
"Sejak saat itu, kondisi kejiwaan Tante terguncang. Lebih banyak menghabiskan waktu di kamar termenung dan memikirkanmu, hingga melupakan kewajiban sebagai istri dan ibu."
"Semua keluarga menyarankan agar Tante dirawat di panti rehabilitasi mental."
"Selama 9 tahun Tante dirawat di sana dan dokter baru memperbolehkan pulang di tahun ke-10 pasca Papamu meninggal."
"Tante mulai mencarimu setelah sembuh dari sakit tapi siapa yang akan percaya dengan wanita mantan penghuni rumah sakit jiwa."
"Semua orang menertawakanku termasuk si tua bangka itu. Ia memutuskan perjodohan secara sepihak karena tak ingin memiliki besan mantan penghuni RSJ."
"Tuan Ibrahim dihasut Mami Stevanie untuk menjodohkan Mark dengan putrinya. Andai saja aku memiliki harta berlimpah saat itu, sudah kutarik semua saham perusahaan. Aku tak sudi bekerja sama dengan orang licik seperti mereka!"
"Kamu tahu Meera, orang di luaran sana meyakini bahwa Gladysku telah tewas dalam insiden kebakaran itu namun batinku sebagai seorang ibu mengatakan kamu masih hidup, Nak. Buktinya, kini putriku tercinta duduk di hadapanku."
Mama Aura tak bisa lagi membendung air matanya, ia menangis mengingat betapa sedih hatinya harus berpisah dengan anak tercinta.
Naluri Bunda Meta sebagai seorang ibu bangkit, ia mengusap pundak wanita itu.
"Lantas, mengapa aku tidak mengingat semuanya?"
"Itu karena kamu mengalami amnesia, Nak!"
Terlihat raut wajah Mama Aura terkejut, kedua matanya terbelalak sempurna.
"Amnesia? Bagaimana bisa!" tanya Mama Aura.
"Saya akan menceritakannya, Nyonya!"
Flash back...
"Aw!" anak kecil itu memekik tatkala tubuhnya terpelanting membentur dinding.
Anak kecil bermata almond itu tersungkur di lantai, ia terpental hingga beberapa meter ke depan. Tubuhnya terbentur dinding, keningnya mengeluarkan darah saat Ayah Reza menemukan tubuh mungil itu.
Malam itu, Ayah Reza berada di lokasi kejadian. Ia baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai cleaning service di bioskop tersebut.
Sudah hampir 1 bulan ia dan istrinya tinggal di Yogyakarta, kampung halaman pasangan suami istri tersebut.
Mereka baru saja kehilangan anak semata wayangnya bernama Nancy, karena tak ingin terpuruk pria itu membawa Bunda Meta mengunjungi ibunya di kampung berharap kesedihan wanita itu perlahan-lahan hilang.
Ayah Reza sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dikenakan sebelum memulai bekerja. Baru beberapa langkah kakinya meninggalkan loker tempat khusus bagi karyawan, tiba-tiba saja suara sirine berbunyi.
Pria itu berlari menuju pintu darurat, saat melewati studio 4 panca inderanya menangkap sosok anak kecil tergeletak lemah tak berdaya di samping reruntuhan bangunan.
"Astaga, anak siapa ini!"
Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia hanya melihat kobaran api di mana-mana. Matanya perih, dadanya terasa sesak akibat terlalu banyak menghirup CO2.
"Papa, tolong Ndis!" ucap Gladys kecil dalam pangkuan Ayah Reza.
"Sial, jika aku membiarkannya tetap di sini maka nyawanya akan terancam. Lebih baik aku bawa anak ini keluar!" pria itu bangkit, dengan sisa tenaga yang dimiliki ia menggendong Gladys keluar menjauhi bangunan yang sudah hampir terbakar semua.
"Suster, tolong selamatkan anak ini!" Ayah Reza menggendong tubuh kecil Gladys. Detak jantung anak itu lemah, keningnya berdarah dan ia tak sadarkan diri.
__ADS_1
Beberapa perawat berlarian ke arah Ayah Reza, dengan sigap menggendong tubuh Gladys dan membawanya ke ruang IGD.
"Tuan, sebaiknya luka Anda segera diobati agar tidak infeksi!"
Ayah Reza terpaku sejenak saat bola matanya yang bulat melihat dokter yang berjaga memberikan pertolongan pertama pada anak kecil itu.
"Sus, apakah dia bisa diselamatkan?"
"Anda tenang saja, Tuan. Kami akan memberikan pengobatan terbaik untuk putri Anda."
***
"Nak, kamu sudah sadar." Ayah Reza mengusap rambut Gladys begitu melihat anak itu membuka mata.
