BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
JANJI KELINGKING


__ADS_3

Disibukan dengan kegiatan sehari-hari terutama melakukan aktivitas pekerjaan sering kali menimbulkan tekanan tersendiri bagi para pegawai yang bekerja di kantor, pabrik, atau tempat umum lainnya. Sehingga diperlukan suatu kegiatan yang berguna untuk merilekskan kembali pikiran setelah penat beraktivitas.


Untuk itu, selaku pendiri perusahaan Tuan Ibrahim berencana mengadakan family gathreing di Puncak Bogor, Jawa Barat. Selain ingin memberikan apresiasi kepada seluruh karyawan, ia juga ingin mempererat hubungan kekeluargaan antara karyawan yang satu dengan yang lain.


Sejak 1 bulan terakhir, Tuan Taufiq sudah disibukan dengan menyusun agenda kegiatan selama acara berlangsung, ia ditunjuk oleh Tuan Ibrahim sebagai ketua panitia.


Hari ini merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh karyawan PT Indah Sentosa.


Enam buah bus sudah terparkir rapi di depan salah satu penginapan yang sudah disewa atas nama perusahaan.


Kini mereka berkumpul di padang rumput yang sangat luas, di tengahnya terdapat sebuah panggung yang sengaja didirikan untuk menghibur para peserta.


Seorang anak kecil berusia 4 tahun pemilik mata almond diam-diam mencuri pandang pada bocah laki-laki yang memiliki sikap dingin dan acuh pada lingkungan sekitar.


"Gladys, kamu sedang memperhatikan siapa, Nak?" tanya Mama Aura saat wanita itu menyadari pandangan mata sang anak tertuju pada kerumunan anak-anak yang sedang bermain di tempat bermain khusus anak.


"Mama, Ndis lihat Kakak itu kenapa dia tidak mau ikut bermain bersama teman-teman yang lain?" tanyanya dengan logat khas anak kecil berusia 4 tahun.


"Yang mana, Sayang?"


"Itu!" Gladys kecil menunjuk ke arah seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun memakai kaos dan celana santai.


"Oh, itu Kak Mark. Sewaktu Gladys berusia 3 tahun sering bermain dengannya. Kamu lupa ya!"


"Iya Ma, Ndis lupa karena sudah lama tidak bertemu dengan Kakak Itu."


"Wajar saja jika kamu melupakannya karena ia tinggal di Amerika bersama Mamanya."


"Ehm, kamu mau ikut bergabung dengan mereka?"


"Boleh?" tanya Gladys memasang wajah memelas.


Wanita itu tersenyum, mengusap lembut anaknya, "tentu saja boleh. Pergilah, bergabung dengan mereka!"


Gladys berlari kegirangan melewati sekumpulan orang dewasa yang sedang berkumpul.


Saat ia hampir sampai, tubuh mungilnya tak sengaja menabrak gadis kecil seumuran kakaknya.


Brugh!


"Aduh!" pikik gadis kecil itu.


"Dasar anak kecil, kalau jalan pakai mata!" ia membentak Gladys hingga membuat anak itu tersentak kaget.


Stevanie kecil menghela napas berat saat melihat Gladyshlah yang menabraknya.


"Kamu selalu saja mencari masalah denganku. Untuk apa bergabung bersama kami!"


"Kamu itu masih kecil tak pantas bermain dengan orang dewasa!"


"Sana pergi!" Stevanie mendorong Gladys ke belakang hingga tubuh mungil itu terjerembab ke belakang.


"Dasar cengeng! Ayo, kita tinggalkan dia!" titah Stevanie pada Martha, sahabatnya.


Air mata mulai menetes di pipi, sikunya terasa perih akibat tergores aspal.


"Apa kamu terluka?"


Ia mendongak melihat sumber suara. Bocah itu begitu tampan, rambut pirangnya disisir rapi, aura ketampanannya sudah terpancar meskipun baru berusia 10 tahun.

__ADS_1


'Kakak ini seperti pangeran dalam dongeng Cinderella,' gumam Gladys.


Mark menatap anak kecil di hadapannya dengan sorot mata dingin namun perlahan-lahan mulai mencair, lalu bertanya, "kamu Gladys kan, adiknya Joe! Apa kamu terluka?" tanya bocah itu dengan nada suara melunak.


Gladys terisak kembali saat merasakan sikunya berdenyut.


Mark mengulurkan tangan ke depan, ia menolong Gladys dan membawanya menjauh dari kerumunan orang dewasa. Mereka bersembunyi dibalik pohon besar.


"Sikumu terluka akibat di dorong Stevanie?"


Gladys hanya mengangguk.


"Sini, aku obati!" ia mengeluarkan plaster dari dalam tas kecil yang biasa dibawa olehnya.


"Lain kali, jika Stevanie mengganggumu bilang padaku!"


"Sudah, jangan menangis lagi," Mark mengusap puncak kepala anak itu.


