
Bagaikan disambar petir di siang hari, tubuh Stevanie lunglai. Ia terhuyung ke belakang, terduduk lemah di kursi santai yang terletak di tepi kolam renang.
"Tidak mungkin, Gladys..."
"D-dia..."
"Bukankah dia sudah meninggal, bagaimana mungkin hidup lagi!" tanyanya gugup.
"Itu artinya Tuhan menyayangi gadis baik seperti Ameera sehingga menyelamatkan dirinya dari kebakaran."
"Jika dirimu terbesit niatan untuk merebut hatiku kembali, sebaiknya hentikan sebab kau tahu siapa wanita yang kucintai selama ini!" ujarnya sambil berlalu begitu saja tanpa memedulikan Stevanie yang masih terduduk lemas di kursi.
"T-tidak mungkin, mengapa jadi begini. Jika Ameera adalah Gladys itu artinya harapanku untuk tetap bertahan di sisi Mark hanya sebuah angan-angan belaka."
***
Melbourne, Australia
Pukul satu siang waktu setempat atau tepat pukul sembilan pagi WIB (Waktu Indonesia Barat), Ameera beserta orang tuanya sedang menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh para pelayan. Mama Aura selaku pemilik rumah duduk di kursi tengah, Ameera berada di samping kanan sementara orang tua angkat gadis itu berada di sebelah kiri. Terjadi obrolan ringan untuk menghangatkan suasana.
Mama Aura memperlakukan Ayah Reza dan Bunda Meta layaknya keluarga bukan seperti seorang tamu, memberikan pelayanan terbaik bagi sepasang suami istri yang begitu berjasa dalam hidup putrinya berkat bantuan pasangan itu kini ia berkumpul kembali dengan Ameera.
"Enak tidak?" tanya wanita itu pada putrinya, sedari tadi Ameera makan dalam diam.
Gadis itu melirik dan menjawab, "enak, Ma. Ameera suka."
Mama Aura memicingkan mata, menatap ke arah putrinya dengan tatapan penuh menyelidik.
"Kamu yakin baik-baik saja? Perlu Mama panggilkan Dokter Firman atau Dokter Diana untuk datang kesini?"
Gadis itu tertegun sejenak, tidak menyangka akan mendapatkan perhatian seperti itu. Sikap protektif yang diberikan oleh Mamanya membuat ia merasa nyaman dan tenang kini hidupnya lebih damai semenjak tinggal bersama orang tua kandungnya.
"Ma, sungguh, Meera baik-baik saja."
__ADS_1
"Syukurlah, kalau ada bagian tubuhmu yang kurang nyaman bicara saja jangan kamu sembunyikan sendiri. Mengerti!"
"Hu'um," ujarnya patuh.
Beberapa saat kemudian, mereka berkumpul di ruang keluarga menonton saluran televisi berbayar seputar berita artis tanah air, Indonesia.
Seketika jantung Ameera rasanya berhenti berdetak ketika seorang presenter menyampaikan bahwa salah satu model papan atas tengah berbadan dua, yang tak lain ia adalah Stevanie Pieter.
Wajah gadis itu pucat pasi, hatinya hancur berkeping-keping bagai potongan puzzel yang terpecah menjadi ratusan serpihan.
Mama Aura langsung meletakan piring berisi puding coklat yang baru dua suap ia makan. Wanita itu merasa shock dengan apa yang baru saja didengar.
Ia melirik ke arah putrinya, gadis cantik berusia 21 tahun itu mengigit bibir bawah untuk menyembunyikan kesedihannya. Tanpa disadari, air matanya mengalir begitu saja tanpa meminta izin pada sang empunya.
Sebagai seorang ibu, hatinya tersayat melihat Ameera bersedih. Andaikan ia memiliki kemampuan membalikan bumi agar semua orang yang telah menyakiti hati gadis itu lenyap dalam hitungan detik maka sudah dilakukan sedari tadi.
"Mama, Ayah dan Bunda, Ameera kembali ke kamar. Tubuhku tiba-tiba saja tak nyaman," ujarnya berbohong.
"Miss Lucy, tolong antarkan putriku ke kamar!" titah wanita itu pada kepala pelayan.
