
Saat Mama Aura hendak membuka mulut pelayan tadi membawakan nampan berisi 2 cangkir kopi dan 2 piring berisi cemilan.
"Selamat menikmati," ucap pelayan pria itu sebelum meninggalkan meja.
"Lebih baik kita minum dulu kopinya selagi masih hangat," Mama Aura mengangkat cangkir kemudian menyeruputnya.
"Nyonya Meta, ada hal penting yang ingin saya tanyakan perihal Ameera."
"Apakah... Ameera anak angkat Anda!"
Bunda Meta meremas tangannya di bawah meja, ia merasa tubuhnya baru saja terjun dari atas gedung pencakar langit, bibirnya kelu dan bola mata terbuka lebar.
Hal yang ia takutkan selama ini akhirnya terjadi. Selama 17 tahun ia dan suami menjaga rapat-rapat masa lalu Ameera namun seorang wanita asing menanyakan tentang kejelasan status putrinya dalam keluarga Rinaldi.
Bunda Meta terdiam untuk beberapa saat, tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan dari wanita di hadapannya. Ia mematung, terlihat seperti sedang memikirkan cara membantah lawan bicaranya.
"Kenapa Anda diam saja, Nyonya. Apakah benar, gadis itu hanya anak angkat yang kalian rawat sejak kecil!" tanya Mama Aura ketika melihat Bunda Meta tidak merespon sama sekali.
"Nyonya, katakan yang sejujurnya pada saya. Apakah kalian menemukan anak itu ketika dia masih berusia 4 tahun!"
"Bicaralah Nyonya, jangan diam saja."
"Apa maumu! Mengapa menanyakan hal yang tak seharusnya kujawab!" tanya Bunda Meta sinis.
"Saya hanya memastikan saja, bahwa kalian memang orang tua yang telah merawat putriku sejak kecil."
"Tunggu, dari mana Anda tahu bahwa Ameera anakmu!"
Pertanyaan wanita itu membuat wajah Mama Aura memucat, bibirnya sedikit bergetar, "kemarin siang, saya sudah melakukan tes DNA pada Ameera menggunakan sample darah dan mncocokannya dengan darah Joe."
Napas Bunda Meta tercekat ketika mendengar penuturan Mama Aura, wanita di hadapannya secara sembunyi-sembunyi telah melakukan tes tanpa persetujuannya.
"Apa? Jadi kemarin Anda sengaja meminta bantuan seorang perawat untuk berpura-pura melakukan pemeriksaan laboratorium padahal tujuannya adalah mengetahui hasil DNA Ameera!" Bunda Meta mengebrak meja dan bangkit dari kursi.
Hingga pengunjung lain menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.
"Nyonya duduk dulu, mari kita bicarakan baik-baik!" Mama Aura mengusap lengan Bunda Meta.
"Benar Nyonya, saya sudah bekerjasama dengan perawat dan meminta bantuannya. Maaf karena tidak memberitahu kalian sebelumnya, " ucap wanita itu lirih.
"Saya tak menyangka orang terhormat dan bermartabat seperti Anda rela menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan!" Bunda Meta melipat tangan ke dada dan sorot matanya seolah mengejek wanita itu.
"Saya terpaksa melakukannya, Nyonya karena..."
"Cukup! Saya sudah muak dengan kata-kata Anda."
"Asal Anda tahu, dari dulu hingga sekarang Ameera akan tetap menjadi bagian keluarga Rinaldi meskipun dia hanya anak angkat namun kami menyayanginya dengan setulus hati."
"Anda memang ibu kandungnya tapi saya adalah wanita yang sudah membesarkan dan mendidik anak itu dengan keringat serta jerih payah hingga kini dia tumbuh menjadi gadis berbakti pada kedua orang tua."
__ADS_1
"Jika kalian memang menyayanginya mengapa tidak dari dulu mencari dan memintanya kembali!"
"Kenapa baru sekarang kalian mencari keberadaannya di saat cinta dan ikatan batin kami terjalin erat!" ucap Bunda Meta menggebu-gebu. Wanita itu sudah tak bisa menahan emosi yang ditahan sejak tadi. Ia menggeram dan rahangnya mengeras.
Saat pertama kali bertemu, Bunda Meta memiliki firasat bahwa wanita di hadapannya memiliki misi terselubung dibalik kebaikan yang diberikan pada putrinya.
"I-itu..." jawab Mama Aura terbata-bata.
"Saya rasa perbincangan kita kali ini cukup sampai di sini. Kedepannya tolong jangan pernah ganggu kehidupan kami."
"Terima kasih atas kebaikan Anda, selamat sore!" Bunda Meta membungkuk dan pergi meninggalkan Mama Aura.
'Bukannya aku tidak ingin mencari keberadaan Gladys, hanya saja saat itu jiwaku terguncang dan harus meringkuk di balik pintu rumah sakit jiwa,' ingin rasanya Mama Aura membela diri namun ia tak memiliki tenaga. Wanita itu hanya bisa menangis seorang diri sambil menatap kepergian Bunda Meta.
***
"Enak saja mau merebut Ameera setelah 17 tahun menghilang, kini mereka baru mencarinya!" gerutu Bunda Meta saat ia masuk ke dalam lift.
Beberapa orang berbisik-bisik membicarakan wanita itu namun ia tampak santai dan tak menghiraukan tatapan aneh yang ditujukan padanya.
"Aku harus segera memberitahu Mas Reza soal ini. Jangan sampai mereka merebut Ameera dari sisiku," Bunda Meta keluar lift, ia terlalu asyik mengumpat hingga telinganya tak mendengar suara langkah seseorang di belakang.
"Memberitahuku soal apa?" tanya Ayah Reza begitu posisinya tepat di belakang tubuh wanita itu.
