BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
ONLY YOU


__ADS_3

"Dulu aku merelakan Stevanie untuk kamu nikahi karena melihat cinta begitu besar dalam hati kalian. Namun kamu malah mencampakannya dan lebih memilih mahasiswa itu daripada istrimu sendiri!" bentak Mr. Lee.


"Jadi kamu menyalahkanku?" ucap Mark.


"Tentu saja! Kamu pikir, aku akan menyalahkan siapa atas semua kekacauan yang terjadi?" Mr. Lee bangkit dari kursi kayu yang ada di depan. Perlahan berjalan mendekati Mark. "Kamu sudah memutuskan kontrak kerjasama kita, merebut proyek yang kuincar dan terakhir, merebut kembali Stevanie dari tanganku. Untuk itu, aku akan membalaskan dendam dengan cara yang sangat indah." Pria itu tersenyum smirk.


Jemarinya terangkat ke udara seraya memberikan instruksi pada bawahannya. "Bawa bayi itu ke sini. Tamu kita pasti sangat menantikan momen bahagia bertemu kembali dengan putra tercinta!"


Dengan gerakan slow motion seperti di film-film, pengawal berambut gondrong, yang mengantar Mark tadi, menggendong Alpukat dengan posisi bayi itu menghadap ke depan. Sehingga Mark bisa dengan jelas melihat wajah anak tercinta dari jarak yang begitu dekat.


"Alpukat!" serunya, seraya menghambur ke arah pengawal tersebut. Namun, dari belakang, dua orang pengawal mencekal lengan Mark, lalu merobohkan tubuh pria itu dalam sekali tendangan.


"Kamu terlalu bersemangat, Kawan! Santai, jangan terburu-buru. Kita akan bermain dulu dengan bayi menggemaskan ini." Tangan Mr. Lee terulur ke depan. Detik berikutnya, tubuh Alpukat sudah berada dalam gendongan.


"Papa..." seru bayi itu tatkala mata almond yang diwariskan dari sang Mama berbinar melihat sosok pahlawan di depannya. "Mpus..." celoteh Alpukat seraya memainkan boneka kucing yang berada di tangan Mr. Lee.


"Wo... Bayi ini sangat lucu sekali. Pantas saja, Stevanie mau membantumu mengklarifikasi berita gosip di luaran sana. Ternyata, dia mengincar kembali kedudukan sebagai Nyonya di keluarga Pieter dan menggantikan posisi Ameera di hati anak ini. Benar-benar luar biasa!"


"Omong kosong!" bentak Mark. "Sudah kukatakan, wanita itu tidak mencintaiku. Dia hanya mencintaimu, Lee. Hanya kamu!"


"Entah dengan cara apa menjelaskan padamu, kami sudah tidak memiliki hubungan apapun. Dia menganggapku sebagai teman, tidak lebih."


"Aku bukan anak kecil yang bisa kamu tipu!" bentak Mr. Lee. Suara nyaring yang berasal dari mulut pria itu membuat Alpukat terlonjak, dia menangis dalam gendongan Mr. Lee.


"Lee, kumohon. Jangan berteriak di depan anakku," ucap Mark dengan wajah memelas.


"Apa yang akan kamu lakukan, bila aku terus berteriak di depan bayi ini, hah?" Kali ini Mr. Lee meninggikan satu oktaf suaranya, membuat Alpukat menangis menjerit dalam gendongannya.


Mr. Lee kembali tersenyum, manakala melihat raut wajah Mark berubah jadi cemas. Inilah saat yang sangat dinanti oleh pria itu, melihat musuhnya lemah tak berdaya di hadapannya.


"Kamu ingin membunuhku? Namun, sebelum itu terjadi, aku akan lebih dulu membunuh anak ini!" Dengan gerakan cepat, pria itu melempar boneka kucing dalam genggamannya ke bawah gedung.


"Tidak!" teriak Mark. Refleks, dia menutup matanya dengan kedua tangan. Namun, suara tangis bayi menyadarkannya bahwa yang dilempar oleh Mr. Lee bukanlah Alpukat.


Kini dia bisa bernapas lega, sebab bayi lucu nan menggemaskan itu masih hidup meski berada dalam dekapan pria jahat. "Lee, kumohon, tolong lepaskan anakku. Anak itu tidak bersalah."

__ADS_1


"Lalu, siapa yang bersalah?" raung Mr. Lee hingga urat-urut di lehernya menonjol ke luar.


"Kamu sudah menghancurkan semua impianku, maka kini aku akan membalas semua rasa sakit di hatiku." Mr. Lee melirik pengawal berambut gondrong yang ada di dekatnya, memberikan isyarat agar membawa semua barang yang dibutuhkan untuk melenyapkan nyawa bayi suci tak berdosa seperti Alpukat.


Dengan mata kepalanya sendiri, Mark menyaksikan bagaimana para pengawal itu membawa barang-barang yang diminta oleh Mr. Lee. Sebuah stroller bayi, lakban hitam dan tali tambang tergeletak di atas kursi kayu.


