
Beberapa jam sebelum Ameera sampai di Melbourne, Australia.
"Sejak tadi aku merasa gelisah, apakah suatu hal terjadi pada istriku?"
Mark mengeluarkan ponsel dari saku celana kerja berwarna hitam miliknya, menekan tombol on beberapa kali namun tak berhasil sebab benda berbentuk pipih milik pria itu dalam keadaan lemah. Ia terlalu sibuk bekerja hingga lupa mengisi daya.
"Sial! Mengapa kamu mati di saat tak tepat waktu," dengus pria itu kesal.
Ia berjalan menuju sumber daya listrik, mengisi batrei ponsel miliknya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri dari peluh yang membuat tubuhnya terasa lengket sekaligus merilekskan pikiran sejenak sebelum berkutat kembali dengan beberapa berkas proposal yang harus di revisi.
Di dalam kamar mandi, pria itu membayangkan wajah Ameera tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyum simpul yang diyakini mampu mengoyahkan iman insan manusia di bumi ini.
"Meera, kau membuatku gila!"
"Bahkan di kamar mandi pun, kau tak membiarkan aku menikmati ritual malamku dengan tenang."
"Argh!" Mark mengguyur kepalanya di bawah pancuran air hangat.
Tak lama kemudian, Mark keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang menutupi bagian pinggang hingga lutut. Rambutnya basah dan terdapat sisa air menetes dari leher meluncur turun melewati dada bidang, lalu menghilang dibalik handuk pria itu.
Ia memilih kemeja lengan pendek, celana bahan tanpa setelan jas dan dasi untuk dikenakan, meskipun sudah di luar jam kerja namun pria itu tetap memberikan contoh pada bawahannya agar selalu berpakaian rapi dan sopan.
Dari pantulan di cermin, wajah pria itu begitu tampan, rahangnya di penuhi bulu-bulu halus menyerupai brewok.
Ia mengoleskan sedikit minyak rambut khusus pria di telapak tangan kemudian mengoleskannya di rambut dan tak lupa menyisirnya agar terlihat lebih rapi.
"Sempurna! Kini aku bersiap kembali bekerja!"
Pria itu meraih ponselnya yang sedang diisi daya, menyalakannya dan menghubungi nomor seseorang.
Beberapa kali ia menelepon tapi hanya suara operator yang menjawab.
"Ke mana perginya gadis itu? Biasanya jika aku telepon hanya menunggu sebentar sudah mendapat jawaban. Mungkin kah ia sudah tidur!"
"Ya sudah, aku akan coba telepon lagi setelah menyelesaikan semua pekerjaan."
Mark memutuskan kembali ke ruang rapat untuk meneruskan pekerjaan. Di sana sudah ada beberapa pegawai yang masih setia merevisi proposal termasuk Joe dan Winda.
Tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan semua pekerjaan sudah hampir selesai.
Awalnya pria itu menginginkan semua karyawan menginap akan tetapi ia terlalu merindukan Ameera hingga merubah rencana semula.
"Kalian boleh pulang sekarang dan terima kasih karena sudah bersedia lembur malam ini," ucap Mark sebelum membubarkan karyawannya.
"Baik, Tuan!" jawab mereka hampir secara bersamaan.
Satu per satu meninggalkan ruang rapat, kini hanya tersisa Joe dan Mark.
"Joe, kamu juga pulang. Beristirahatlah, hari ini tenagamu sudah terkuras banyak untuk membantu perusahaan."
__ADS_1
"Untung saja Om Taufiq memiliki putra yang bisa diandalkan sepertimu. Jika tidak, entah bagaimana aku menjalankan perusahaan ini mungkin saja akan hancur dalam hitungan bulan."
"Kamu terlalu berlebihan, ini sudah kewajibanku membantumu, Mark. Kita sama-sama memiliki tanggung jawab menjalankan perusahaan karena ini merupakan warisan orang tua."
Joe dan Mark mulai berbincang menggunakan bahasa non formal karena hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
"Ya, kau benar! Perusahaan ini dibangun diatas keringat kedua Papa kita kemudian dilanjutkan oleh penerusnya. Meskipun pemegang saham terdiri dari 3 orang namun hak Mami Stevanie sudah dilimpahkan pada Papaku."
Mark menghebuskan napas berat, setiap kali membicarakan Stevanie emosi pria itu jadi tak stabil. Tak ingin terlalu larut dalam kekesalan, ia mengajak Joe pulang ke rumah masing-masing.
