
"Sudah sampai," ujar Mark ketika mobil hitam milik iparnya terparkir rapi di bahu jalan di seberang rumah orang tua Kirana yang berada sekitar tujuh puluh lima kilometer dari pusat ibu kota Jakarta.
Tubuh Joe membeku saat matanya menatap lurus ke depan. Sebuah rumah tua berlantai satu, dibangun di atas tanah seluas lima puluh meter menyambut kedatangan mereka. Rumah itu begitu sederhana dan tampak bersih terawat.
Meskipun terlihat beberapa noda akibat rembesan air hujan pada langit teras rumah tetapi sang pemilik rumah berusaha keras merawat istananya tersebut. Terlihat dari halaman rumah tidak ada sampah sedikit pun berserakan di tanah.
"Apa kamu ingin mengurungkan niatmu bertemu orang tua Kirana?" tanya Mark saat melihat Joe terpaku dan membisu di kursi penumpang.
Pria itu menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa dia tidak mau kembali ke Jakarta tanpa membawa kabar gembira untuk sang kekasih.
"Lantas, mengapa kamu diam saja di sini? Ayo lekas turun dan temui calon mertuamu!" Tanpa menunggu jawaban dari Joe, pria tampan berwajah blasteran Indonesia-Amerika itu turun dari mobil.
Dengan ragu, Joe menuruti perintah Mark. Kedua pria tampan dengan wajah rupawan itu berjalan masuk memasuki pelataran rumah orang tua Kirana. Kini mereka sudah berada di depan pintu kayu berwarna coklat tua.
"Cepat kamu ketuk pintu itu!" titah Mark.
Joe mundur beberapa langkah ke belakang, dia memijat tangan untuk melemaskan otot seraya berkata, "Kedua tanganku kram dan sulit digerakan. Jadi, kamu saja yang mengetuk pintu itu!"
"Dasar pengecut! Bilang saja kalau kamu gugup dan belum berani menjadi orang pertama yang berhadapan langsung dengan orang tua Kirana," batin Mark.
Mark mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat, hingga pintu kayu itu terbuka diikuti seorang wanita paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di ambang pintu. Dia menatap kedua pria asing di hadapannya.
"Assalamu a'laikum," ucap Mark ketika pintu kayu itu terbuka lebar.
"Wa'alaikum salam," jawab Bu Sandra, Ibunya Kirana.
__ADS_1
"Halo, Bu. Perkenalkan, saya Mark dan ini Joe. Kami berdua teman Kirana."
Bu Sandra menatap Mark dan Joe bergantian. Memperhatikan kedua pria itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Penampilan gagah dalam balutan pakaian branded menjadi kesan pertama bagi wanita itu.
"Silakan masuk." Bu Sandra menggeser tubuhnya sedikit demi mempersilakan kedua pria itu masuk ke dalam rumah.
Joe duduk di sebuah kursi berhadapan dengan Bu Sandra. Mark berada tepat di samping pria itu. Beberapa kali dia mengatur napas demi mengusir rasa gugup yang tengah dirasakan.
"Kalian bisa beristirahat sebentar di sini, sementara saya akan membuatkan minuman." Bu Sandra segera bangkit dan berjalan ke arah dapur.
"Mark, kamu harus membantuku. Pokoknya pertemuan kali ini harus berhasil. Jika tidak, aku akan buat perhitungan denganmu!" Joe berbisik di telinga Mark, ketika tubuh Bu Sandra menghilang di balik tirai pemisah antara ruang tamu dengan dapur.
Tak lama berselang, Bu Sandra muncul dari arah dapur dengan membawa nampan di tangan. Dua cangkir teh manis hangat dan satu piring pisang goreng yang dibeli di warung dekat rumah sudah berada di atas meja.
"Diminum, Tuan. Maaf, saya hanya bisa menyuguhkan teh manis hangat dan pisang goreng saja untuk kalian."
