BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
PENCULIKAN


__ADS_3

Sementara itu, Bi Mirna sudah sampai di kursi, tempat Gladys meletakan stroller milik anaknya. Wanita itu memberikan botol berisi air putih lalu membantu Alpukat minum. Tiba-tiba saja, seorang wanita asing mendekat.


"Permisi, Bu, saya mau tanya alamat." Seorang pengemudi motor dengan menggendong balita, menghampiri Bi Mirna yang sedang duduk di kursi taman. Yang jaraknya tidak terlalu jauh dari area bermain anak-anak tetapi tertutupi sebuah pohon beringin besar hingga tempatnya sedikit tersembunyi. Kursi itu juga berada di pinggir jalan.


"Eh... Iya, Nona. Bagaimana?" tanya Bi Mirna tanpa menaruh curiga sama sekali.


"Begini, Bu. Saya mencari alamat ini. Apakah Ibu bisa memberitahu? Kebetulan kami baru di Jakarta, jadi tidak terlalu hafal daerah sekitar sini." Wanita asing itu menyodorkan kertas putih ke depan.


Bi Mirna menautkan kedua alis. Dia memandangi pengemudi dan wanita itu secara bergantian. "Mengapa perasaanku tidak enak. Apakah akan ada hal buruk terjadi hari ini?" batinnya.


"Bu..." Wanita asing itu melambaikan tangan ke depan. "Ibu bisa membantu kami?"


Pikiran Bi Mirna menerawang dan tatapan matanya seketika kosong. Dia seperti orang linglung, tak mengenali keadaan sekitar bahkan tangannya terlepas dari stroller bayi milik Baby Andra. Wanita itu melangkah maju ke depan, terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Dari kejauhan, perlahan sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan lambat. Berhenti tepat di depan kursi taman. Seorang pria berpakaian serba hitam dan mengenakan kacamata hitam menarik penutup jaket, menutupi wajah ketika turun dari mobil. Kedua bola matanya memperhatikan keadaan sekeliling. Setelah dirasa aman, dia berjalan menghampiri Alpukat yang tengah tertidur akibat terlalu lelah bermain. Dalam sekejap, tubuh gembul itu berpindah dalam pelukan si pria asing.


Pria itu membawa Alpukat masuk ke dalam mobil. "Lajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Beri tahu pada teman yang lain, mission completed!"


Pria dibalik kemudi mengaktifkan alat walkie talkie lalu menghubungi teman-temannya. "Target sudah ditangan. Kalian bisa pergi sekarang. Ingat, jangan sampai meninggalkan jejak!" ucapnya singkat.


Dia memutuskan sambungan komunikasi. Kembali fokus mengendarai kendaraannya. Mobil itu berbelok ke kanan, lalu ke kiri, kemudian lurus hingga ke jalan raya.


"Untung saja kalian menjalankan tugas dengan aman, hingga target bisa ditangkap sesuai rencana," ujar asisten Mr. Lee. Pria itu berperan sebagai eksekutor, menangkap Alpukat dan membawa tubuh gembul si pemilik mata almond ke dalam mobil.


Dia menarik napas dalam-dalam. Tangannya meraba saku celana, lalu menghubungi nomor seseorang.


"Tuan, target menuju lokasi."


Pria diseberang sana tersenyum bangga karena rencananya berjalan lancar. "Bagus, bawa bayi itu ke gedung yang aku perintahkan kemarin. Pukul dua belas sudah harus ada di lokasi," titah Mr. Lee.


"Baik, Tuan." Lalu sambungan telepon terputus.


Asisten Mr. Lee menepuk pundak si supir. "Naikan kecepatan. Jangan sampai membuat si Bos mengamuk. Jika itu terjadi dan dia membunuhku, maka nyawa kalian semua akan kuhabisi. Kita semua akan masuk dalam kuburan yang sama!"

__ADS_1


"B-baik, Tuan..." ucap si supir tergagap.


***


"Oke, sementara waktu cukup. Besok atau lusa aku akan ke toko, memeriksa barang masuk sekalian mengawasi laporan keuangan bulan ini."


Gladys menghela napas pelan, setelah menghabiskan waktu selama lima belas menit melakukan video call bersama supervisor dan staf toko perhiasan, wanita itu bernapas lega, akhirnya semua masalah terselesaikan.


