
Tepat pukul delapan malam, Mark dan Gladys tiba di mansion. Seorang security membuka pintu gerbang tatkala melihat mobil sang majikan berhenti tepat di depan pintu.
Sepanjang perjalanan dari landasan hingga mansion, Gladys tertidur. Dia akan terbangun saat Alpukat merengek minta ASI. Untung saja bayi mungil itu tidak rewel, dia hanya akan menangis saat kehausan selebihnya bermain bersama Papanya.
"Sweetheart, kita sudah sampai." Mark mengusap rambut istrinya.
"Eugh!" Wanita itu mengerjapkan mata pelan, mengumpulkan nyawanya yang sempat terbang saat dia tertidur.
"Sudah tiba di mansion?" tanya Gladys setelah semua nyawanya terkumpul. Dia memandangi bangunan megah itu dari dalam jendela mobil.
"Iya, kamu tunggu di sini, aku akan bukakan pintu mobil." Pria itu turun dari mobil lalu berjalan berputar dan membukakan pintu untuk Gladys.
"Hati-hati, kamu baru saja terbangun," ucap Mark seraya mengulurkan tangan dan membantu istrinya. Sebelah tangan pria itu menggendong Alpukat.
Setelah tiba di puncak anak tangga, pintu mansion terbuka lebar. Kepala pelayan muncul di sana. Dia dan semua pelayan berjejer, membungkuk hormat menyambut kedatangan majikan mereka.
"Selamat datang, Tuan," ucap para pelayan seraya membungkuk hormat.
Seperti biasa, Mark hanya mengangkat tangan ke atas seraya memberikan instruksi pada pelayan untuk menyiapkan makanan.
"Di mana Papa?" tanya pria itu pada kepala pelayan.
"Tuan ada di kamar. Sudah sejak tadi sore beliau gelisah menanti kedatangan Tuan dan..." Ucapan pelayan wanita itu terhenti. Dia mendongak ke atas, melirik sekilas wanita muda dalam balutan oversized blazer dipadu dengan kaus dan midi skirt terlihat lebih elegan.
"Dia adalah Nyonya Gladys, istri keduaku!" ucap Mark dengan nada memberikan penekanan pada setiap kalimat yang terucap.
"Kalian semua dengarkan aku. Wanita cantik yang berdiri di sampingku adalah istri keduaku. Kami sudah lama menikah, jauh sebelum aku menceraikan Stevanie. Jadi, kalian harus menghormati dan melayaninya dengan sepenuh hati."
"Jika ada yang tak sudi melayani istriku, kalian bisa angkat kaki dari mansion ini!" sambung pria itu.
"Ayo, Sweeatheart, kita temui Papa di kamar. Beliau pasti tidak sabar ingin bertemu denganmu."
Mark menggandeng tangan istrinya naik ke lantai atas menggunakan lift, meninggalkan para pelayan yang masih membeku di tempat.
__ADS_1
"Kak, kenapa kamu berkata begitu di depan para pelayan?" tanya Gladys setelah masuk ke dalam lift.
"Aku hanya ingin mereka tahu, bahwa mulai detik ini, kamu adalah ratu di rumahku. Sebagian pelayan itu menjalin hubungan baik dengan Stevanie, jadi aku sengaja memproklamirkan di depan semua orang agar mereka sadar bahwa wanita itu sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga Pieter," jawab Mark panjang lebar. Pria itu masih sibuk menepuk-nepuk punggung Alpukat yang sedang bermain dengan jari telunjuknya.
"Setelah kita tinggal satu atap, kamu bisa menentukan pelayan mana yang ingin dipertahankan. Jika semuanya tidak sesuai hatimu, dipecat saja. Kita bisa mencari yang lain."
"Itu bisa dibicarakan lain kali."
Wanita itu memperhatikan pantulan dirinya dari sebuah cermin yang berada di atas pintu masuk lift.
"Penampilanku tidak mengecewakan 'kan?" batinnya.
"Kamu masih terlihat cantik walaupun sudah tertidur selama hampir satu jam selama perjalanan menuju mansion," bisik Mark di telinga Gladys. Membuat bulu kudunya meremang dan jantungnya berdegup tak beraturan.
