BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
PERGI KE SALON (SUDAH DIREVISI)


__ADS_3

"Sebaiknya kamu istirahat, aku akan meminta salah satu pelayan menemanimu. Kamu tidak perlu khawatir, hotel ini milik temanku jika ingin tinggal selamanya di sini, silakan."


"Aku tidak akan menagih uang padamu," ujar Mr. Lee.


Namun saat pria itu hendak bangkit, tiba-tiba saja tangan Stevanie mencekalnya.


Jantung Mr. Lee tak berhenti berdegup kencang. Seluruh tubuh pria itu meremang tatkala tangan halus wanita itu menyentuh pori-pori kulit.


"Jangan tinggalkan aku sendiri, kumohon tetaplah di sini!" pintanya sembari memasang wajah memelas.


Mr. Lee tersenyum simpul, melihat ekspresi wajah Stevanie. Wajah wanita itu laksana seekor anak kucing yang takut kehilangan induknya, begitu imut dan menggemaskan.


"Baiklah, aku tak kan meninggalkanmu sendirian," Mr. Lee mengusap puncak kepala Stevanie.


Aneh, mengapa aku merasakan kedamaian jika berada di dekat pria ini. Padahal kami sudah lama tak bertemu tapi sikapnya masih hangat sama seperti dulu.


'Apakah kamu juga menampakan wajah imut dan menggemaskan ini di hadapan Mark? Sungguh beruntung pria itu bisa melihat ekspresi Stevanie setiap hari. Aku benar-benar iri padanya,' batin Mr. Lee.


"Aku akan tidur di sofa, jika butuh sesuatu panggil saja," Mr. Lee melepaskan tangan Stevanie, dengan penuh perhatian pria itu menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh wanita itu.


"Semoga mimpi indah."


Jam terus berdetak hingga pukul tujuh malam. Ia mendesah kesal sebab sudah selama 2 jam matanya tak kunjung terpejam. Pria itu membolak balikan tubuhnya di atas sofa dengan gelisah.


"Sial, mengapa aku tidak bisa tidur dengan tenang padahal biasanya mata ini langsung terpejam saat menemukan posisi yang nyaman. Mungkinkah ini disebabkan oleh kehadiran Stevanie hingga membuatku insomnia! gerutunya dalam hati.


Di saat matanya hampir terpejam, suara dering ponsel berbunyi. Ia meraih benda pipih tersebut di atas nakas, segera menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.


"Halo, Bos. Pria itu sudah kami bereskan. Kini ia sudah berada di rumah sakit. Apakah ada tugas lain?" tanya salah satu body guard Mr. Lee.


"Kirimkan beberapa orang berjaga di depan pintu kamar hotel, serta kamu awasi berita selebritis tanah air jika ditemukan ada gosip tentang Stevanie segera urus. Jangan sampai berita itu mengguncang kejiwaannya!"


"Mengerti!" tanya Mr. Lee.


"Segera laksanakan, Tuan!"


Tanpa mengucapkan kalimat sampai jumpa, pria itu langsung mematikan sambungan telepon.

__ADS_1


"Aku berjanji akan melindungimu, Vanie!" ujarnya sebelum kembali memejamkan mata.


***


Melbourne, Australia


Setelah menghabiskan semua menu hidangan di atas meja, Ameera, Mama Aura dan orang tua angkat gadis itu keluar dari rumah menuju sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Australia dan salah satu yang terbesar di belahan bumi selatan.


Chadstone Melbourne Shopping Center merupakan surga dunia bagi orang yang gila berbelanja. Terdapat lima ratus lima puluh toko di sana dengan menjual berbagai produk branded terkenal di seluruh dunia, selain itu juga terdapat butik, supermarket bahkan restoran Asia pun bisa dijumpai di negara Kanguru tersebut.


Mama Aura menetapi janjinya mengajak Ameera ke salon, wanita itu ingin sekali merombak penampilan putrinya agar terlihat lebih cantik, anggun dan berkelas hingga membuat orang lain pangling.


"Aku ingin kamu merubah gaya rambut putriku!" ucap Mama Aura menggunakan Bahasa Inggris pada salah satu pegawai salon langganannya.