Di toko tempat Gladys bekerja, ada salah satu pelanggan komplain, terkait bentuk cincin yang dipesan khusus untuk kado ulang tahun pernikahan. Dia mengamuk, lalu menuntut ganti rugi dan meminta segera disampaikan pada pemilik toko perhiasan, kebetulan pemilik toko tersebut adalah Gladys.


Wanita muda itu diberikan tanggung jawab penuh oleh Mama Aura mengelola toko perhiasan berlian yang ada di Jakarta. Toko tersebut merupakan anak cabang dari Australia. Jadi, saat toko mengalami masalah, maka Gladys akan turun tangan menangani masalah hingga ke akarnya


Dengan cepat, Gladys berjalan setengah berlari ke tempat semula. Dia tertegun, tatkala melihat kursi itu kosong. Bi Mirna, bodyguard dan Alpukat tidak ada di tempat.


"Bi Mirna," teriak Gladys. Mata indah wanita itu bergerak ke sana ke mari mencari keberadaan pengasuh putranya.


Melihat Johan, sang bodyguard berlari menghampirinya, wanita itu bertanya, "Johan! Di mana putraku?" tanya Gladys dengan wajah mulai memucat. Keringat dingin mulai berjatuhan. Dia jadi teringat akan mimpinya semalam. "Cepat katakan, di mana anakku!" Kini wanita itu menaikan satu oktaf suaranya.


Gladys bisa merasakan suatu hal buruk terlah terjadi saat dia meninggalkan putranya. "Bi Mirna tidak ada di sini!" bentak wanita itu. "Kamu diminta suamiku menjaga dan mengawasi Alpukat, tapi malah pergi."


"Nyonya jangan cemas, bisa saja Tuan Muda sedang bermain bersama Bi Mirna," ujar Johan ketika melihat mata majikannya berkaca-kaca.


"Kalau begitu, cari Bi Mirna!" titah Gladys dengan frustasi.


Johan hendak berlari melaksanakan perintah majikannya. Dari arah berlawananan Bi Mirna berjalan dengan sedikit linglung.


"Di mana anakku?"


"Anak?" Bi Mirna mengerutkan kening. Wanita itu terbengong melihat Gladys. Tatapan matannya masih kosong.


"Bi Mirna, tadi aku memintamu menjaga Alpukat. Di mana dia?" Gladys menggoyangkan bahu wanita itu.


Bi Mirna mengedipkan mata berkali-kali, lalu memukul kepala dengan tangan kemudian kesadarannya kembali pulih. Netranya menangkap wajah pucat Gladys. "Nyonya..."

__ADS_1


"Di mana anakku?"


"Di dalam stroller." Bi Mirna melangkah maju tapi tidak menemukan Alpukat. Sadar akan kesalahannya, dia menundukan wajah. "Sebelumnya Tuan Muda ada di dalam stroller tapi..."


Gladys terduduk lemas di kursi, menangkup wajah dengan kedua tangan. Air mata mulai membasahi pipi. "Kalian benar-benar ceroboh, membiarkan putraku tinggal sendirian!" ucapnya lirih.


"Aku yakin, Alpukat telah diculik. Ini sama persis seperti dalam mimpiku. Oh tidak! Jangan sampai penculik itu membunuh anakku." Suara tangisan Gladys mulai pecah dan orang-orang sekitar menatap ke arahnya.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Pak satpam yang berjaga.


"Anak majikan saya diculik, Pak."


"Waduh, bagaimana bisa? Apakah kalian tidak mengawasinya?" cecar satpam itu. "Jika hari libur dan akhir pekan, taman selalu dibuka untuk umum, seharusnya orang tua lebih ketat mengawasi putra dan putrinya.


Namun Gladys tidak merespon. Wanita itu masih menangis sesegukan, dada mulai terasa sesak dan dia merasakan bumi ini berputar dan terus berputar hingga membuat tubuh mungil Gladys terjatuh.


"Nyonya!" teriak Johan, Bi Mirna dan Pak Satpam hampir bersamaan.


Semua pengunjung menoleh, menghambur lalu mengelilingi kursi yang ditempati Gladys. Mereka mulai berbisik-bisik, menerka dan menduga-duga hal yang telah terjadi.


"Cepat bawa ke pos satpam!"


Bersambung


.


.


.


Halo teman-teman, aku mau mempromosikan karya milik temanku, dengan nama pena : Kirana Pramudya.


__ADS_1


__ADS_2