
"Di, bagaimana keadaan anak dan cucuku?" tanya Bunda Meta setelah Dokter Diana melakukan pemeriksaan.
Wanita itu langsung meminta Dokter Maria menggantikan tugasnya setelah mendengar kecelakaan yang terjadi pada Ameera karena hanya dialah satu-satunya orang paling mengetahui keadaan kandungan putri dari sahabatnya.
"Untung saja cepat dibawa ke IGD, jika telat sedetik saja nyawa bayi dalam kandungan Ameera tidak bisa diselamatkan."
"Putrimu sudah pernah mengalami perdarahan, kedepannya harus lebih hati-hati jangan sampai terulang kembali. Untuk beberapa hari ini harus banyak istirahat dan bed rest total, minta suaminya mengawasi Ameera," ucap Dokter Diana.
"Baik Di, terima kasih," Bunda Meta menahan tangis agar tidak mengganggu istirahat Ameera.
"Sama-sama, berikan dukungan untuk anakmu jangan sampai dia melihat Bunda tercinta menangis," Dokter Diana mengusap lengan sahabatnya. Ia melangkah ke luar dan pergi meninggalkan ruang rawat inap.
Di luar sudah ada Donny, Mama Reina dan sepupu Donny. Hari itu Donny diminta mengantarkan mama dan sepupunya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan namun tak sengaja ia malah bertemu Ameera dan menolongnya.
Dalam benak pria itu timbul berjuta pertanyaan yang membutuhkan jawaban segera.
"Donny, sebenarnya ada apa ini mengapa Ameera berada di poli kandungan. Apakah ia sedang hamil? Siapa suaminya? Mengapa kamu tidak memberitahu sebelumnya!" Mama Reina menodong anaknya dengan beberapa pertanyaan.
"Donny juga tidak tahu Ma."
"Tante, gadis itu siapa?" tanya sepupu Donny menunjuk ke arah kamar.
"Gadis yang disukai oleh Kakakmu," bisiknya.
"Memang tidak ada wanita single di dunia ini sehingga Kak Donny menyukai istri orang!" ucapnya sinis.
"Diam, jangan buat Kakakmu marah jika tidak ingin dia memporak porandakan rumah sakit ini," ucap Mama Reina lirih dan mengarahkan jari telunjuk ke mulut.
***
Saat ini Ameera berada di sebuah kamar rawat inap kelas I Rumah Sakit Umum Persada. Di dalam ruangan tesebut terdapat dua buah ranjang pasien namun hanya 1 terisi sehingga gadis itu bisa beristirahat dengan tenang.
Donny segera masuk ke dalam kamar setelah Dokter Diana pergi dan melanjutkan tugasnya.
Pria itu berjalan menghampiri Bunda Meta yang sedang duduk di kursi. Tangannya menggenggam erat jemari Ameera, air mata berjatuhan, ia terisak melihat kondisi putrinya.
"Tante!" ucap Donny kini ia berdiri menghadap Ameera.
"Nak Donny, jika menginginkan penjelasan tunggu sampai Ameera sadar karena Tante tidak memiliki wewenang untuk berbicara."
Donny menghembuskan napas berat, sebenarnya ia tidak ingin membahas masalah itu sekarang namun Bunda Meta seolah bisa membaca isi pikiran pria itu.
"Tante tenang saja, apapun alasan Ameera menyembunyikan ini semua, Donny akan tetap mencintainya dan menerima bayi itu jika suatu saat nanti mereka bercerai."
"Terima kasih Nak Donny, hatimu begitu tulus."
Ameera membuka mata pelan dan merasakan tangannya digenggam oleh seseorang.
"Kamu sudah bangun, Nak?" Bunda Meta mengusap air matanya.
__ADS_1
"Haus."
Donny membawa gelas di atas nakas dan memberikannya pada gadis itu.
Ia menghabiskan air di dalam gelas hingga tandas dalam tiga kali tegukan.
"Terima kasih."
Donny mengusap rambut Ameera dan tersenyum manis.
"Kamu hampir membuat Bunda dan aku mati mendadak."
"Maaf," ia menundukan kepala.
Donny membawa kepala Ameera ke dalam pelukan di dadanya dan mengecup kepala gadis itu.
"Selama kamu dan dia baik-baik saja, aku akan memaafkanmu."
Bunda Meta terharu melihat perhatian yang diberikan Donny untuk anaknya karena tidak ingin mengganggu, diam-diam ia keluar meninggalkan dua insan manusia yang tengah bermesraan.
"Mengapa tidak memberitahuku bahwa kamu sedang hamil!"
Ameera hanya menangis dalam pelukan Donny, ia meluapkan semua kesedihannya.
Selama ini ia menyimpan rahasia pernikahan dan kehamilannya dari semua orang hingga membuat gadis itu tersiksa dan sering menangis kala semua orang terlelap tidur di pembaringan.
Hanya Naomi dan dinding rumahnya menjadi saksi betapa malangnya nasib dia dipersunting oleh pria beristri dan dijadikan istri kedua yang tak pernah dianggap.
