BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
PLEASE, GIVE ME ONE MORE CHANCE


__ADS_3

Setelah memakan waktu sekitar 1 jam 16 menit, mobil berhenti di depan rumah orang tua Gladys. Mark membukakan pintu untuk istrinya.


"Barra, kamu boleh kembali ke hotel. Saya akan menghubungi ketika urusan di sini selesai. Berhati-hatilah di jalan," ucapnya sebelum mengikuti Gladys masuk ke dalam rumah.


"Baik, Tuan."


"Tuan, tunggu."


"Ada apa?"


"Teruslah berusaha meluluhkan hati Gladys, rebut kembali hatinya. Jangan sampai Anda melepaskan wanita sebaik dan secantik dia. Tunjukan kalau Anda layak mendapatkan maaf dan kesempatan kedua."


Pria itu tersenyum, "terima kasih, karena kamu selalu mendukungku." Kemudian dia berjalan menaiki anak tangga mengikuti Gladys yang sudah berdiri di depan pintu rumah.


"Masuklah, aku akan memanggilkan Mama dan Kak Joe."


Mark berjalan perlahan, lalu duduk di sofa dengan debaran jantung yang tidak beraturan.


"Baru kali ini aku merasakan debaran jantung yang semakin tidak terkendali. Rasanya dia hampir melompat ke depan," Mark duduk dengan gelisah. Wajahnya pucat, keringat mulai mengalir dari kening meluncur ke pelipis.


Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar, menelisik setiap sudut ruangan yang di dominasi warna putih dan krem. Tempat tinggal Gladys tergolong rumah yang cukup mewah. Sebuah foto keluarga berukuran besar seolah menyambut kedatangan orang yang bertamu ke rumah itu.


"Selera Mama Aura sangat berkelas, pantas saja kini penampilan Gladys terlihat lebih glamour dalam balutan produk branded."


Gladys menyempatkan diri menemui pelayan yang berada di dapur.


"Tolong buatkan minuman hangat untuk pria di depan sana. Kamu pastikan airnya tidak terlalu panas atau pun terlalu dingin. Jangan pernah sekali-kali menuangkan air dingin agar terasa lebih hangat, dia tidak akan meminumnya," titah Gladys pada salah satu pelayan.


"Baik, Nyonya, akan saya ingat."


Setelah meminta pelayan membuatkan minuman hangat sesuai selera suami, Gladys masuk ke dalam lift. Dia berencana menemui Mama dan Kakaknya.


"Ma..." panggil Gladys sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Di dalam ruang kamar sudah ada Mama Aura dan Joe sedang bermain bersama Baby Andra. Mereka tengah mengabadikan momen berharga si kecil saat bayi kecil itu belajar duduk sendiri.


Tubuh mungil Baby Andra berguling ke kanan dan ke kiri saat dia mencoba berusaha duduk tanpa bantuan siapa pun. Ketika melihat sosok wanita yang begitu dicintai, bayi mungil itu merangkak menghampiri lalu tersenyum.


"Aduh, anak Mama pintar sekali," Gladys mengangkat tubuh si kecil dalam dekapan, menciumnya dengan penuh cinta.


"Kamu sudah pulang? Apakah harimu menyenangkan?" tanya Mama Aura.

__ADS_1


"Nampaknya pertemuan kali ini dengan klien tidak berjalan lancar," timpal Joe.


Gladys menepuk-nepuk punggung si kecil, "aku sudah tahu, ternyata Mama dan Kak Joe merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku."


Mama Aura menatap putrinya dengan rasa iba, kelopak matanya menangkap segurat kesedihan di mata wanita muda itu.


"Kami hanya ingin memberikan waktu pada kalian untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi selama hampir satu tahun ini."


"Aku hargai kebaikan Kakak dan Mama. Terima kasih," ucapnya tulus.


"Di bawah ada Kak Mark, bisakah kalian menemui dia? Aku ingin mendandani Baby Andra sebelum bertemu Papanya."


Mama Aura dan Joe saling bertukar berpandang. Lewat tatapan mata, seolah mereka sedang berdiskusi.


"Baik, aku akan menemui Mark. Sudah lama sekali tangan ini ingin memukul wajah jelek pria itu!"


"Mama juga sudah lama ingin menampar wajah anak tak tahu diri itu. Malam ini, tak kan kubiarkan dia lolos begitu saja."


