BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
EMPAT MATA


__ADS_3

Happy reading 🍃


Ponsel Mark berdering saat ia sedang membalas beberapa email yang masuk, pria itu menaikan kedua alis.


"Halo Joe, ada apa?" tanya Mark.


"Tuan, baru saja sekretaris Mr. Tamada menghubungi saya dan meminta meeting diadakan siang ini," jawab Joe di seberang sana.


Sebenarnya ia enggan mengganggu Mark karena tahu bahwa hari ini pria itu mengunjungi istrinya di rumah sakit namun urusan pekerjaan lebih penting sehingga memaksanya untuk menghubungi atasannya.


"Bukankah aku sudah bilang padamu rapat minta diundur selama beberapa hari kedepan sampai kondisi Ameera membaik!" ucap Mark kesal.


"Saya sudah menghubungi sekretaris Mr. Tamada namun tiba-tiba saja ia harus kembali ke Jepang nanti malam," Joe mencoba menjelaskan.


"Aku tidak bisa meninggalkan Ameera sendirian!" Mark nampak frustasi, ia mengusap wajahnya kasar kemudian melirik gadis itu yang tengah tertidur pulas berbalutkan selimut berwana merah jambu.


"Begini saja, kita tetap melakukan pertemuan via zoom, saat mereka sudah sampai di ruang rapat kamu segera aktifkan virtual meeting denganku," perintah Mark.


"Baik Tuan," panggilan telpon pun terputus.


Tak berselang lama, Joe menghubungi Mark kembali dan mereka melakukan virtual meeting.


Rapat siang ini berjalan alot karena Mr. Tamada kurang menyukai presentasi yang dibawakan oleh sekretaris perusahaan.


Biasanya Ameera yang diberikan tanggung jawab mengerjakan power point dan mempresentasikan di hadapan klien namun karena gadis itu sakit semua pekerjaan diambil alih kembali oleh Winda. Siapa sangka keputusan tersebut malah berdampak pada performa meeting kali ini.


"Maaf Mr. Mark, saya harus mempertimbangkannya terlebih dulu. Jika kalian ingin memenangkan proyek ini sebaiknya segera rubah tampilan dan isi dari materi di power point."


"Kalian tahu kan, saya sangat alergi  bekerja sama dengan perusahaan ecek-ecek."


"Jadi, selama 2 minggu ini kalian bisa merubah konsep dan membuatnya menjadi lebih menarik lagi jika tidak, dengan sangat terpaksa proyek ini akan diberikan pada Mr. Lee, mantan rekan bisnis PT Indah Sentosa," ucap Mr. Tamada panjang lebar.


"Baik tuan, saya akan merubahnya," jawab Mark.


Mark menarik napas panjang tak disangka ketidakhadiran Ameera selama beberapa hari memberikan dampak buruk pada perusahaan. Ia berpikir bagaimana jadinya nasib para karyawan PT Indah Sentosa jika gadis itu benar-benar pergi meninggalkan dirinya.


"Aku tidak mungkin meminta Ameera membuat power point dan menyerahkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan Winda sedangkan ia dalam keadaan lemah pasca musibah yang dilakukan oleh Stevanie."


"Eugh!" rintihan Ameera membuat Mark berjalan mendekati tubuh gadis itu.


"Hei, Ameera!" Mark menepuk-nepuk pipi istrinya.


"Papa, tolong Gladys!" ucap Ameera lirih.


Mark mengerutkan alis mendengar Ameera menyebut nama Gladys.


"Nama ini tidak asing di telingaku namun di mana aku pernah mendengarnya!"

__ADS_1


Pria itu berpikir keras, membuka kembali file memori ingatannya, saat sedang berkonsentrasi kedua manik matanya menangkap cairan bening sebesar biji jagung bercucuran di kening dan membasahi pakaian Ameera.


Mark begitu khawatir, tanpa pikir panjang pria itu segera membawa tubuh istrinya dalam dekapan.


"Tenanglah, kamu hanya bermimpi Sayang. Saat matamu terbuka semua akan baik-baik saja," Mark mengecup rambut Ameera dan pria itu pun perlahan-lahan memejamkan mata menyusul istrinya ke alam mimpi.


***


"Sudah waktunya melakukan observasi pada pasien. Ayo temani aku."


"Tentu!"


Dokter Firman mendekati seorang perawat yang sedang menulis laporan di meja kerjanya di bangsal Flamboyan.


"Sus, mari kita mulai observasi pada pasien."


"Baik, Dokter." Kemudian perawat itu membawa semua alat-alat kesehatan seperti stetoskop, tensi meter dan termometer yang akan digunakan untuk mengukur suhu dan tekanan darah pasien.


Biasanya seorang dokter dibantu 2 orang perawat akan melakukan observasi dan pemeriksaan tanda-tanda vital (vital sign) pada pagi dan sore hari.


Dokter Firman dan 2 orang perawat berkeliling menemui pasien di kamar masing-masing. Mereka begitu cekatan dan terampil saat menjalankan tugas, Mama Aura dibuat kagum melihat kemampuan dua anak muda yang usianya tidak jauh berbeda dengan Ameera.