Melihat putrinya menangis, timbul sebuah dorongan untuk melakukan suatu hal yang seharusnya sudah dilakukan dua minggu lalu, ia bangkit dan meraih telepon genggam di atas meja.
"Joe, Mama sudah tahu berita tentang Stevanie. Tarik semua saham kita di PT Indah Sentosa, aku tak sudi bekerjasama dengan orang licik seperti Ibrahim dan Stevanie!" ucap Mama Aura sedikit berteriak, membuat sepasang suami istri yang sedang duduk di ruang tamu menoleh ke arah sumber suara.
"Baik Ma, secepatnya akan Joe tarik kembali saham kita di perusahaan itu."
"Berikan Mark pelajaran sebelum kamu meninggalkan perusahaan!"
"Mama tenang saja, tanpa diperintah sudah Joe lakukan. Anggap saja sebagai kenang-kenangan khusus untuk adik ipar tercinta," pria itu tersenyum puas saat melihat Mark menahan sakit pada perut dan wajah pria itu berubah lebam akibat dihajar oleh Joe.
"Bagus, kamu memang anak yang bisa diandalkan!" puji wanita itu pada putranya.
Kalian pikir selamanya bisa menindas putriku! Jangan harap, aku Aura Kurniawan tidak akan pernah diam melihat anak kandungku tersakiti. Ibrahim, ini merupakan awal kehancuran keluarga Pieter.
__ADS_1
Stevanie, kita lihat apakah si tua bangka itu akan menganggapmu sebagai permata setelah perusahaan yang dibanggakan oleh mertuamu bangkrut dan kamu Mark, kupastikan dalam beberapa tahun kedepan, hidupmu lebih menderita karena dilanda rasa bersalah sudah menyakiti Gladys.
Di dalam kamar, Ameera menatap pantulan diri di depan cermin. Ia memandangi penampilannya kini sudah berubah total. Mulai dari potongan rambut, pakaian yang dikenakan hingga wajahnya pun sudah terpoles oleh alat make up branded yang dulu hanya bisa dipandangi tanpa bisa dibawa pulang ke rumah.
"Kak, aku sempat berpikir kemarin hatimu memang sudah untukku tapi hari ini dugaanku salah. Wanita yang kamu cintai selamanya adalah Stevanie bukan aku."
"Jadi, mulai sekarang maafkan aku jika melupakan semua kenangan saat bersamamu."
Ia mengeluarkan sebuah foto album berwarna merah jambu dari laci meja rias, tangannya mencari benda yang dapat digunakan untuk menggunting lembaran foto itu.
Air matanya berlinang tatkala jemari lentik itu mulai menggunting foto pernikahan tersebut menjadi kepingan kecil.
"Selamat tinggal masa lalu, terima kasih sudah memberikan kesedihan selama kita menikah!" ujarnya sambil membuang potongan foto itu ke dalam tempat sampah.
"Nak, kuharap kelak kamu mengerti mengapa tak ada sosok Papa dan Kakek dalam hidupmu karena bagi mereka kamu adalah aib yang patut dibasmi di muka bumi ini!" gadis itu mengertakan gigi hingga rahangnya menonjol ke luar.
Ia mencoba menghapus air mata yang sudah jatuh, menguatkan hati dan mencoba tegar agar orang tuanya tidak mencemaskan keadaan gadis itu.
Perlahan-lahan, ia merebahkan tubuh di ranjang, tangannya terangkat ke atas dan mengusap lembut perutnya.
"Alpukat Sayang, Mama sangat merindukanmu. Tak sabar rasanya menanti kelahiranmu ke dunia ini."
"Kamu sehat ya Nak, di dalam sana, tidak usah risau tentang masa depan sebab Mama akan bekerja keras menghidupimu hingga kelak menjadi orang sukses."
"Saat seperti ini, aku merindukan Naomi. Apa kabar gadis tomboy itu, apa yang sedang dia lakukan sekarang?"
Ia membuka kunci ponselnya, mencari nama Naomi di phone book kemudian melakukan panggilan telepon via aplikasi berwarna hijau yang sedang trend saat ini.
Ameera meluapkan keluh kesahnya pada Naomi, meskipun gadis tomboy itu saat ini sedang bekerja namun ia tetap menerima panggilan telepon disela-sela kesibukannya bekerja di perusahaan.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.