"Hah!" Bunda Meta terperanjat serta menoleh ke belakang, sosok pria tampan yang sudah mendampinginya selama 23 tahun berdiri tegap di belakangnya.
"Ayah, kamu mengagetkanku saja."
"Tidak, anu, itu... ah mengapa aku jadi tidak konsentarasi sih!" Bunda Meta menggeleng pelan.
"Kamu kenapa? Bukankah tadi kamu ingin bicara denganku. Ada apa?" tanya Ayah Reza.
Pria itu merangkul pundak Bunda Meta dan memapahnya duduk di kursi yang sengaja ditaruh di depan ruang rawat inap.
"Istri Ayah mau bicara apa? Apakah ini soal kandungan putri kita!" tanya Ayah Reza lembut.
Wajah Bunda Meta memerah dan ia merasakan saat ini jantungnya berpacu lebih cepat. Entah mengapa wanita itu merasakan akhir-akhir ini sikap suaminya menjadi lebih lembut dan penuh perhatian.
Ayah Reza melihat tingkah lucu istrinya tidak mampu lagi menahan tawa. Pria itu tertawa begitu saja melihat bibir istrinya maju ke depan sepanjang 2 centi meter.
"Bunda hentikan, jangan buat Ayah semakin tertawa!"
"Ih, Ayah kenapa malah menertawakan Bunda." Bunda Meta mencubit perut suaminya.
"Coba Bunda bercermin dan lihat bagaimana lucunya wajahmu di sana."
Wanita itu hanya tersenyum sinis dan mendengus kesal.
"Baiklah, Ayah tidak akan menggoda Bunda lagi. Cepat katakan, mau bicara apa?" Ayah Reza merubah raut wajahnya dan kini ia duduk tegak di kursi rumah sakit.
__ADS_1
"Bunda baru saja bertemu dengan Nyonya Aura dan wanita itu menanyakan jati diri putri kita."
"Ayah tahu, ternyata kemarin sore diam-diam dia meminta tolong seorang perawat untuk mengambil sample darah dan membawanya ke laboratorium guna memastikan apakah Ameera putri kandung wanita itu."
Ayah Reza tampak serius mendengarkan ucapan istrinya, sesekali menarik napas panjang.
"Ayah bicaralah, mengapa tidak merespon. Apakah Ayah sudah tahu dan menutupinya dari Bunda?" wanita itu menatap penuh curiga.
"Bunda tak menyangka Ayah akan membohongi Bunda, ternyata selama 2 hari ini kalian bekerjasama menutupi kebenaran dariku!" Bunda Meta berdiri dan matanya berbinar-binar, pundaknya sudah bergerak ke atas dan ke bawah dan bibir mulai bergetar.
Ayah Reza mengulurkan tangan ke depan dan menyentuh jari lentik istrinya, tangan wanita itu lembut meskipun selama berumah tangga ia harus mengurusi semua kebutuhan suami dan anaknya namun Bunda Meta tak pernah mengeluh. Semuanya ia lakukan dengan penuh keikhlasan semata-mata mencari ridho suami agar Tuhan pun meridhoinya.
Setiap wanita yang sudah menikah, mereka pasti menginginkan hidup bahagia dan selalu diberkahi oleh karena itu Bunda Meta berusaha mengabdi sepenuh hati pada suaminya agar di akhirat nanti surga bisa ia raih.
"Meta, istriku tercinta demi Tuhan aku tidak pernah membohongimu dalam kasus ini."
"Tadi aku hanya terkejut ternyata rahasia yang kita sembunyikan selama ini terungkap. Padahal sudah ditutup rapat dan tidak ada yang tahu selain kamu dan aku."
"Lantas, Bunda berbicara apa padanya?"
"Ehm, Bunda minta agar dia tak lagi mengganggu kehidupan Ameera," ujarnya.
"Bunda berkata kasar pada wanita itu?"
Bunda Meta mengangguk-anggukan kepala.
Ayah Reza terdiam beberapa saat kemudian menarik napas dalam. Pria itu sudah menduga istrinya akan hilang kendali jika menyinggung persoalan anak.
"Bunda terpaksa Yah karena dia mau merebut Ameera dari kita, lebih baik aku mati jika harus dipisahkan dari putriku sendiri."
"Ayah mengerti bagaimana perasaan Bunda tapi cepat atau lambat Ameera harus mengetahui siapa ibu kandungnya. Dia berhak bahagia bersama keluarganya."
"Lalu nasib kita jika ditinggal Ameera bagaimana!"
Ayah Reza memeluk tubuh istrinya, pria itu mencoba tegar menghadapi kenyataan ini. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia pun berat mengikhlaskan Ameera kembali pada keluarganya karena gadis itu dirawat dengan penuh cinta layaknya anak sendiri namun akan terkesan egois jika mereka tetap memaksanya tinggal sementara ada wanita lain mengharapkan putrinya kembali.
"Kita akan hidup bahagia hanya berdua Bun, bersama kenangan Ameera dan Nancy putriku," tanpa sadar air mata Ayah Reza meluncur tanpa pamit terlebih dulu.
Ayah Reza dan Bunda Meta larut dalam kesedihan, mereka berpelukan di koridor rumah sakit yang nampak sepi meluapkan kegelisahan dan saling menguatkan satu sama lain.
Bersambung
.
.
.
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pengetikan, maklum jempol author kadang suka keseleo mau ngetik apa malah ngetik yang lain. 😢
__ADS_1
Bonus visual calon Kakak Ipar Ameera. Mirip boneka Barbie kan. 😂 Senyumannya ini yang membuat Mama Aura tertarik dan berniat menjodohkan dengan Joe.