BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
I MISS YOU TOO


__ADS_3

"Ehm... Yang kedua adalah..."


"Apa?" tanya Mark tak sabaran.


Sambil berbincang dengan iparnya, Mark menikmati secangkir kopi hangat buatan istri tercinta. Menyeruput pelan dan menikmati setiap cairan hitam itu masuk ke dalam kerongkongan.


"Bantu aku meyakinkan orang tua Kirana agar mengizinkanku menikahi putrinya."


Mata Mark terbelalak, seketika dia tersedak kopi yang baru saja masuk ke dalam kerongkongan, sehingga tersembur ke luar. Untung saja tidak mengenai wajah maupun pakaian Joe.


"Sialan! Untung saja tidak mengenai wajahku!" hardik Joe.


Pria itu beringsut menjauhi Mark, lalu memperhatikan kemeja yang dikenakan. Memastikan tidak ada cipratan kopi menempel di sana. "Aku tahu kamu akan terkejut, tapi tidak seharusnya menyemburkan kopi itu di hadapanku!" pekik Joe dengan kesal.


"Maaf, Joe. Aku tidak sengaja. Sungguh." Pria itu meraih kotak tisu yang ada di atas meja kerja, kemudian membersihkan meja kotor akibat semburan kopi.


"Sudahlah. Kita kembali ke topik utama. Aku berniat serius dengan Kirana tapi orang tua gadis itu masih ragu dengan ketulusan cintaku. Padahal, aku berencana mempersuntingnya menjadi istriku." Joe menghela napas kasar. Pria itu tampak frustasi karena perjalanan cintanya tidak berjalan mulus.


"Kamu tahu 'kan Mark, aku pria yang tak mudah jatuh cinta. Selama kita dekat, bisa dihitung berapa banyak gadis yang menjadi kekasihku. Sangat sulit mencari pendamping yang benar-benar sesuai kriteriaku."


"Ya, standarmu terlalu tinggi. Sehingga gadis yang menjalin kasih denganmu mundur secara perlahan-lahan."


Joe menghela napas kasar. Matanya menatap tajam Mark. "Aku sengaja menerapkan kriteria tinggi untuk calon pendampingku, Mark. Dengan riwayat masa lalu Mama, tidak semua orang mau menerima latar belakang keluargaku. Awalnya mereka enjoy berkencan denganku, tapi setelah tahu seluk beluk keluargaku, malah pergi begitu saja."


"Aku menginginkan gadis yang benar-benar tulus mau menerima masa lalu Mama. Andai kata dia memintaku menyerahkan sebagian saham perusahaan atas namanya, aku rela asalkan bersedia hidup dengan anak seorang mantan pasien RJS dan mau merawat Mama. Itu sudah lebih dari cukup, Mark."


Mark tertegun. Semua yang dikatakan Joe benar. Tidak semua orang bersedia hidup bersama anak dari mantan pasien RJS. Dulu, Tuan Ibrahim sendiri langsung memutuskan rencana perjodohan yang sudah disepakati bersama Om Taufiq, mendiang Papa Gladys. Setelah mengetahui calon besannya mengalami gangguan jiwa.


Setelah melewati kerikil kecil dan jalan terjal menanjak, akhirnya ikatan tersebut kembali terjalin. Bahkan kini semakin erat dengan kehadiran seorang bayi montok bernama Rafandra Avocado Pieter.

__ADS_1


Pria berdarah campuran itu beranjak dari kursi, lalu menepuk pundak sahabatnya. "Aku akan membantumu, Joe. Sebagai imbalan atas kebaikanmu selama ini terhadapku. Meskipun kamu dan Mama Aura membawa pergi Gladys tapi diam-diam kalian masih memberikan kabar tentang anak dan istriku, iya 'kan?"


Belum sempat Joe menjawab, Mark kembali melanjutkan kalimatnya, "aku tahu bahwa selama ini kamu meminta Naomi dan Barra mengirimkan foto-foto Gladys selama dia tengah berbadan dua. Untuk itu, aku ucapkan banyak terima kasih." Kemudian pria itu melangkahkan kaki keluar ruangan, meninggalkan Joe yang masih mematung di tempat.


***


Mark berdiri di belakang kursi kebanggannya. Dia menatap jalanan di bawah sana dari lantai tujuh lewat sebuah jendela berukuran tinggi hampir mencapai tiga meter. Berita di luaran sana membuat konsentrasinya terbagi antara pekerjaan dan kejiwaan Gladys.


