BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA!


__ADS_3

Bugh!


Dengan tidak berperikemanusiaan, Mark terus mendaratkan bogem mentah pada wajah dan perut Johan. Pria itu seperti seorang iblis terus menerus menghajar bodyguardnya tanpa ampun.


"Brengsek! Sudah kukatakan, jaga anakku tapi kamu malah meninggalkannya dan membantu orang lain. Aku mengajimu untuk menjaganya bukan mengerjakan hal lain!" Kali ini Mark mengepalkan tinju, tepat mengenai wajah. Namun, pria bertubuh tegap itu tak berkutik. Dia menerima dengan pasrah semua pukulan yang dilayangkan padanya.


"Jika terjadi hal buruk pada anakku, maka bersiaplah kamu ke neraka!" pungkas Mark.


Bugh!


Mark kembali menyerang bodyguardnya, kali ini dia meninju bagian ulu hati. Johan mengerang akibat tinjuan bertubi-tubi yang ditujukan padanya. Dia terjerembab ke belakang. Terduduk lemah di rerumputan hijau di taman belakang dengan wajah babak belur, cairan merah pekat mengalir dari hidung, menyeruak terbawa angin sepoi-sepoi yang tak sengaja melintas di perumahan mewah tersebut. Menyebarkan aroma amis, membuat siapa saja ingin muntah. Semua pelayan, Tuan Ibrahim dan Joe tak mampu berbuat apa-apa, selain menyaksikan keganasan Mark ketika meluapkan emosi pada bawahannya.


Mark benar-benar kalut. Suara tangisan Gladys membuat pikirannya dipenuhi oleh amarah, membuat pria berusia dua puluh delapan tahun itu jadi gelap mata.


"Kak Kiran, Alpukat..." Gladys masih menangis dalam pelukan calon Kakak Iparnya.


"Bagaimana jika penculik itu membunuh anakku, sama seperti mimpi semalam."


"Tidak, Gladys, anakmu pasti baik-baik saja." Kirana mengusap punggung wanita itu.


"Kak, apakah sudah menemukan posisi Alpukat saat ini?" tanya Kirana tanpa melepaskan pelukan.


Joe menghela napas dalam. "Belum. Lapor polisi pasti tidak akan segera ditanggapi, karena belum 1×24 jam." Pria itu mendengus kesal. "Aku heran, apa motif para penculik itu membawa keponakanku. Apakah mereka menginginkan tebusan atau ada niat terselubung." Pria itu menyugar rambutnya frustasi.


"Kita hanya bisa menduga-duga saja, karena belum menemukan petunjuk sama sekali," timpal Kirana.


Pria tinggi menjulang itu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, lalu menatap langit-langit. "Ya, semoga petunjuk itu segera ditemukan agar Andra kembali ke sisi kita."

__ADS_1


Seorang wanita menekan klakson tanpa henti, beberapa detik berikutnya pintu gerbang terbuka secara otomatis. Rumah yang berlokasi di kawasan elite itu telihat mewah. Dia memarkirkan mobil di depan pintu masuk, seorang penjaga mengambil kunci milik wanita bertubuh sintal itu, lalu memarkirkannya ke garasi.


"Di mana, Tuanmu? tanya Stevanie setelah dia mencapai anak tangga paling atas. Kepala pelayan berdiri menyambut kedatangan wanita itu dengan senyum yang dipaksakan.


"Ada di dalam, Nyonya."


Kemudian Stevanie langsung masuk ke dalam rumah. Saat kaki jenjang nan putih dan mulus itu melangkah, di depan sana Joe sudah berdiri tegap menyambut kedatangan saudara angkatnya.


"Apa yang terjadi, Joe?" tanya wanita itu.


"Baby Andra diculik saat Gladys berada di taman. Aku curiga, sepertinya mereka sudah merencanakan penculikan ini dengan begitu matang, hingga tidak ada jejak sama sekali yang tertinggal."


Stevanie menghembuskan napas dengan kasar. "Lantas, Mark di mana sekarang?" tanya wanita itu lagi. Dia melangkah masuk ke dalam pintu penghubung antara ruang tamu dengan area lain.


"Dia sedang memberikan pelajaran pada Johan. Sejak sepuluh menit lalu mantan suamimu terus menerus menghajar bodyguardnya," jawab Joe.


Di hamparan rerumputan hijau, Johan terduduk lemas dengan wajah babak belur. "Mark, hentikan!" Stevanie berlari, mengulurkan tangan ke depan. Dengan hati-hati, dia menyentuh tangan mantan suaminya. "Kamu bisa membunuh Johan!"


"Itu lebih baik. Tidak ada gunanya dia hidup di dunia. Gara-gara pria bodoh ini, anakku diculik!" Mark menepis tangan Stevanie.


"Aku mengerti, tapi pria ini memiliki istri dan juga anak. Apa kamu tega membiarkan seorang anak tumbuh dewasa tanpa kasih sayang dan figur seorang ayah?" Stevanie masih berusaha meredam emosi Mark.


"Jika kamu tidak peduli orang lain, setidaknya pikirkan Gladys. Lama kelamaan Johan akan tumbang, lalu istrinya melaporkanmu pada polisi. Tak lama mereka datang kesini menjemputmu. Apakah kamu mau Gladys menjadi janda kembang?" tanya wanita itu sengaja meninggikan volume suaranya.


Stevanie menyentuh lengan Mark, lalu berkata, "minta semua anak buahmu turun tangan, mencari keberadaan Alpukat. Itu lebih bermanfaat daripada membuang waktu."


Seakan tersihir oleh semua perkataan Stevanie, Mark menurunkan kepalan tangan itu dari wajah Johan. "Ya, kamu benar. Kenapa aku membuang waktu banyak untuk menghajar pria bodoh ini! dengus pria itu kesal.

__ADS_1


"Apa bodoh? Hei, bukankah yang lebih bodoh itu adalah kamu! Menghabiskan energi untuk memukuli orang lain. Dasar pria aneh," batin Stevanie.


"Jangan menghinaku dalam hati." Mark mendelik ke arah mantan istrinya. Lalu dia berkata, "dan satu lagi, kuberitahu kamu. Selamanya, aku akan selalu bersama Gladys. Jadi, tarik lagi ucapanmu."


Stevanie memutar bola mata malas. "Maka dari itu, ayo kita masuk. Temui Gladys, dia pasti membutuhkan dukunganmu."


Pria bertubuh atletis dan memiliki mata biru terang itu berjalan masuk ke dalam ruangan diikuti Stevanie yang mengekori di belakang.


"Kirana, bisakah kamu menolong Johan membersihkan lukanya?" bisik Stevanie setelah wanita itu duduk di sofa panjang di ruang keluarga.


"Baik, Kak." Lalu Kirana berdiri, tangannya terulur ke depan. Meraih kotak P3K yang diberikan oleh Gendis, kepala pelayan keluarga Pieter.


Dengan hati-hati, Mark menggantikan posisi Kirana memeluk Gladys dalam dekapan.


Wanita itu semakin membenamkan tubuhnya. Mati-matian Gladys membendung air mata agar tidak mengalir. Dia tidak ingin Mark melihatnya dalam keadaan hancur, bagaikan sebuah porselen yang pecah berkeping-keping karena tahu suaminya itu akan lebih hancur bila melihat setetes air mata membasahi pipi sang istri.


Masih dengan posisi berpelukan, Mark mengusap punggung istrinya lembut seraya berkata, "semua akan baik-baik saja."


Bersambung


.


.


.


Jika kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak untuk author. Terima kasih. 🙏

__ADS_1


__ADS_2