
Gladys mengerjapkan mata. Masih dengan keadaan setengah sadar, dia melirik ke samping, tempat di mana Mark tertidur pulas sembari memeluk tubuh wanita itu. Tangan kekarnya memeluk erat pinggang Gladys secara posesif.
"Aku mau membersihkan diri sebelum Alpukat bangun." Dia mengempaskan tangan kokoh itu dengan lembut.
"Tidak, aku masih menginginkanmu tidur di sampingku," ujar Mark.
"Kak... Sebentar lagi Alpukat pasti bangun, biasanya jam segini dia akan meminta jatah susu. Aku tidak bisa menyusuinya dalam keadaan tubuh masih kotor." Gladys mencoba membujuk suaminya agar melepaskan tangan dari pinggang.
Pria itu malah beringsut semakin dekat sehingga Gladys bisa merasakan hembusan napas suaminya. Tangan kekar itu menyibak rambut kecoklatan milik istrinya. "Biarkan aku menikmati kebersamaan kita, sebentar saja. Jika Alpukat bangun, aku akan membantumu menenangkannya."
"Baiklah, hanya lima menit, tidak lebih dari itu!"
Wanita itu kembali memejamkan mata, menikmati tubuh Mark memberikan kehangatan.
"Good morning, sweetheart!" sapa Mark tatkala melihat kelopak mata istrinya bergerak.
Wanita itu terperanjat dari pembaringan. Mata almondnya menatap Mark dalam balutan kemeja lengan pendek warna putih, memperlihatkan otot lengan bagian atas. Pria itu begitu gagah, macho dan tampan.
Dalam dekapan Mark, Alpukat sedang memainkan jemari mungil sambil sesekali memasukannya ke dalam mulut.
"Sayang, lihatlah. Mamamu terlelap kembali setelah Papa memeluknya. Padahal dia sendiri mengatakan hanya lima menit saja tapi ternyata hampir satu jam tertidur. Itu artinya, Mama menikmati saat tidur di dekat Papa," ujar Mark sembari menoel-noel pipi tembem Alpukat.
Kedua pipi Gladys merona, dia memalingkan wajah menghindari tatapan mata Mark. "Jangan sembarangan bicara di depan anak kecil."
Tak tahan berlama-lama berada di dekat Mark, Gladys menyibakan selimut dan beranjak dari ranjang tetapi karena cuaca di luar dingin membuat dia menggigil tatkala kakinya menyentuh lantai dengan kaki telanjang. Meskipun terdapat penghangat ruangan tapi tetap saja tidak seperti sinar matahari yang mampu menghangatkan tubuh secara alami.
Namun, rasa dingin itu berubah tatkala Mark memasangkan sandal rumah warna merah jambu bergambar Cony, icon salah satu aplikasi besutan Negara Sakura.
"Cuaca di luar sangat dingin, jangan sampai kamu membiarkan kaki indah itu menyentuh lantai," serunya sebelum membawa putra kesayangan bermain di dalam box bayi.
"Terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajibanku melindungi wanita yang kucintai." Mark mengerlingkan mata.
"Dasar gombal!" pekik Gladys. Kemudian wanita itu masuk ke dalam kamar mandi.
Setengah jam berlalu, Gladys sudah keluar dari kamar mandi. Rambut indah kecoklatan milik wanita itu terbungkus handuk kecil. Dari depan pintu kamar mandi, dia melihat suaminya bermain bersama si kecil. Alpukat nampak bahagia saat bermain dengan Papanya.
"Sweetheart, lihatlah. Putra kita sudah bisa duduk sendiri!" teriak Mark.
__ADS_1
Dengan antusias, Gladys berlari ke dalam kamar. Benar saja, bayi mungil berusia 6 bulan itu tengah duduk dengan mengemut jari telunjuk.
Ada rasa haru bersemayam di hati wanita itu ketika melihat si buah hati menunjukan perkembangan dalam keterampilan motorik kasar.
"Anak Mama pintar sekali." Gladys membungkuk, hingga belahan dadanya terlihat.
Mark tertegun sejenak, rona merah mulai menjalar ke seluruh tubuh.
"Sial, mengapa bagian itu terlihat lebih montok dari sebelumnya!" Mark memaki dalam hati.
"Gladys, sebaiknya kamu bersiap untuk sarapan. Alpukat, biar aku yang jaga," ujar Mark. Dia memalingkan wajah agar wanita itu tidak melihat rona merah di wajahnya.
"Oh, ya sudah. Tolong jaga dia baik-baik. Aku akan mengeringkan rambut dulu." Gladys duduk di depan meja rias yang terletak di ruang walk in closet.
Setelah memastikan istrinya mengeringkan rambut menggunakan hair dryer, Mark menghembuskan napas panjang.
