
Mark tersadar, jika dulu ia pernah berjanji akan menikahi seorang anak kecil berusia 4 tahun dan boneka itu merupakan simbol janjinya. Pria itu mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
"Aku sudah menetapi janjiku untuk menjadikanmu istri namun bukan sebuah pernikahan layaknya surga melainkan neraka!" Mark menitikan air mata.
"Jika aku tahu kamu adalah Gladys, tak kan kubiarkan hidupmu menderita!"
"Maafkan aku, Sayang!"
Pria itu segera bangkit, masuk ke dalam kamar, menyambar kunci mobil dan pergi begitu saja tanpa mencuci wajah terlebih dulu. Ia terlalu larut dalam suasana hingga lupa untuk membersihkan diri.
Mark melajukan kendaraannya dengan sangat kencang, menyalip semua mobil dan motor yang menghadang jalannya. Ia bahkan tak segan-segan menyalakan bunyi klakson padahal APILL (Alat Isyarat Lalu Lintas) masih menunjukan angka 2 namun pria itu seperti orang kesetanan menekan tombol klakson yang berada di tengah benda bundar tersebut.
Beberapa menit berlalu, sampailah ia di rumah mertuanya. Mark berlari menerobos pintu pagar dan mengetuk pintu rumah.
"Ayah, Bunda, ini Mark. Tolong buka pintunya!" teriak pria itu mencoba membangunkan penghuni rumah.
Belum ada jawaban, Mark mencoba sekali lagi. Ia yakin saat ini mertua dan istrinya ada di dalam rumah, sebab lampu halaman rumah dan teras masih dalam keadaan menyala.
"Sayang, buka pintunya! Aku sudah tahu sekarang bahwa kamu adalah Gladys."
"Cepat buka pintunya, mari kita bicara baik-baik!" bujuk pria itu.
"Meera, buka!" Mark semakin meninggikan volume suaranya hingga membuat beberapa tetangga berkumpul di depan pintu pagar rumah Bunda Meta.
"Ada apa ini, kenapa menantunya Pak Reza berteriak seperti orang gila!"
"Mana kutahu!" ujar salah satu tetangga sambil mengangkat bahu.
"Kumohon keluarlah, jangan kamu siksa aku seperti ini!" ucapnya lirih.
"Alah, palingan juga si Meera pura-pura ngambek agar dibujuk suaminya. Sudah bisa ditebak, gadis model dia hanya memanfaatkan keadaan saja!" cibir Bu RT.
"Mas, kemarin malam saya lihat Pak Reza membawa 1 koper besar. Ketika ditanya, beliau hanya tersenyum. Setelah itu masuk ke dalam mobil," ujar tetangga dekat Bunda Meta.
"Terima kasih, Bu."
Setelah mendapatkan informasi, pria itu berjalan melewati kerumunan ibu-ibu. Ia mengabaikan tatapan aneh dari para tetangga yang sudah berkumpul menyaksikan drama di pagi hari.
"Sial!" maki Mark sambil memukul stir mobil.
"Kamu pergi kemana Gladys!"
Mark membuka kembali foto saat yang pernah diambil saat ia menemani istrinya melakukan USG. Perlahan garis bibirnya melengkung dan membentuk senyuman samar.
"Aku akan terus mencari kalian sampai ke ujung dunia!"
Sebuah ide terlintas begitu saja dan ia menjalankan mobilnya menuju apartemen seseorang yang diyakini bisa memberikan informasi akurat tentang keberadaan gadis itu.
Di depan sana sudah berdiri kokoh bangunan apartemen elite kelas atas yang menjulang tinggi ke awan.
Pria itu menekan tombol lift menuju lantai 20, sambil menunggu ia meminta bantuan orang untuk melacak keberadaan istrinya.
Ketika pintu lift terbuka, pria itu langsung berlari keluar dan menuju kediaman sahabatnya.
"Joe, buka pintunya!" tangan pria itu terus menekan bel pintu tanpa jeda sedikitpun.
"Aku tahu kamu di dalam. Cepat buka pintu!"
Sementara itu, sang empunya apartemen masih terlelap di atas ranjang kesayangan. Ia mengerjapkan mata tatkala mendengar suara bel pintu yang terus menerus berbunyi.
__ADS_1
Di dalam apartemen itu ia hanya tinggal seorang diri sebab Bi Diah sedang pulang kampung.
Sore hari sebelum keberangkatan majikannya, wanita paruh baya itu meminta izin beberapa hari karena anaknya sakit dan harus dirawat di rumah sakit.
"Brengsek, buka!" Mark masih menggedor pintu.
Selang beberapa detik, pintu terbuka. Terlihat Joe masih mengenakan piyama tidur, rambut acak-acakan dan nyawanya masih belum terkumpul sempurna.
Pria itu berjalan sempoyongan ke arah sofa, ia menarik selimut dan tertidur kembali.
"Di mana istriku!" Mark berdiri di samping sofa. Wajahnya merah padam.
"Eugh!" Joe hanya menggeliat di samping sahabatnya.
"Katakan padaku, di mana istriku!" Mark memukul pundak pria yang tengah tertidur di sofa.
"Istrimu yang mana?" tanya pria itu setengah tersadar.
"Ameera."
"Kamu itu suaminya, mengapa bertanya padaku!" dengus Joe kesal. Ia jengkel karena pagi-pagi sekali mimpi indahnya terusik oleh kedatangan Mark.
"Jangan pura-pura, kamu pasti sudah tahu kebenarannya kan!" Mark kembali memukul pundak sahabatnya namun kali ini lebih keras hingga membuat Joe terduduk di sofa.