"Anda tenang saja, Nyonya Aura, saya akan membuat putrimu terlihat lebih cantik dari sebelumnya sehingga semua wanita di bumi ini iri melihat penampilan Gladys," balas wanita itu seraya menyisir rambut Gladys (Ameera).


Mama Aura tersenyum dan mengangguk. Ia percaya akan kehebatan pegawai salon itu. Selama 2 tahun belakangan, wanita itu merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.


Wanita itu bisa sampai menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan perawatan seluruh tubuh. Mulai dari creambath, facial, massage, manicure, padicure dan perawatan lain yang berguna menunjang penampilannya.


"Bagus, aku percaya dengan keahlianmu!" tangan Mama Aura menepuk pundak pegawai salon itu.


Kemudian wanita itu mendekati kursi putrinya, "Sayang, selama kamu di make over, Mama akan mengajak Ayah dan Bunda pergi berkeliling. Siapa tahu menemukan barang-barang yang dibutuhkan oleh mereka," bisiknya di telinga gadis itu.


"Oke, Mama. Ameera akan menunggu di sini."


"Selamat berbelanja," gadis itu melambaikan tangan ke udara.


"Kami akan segera kembali. Kalian, tolong jaga putriku baik-baik jangan sampai ia terluka. Jika tidak..."


"Kamu jangan mencemaskan putrimu, dia aman bersamaku," ujar pemilik salon yang baru saja tiba di lokasi.


"Ms. Adam, apa kabar?" sapa Mama Aura sambil memeluk dan menciumi pipi temannya.


"Sangat baik. Aku tak menyangka kamu menakutkan saat sedang melindungi putrimu," goda pemilik salon yang biasa dipanggil Ms. Adam.


Wanita itu merupakan keturunan Indonesia tulen, beberapa tahun lalu ia mengikuti program pertukaran mahasiswa yang diselenggarakan oleh Kemendikbud namun siapa sangka hatinya malah terpikat oleh salah satu pria asing warga negara setempat.

__ADS_1


Mr. Adam juga adalah wanita pertama yang menjadi teman Mama Aura. Dari banyak sisi mereka memiliki kesamaan dan oleh sebab itu, keduanya memutuskan berteman hingga sekarang.


"Sebagai seorang ibu, aku wajib melindungi putriku apalagi ia sedang hamil harus lebih extra ketat menjaganya."


"Selamat Aura, sebentar lagi kamu jadi Nenek. Pasti rumahmu akan semakin ramai oleh tangisan si kecil."


"Tentu saja, maka dari itu aku tak mau sampai ia terluka."


"Oh, I see."


"Ya sudah, aku akan mengajak orang tua angkat putriku berkeliling dulu. Sampai jumpa Ms. Adam."


"Ok, selamat berbelanja."


Mama Aura berjalan ke arah kursi tunggu yang khusus disediakan bagi pengunjung salon.


"Tuan dan Nyonya, selagi menunggu Ameera di make over bagaimana jika kalian ikut saya pergi berkeliling mall. Ingin sekali rasanya membelikan barang-barang sebagai tanda ucapan terima kasih karena sudah memberikan izin untuk membawa putri kita ke Australia," ucap Mama Aura lembut.


"Anda tidak perlu mengucapkan terima kasih pada kami, Nyonya."


"Mengembalikan Ameera pada orang tua kandungnya merupakan kewajiban kami dan saya yakin gadis itu akan lebih aman jika tinggal di sini."


"Kita tahu bagaimana liciknya Nyonya Stevanie, ia tidak akan berhenti mencelakai Ameera hingga dia benar-benar menghilang dari muka bumi ini."


"Selama saya masih hidup, wanita itu tak kan bisa menyentuh lagi Ameera walau hanya ujung kukunya saja."


"Kalau sampai itu terjadi maka lihat saja pembalasanku nanti. Saya tak segan-segan menghancurkan masa depannya jika dia berani berurusan lagi dengan putri kita!" sorot mata wanita itu penuh kemarahan, tangannya mengepal di samping, rahangnya mengeras dan tatapannya penuh kebencian.


Bersambung


.


.


.


Untuk episode ini sudah author tambahkan beberapa dialog. Jangan lupa likenya ya Kak. Terima kasih. 😊

__ADS_1


__ADS_2