Sepasang Ibu dan Anak itu langsung keluar kamar, lalu segera menemui Mark yang sedang duduk gelisah di ruang tamu.


"Nak, malam ini kamu akan bertemu Papa. Selama berada dalam gendongannya, kamu harus pipis di celana ya. Tunjukan pada pria itu, bahwa kamu membela Mama!"


Wanita itu mengulurkan tangan untuk mengusap-usap anaknya dengan sangat lembut tetapi tangisan Baby Andra tak kunjung reda.


Gladys memutar bola matanya dan menatap putra kesayangannya, kemudian mengeluh, "Mama tahu kamu sedang menunjukan aksi protes karena tadi memintamu ngompol ketika Papa menggendongmu, iya kan?" jemari lentik wanita itu sibuk mengganti baju Baby Andra. Dia menambahkan sedikit minyak wangi agar tubuh putranya lebih harum dan wangi saat dicium.


"Oke, Mama tidak akan memaksa. Terserah kamu saja, mau ngompol atau tidak, itu urusanmu."


Anehnya, tangisan bayi itu langsung terhenti tatkala Gladys mengucapkan kalimat terakhir.


"Well, kamu memang lebih mendukung Papamu daripada Mama. Walaupun begitu, Mama tetap menyayangimu kok."


Sementara itu, di lantai bawah. Mama Aura dan Joe baru saja masuk ke dalam ruang tamu lalu mereka duduk tepat berada di hadapan sofa Mark.


"Bagaimana rasanya selama hampir satu tahun hidup tanpa kabar dari Adikku?" tanya Joe sinis.


Mark menatap sahabat sekaligus Kakak Iparnya dengan tatapan nanar.


"Sangat menderita, Joe. Batinku tersiksa. Beban hidupku bertambah ketika perusahaan diambang kehancuran, hutang di mana-mana dan kondisi Papa memburuk," keluh pria itu.

__ADS_1


"Baguslah, kalau kamu menderita. Itu tidak sebanding dengan penderitaan putriku, Mark. Selama hamil dia ditelantarkan. Kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama rubah betina itu, sungguh menjengkelkan!" cecar Mama Aura tanpa jeda.


"Mark tahu, Tante, selama ini sudah membuat hidup Gladys menderita. Untuk itulah, kedatanganku ke sini ingin meminta maaf karena sudah mengecewakan kalian."


Saat mereka tengah asyik terlibat perbincangan serius, Gladys datang membawa Baby Andra dalam dekapnya.


Bayi itu mengoceh lalu tertawa girang ketika mata kecilnya menangkap sosok pria yang selama ini belum pernah dilihat.


Mark melirik ke arah sumber suara. Di sana, dia melihat anaknya tersenyum manis seolah bayi itu menyambut kedatangan sang Papa.


Dengan cepat pria itu beranjak, berjalan secara perlahan mendekati istri dan anaknya.


"Anakku, Alpukat," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Mark tidak dapat membendung air mata yang sedari tadi dia tahan. Cairan itu menerobos keluar tanpa meminta izin terlebih dulu dari sang empunya.


Dengan tangan gemetar, dia meraih tubuh mungil itu lalu menciuminya. Bahkan pria itu masih tak percaya bahwa kini bayi yang selalu hadir dalam mimpinya berada dalam dekapan.


Dia menatapnya lekat-lekat. Memperhatikan wajah, hidung dan turun ke bibir.


"Lihatlah Mark, bayi ini begitu mirip dirimu. Dia anakmu, darah dagingmu," batinnya.


Tanpa disadari, bibirnya melengkung membentuk senyuman manis, matanya melukiskan kebahagiaan yang tak terkira.


"Nak, ini Papa. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu."


"Gladys, aku berubah pikiran. Setelah melihat anak kita, rasanya hatiku tidak sanggup membiarkan dia tumbuh tanpa adanya sosok seorang Papa. Meskipun kamu menolakku, tetapi aku akan tetap mengejarmu hingga hatimu luluh dan mau menerimaku kembali."


"Jadi... Kumohon, berikan kesempatan walau hanya sekali," pintanya dengan tatapan penuh pengharapan.


Bersambung


.


.


.


Alpukat with his Daddy.

__ADS_1



__ADS_2