Pandangan wanita itu jatuh pada salah satu perawat yang bertugas membantu Dokter Firman, lalu terpana di detik berikutnya. Perempuan itu memiliki wajah cantik bak boneka Barbie, tubuhnya mungil, hidung mancung, kulit kuning langsat, wajah oval dan yang menarik adalah saat ia tersenyum ada lesung menghiasi pipinya.


“Gadis itu sangat cantik, baik hati dan aku menyukai senyumannya sangat cocok jika dijodohkan dengan Joe.”


“Dokter, perawat cantik itu siapa namanya?” Mama Aura berbisik di telinga Dokter Firman.


Sebenarnya setiap petugas kesehatan yang berjaga, mereka diwajibkan memakai name tag akan tetapi tulisan tersebut terlalu kecil membuat Mama Aura kesulitan membaca nama gadis tersebut karena faktor usia membuat indera penglihatannya menurun dan ia masih belum percaya diri jika menggunakan kacamata. 


“Matamu sudah silinder mengapa tidak biasakan memakai kacamata.”


“Ayolah Dokter, aku hanya ingin mengetahui namanya saja mengapa dipersulit,” Mama Aura mendengus kesal.


“Sudah, jangan cemberut. Kamu hampir memiliki cucu namun sikap manjamu tidak pernah hilang!” goda Dokter Firman.


“Namanya Kirana Lim, berusia 25 tahun dan sampai detik ini masih single.”


“Kamu berniat menjodohkannya dengan Joe kan,” Dokter Firan melirik.


Mama Aura hanya tersenyum, tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari pria di sampingnya ia lebih baik jujur siapa tahu mantan kekasihnya ini dapat membantu menjodohkan Joe dangan gadis itu.


“Bantu aku mengenalkannya pada Joe, jika berhasil akan kubuatkan makanan kesukaanmu,” kedua mata Mama Aura berbinar terlihat indah menurut Dokter Firman.


“Pasti akan kubantu.”


Kemudian mereka beralih ke kamar Ameera namun saat tangan Mama Aura memegang handle pintu, ia terkejut melihat pemandangan di dalam dari balik jendela pintu. 

__ADS_1


Wanita itu melihat Mark sedang tertidur memeluk tubuh istri mungilnya di atas ranjang rumah sakit, mereka terlelap saling memeluk satu sama lain.


“Sebaiknya kita kembali dan biarkan pasien istirahat.”


“Baik Dokter.”


“Halo Nyonya Meta, kita bertemu lagi,” sapa Mama Aura saat ia berbalik dan berniat kembali ke ruang dokter namun malah bertemu wanita yang sudah merawat putrinya.


"Kapan Anda datang? Mengapa tidak langsung masuk saja!" tanya Bunda Meta sedikit terkejut.


"Awalnya saya mau masuk namun sepertinya akan mengganggu dua insan yang tengah terlelap tidur dalam satu ranjang," Mama Aura berjalan satu langkah ke samping dan membiarkan Bunda Meta melihat pemandangan di dalam.


Wanita itu lalu mencoba mengalihkan pemandangan.


"Kamu kembalilah ke ruangan, ada hal yang harus dibicarakan empat mata," Mama Aura berbisik di telinga Dokter Firman.


Mama Aura melangkah maju, "Nyonya, bisakah kita berbicara empat mata ada hal yang ingin saya tanyakan."


"Kebetulan di lantai bawah ada cafe, bagaimana jika kita minum kopi sambil mengobrol."


"Oke," Bunda Meta tersenyum kecut dan mengangguk.


'Aku ingin tahu apa yang akan wanita ini bicarakan. Apakah dia akan membahas soal Ameera atau hal lain,' ucapnya dalam hati.


Seperti kesepakatan awal, Mama Aurda membawa Bunda Meta ke kafe yang ada di lantai dasar rumah sakit. Bunda Meta mengedarkan seluruh pandangannya, ia melihat desain interior kafe yang sangat kental dengan nuansa vintage. Di depan kafe terdapat sepeda ontel antik yang sengaja diletakan khusus untuk mempercantik ruangan.


Seorang pelayan datang dengan seragam kafe hitam berlogo sebuah cangkir kopi panas dan kabut putih menyeruak keluar bertuliskan Vintage Cafe dibagian bawah cangkir tersebut.


"Selamat sore, Nyonya mau pesan apa?" tanya pelayan tersebut.


"Tolong buatkan satu cappucino dan cemilan terenak dari kafe ini," ujar Mama Aura.


"Saya pesan latte saja, Mas!"


"Mohon ditunggu," pelayan itu berjalan menjauh dan menyerahkan kertas pesanan ke dapur.


"Bagaimana kabar Anda, Nyonya?" tanya Mama Aura, ia menangkupkan kedua telapak tangan di atas meja.


"Jangan basa-basi lagi, cepat katakan apa yang ingin Anda tanyakan!" tanya Bunda Meta dengan sorot mata tidak suka.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


Hei-hei, update lagi nih. Jangan lupa likenya ya Kak. 💋


__ADS_2