Ketika lift berdenting dan pintu terbuka, Mark mengulurkan tangan membantu istrinya keluar. Gladys dan Mark berjalan menyusuri lorong panjang, berbelok ke kanan kemudian terus melangkah hingga tiba di kamar paling ujung. Pria itu berhenti lalu mengetuk pintu.
"Selamat datang, Tuan. Silakan, Tuan Besar sudah menunggu di dalam," ucap Yusuf, perawat pribadi Tuan Ibrahim.
"Masuklah, Papa sudah menunggumu," ujar Mark seraya membuka pintu lebar.
Setelah pintu terbuka lebar, Gladys masuk ke dalam kamar. Dia mengedarkan pandangan, mengamati semua perabotan dan furnitur di kamar itu. Semua terbuat dari barang-barang berkualitas nomor satu.
Hingga sepasang matanya menangkap sosok pria tua tengah terbaring di atas rajang king size. Tubuh pria itu begitu rapuh, lemah dan tak berdaya.
"Gladys..." ucap Tuan Ibrahim dengan nada pelo (cadel).
Pria itu mengangkat tangan ke udara, hanya bertahan satu detik. Di detik kemudian tangan itu terjatuh di atas ranjang.
Wanita itu menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca manakala melihat tubuh mertuanya kini terbaring lemah di atas ranjang. Dia menahan air mata agar tak jatuh. Hidungnya tiba-tiba terasa masam dan pedih. Hati Gladys sakit, dadanya sesak ketika mengingat kejadian dulu. Di mana pria paruh baya ini dengan tega menghina dan menjulukinya sebagai wanita ja*ang yang tega menjual tubuh demi mendapatkan status sosial.
"Majulah, temui Papa. Ada banyak hal yang ingin beliau katakan padamu." Mark menyentuh pundak istrinya, lalu menggandengan tangan wanita itu menghampiri ranjang.
Gladys duduk di tepian ranjang. Dia menatap mertuanya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Terbesit rasa iba melihat tubuh renta Tuan Ibrahim di balik selimut putih yang menutupi tubuh.
__ADS_1
"Akhirnya kamu kembali. Papa senang bisa bertemu denganmu lagi."
"Pa, ini Alpukat, cucu Papa." Mark mendudukan bayi mungil itu di tepi ranjang di sebelah kini.
Sudut bibir Tuan Ibrahim terangkat ke atas. Rona kebahagiaan terpancar di wajah pria itu. Matanya berkaca-kaca saat melihat wajah dan hidung anak itu mirip putranya.
"Dia mirip kamu, Mark. Kalian bagaikan pinang dibelah dua."
"Tentu saja, dia putraku, darah dagingku dan cucu Papa."
Butiran bening kristal keluar dari mata Tuan Ibrahim. Pria itu tidak dapat membendung luapan air matanya, dia menangis haru. Tak menyangka bahwa wanita yang dulu pernah dihina, dicaci maki kini memberikan kebahagiaan untuk keluarga Pieter. Bukan hanya kebahagiaan tetapi juga garis keturunan untuk keluarganya.
"Maafkan Papa atas perlakuan burukku di masa lalu. Papa benar-benar menyesal," ucap pria itu di sela isak tangis.
"Dulu Papa begitu sombong dan angkuh hingga tega menghina orang lain padahal wanita yang kuhina adalah menantuku sendiri. Dia tengah mengandung darah daging putraku."
"Papa menyesal, Nak. Sungguh, benar-benar menyesal," sambungnya.
"Seharusnya dulu Papa menerima dan memperlakukanmu dengan baik, seperti memperlakukan rubah betina itu. Namun, aku malah bekerjasama dengan Stevanie untuk menjauhkan putraku dari istrinya yang lain. Mencari cara agar kalian berpisah."
Suara tangis menggema memenuhi ruang kamar bergaya Eropa. Terdengar isak tangis Tuan Ibrahim memecah keheningan malam hari.
"Tolong maafkan pria hina ini, Nak. Maafkan semua kesalahan yang sudah Papa perbuat. Kini, Papa sudah menerima balasan atas perbuatan jahat di masa lalu." Dengan tangan gemetar dan kekuatan yang minim, dia berusaha menangkup kedua tangan ke dada.
Bersambung
.
.
.
Episode selanjutnya akan update sore hari. Terima kasih atas dukungan dan kesetiaan kalian semua. Semoga hari-hari kalian menyenangkan. ❤
__ADS_1