Anak kecil itu terlihat pucat, keningnya terbalut kain kasa putih mengelilingi kepalanya.
"Adik cantik, siapa nama kamu?"
Tak ada respon sama sekali, anak kecil itu hanya mengedipkan mata dan menatap kosong ke arah Ayah Reza.
"Adik cantik, Om tanya siapa namamu?"
Gladys kecil hanya menggelengkan kepala, "tidak tahu!"
"Dokter, apa yang terjadi?"
Dokter memeriksa keadaan anak itu dan ia menyimpulkan bahwa Gladys hilang ingatan.
Dua hari dirawat di rumah sakit, Gladys sudah diperbolehkan pulang. Ia dibawa ke rumah mertua Ayah Reza.
Kabar kecelakaan yang menimpa pria itu sampai ke telinga Bunda Meta namun akibat jiwanya terguncang wanita itu tak membesuk suaminya di rumah sakit. Ia hanya melamun dengan tatapan kosong.
"Assalamu a'laikum."
"Wa'alaikum salam."
"Meta!"
Wanita itu menoleh ketika mendengar suara seorang pria yang datang menggandeng anak kecil berusia 4 tahun. Anak kecil bermata almond itu berdiri mengenakan baju kodok dengan rambut di kuncir kuda.
"Nancy, kamu kembali Nak!" Bunda Meta menghambur memeluk tubuh mungil Gladys.
"Anakku, akhirnya kamu pulang." Bunda Meta menangis haru, wanita itu menganggap anak di depannya adalah Nancy.
"Meta, dia bukan Nancy. Anak kita sudah kembali pada Sang Pencipta."
"Tapi Mas, Nancy kita belum meninggal!"
"Sayang, sadarlah. Nancy sudah meninggal dan kamu harus mengikhlaskannya."
Bunda Meta menangis dalam pelukan suaminya.
"Jika dia bukan Nancy, lantas siapa anak ini?"
__ADS_1
"Aku menyelamatkannya saat kejadian kebakaran kemarin. Dokter bilang ia amnesia dan aku tidak tahu nama serta orang tuanya di mana."
"Aku akan melapor polisi agar dia bisa kembali bersama orang tuanya."
"Tidak Mas, jangan kamu laporkan kasus ini. Bagaimana jika mereka mengira kita menculiknya!"
"Omong kosong, aku menemukan anak ini mana mungkin dituduh menculiknya."
"Tapi aku tetap tidak setuju. Biarkan dia tinggal bersama kita, aku mohon Mas."
"Apakah kamu tega membiarkan aku terpuruk lagi seperti dulu!" Bunda Meta menundukan kepalanya dalam-dalam.
"Baik, aku akan menuruti keinginanmu. Akan tetapi, jika ada berita tentang anak hilang, kamu harus siap melepaskan anak ini. Bagaimana?"
"Oke, aku setuju."
Bunda Meta berjongkok di hadapan Gladys. Ia mengamati garis wajah anak kecil itu, memandanginya selama beberapa menit tidak membuatnya merasa bosan. Bulu mata lentik, bentuk mata seperti almond, hidung mancung, bibir tipis dan senyumnya yang manis membuatnya jatuh cinta seketika.
Gladys kecil mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi wanita itu.
"Anakku, kamu jangan takut ada Bunda di sini!" Bunda Meta memeluk erat dan menciumi kening, hidung, wajah dan rambut anak kecil itu.
"Sayang, mulai hari ini panggil aku Bunda dan namamu adalah Ameera."
"Hu'um, oke Bunda." gadis kecil itu tersenyum.
Tuhan, semoga keputusanku tepat. Aku hanya ingin melihat istriku sembuh seperti sedia kala. Memang terkesan egois, namun aku tak memiliki jalan lain selain menuruti keinginan Meta.
Flash back off...
"Pantas saja Meera sering bermimpi terjebak dalam kepungan api. Suara teriakan minta tolong dari beberapa korban kebakaran masih menggema hingga sekarang."
Ameera menyentuh kepalanya yang berdenyut hebat.
"Aduh!" erang gadis itu.
Bunda Meta bergegas bangun, menyentuh lengan putrinya.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Ameera memejamkan mata, kepalanya terasa sakit. Beberapa potongan adegan kecelakaan memenuhi isi kepalanya, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat bagaimana si jago merah melahap habis semua barang yang ada di hadapannya. Meluluhlantakan semua dalam hitungan detik. Jerit tangis, teriak minta tolong seakan membuat bulu kudunya merinding.
Membuat pandangannya kabur seketika.
Bersambung
.
.
.
Jika kalian suka dengan episode ini, jangan lupa like ya Kak. Terima kasih. 🙏
__ADS_1