"Apa aku salah mencintai wanita bersuami?" tanya Donny.
"Kamu itu istimewa, tidak bisa dibandingkan dengan wanita manapun di dunia ini. Ameera Rinaldi sudah membuat Donny Kurniawan jatuh cinta pada pandangan pertama, membuatku merana dan hampir gila saat melihatmu terkapar bersimbah darah."
Kali ini Ameera mendongakkan kepala dan menatap wajah pria itu, ia melihat ketulusan di matanya.
Aku beruntung bisa dicintai pria sepertimu. Jika memang author menjodohkan kita maka dengan lapang dada akan kuterima.
"Hati-hati setan lewat!" ucapan Naomi menyadarkan mereka.
Ameera menjadi salah tingkah dan wajahnya memerah karena malu. Ia tak mengira akan ada Naomi datang membesuk.
"Setannya kan kamu!" celetuk Emon.
"Sialan kamu, Em!" Naomi memukul bahu Emon kesal.
Ameera, Donny dan Barra terkikik geli.
"Maafkan kita ya Meer karena sudah merusak momen romantis kalian. Tadi aku sudah bilang lebih baik membesukmu sore saja setelah pulang kerja namun si Lemes tidak mau mendengar," ucap Naomi sinis.
"Seharusnya kamu berterima kasih, berkatku kalian bisa melihat adegan romantis secara langsung," goda Emon.
__ADS_1
"Jangan membuat keributan, Ameera baru saja sadar. Dia membutuhkan banyak istirahat," Donny memperingatkan teman-temannya.
"Cie, calon Papa mulai protektif menjaga sang Mama dan calon anaknya," ucap Barra.
Naomi, Emon dan Barra tertawa bersamaan.
"Meer, mengapa kamu tidak memberitahuku bahwa saat ini sedang hamil," Emon bertanya penasaran ingin mengetahui kebenaran mengapa selama ini Ameera menyembunyikan kehamilannya.
Sedangkan di luaran sana banyak sekali wanita yang berlomba-lomba memamerkan perut buncitnya ke seluruh dunia bahkan di posting di media sosial karena merasa bahagia telah tumbuh seorang malaikat kecil di dalam rahimnya sementara Ameera malah berusaha menutupi agar tidak diketahui banyak orang.
"Maafkan aku karena tidak jujur pada kalian namun saat ini tolong jangan tanyakan apapun padaku," Ameera memelas.
"Dasar bo*oh! Sahabatku baru saja sadar tapi kamu malah membuatnya bersedih," Naomi menimpuk Emon dengan kulit jeruk yang sudah dikupas. Ia sengaja mengupas buah-buahan untuk diberikan pada Ameera.
"Aduh Nom, kamu pikir aku tempat sampah hah!"
"Kenapa? Masalah!" tanya Naomi dengan mata melotot dan wajah menyeramkan.
Nyali Emon seketika menciut melihat kemarahan Naomi, "iya Meer, aku juga minta maaf tidak sehurusnya mempertanyakan hal ini saat kamu masih dalam kondisi lemah," ucap Emon lirih.
"Aku akan memberitahu semuanya jika waktu sudah tepat."
"Oh iya, kalian tahu dari siapa jika Ameera dirawat?" tanya Donny mengalihkan topik pembicaraan."
"Kita tahu dari cewek badas," Emon melirik ke arah Naomi.
"Benar, tadi aku menelpon Bunda Meta menanyakan keberadaanmu dan beliau memberitahu bahwa kamu berada di rumah sakit karena khawatir akhirnya aku meminta izin pada Tuan Joe. Saat keluar dari ruangan ternyata Emon dan Barra berada di sana dan mereka mendengar percakapan kami. Akhirnya, kami kesini bersamaan," ucap Naomi panjang lebar.
"Jadi, Tuan Joe tahu aku dirawat di rumah sakit?" Ameera dibantu Donny merubah posisi duduknya.
"Yups, benar sekali. Kamu tahu, nampaknya dia cemas saat mengetahui bahwa kamu masuk rumah sakit. Selama berada di kantor baru kali ini pria kece badai itu mengkhawatirkan seseorang."
"Ada hubungan apa antara kalian?" Naomi memelankan suaranya.
Donny mentap mata Ameera, tapi gadis itu menundukan wajahnya.
"Banyak sekali rahasia yang kamu sembunyikan dari kami Meer. Apa aku juga harus bersaing dengan Tuan Joe untuk mendapatkan cintamu? tanyanya dalam hati.
"Sainganku saja belum disingkirkan kini muncul pesaing baru. Sungguh butuh pengorbanan untuk bisa bersanding dengan gadis seperti Ameera Rinaldi."
Donny menghembuskan napas kasar dan mencoba tersenyum menyembunyikan kegundahannya.
Bersambung....
.
.
.
__ADS_1
Episode selanjutnya Insha Allah malam ya Kak. Selamat akhir pekan dan jangan lupa tinggalkan jejak cinta untuk Mimih Kucing. 💋