan mencari buku menu, ini merupakan pertama kalinya ia membeli makanan di pedagang kaki lima.


Pedagang tersebut melihat penampilan Mark dari atas hingga ke bawah dan ia mengerti tak lama langsung mengeluarkan menu dari dalam laci tempatnya menaruh uang ke hadapan pria itu.


"Pilih saja, jika sudah selesai langsung pesan," ucap pria itu sebelum meninggalkan Mark dan kembali membantu temannya membungkus beberapa martabak manis yang sudah matang untuk di masukan ke dalam kotak.


Tak butuh waktu lama, Mark langsung memesan martabak telur bebek dan ia bergabung bersama pembeli lain.


"Eh, kok Mister Bule nyasar di kampus kita sih!"


"Hu'um, sangat tampan dan begitu menggoda."


"Hati-hati air liurmu mengalir," reflek, mahasiswi itu mengusap ujung bibirnya dengan tangan.


"Ditipu kok percaya!" ucap temannya sambil menyatukan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf O kemudian mendaratkannya di kening.


"Aw!" wanita itu menyentuh keningnya yang terasa sakit.


"Rasain, kamu terlalu sibuk mengagumi ketampanan pria itu sampai tak sadar bahwa aku sudah mengelabuimu!" ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.


"Tapi, jika diperhatikan, Mister itu memang menawan. Sungguh beruntung wanita yang menjadi istrinya," lanjutnya setelah ia merasakan perutnya sakit akibat menertawakan teman di sampingnya.


"Kalau dia mau, aku bersedia menjadi yang kedua, asalkan tetap berada di sisinya," ceplos wanita itu.


Sayup-sayup Mark mendengar perbincangan kedua wanita yang duduk di depannya.


'Kalian tidak tahu bahwa aku sudah memiliki 2 istri namun kamu malah berdo'a mau menjadi istriku yang ke-2.'


Mark menghela napas dan melanjutkan ucapannya, "dua istri saja sudah membuatku pusing apalagi ditambah satu, bisa pecah kepalaku!" gumam pria itu.


Bersambung


.


.


.


Halo, maaf nich author baru sempat update lagi soalnya tiap hari jum'at dan akhir pekan sibuk cari keringat di tempat fitness. Hehe...

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya Kak. Terima kasih. ❤


__ADS_2