BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
KARMA LAGI?


__ADS_3

Setelah melewati proses operasi yang membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam, akhirnya Dokter Raihan keluar ruangan. Pria itu masih mengenakan seragam scrub atau seragam ruang operasi berwarna hijau lengkap dengan penutup kepala dan masker.


"Operasi Nyonya Stevanie berjalan lancar. Tinggal memindahkan pasien ke ruang rawat inap," ucap dokter itu sambil menurunkan masker yang menutupi bagian hidung dan mulut.


"Syukurlah."


Setidaknya Mark bisa bernapas lega karena operasi yang dilakukan terhadap Stevanie berjalan lancar tanpa kendala apapun.


"Terima kasih Dokter."


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu."


Mark melihat brankar istrinya dibawa ke ruang perawatan, wanita itu dalam keadaan tidak sadarkan akibat obat bius yang diberikan saat dilakukan tindakan operasi.


Pria itu merasa bersalah karena lalai menjaga istrinya dengan baik, ia merasa tak berguna sebagai seorang suami sebab tidak mampu melindungi Stevanie maupun Ameera sehingga kedua wanita itu harus menanggung keegoisannya.


Mata Mark berkaca-kaca saat tubuh sang istri didorong oleh seorang perawat dan masuk ke sebuah ruangan rawat inap.


Saat tiba di kamar, pria itu langsung duduk di samping ranjang, tangannya terangkat ke atas dan mengusap wajah pucat sang istri.


"Vanie, maafkan aku sudah menghapuskan harapanmu untuk menjadi wanita seutuhnya. Aku terpaksa mengambil keputusan sulit ini demi kebaikanmu," ucap pria itu lirih sambil mencium tangan Stevanie.


"Tuhan, apakah ini balasan yang harus kami terima atas perbuatan jahat di masa lalu."


"Dulu, aku dan Vanie begitu tega menyakiti hati seorang gadis tak berdosa seperti Ameera," tanpa sadar air mata pria itu jatuh diantara pipi dan hidung.


"Mark!"


Pria paruh baya itu masuk ditemani seorang pengawal yang bertugas menjaga Tuan Ibrahim selama 24 jam.


"Papa, sejak kapan sampai di sini?"


Mark segera menghampiri papanya dengan langkah tergesa, ia memapah tubuh tua renta itu duduk di sofa namun Tuan Ibrahim menolak.


"Ceritakan pada Papa, apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Vanie tidak sadarkan diri!"


"Pa, duduklah dulu nanti baru aku ceritakan," ujar Mark sedikit memaksa.


Ia yakin Papanya akan terkejut bila mengetahui bahwa menantu kesayangannya baru saja melakukan operasi pengangkatan rahim dan kabar itu pasti membuat pria itu kecewa karena cita-citanya memiliki 11 orang cucu sirna.

__ADS_1


"Tidak, cepat katakan apa yang terjadi. Jangan buat aku menunggu terlalu lama!" bentak Tuan Ibrahim, ia menghentakan alat bantu jalan itu ke lantai.


"Sebaiknya kita keluar, biarkan Vanie istirahat."


Kemudian Mark dan Papanya keluar ruangan. Terjadi keheningan beberapa saat, pria berusia 26 tahun itu masih sibuk mencari cara menyampaikan berita duka ini pada sang Papa.


"Katakan dengan jujur, ada apa ini Mark? Mengapa Stevanie menjalankan operasi!"


"Pa, saat Mark tiba di rumah sakit, Dokter Raihan menyampaikan kondisi Stevanie pasca kecelakaan. Akibat kecelakaan itu menyebabkan rahim Vanie harus diangkat dan kemungkinan untuk kami memiliki keturunan tidak akan terealisasikan."


"Jadi, Vanie selamanya tidak bisa hamil. Dia tidak bisa memberikan penerus untuk keluarga Pieter?" tanya pria itu mencoba memastikan berita yang baru saja didengar.


"Benar, Pa!"


"Tidak mungkin..."


Pria itu kehabisan kata-kata, ia merasakan kedua tangannya terasa lemah hingga tak bisa digerakan serta salah satu bagian wajah terlihat menurun.


