
Ketika Arief tengah sibuk dengan pikirannya, dari belakang seorang pria berusia lima puluh tahun datang menghampiri.
"Arief ...."
Merasa ada seseorang memanggil namanya, Arief menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum melihat wajah seorang pria di hadapannya. Meski usia sudah senja dimakan waktu, tetapi dia cukup yakin bahwa pria itu adalah Ahmad, teman sekolahnya dulu.
"Ahmad. Hei, apa kabar?" sapa Arief pada pria berambut perak yang sedang berdiri sekitar satu meter di depannya.
Pria itu memandangi penampilan Ahmad mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Penampilan mantan rivalnya dulu kini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Sangat berkelas dalam balutan barang-barang branded.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ahmad seraya menghampiri Arief.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Lama sekali tak mengunjungi kampung halamanmu di Bogor. Apakah kamu mulai merasa nyaman tinggal di negara Australia sehingga melupakan Indonesia?"
Ahmad terkekeh mendengar perkataan Arief. "Di sana memang nyaman tetapi tetap saja berada di lingkungan asing membuatku kesulitan beradaptasi."
"Aku senang sekali bisa bertemu lagi denganmu," ucap Arief. Dia menepuk bahu teman lamanya itu.
__ADS_1
"Begitu pun denganku. Tak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Tidak sia-sia aku melarikan diri ke sini dan bertemu denganmu."
"Kamu datang bersama siapa?" Arief mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sejak tadi tidak melihat keberadaan istri dan juga anak temannya itu.
"Aku datang ke sini bersama istri dan anak keduaku. Itu, mereka di sana." Ahmad menunjuk ke arah kerumunan wanita sosialita dengan tas branded koleksi terbaru tersemat di antara pundak dan ketiak.
Ayah tiri Kirana itu terkesiap untuk beberapa saat, melihat penampilan istri Ahmad membuat jiwanya sebagai pria normal berontak. Bagaimana tidak, kulit bersih, tinggi dan body aduhai mampu menggetarkan hati siapa saja yang melihatnya. Meski usia sudah tak lagi muda, tetapi pancaran aura kecantikan wanita itu tidak surut. Sebab, dia rajin merawat diri pergi ke salon dan melakukan beberapa perawatan kecantikan hingga membuat istri Ahmad terlihat awet muda di usianya yang senja.
"I-itu ... istrimu?" tanya Arief tergagap.
"Tentu saja. Kamu pasti terpesona 'kan oleh kecantikan istriku?" Ahmad mengerlingkan sebelah mata. Kemudian dia berkata, "Menurutku, Sanda pun sama cantiknya seperti Cahaya, istriku. Mereka berdua sama-sama memiliki inner beauty yang hanya bisa dinilai oleh orang tertentu."
"Kamu juga harus tulus mencintai Sandra, Rief. Jangan pernah menyakiti hati apalagi batin wanita itu. Dia diciptakan dari tulang rusuk, bukan dari tulang belikat atau pun tulang yang lain. Meski terlihat tegar, tetapi hati mereka rapuh."
"Aku tahu, selama ini sikapmu terhadap Sandra dan Kirana seperti apa. Maaf, bukannya aku mau ikut campur tetapi sebagai teman, aku ingin memberikan saran. Cobalah untuk berubah, selagi Tuhan masih memberikan umur panjang segera bertaubat. Hindari judi dan miras agar hidupmu tenang!"
Arief mundur selangkah, menatap penuh selidik ke arah Ahmad. "Dari mana kamu tahu semuanya?"
__ADS_1
Ahmad menyeringai menatap Arief. "Mata-mataku ada di mana-mana. Walaupun aku jarang pulang ke Bogor, tetapi semua informasi mengenai situasi kampung kita, aku selalu up to date. Terlebih berita tentang keluarga Kurniawan yang memberikan mahar 500 juta, aku tahu semuanya."
"Jadi, kamu meminta orang untuk memata-mataiku?" tanya Arief penuh emosi. Pertemuan itu membuat suasana semakin memanas.
"Aku tidak meminta orang menjadi mata-mataku! Mereka datang sendiri dan memberikan semua informasi tentangmu. Rief, aku hanya ingin kamu berubah. Itu saja!"
"Cih, kamu siapa berani menasihatiku?" tanya Arief sinis.
"Sebagai teman lama dan sesama saudara seiman, aku wajib menasihatimu. Memangnya mau sampai kapan kamu akan berjudi sembari menegak miras? Yakin, umurmu akan panjang? Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Ingat, semua di muka bumi ini adalah milik Tuhan. Dia bisa merebutnya kembali hanya dalam hitungan detik!"
"Sok bijak kamu!"
Ahmad tersenyum lebar. "Tentu saja aku harus bijak apabila berhadapan dengan pria brengsek sepertimu! Pria yang tega menyakiti istri dan anaknya sendiri. Seharusnya kamu berpikir, mengapa dulu Tuhan merebut kembali anak laki-lakimu yang berusia lima tahun. Itu karena Tuhan tidak ingin Kenan mempunyai ayah bejat sepertimu!"
Pria berbadan tinggi menjulang ke langit merapikan jas hitam. "Jika kamu ingin mati akibat terlalu banyak mengkonsumsi miras, aku bersedia menjadikan Sandra menjadi istri kedua."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Ahmad berjalan menghampiri istrinya. Lalu duduk di kursi semula menikmati pesta yang semakin meriah.
__ADS_1
TBC
Episode selanjutnya diperkirakan akan update siang hari. Jangan lupa tinggalkan jejak cinta untuk author remahan ini. Terima kasih. 😊