
Jarum jam terus berputar dan matahari mulai terbenam di sebelah barat.
Di sebuah rumah sakit, seorang gadis cantik terbaring di atas ranjang terlihat ia sedang mengerjapkan mata secara perlahan.
Disaat matanya sudah terbuka sempurna, gadis itu mulai mengingat kembali mengapa ia berada di tempat itu.
Bayangan tragedi kecelakaan di masa lalu memenuhi memori ingatan, jeritan pilu para korban kebakaran membuat bulu kudu merinding, aroma bakar tubuh para korban masih tercium oleh indera penghidu hingga pandangannya menggelap dan ia sadar jika tadi pingsan.
Saat dirinya sibuk memindai isi ruangan, netranya menangkap sosok dua orang malaikat tak bersayap yang sangat ia sayangi. Mereka tengah tertidur mengelilingi ranjang gadis itu sembari menyembunyikan wajah di atas kedua tangan.
Ameera tersenyum menyaksikan pemandangan langka yang ada di hadapannya. Kedua wanita tangguh tertidur pulas sembari menggenggam tangan gadis itu.
"Bunda, Tante!"
"Meera, kamu sudah sadar, Nak!"
"Kalian tunggu di sini, aku akan panggilkan Dokter Firman dulu."
Tak berselang lama, Dokter Firman dan Suster Kirana masuk.
"Nona Ameera, apa yang Anda rasakan?" tanya Dokter Firman seraya memeriksa tubuh gadis itu dengan stetoskop sementara Suster Kirana mencatat hasil pemeriksaan.
"Sudah jauh lebih baik tapi kepala saya masih terasa sakit Dok."
"Itu hal wajar jika dalam jangka waktu 1 hari masih sakit, kita akan melakukan CT scan kepala serta menentukan langkah pengobatan selanjutnya untukmu," ujar Dokter Firman, matanya sesekali melirik Mama Aura yang sedang berdiri tepat di sebelahnya.
"Dokter, bukan kah itu akan berbahaya pada janin saya karena dapat terpapar sinar radiasi langsung."
"Benar sekali, Nona. Pada saat seorang wanita hamil dan harus menjalankan pemeriksaan CT scan, memang harus mempertimbangkan secara cermat keuntungan dari pemeriksaan tersebut bisa melebihi resiko yang mungkin terjadi."
"Resiko terjadinya komplikasi akibat paparan radiasi dari pemeriksaan CT scan berbeda-beda tergantung dari lokasi. Dalam kasus Nona Ameera, saya menyarankan melakukan CT scan kepala, itu cenderung lebih aman bagi ibu hamil karena lokasi janin di perut jauh dari area yang terkena paparan langsung yaitu kepala," ujar pria itu panjang lebar.
"Namun, kita berdoa saja semoga sakit kepala Nona Ameera segera membaik sehingga tidak perlu melakukan pemeriksaan CT scan."
*Aneh, mengapa mata Dokter Firman tidak fokus padaku, beliau terkesan mencuri-curi padang pada Tante Aura. Apakah beliau menyukai*nya?
"Sejauh ini penjelasan saya bisa dimengerti?"
"Mengerti, Dokter."
Setelah memeriksan keadaan Ameera, Dokter Firman dan Suster Kirana keluar dari ruangan tersebut.
"Syukurlah keadaan kamu baik-baik saja, Tante sangat mencemaskanmu!" Mama Aura menghampiri putrinya yang tengah berusaha duduk menyandarkan tubuh di sandaran ranjang.
__ADS_1
"Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Bunda Meta.
"Tidak Bun. Meera hanya ingin Bunda dan Tante duduk kembali."
Mendengar permintaan gadis itu, Mama Aura dan Bunda Meta duduk di kursi. Mereka menatap ke arah Ameera.
Beberapa saat terjadi keheningan di ruangan itu. Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ehm, i-itu..."
"Ameera sudah mulai mengingat semuanya. Mulai dari saat keberangkatan ke rumah Eyang hingga hari pertama Bunda Meta mengadopsiku."
Bunda Meta dan Mama Aura saling memandang satu sama lain, sedetik kemudian mereka tersenyum.
"Lalu..."
"Mulai detik ini, Ameera ingin kita bersama-sama memulai hidup baru. Bunda dan Mama menemaniku merawat Alpukat hingga dewasa."
Suasana hening kembali.