"Lihatlah Mark, dalam hitungan menit, kamu akan kehilangan suatu hal yang berharga dalam hidupmu." Mr. Lee tertawa terkekeh. Dia menjentikan jemari pada pengawal untuk mulai mengeksekusi.


"Jangan coba melewati batas kesabaranku, Lee!" teriak Mark dengan sorot mata membara. Kesabarannya sudah benar-benar menipis.


Vanie, cepatlah datang. Kesabaranku sudah hampir habis. Jika kamu tak kunjung datang, nyawa kekasih tercintamu akan benar-benar habis di tanganku!


Mr. Lee sama sekali tidak terprovokasi oleh ucapan Mark. "Kalian, ikat kedua tangan pria itu dengan erat. Dan jangan sampai terlepas. Hari ini kita semua akan menyaksikan pewaris keluarga Pieter mati, terjatuh dari gedung tinggi."


"Lepaskan aku!" Mark berontak saat para pengawal mulai mengikat kedua tangannya ke belakang menggunakan tali tambang.


"Brengsek! Aku bersumpah akan membunuh kalian jika terjadi hal buruk pada anakku!"


Namun Mr. Lee malah tertawa menyaksikan pemandangan seru di depannya. "Meskipun hatiku sakit akibat dikhianati, tapi aku bahagia melihatmu menderita."


"Baiklah, bersiap di tempatmu!" titahnya pada pengawal itu.


"Mark, let's enjoy the show!" Tangan pria itu menyentuh stroller dan bersiap mendorongnya.


"Tidak! Hentikan!"


Suara lembut dan mengandung sihir itu menghentikan gerakan Mr. Lee. Dia menoleh dan mendapati seorang wanita yang begitu dicintainya berdiri dengan tatapan memohon.


"Tolong, jangan kamu bunuh anak itu, Lee. Dia tidak berdosa."


"Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu bisa masuk sementara di luar aku sudah meminta pengawal untuk berjaga?"


"Aku sudah melumpuhkan mereka semua berkat bantuan tukang ojek," ujar Stevanie seraya berjalan mendekati kekasihnya.


"Lee, jika kamu ada masalah, mari kita bicarakan baik-baik."

__ADS_1


Mr. Lee terdiam sesaat sebelum akhirnya memerintahkan semua pengawal menjatuhkan senjata.


"Jadi, kamu sengaja datang ke sini demi menyelamatkan calon anak tirimu, heh?" tanyanya sinis.


"Kamu salah paham. Aku tidak berniat rujuk kembali dengan Mark. Di hatiku, hanya ada kamu seorang."


"Pembohong! Jika memang kamu tidak mencintainya, lalu mengapa membantu mereka! Seharusnya kamu bahagia karena reputasi keluarga Pieter hancur. Dengan begitu, dendamu terbalaskan!"


"Ya, dendam terbalaskan. Namun, hidupku akan semakin tak tenang karena terus menerus dihantui dosa masa lalu." Stevanie menghembuskan napas dalam, lalu berkata, "hanya itu tujuanku."


"Dan kamu salah besar jika menilai aku membantu mereka agar bisa rujuk dengan Mark. Di hatiku cuma ada kamu, Lee," ucap Stevanie dengan mata berbinar.


"Kamu pikir aku akan termakan oleh ucapan manismu itu!" Mr. Lee mendorong Stevanie, hingga di terjerembab ke belakang.


Stevanie meringis kesakitan ketika sebuah kerikil mengores telapak tangannya. Namun, dia mencoba tegar meski bagian perut, bokong dan telapak tangan terasa sakit akibat membentur lantai. "Demi Tuhan, aku tidak berbohong. Mark adalah masa lalu dan kedekatan kami hanya sebatas saudara saja."


Wanita itu bangkit secara perlahan, memberanikan diri melangkah maju ke depan, menghampiri kekasihnya. Dengan jarak satu langkah, dia bisa melihat sorot mata kecewa, cinta dan sakit hati di sana. Perlahan, Stevanie menangkup wajah kekasihnya.


"Lee, aku berani bersumpah atas nama mendiang Mami dan Papiku bahwa hati dan cinta ini hanya milikmu seorang. Jika kamu tidak percaya, aku rela terjun dari gedung ini demi membuktikan kesungguhan cintaku."


Mr. Lee menghempaskan tangan wanita itu dari wajahnya. "Coba buktikan kesungguhan ucapanmu," ujarnya seraya tersenyum smirk.


"Baiklah, jika itu maumu. Maka aku akan buktikan saat ini juga." Stevanie menjauhkan diri dari Mr. Lee.


Sedikit ragu, Stevanie berjalan ke arah ujung gedung. Memperhatikan keramaian jalanan di bawah sana, menghembuskan napas berkali-kali. Wanita itu berdiri satu langkah dari ujung gedung, dia membalikan tubuh seraya berkata, "kuharap, dengan cara ini kamu percaya bahwa Mark sudah tak berarti dalam hidupku."


"Lee Yoo Joon, aku mencintaimu, saat ini dan di kehidupan yang akan datang," ucap Stevanie dengan berlinang air mata. Butiran kristal mulai membanjiri wajah cantik wanita itu. Dengan mata terpejam, dia melangkahkan satu kaki ke depan kemudian...


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2