Sudah hampir tiga hari gosip itu memanas, tapi tidak ada tanda-tanda akan berakhir. Dia dan Joe mengerahkan orang kepercayaan, mencari dalang di balik semua rumor yang beredar.


Selama itu pula, Mark meminta Gladys untuk tidak keluar rumah hingga rumor itu meredup.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Mark. Dia mendesah tanpa mengalihkan padangan dari atas langit berwarna biru di atas sana.


"Permisi, Tuan," ucap Barra seraya melangkah maju ke depan.


"Ada apa?" tanya Mark.


Pria itu membalikan tubuh. Dia menatap tajam ke arah asistennya. "Cepat katakan, siapa orang itu!"


"Dia adalah salah satu mantan pelayan Anda, Tuan. Wanita itu memiliki dendam tersendiri karena sudah diberhentikan dari pekerjaan yang digelutinya selama empat tahun," ujar Barra tegas.


Mark menggeram marah. Tangan pria itu mengepal sempurna, guratan-guratan otot terlihat jelas di punggung tangannya. "Brengsek! Seharusnya dulu kubunuh wanita itu agar tidak mengusik Gladys!"


"Tidak perlu mengotori tangan Anda, Tuan, karena saya dan Tuan Joe sudah membereskannya. Kami terpaksa menggunakan jalur hukum untuk memberikan efek jera padanya. Namun, saran saya, sebaiknya Anda mengadakan konferensi pers dan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya."


Mark mendelik ke arah Barra. Segurat cahaya penuh emosi terpancar di mata biru milik pria itu. "Omong kosong, untuk apa aku melakukan konferensi pers! Itu sama saja seperti membuka aib masa laluku."


"Namun ini demi kebaikan kita semua, Tuan. Alangkah baiknya, Nyonya Stevanie juga duduk di samping Anda. Kalian bersama-sama meluruskan rumor yang beredar belakangan ini. Saya khawatir, jika terus menerus dibiarkan akan mempengaruhi citra perusahaan yang baru saja kita bangun."

__ADS_1


"Selain itu, apakah Anda juga rela, selamanya Nyonya Gladys dituduh menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga yang dulu pernah Anda bina bersama Nyonya Stevanie?"


Mark termenung, mendengar kata-kata Barra membuat pria itu bungkam seribu bahasa. Semua perkataan yang diucapkan oleh asistennya benar. Dia tidak bisa mengambil resiko mengorbankan Gladys dan perusahaan demi egonya sendiri.


"Kamu benar. Selamanya, Gladys akan mendapatkan hinaan dan cacian dari mulut pedas orang di luaran sana. Mereka menelan mentah-mentah semua informasi yang ada tanpa melakukan cross check terlebih dulu."


"Dengan diadakan konferensi pers, diharapkan opini masyarakat terhadap Nyonya Gladys berkurang. Meskipun masih ada segelintir orang di luaran sana menggunjingkan istri Anda tapi seiring berjalannya waktu berita itu akan lenyap di telan bumi."


"Oke. Aku percayakan semua padamu, Barra. Tolong urus masalah ini agar cepat selesai."


Barra bisa bernapas lega, akhirnya usaha dia tidak sia-sia. Awalnya pria itu ragu mengungkapkan ide agar semua masalah ini cepat berlalu. Berkat dukungan Naomi, dia yakin bahwa Mark akan menyetujui pendapat yang diucapkan olehnya.


"Tentu, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu," ujar Barra seraya membungkuk hormat.


Mark menghempaskan bokongnya di atas kursi dengan kasar. Dia meraih bingkai foto yang terdapat di atas meja kerja. Memandangi wajah, kecantikan dan senyuman Gladys, membuat pria itu merindukan sosok istrinya.


"Sweetheart, I miss you," ucapnya lirih.


"I miss you too." Terdengar suara lembut seorang wanita dari ambang pintu.


Dalam balutan dress dibawah lutut berwarna peach, dengan model off shoulder, wanita itu berdiri dengan anggun di sana. Tersenyum manis ke arah suaminya.


Mark menelan saliva susah payah, memandangi tubuh indah istrinya. Berbalut dress seksi, menampakan lekuk tubuh, bahu dan leher yang mulus membuat bagian di bawah sana bereaksi.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2