"Ayo Joe, kita pulang!" Mark merangkul pundak sahabatnya.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Mark membuka pintu rumah kontrakan yang ia tempati bersama istri keduanya, Ameera.
Saat ia masuk rumah dalam keadaan gelap, hanya ada cahaya redup dari lampu dapur yang sengaja dinyalakan untuk memudahkan sang empunya mengambil air minum ketika haus.
Ia berjalan ke arah kamar dan melirik sekilas ke kamar istrinya. Kamar tertutup rapat dan gelap gulita.
"Mungkin saja Ameera memang sudah tidur. Lebih baik aku ke kamar dan beristirahat."
Pria itu meletakan jas serta tas kemudian mengganti pakaian, lalu melangkah ke arah kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka sebelum tidur.
Di rumah itu hanya ada Ameera dan Mark, Bi Mirna akan datang di pagi hari sebelum pukul 06.00 kemudian pulang setelah jam kerjanya usai
Kebetulan jarak rumahnya tidak terlalu jauh sehingga bisa pulang pergi kapanpun jika Ameera membutuhkan bantuannya.
Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, Mark kembali ke kamar. Ia merebahkan tubuh di atas ranjang, akibat rasa lelah yang melanda membuat pria itu perlahan-lahan menutup mata dan tertidur dengan tangan memeluk sebuah bingkai foto hasil USG calon anaknya.
"Semalam aku bermimpi indah, bahkan terasa begitu nyata. Alpukat memeluk erat dan ia mencium pipiku."
"Nak, kamu harus sehat di dalam perut Mama," ujar pria itu sembari mengusap bingkai foto tersebut dengan lembut.
Perlahan-lahan ia bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
"Selamat pagi, Tuan!" sapa Bi Mirna saat melihat majikannya berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Selamat pagi, Bi! Apakah Ameera sudah bangun?"
"Loh, memangnya Non Meera tidak pamit pada Tuan," Bi Mirna menghentikan aktivitas mencuci piring kotor.
"Maksudmu apa, Bi!" tanya Mark setengah membentak.
Bi Mirna langsung menundukan kepala, tubuhnya meremang seketika tatkala pria itu meninggikan volume suaranya.
"Jawab! Maksudmu apa, Bi!"
"Apa yang sebenarnya terjadi!"
Kini posisi Mark tepat di hadapan Bi Mirna, wanita itu tak berani mengangkat wajahnya. Sebab ia tahu bahwa kini majikannya dalam keadaan emosi.
__ADS_1
"A-anu..."
"Jawab yang jelas!"
"Itu Tuan, kemarin malam Nyonya Meta ke rumah meminta saya membukakan pintu. Ia mengemasi semua pakaian Non Meera dan memasukannya ke dalam koper besar."
"Ketika saya tanya mau ke mana, Nyonya hanya menjawab sekedarnya."
"Saya pikir, Tuan sudah tahu ke mana perginya Non Meera."
Tanpa pikir panjang, Mark segera berlari ke arah kamar istrinya. Ia membuka pintu dan benar saja semua produk kecantikan milik gadis itu sudah tak lagi berjejer di meja rias.
Pria itu semakin panik saat melihat semua pakaian gadis itu sudah tak ada di lemari, ia membuka setiap laci mencari petunjuk keberadaan istrinya.
Saat ia membuka laci terakhir di bagian paling bawah, pria itu terkesiap dalam hitungan detik.
Jantungnya berdegup kencang, perasaannya campur aduk perpaduan antara bahagia dan sedih ketika melihat suatu benda yang selama ini menjadi lambang cintanya terhadap seorang gadis kecil yang begitu ia cintai.
"I-ini..."
"Bagaimana mungkin."
"Sejak kapan benda ini ada di sini."
"Oh Tuhan, jadi selama ini..."
"Ameera..."
Pria itu terduduk lemah di tepi ranjang sambil menggenggam sebuah benda.
Bersambung
.
.
.
Hayo, tebak-tebakan benda apa itu? ðŸ¤
Author lagi gabut nih, jadi update lagi khusus untuk kalian. Jangan lupa likenya ya Kak. 💞
Bonus visual Mark Pieter
Visual Ameera/Gladys Kurniawan
__ADS_1
Visual Stevanie Pieter