"Lantas bagaimana dengan garis keturunan keluarga Pieter jika Vanie tidak bisa memberikan pewaris untuk kita," ujar pria itu dengan nada bicara pelo atau cadel hingga membuat Mark kesulitan mengartikan maksud ucapan Papanya.


Seketika tubuh pria itu ambruk di lantai. Mark dan seorang pengawal berhamburan menahan tubuh Tuan Ibrahim agar tidak menyentuh lantai.


"Pa, bangun!" Mark menepuk-nepuk pipi sang Papa namun sayang pria itu tetap tak sadarkan diri.


"Baik, Tuan!" pengawal itu membungkuk hormat dan segera berlari menuju meja perawat.


Di dalam ruang rawat inap, tubuh Tuan Ibrahim terbaring lemah. Tangan sebelah kanan tertancap jarum infus, suasana kamar hening hanya terdengar suara hembusan napas pria itu saja dibantu selang oksigen.


"Tuan, jika dilihat dari tanda dan gejala, sepertinya Papa Anda terkena stroke hemoragik.


"Stroke hemoragik terjadi saat pembuluh darah di otak mengalami kebocoran. Stroke jenis ini berawal dari pembuluh darah yang melemah kemudian pecah dan menumpahkan darah ke sekitarnya."


"Darah yang bocor menumpuk dan menghambat jaringan otak di sekitarnya."


Dokter Raihan nampak memberikan penjelasan menyeluruh tentang penyakit yang diderita oleh Tuan Ibrahim, seorang donatur terbesar rumah sakit tempat pria itu mengabdikan diri untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan.


"Untung saja beliau segera ditangani sehingga meminimalisir tingkat kerusakan pada otak dan kemungkinan terjadinya komplikasi."


Pria itu hanya membeku, mendengar semua penjelasan dari Dokter Raihan membuatnya shock. Ia tak menyangka semua kejadian berlalu begitu dengan cepat. Dalam satu hari, Mark harus menerima kenyataan pahit bahwa dua orang yang disayanginya harus dirawat di rumah sakit.

__ADS_1


"Itu artinya, Papa saya akan selamanya terbaring di atas ranjang?" tanya Mark memastikan.


"Benar, Tuan."


Mata elang pria itu mulai memerah dan berair, ia berjalan secara perlahan-lahan menghampiri ranjang sang Papa.


Mark duduk di tepian ranjang, menyentuh tangan pria itu yang tidak tertusuk jarum infus dan menciumi punggung tangannya dengan penuh cinta.


"Pa bangun, jangan tinggalkan Mark sendirian!" ucap pria itu disela-sela isak tangisnya yang mulai pecah.


"Mark masih butuh Papa," ia menangis sesegukan seperti seorang anak kecil yang merengek meminta es krim pada orang tuanya.


"Tuan, Anda harus sabar menghadapi semua cobaan ini. Siapa tahu ada hikmah tersembunyi di balik ujian hidup yang Tuhan berikan."


"Saya permisi dulu, masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan."


Setelah Dokter Raihan keluar ruang rawat inap, Mark semakin mengeraskan suara tangisannya. Ia meluapkan isi hatinya lewat tangisan.


"Tuhan, apakah memang ini semua merupakan teguran dari Mu karena dulu kami begitu jahat memperlakukan Ameera!"


"Jika memang iya, tolong berikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya lagi."


"Aku ingin meminta maaf pada gadis itu atas semua kesalahan yang kuperbuat dulu."


"Mark!" panggil Tuan Ibrahim dengan gaya bicara pelo atau cadel.


"Papa butuh apa, akan Mark ambilkan," ia merubah posisi duduknya menjadi tegak, bersiap memberikan yang dibutuhkan oleh pria itu.


"Mengapa tubuh Papa sulit digerakan!" tanyanya dengan gaya bicara pelo.


Mark mendekatkan telinganya ke mulut Tuan Ibrahim, "Papa tanya apa?"


"Tubuh Papa kenapa tidak bisa digerakan!" kali ini pria paruh baya itu meninggikan suaranya.


"Kata Dokter, Papa terkena stroke dan sebagian tubuh tidak bisa digerakan," ujar Mark dengan raut wajah penuh penyesalan.


Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2