"Aku akan memberimu hadiah, asalkan kamu berhenti menangis."


Gladys mengangguk dan menyusut air mata. Ia tak lagi menangis meski rasa sakit masih menjalar keseluruh tubuh.


"Ini untukmu!" Mark mengeluarkan boneka beruang kecil kesayangannya. Ia memberikan boneka itu untuk Gladys.


"Dulu sewaktu kamu kecil, ketika libur sekolah aku selalu mengunjungi rumah Om Taufiq dan bermain bersama Joe."


"Kamu, aku dan Joe bermain bersama. Kita main petak umpat dan perosotan.


"Boneka ini adalah milik kesayanganku, jaga dia baik-baik."


"Berhubung boneka itu sudah menjadi milikmu, maka kamu harus membalas budi padaku."


"Kamu harus menikah denganku."


"Bagaimana? Mau tidak menikah denganku!"


"Tentu saja, Kak. Ndis mau menikah dengan Kakak," anak kecil itu tersenyum.


"Janji kelingking!"


Mark, Gladys saling menautkan jari kelingking dan mereka saling mengikrarkan janji di depan pohon besar.


"Aku akan kembali ke Amerika, kamu harus memberikan hadiah padaku sebagai kenang-kenangan!"


"Oke, Ndis akan memberikan kenang-kenangan untuk Kakak!" anak kecil itu mengangkat ibu jari ke udara.


***


"Ma, Gladys mana?" tanya Taufiq setelah ia kembali dari toilet.


"Itu di sana!" Mama Aura menunjuk ke arah kerumunan anak-anak namun bola matanya tak menemukan putrinya.


"Di sana tidak ada Ndis, Ma!" ujar Joe.


"Astaga, kemana Gladys! Tadi dia di sana Pa!" teriak wanita itu dengan suara melengking.


"Ada apa?" tanya Tuan Ibrahim sambil berlari ketika mendengar keributan di meja rekan kerjanya.


"Anakku hilang!"

__ADS_1


Mami Stevanie berdiri dengan angkuh, melipat tangan ke dada.


"Jangan merusak suasana! Anakmu itu nakal, bisa saja dia sedang bersembunyi bersama teman-temannya yang lain!" lanjutnya dengan nada sinis.


"Lebih baik jaga mulutmu! Jika tidak ingin membantu, jangan membuat suasana keruh!" bentak Mama Aura.


"Sudah, hentikan!" lerai Tuan Ibrahim.


"Lebih baik kita cari Gladys, selagi matahari masih bersinar."


Tak perlu menunggu lama, Mama Aura, Joe, Papa Joe dan Tuan Ibrahim berpencar mencari Gladys.


Mencari di setiap sudut ruang, dibalik semak-semak namun tak kunjung menemukan anak kecil itu.


Tubuh Mama Aura gemetaran, air matanya mulai berjatuhan. Kemudian ia menghentikan langkahnya secara tiba-tiba ketika melihat seorang anak kecil bergandengan tangan dengan anak berusia 10 tahun dari balik pohon besar di belakang penginapan.


Dengan cepat anak kecil itu berlari menghampiri sang mama.


"Mama!" ucap anak itu tanpa merasa bersalah.


"Gladys, dari mana saja kamu, Nak!" wanita itu memeluk erat tubuh mungil putrinya.


"Ndis bermain dengan Kakak Mark di balik pohon itu."


"Kamu membuat Mama cemas."


"Maafin Ndis, Ma!" anak kecil itu mengangkat tangan dan menghapus air mata mamanya.


"Kak Mark menolong Ndis!"


"Tadi Ndis jatuh saat didorong Kak Vanie," bisiknya di telinga Mama Aura.


Mama Aura memeriksa tubuh Gladys dan menemukan luka pada siku putrinya.


Wajah wanita itu sudah memerah, leher dan telinganya mulai memanas serta rahangnya mengeras.


Lagi-lagi Stevanie mengganggu putriku! Aku heran mengapa anak itu suka sekali mencari perkara dengan Gladys. Anak dan Mama sama saja. Sama-sama menjengkelkan!


Jika aku tak ingat dia adalah pemegang saham perusahaan, sudah kumaki wanita itu. Ia selalu saja membela anaknya meskipun semua bukti menunjukan bahwa Stevanie bersalah.


Kasih sayangnya sudah membutakan mata dan hati, sehingga ia membela yang salah. Semoga kelak anak itu tidak tumbuh menjadi wanita angkuh, sombong dan berhati busuk.


"Mark, terima kasih sudah menolong Gladys."


"You're welcome!"


"Lebih baik kita segera kembali ke penginapan, langit sudah mulai mendung."


Kemudian mereka berjalan menuju penginapan. Sepanjang perjalanan Mark dan Gladys saling berbisik, bercanda dan bersenda gurai, saling menautkan jari satu sama lain.


Bersambung


.


.


.


Visual Gladys kecil

__ADS_1



__ADS_2