Dengan tangan gemetar, Joe meraih cangkir teh manis. Menyeruput pelan, merasakan setiap tegukan cairan yang berwarna gelap dan pekat itu menghangatkan tenggorokan. Begitu pun dengan Mark, dia menikmati hidangan di atas meja sembari memejamkan mata. Walaupun hanya secangkir teh manis dan pisang goreng, tetapi menurut pria bertubuh jangkung itu semua hidangan itu tampak menggugah selera.
"Bu...."
"Panggil saja Sandra, Tuan."
"Oh baik, Bu Sandra. Mungkin Ibu bertanya-tanya mengapa kami datang ke sini, sementara Kirana berada di Jakarta. Sebenarnya kedatangan kami ke sini atas izin dari putri Ibu."
Bu Sandra menatap Mark dan Joe dengan penuh selidik. Pikiran wanita itu menebak-nebak, siapakah gerangan kedua pria tampan ini dan ada hubungan apa antara Kirana dengan mereka.
__ADS_1
"Maksud Anda, apa?" tanya Bu Sandra penasaran.
Mark terdiam. Dia bingung harus memulai percakapan dari mana. Jika langsung berbicara pada inti permasalahan, tidak menutup kemungkinan wanita di hadapannya terkejut dan akan sangat berbahaya apabila ternyata Bu Sandra memiliki riwayat penyakit jantung.
"Bu Sandra, sebenarnya saya adalah kekasih Kirana. Kami sudah pacaran selama satu tahun dan saya berencana menikahinya. Namun, sebelum pernikahan itu terjadi, dia ingin saya meyakinkan Anda terlebih dulu."
"Jadi, kamu pria yang sering dibicarakan Kirana?" tanya Bu Sandra dengan sorot mata tajam, membuat bulu kudu Joe meremang seketika tetapi tidak membuat nyali pria berusia dua puluh delapan tahun itu menciut.
"Benar. Ibu pasti sudah mendengar cerita tentang saya dari Kirana. Selama satu tahun kami masih menjalin kasih meski Bu Sandra sudah memintanya memutuskan hubungan di antara kami."
Joe menarik napas dalam, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Saat ini, dia merasa semua pasokan udara di ruangan itu menipis, hingga membuat dada pria itu terasa sesak.
Bu Sandra terkejut. Dia mendelik ke arah Joe, rahangnya mengeras dan kilatan kemarahan terpancar dari manik coklat milik wanita itu. "Rupanya kalian bermain di belakangku!"
"Saya minta maaf. Seharusnya tidak memaksa Kirana agar tetap bertahan dalam hubungan ini tetapi saya benar-benar tulus mencintai putri, Ibu."
"Apakah cinta itu akan tetap tumbuh dan bersemi setelah kamu tahu latar belakang keluarga kami?" Bu Sandra mengalihkan pandangan ke arah lain, dia meremas kedua tangan. "Kamu akan lari dan meninggalkan acara akad nikah seperti mantan tunangan Kirana terdahulu!"
Joe terhenyak. Dia semakin terkejut mendengar sebuah kenyataan pahit yang selama satu tahun ini disimpan rapat oleh Kirana.
"Seharusnya gadis itu sudah hidup bahagia bersama suami tercinta. Namun, sayang, dia harus kecewa tepat di hari pernikahan." Lelehan air mata mengalir di wajah Bu Sandra. Tangan wanita itu menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Joe menyugar rambutnya dengan tangan. Tampak kekecewaan terlukis di wajah tampan pria itu. "Pantas saja selama berkencan denganku, dia sering melamun. Ternyata gadis itu menyembunyikan rahasia besar dalam hidupnya," batin Joe.
"Jika kamu tulus mencintai gadis itu, perjuangkanlah! Meskipun dia menyembunyikan sebuah rahasia. Namun jika ragu, sebaiknya kita berpamitan dan kembali ke Jakarta. Putuskan hubungan di antara kalian, sebelum terlambat," bisik Mark.
__ADS_1
"Kamu pasti ragu setelah mendengar cerita masa lalu putriku, iya kan?" tanya Bu Sandra dengan bibir gemetar.
"Aku...." ucap Joe.