"Tahu apa heh?" tanya Joe sambil mengusap wajahnya.
"Bahwa Ameera itu adalah Gladys!"
Setelah kesadarannya kembali, Joe tersenyum sinis ke arah pria jangkung berdarah Indo-Amerika. Senyuman itu lebih terkesan mengejek pria di sebelahnya.
"Jadi kamu sudah tahu siapa gadis yang kau nikahi itu!" tanya Joe acuh.
Pria itu menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, ia berjalan ke arah dapur mengambil segelas air putih lalu menegaknya dalam sekali teguk.
Kini pria itu berjalan ke arah lemari pendingin, mencari buah segar dan mengupasnya hingga menjadi potongan kecil yang siap disantap.
Kemudian ia duduk di sofa, sambil menikmati buah tersebut.
"Makanlah, aku sengaja mengupas buah-buahan ini khusus untuk adik iparku!" ucap Joe sembari menyodorkan piring kecil tepat di depan Mark.
"Tidak usah tegang, anggap saja kamu sedang berbicara dengan asistenmu."
"Oh tunggu, kita berada di luar kantor berarti aku adalah sahabatmu atau jika kamu mau anggaplah aku Kakak iparmu!"
Pria itu duduk menyilangkan kaki, menumpu dagu dengan tangan.
"Sejak kapan kamu mengetahui bahwa Ameera adalah Gladys!" tanya Mark.
"Ketika ia dirawat di rumah sakit akibat perbuatan istri tercintamu," ujar Joe bersikap santai.
"Lantas, mengapa tidak memberitahuku."
"Untuk apa?"
"Agar aku memberikan celah bagi istrimu untuk leluasa mencelakai Ameera!"
"Mark, jika sampai identitas asli Ameera diketahui Stevanie, dia akan semakin gencar mencari cara untuk membunuh adikku!"
"Tidak bisa kah kalian membiarkan Ameera hidup damai tanpa adanya gangguan dari wanita licik seperti istri pertamamu itu!" ucap Joe sambil menatap perubahan raut wajah pria di hadapannya.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu pasti kesal sebab mulutku ini tak mau berhenti berucap, iya kan!"
Mark menghela napas dalam, mengumpulkan semua tenaga sebelum membalas semua perkataan sahabat sekaligus kakak iparnya, "aku memang salah sudah membawa Ameera masuk ke dalam sebuah pernikahan yang membuatnya tersiksa bahkan beberapa kali nyaris celaka akibat perbuatan Stevanie."
"Namun sekarang aku sudah berubah, ingin memulai semuanya dari awal tapi tiba-tiba saja Ameera pergi meninggalkanku tanpa pamit, Joe!"
"Dia masih istri sahku meskipun pernikahan kami hanya secara siri."
"Ya, kamu benar. Ameera istrimu tapi istri yang tak dianggap!"
"Sudahlah, lebih baik kamu kembali pada Stevanie. Nasihati dia agar kembali ke jalan lurus."
"Minta dia untuk segera bertaubat sebelum ajal menjemput."
"Jangan gunakan kekuasaanya untuk menyuruh orang membunuh adikku!"
Mark beringsut duduk di sebelah Joe, matanya terbuka lebar dan ia menajamkan indera pendengarannya.
"Katakan, apa sudah terjadi sesuatu pada Ameera?" Mark menyentuh pundak pria itu.
"Aku belum bisa memastikan, akan tetapi siapa lagi yang memiliki dendam terhadap adikku selain istri pertamamu!"
"Joe, tolong katakan secara jelas. Jangan berbelit-belit!"
"Dasar bodoh!"
"Otakmu itu digunakan untuk apa? Begini saja minta penjelasan secara detail padaku!" Joe beranjak dari sofa dan kini duduk di ayunan terbuat dari rotan.
"Joe, katakan padaku!"
"Kemarin malam, adikku dirawat di rumah sakit. Semua pencahayaan padam di lantai tempat Ameera dirawat. Entah bagaimana ceritanya ada pria misterius menyusup masuk ke kamar dan mencoba menusuk istrimu beserta janinnya menggunakan pisau."
Mark terkejut dengan penuturan pria itu, "lalu?"
"Untung saja Dokter Firman segera datang dan nyawa Ameera beserta janinnya baik-baik saja. Untuk itulah Mama membawa istrimu pergi dari sini karena kami tahu Stevanie akan terus mencelakainya." Joe meluruskan kaki ke atas meja.
"Lantas, di mana istriku berada?"
"Aku tidak tahu!"
"Bohong! Kamu pasti tahu Mama Aura membawanya kemana, iya kan!"
"Menurutmu!" Joe bertanya balik pada pria itu.
"Argh!" Mark mengusap wajahnya kasar.
"Lama kelamaan aku bisa gila jika terus berbicara dengan pria ini. Seharusnya sejak awal aku tahu, dia tak kan bisa diajak kompromi!" batin Mark.
"Apa?" tanya Joe, ia malah bersiul dan menatap langit-langit apartemen, mengacuhkan tatapan sinis dari pria di depannya.
"Bagus, ini baru permulaan. Kelak aku akan membuatmu semakin gila karena kehilangan Ameera."
"Salah sendiri, mengapa dulu kamu begitu jahat pada adikku. Kini terima pembalasanku." Joe tersenyum smirk.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Episode selanjutnya diperkirakan akan terbit sore atau malam hari. Terima kasih atas dukungan kalian. 🤗