"Terlalu lama tinggal satu kamar dengan istriku, bisa khilaf. Lebih baik aku membawa Alpukat ke luar. Melihat pemandangan dari kursi di dekat jendela sana."
Kemudian Mark menggendong anaknya keluar kamar, berjalan ke kanan lalu lurus. Di depan jendela besar, terdapat satu set kursi menghadap pantai. Papa dan anak itu menikmati kebersamaan mereka, bahkan Alpukat tak henti-hentinya tertawa dalam pangkuan sang Papa.
"Ulululu... Anak Papa lucu sekali. Cepat tumbuh dewasa ya, Nak, nanti Papa ajak kamu main bola di halaman belakang bersama Kakek." Ia menyentuhkan hidung Alpukat dengan jari.
"Aku pikir kamu sudah ke bawah." Wanita itu sudah berdiri tepat di samping Mark.
Pria itu menoleh, lalu tersenyum. "Kami sengaja menunggumu, benar 'kan, Sayang?" tanyanya pada Alpukat.
Bayi itu tertawa girang, seolah dia menjawab pertanyaan Papanya.
"Kita turun ke bawah, Mama dan Kak Joe pasti sudah menunggu."
***
Kini semua anggota keluarga sudah berkumpul, para pelayan menghidangkan makanan di atas meja. Terjadi perbincangan hangat di antara mereka.
"Tante dan Joe. Kalau kalian mengizinkan, boleh kah aku mengajak Gladys kembali ke Indonesia? Aku ingin mempertemukan Alpukat dengan Papa," ujar Mark.
Mama Aura meraih segelas air putih, lalu meminumnya hingga tandas. Dia nampak berpikir sejenak.
"Kamu yakin, tua bangka itu sudah bisa menerima kehadiran putri dan cucuku?" tanya wanita itu seraya menopang dagu.
__ADS_1
"Aku bisa memastikan Papa sudah bisa menerima Gladys dan Alpukat. Sekarang beliau sudah bertaubat dan menyesali semua kesalahannya."
Joe masih sibuk mengunyah makanan, tetapi dia mempertajam indera pendengarannya. Pria itu antusias mendengar percakapan yang melibatkan Mama dan Adik Iparnya.
"Apa jaminannya kalau Papamu sudah berubah? Bisa saja pria itu hanya berpura-pura, setelah anak dan cucuku kembali ternyata dia bekerja sama dengan Stevanie untuk mencelakai mereka lagi."
"Tante bisa meminta orang untuk membunuhku!" ucap Mark tanpa keraguan.
Gladys meletakan sendok dan garpu di samping piring. Dia menatap lekat suaminya. Dadanya berdesir lembut, perasaan tenang dan cemas bercampur menjadi satu.
Mama Aura tersenyum, menatap wajah menantunya. Dia yakin Mark bisa dipercaya. Sekali pun pernah berbuat salah tetapi wanita itu bisa menjamin Mark merupakan pria yang dapat dipercaya karena di dunia ini tidak ada seorang Papa yang akan tega mencelakai darah dagingnya sendiri.
"Baiklah, aku memperbolehkanmu membawa Gladys dan Alpukat kembali ke Indonesia tapi itu tergantung keputusan putriku. Semua keputusan ada di tangannya."
"Ayo, Mark, tunjukan padaku apakah kamu bisa membujuk putriku untuk kembali ke Indonesia," batin Mama Aura.
Mark melirik ke arah istrinya, kebetulan wanita itu pun sedang menatap ke arahnya.
"Kamu mau kembali ke Indonesia?" tanya Mark. "Di sana kamu bisa bertemu Naomi, Ayah dan Bunda sesuka hati. Aku janji tidak akan melarangmu menemui mereka."
Joe tersedak mendengar rayuan Iparnya. Dia meraih gelas lalu meminum air putih hingga tandas. "Kamu menggunakan titik kelemahan Adikku agar dia mengikutimu kembali ke Indonesia. Sungguh hebat!"
"Lantas, dengan cara apa aku merayunya lagi? Kamu sendiri tidak memiliki kekasih, jadi, aku mana mungkin meminta bantuanmu," ucap Mark sinis.
"Dasar Adik Ipar tak tahu diri!" hardik Joe, tetapi dia tidak benar-benar marah pada pria itu. Dia hanya ingin menggodanya saja.
"Hentikan! Mengapa kalian ribut. Kita dengarkan dulu jawaban Gladys."
"Sayang, bicaralah. Katakan pada kami, apa jawabanmu?"
Bersambung
.
.
.
Episode selanjutnya, diperkirakan akan update sore hari. Terima kasih atas dukungannya. 🙏
__ADS_1