"K-kamu serius mau menerima Mama kembali? Kamu tidak malu memiliki Mama mantan pasien RSJ!" tanya Mama Aura ragu, tangannya bergetar dan mata mulai berkaca-kaca.
"Tidak! Kenapa Meera harus malu!"
"Syukurlah, Mama lega mendengarnya."
Wanita itu menghambur, memeluk tubuh putrinya dan suasana ruang rawat inap seketika berubah menjadi haru.
Setelah 17 tahun lamanya berpisah, kini sepasang ibu dan anak bersatu kembali, saling berpelukan melepas rindu hingga mereka melupakan kehadiran seorang wanita paruh baya yang sedang duduk memandangi moment langka di hadapannya.
Tanpa sadar, air mata wanita itu menetes begitu saja. Hatinya tersayat-saya kala melihat putri yang sudah ia besarkan memanggil wanita lain dengan sebutan "Mama" meskipun ia adalah ibu kandungnya namun Bunda Meta tetap merasa cemburu karena kini kasih sayang Ameera akan terbagi.
Mengapa hatiku sakit? Apakah aku memang seharusnya mundur dan membiarkan Ameera tinggal bersama ibu kandungnya!
Meskipun aku sudah menguatkan hati untuk menghadapi kejadian ini tapi sebagai manusia biasa tetap ada rasa cemburu mengusik jiwa saat melihat Ameera memeluk erat wanita lain. Tuhan, tolong kuatkan aku.
Bunda Meta bangkit dan keluar ruangan. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang nampak sepi karena hari sudah mulai senja.
Wanita itu terus berjalan menundukan pandangan hingga tak sengaja menabrak seseorang.
"M-maaf!"
Saat ia mendongakan kepala, sosok pria paruh baya berdiri di depannya.
__ADS_1
"Mas Reza!" wanita itu menangis terisak dalam pelukan suaminya.
"Anak kita..."
"Ameera kita sudah kembali pada ibunya..."
Bunda Meta kembali menangis, memeluk erat tubuh pria itu.
Ayah Reza diam, ia tahu betul bagaimana perasaan istrinya saat ini karena setiap wanita tidak mau berpisah dengan anaknya meskipun Ameera hanya anak angkat namun mereka memberikan kasih sayang dan cinta seperti putri kandungnya sendiri.
"Hatiku seperti disayat pisau tajam saat Ameera memeluk wanita lain. Dulu, saat ia bersedih hanya aku yang dipeluk olehnya namun kini posisiku tergantikan oleh wanita itu, Mas!"
Ayah Reza membiarkan Bunda Meta mengeluarkan isi hatinya sampai wanita itu mulai merasa tenang ia memapah istrinya duduk di kursi. Menatap manik kelam sang istri yang merah dan bengkak akibat terlalu banyak menangis.
Pria itu mengangkat tangan dan menghapus sisa bening kristal di sudut mata istrinya.
"Kamu harus mengikhlaskan semuanya, Meta."
"Sejak awal, Ameera memang bukan anak kita. Ia hanya dititipkan oleh Tuhan untuk mengantikan hari-hari yang kamu lewati dengan kesedihan, dan kini Dia menginginkan gadis itu kembali pada keluarganya."
"Bukan kah kamu sudah berjanji akan merelakan Ameera jika suatu hari ibu kandungnya mencari keberadaan gadis itu. Aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat melepaskannya."
"Ameera akan jauh lebih bahagia hidup bersama orang tua kandungnya."
"Kamu pasti bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang anak. Jangan biarkan wanita lain merasakan hal yang sama sepertimu."
"Aku yakin, Nyonya Aura orang baik dan dia tidak akan tega memisahkanmu dengan Ameera. Kita masih bisa menemui gadis itu di rumah orang tuanya."
Bunda Meta menatap wajah suaminya, entah mengapa pria itu selalu memberikan ketenangan saat ia merasakan kegundahan.
Beberapa detik kemudian wanita itu tersenyum dan berkata, "kamu benar, Mas. Nyonya Aura orang baik, dia pasti mengizinkan kita bertemu Ameera."
"Baiklah, lebih baik sekarang kita kembali ke dalam. Ameera pasti mencarimu."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir, mereka pun kembali ke ruang rawat inap tempat Ameera dirawat.
.
.
.
sumber : www.alodokter.com
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak. Terima kasih. 😊