
Hari ini Ameera berencana untuk bertemu bunda dan mama kandungnya. Awalnya mereka janjian akan datang ke rumah kontrakan namun Mama Aura meminta agar pertemuan kali ini diadakan di sebuah restoran keluarga agar tercipta kesan kekeluargaan antara Bunda Meta, Mama Aura dan Ameera.
Mama Aura meminta supir menjemput Ameera dan bundanya di rumah kontrakan gadis itu menuju tempat yang sudah disepakati bersama.
"Ameera, bagaimana keadaanmu dan Alpukat?" tanya Bunda Meta saat mereka berada di dalam mobil.
"Baik, Bun. Ehm, kabar Bunda dan Ayah bagaimana?"
"Ayahmu baik-baik saja, dia menyampaikan permintaan maaf karena tak bisa hadir dalam pertemuan ini. Pabrik tempat Ayahmu bekerja sedang mendapat orderan dalam jumlah besar sehingga semua pegawai diminta hadir sesuai jadwal."
"Tidak apa-apa, Meera bisa memakluminya."
Kini, gadis itu beserta sang bunda sudah berada di restoran. Mereka pun berjalan beriringan memasuki sebuah tempat makan yang menyediakan menu khas Sunda.
Di dalam restoran sudah ada Bunda Meta menunggu, ia memesan 1 ruangan khusus hanya untuk dirinya agar kelak pembicaraan mereka berjalan mulus tanpa kendala sedikitpun. Selain itu, dia pun tak mau mengambil resiko jika sampai rahasia ini bocor dan didengar orang lain maka rahasia tentang jati diri Ameera terbongkar.
"Mari, Nyonya dan Ameera silakan duduk!" ucap Mama Aura setelah melihat anak dan ibu angkat gadis itu masuk ke dalam restoran.
"Terima kasih, Nyonya."
Mama Aura memberikan isyarat kepada pelayan membawakan buku menu. Mereka sibuk memilih menu makanan kemudian memesannya.
"Bunda dan Tante Aura, sebelumnya Ameera ucapkan terima kasih karena kalian sudah bersedia meluangkan waktu untukku."
"Meera di sini hanya ingin menjernihkan kesalahpahaman yang terjadi diantara kita."
"Tante Aura, saat di rumah sakit Bunda memberitahu bahwa Ameera bukanlah anak kandung Ayah dan Bunda Meta."
"Ameera sudah mendengar semua penjelasan dari Bunda, kini giliran Tante memberikan penjelasan mengapa sampai 17 tahun tidak mencari keberadaanku."
Bunda Meta dan Mama Aura sedikit tidak percaya dengan perubahan sikap gadis itu, baru beberapa jam tidak bertemu namun sikapnya semakin dewasa membuat mereka mengagumi kepribadian Ameera.
"Meera, bukannya Tante tidak mencarimu hanya saja..."
Mama Aura berhenti sejenak, mencari kalimat tepat menyampaikan kebenaran pada gadis itu. Ia takut setelah menjelaskan asalan mengapa tidak langsung mencarinya membuat Ameera malu mengakui bahwa wanita itu adalah ibu kandungnya.
"Hanya saja apa, Tante? Tolong jangan lagi ada kebohongan diantara kita. Ameera ingin mengetahui kebenarannya saat ini juga!" ucap gadis itu tegas.
"Baik, Tante akan menceritakan semuanya secara detail sesuai permintaanmu."
Flash back on
Tujuh belas tahun lalu
Saat Ameera masih berusia empat tahun, ia dan keluarganya pergi mengunjungi rumah orang tua Taufiq di Yogyakarta.
__ADS_1
Saat itu bertepatan dengan liburan sekolah, semua tempat wisata, transportasi umum bahkan taman bermain anak dipadati pengunjung.
Ameera dan Joe kecil begitu antusias menyambut liburan sekolah kali ini karena sudah enam bulan tak bertemu kakek dan neneknya.
"Ma, Ndis mau main ke Gembila Loka," rengek gadis itu saat mereka baru menginjakan kaki di Stasiun Gambir, Jakarta.
"No, Adik! Lebih baik kita ke Museum Benteng Vredeburg saja, di sana terdapat diorama mengenai sejarah Indonesia," sanggah Joe sebelum Mama dan Papanya membuka suara.
"Kakak, Ndis mau lihat gajah. Mama, gajah!" Gladys kecil menangis dipangkuan Mama Aura.
"Aduh, anak Mama kenapa menangis." Mama Aura menepuk-nepuk bokong anak bungsunya.
"Mama, Ndis mau gajah," gadis itu membenamkan wajah dibagian ketiak Mamanya.
"Papa, Joe ingin ke Museum. Kita ke sana saja ya!" ucap Joe tak mau kalah. Anak kecil itu bahkan menarik-narik ujung pakaian milik papanya.
"Loh, kenapa kalian keras kepala. Joe tidak mau mengalah pada Adik?" tanya Mama Aura, tangannya masih sibuk menepuk-nepuk bagian belakang Gladys (Ameera).
"Kakak tidak mau mengalah!" Joe melipat tangan ke dada.
"Gladys juga?"
"Tidak, Mama. Ndis mau lihat gajah!" Gladys kecil masih tetap pada pendiriannya.
"Oke, setelah sampai di rumah Eyang, kita akan pergi ke Gembira Loka setelah itu baru ke Museum. Bagaimana?"
"I love you, Mama!" bisik gadis itu di telinga Mama Aura.
Kemudian dia duduk di pangkuan Mama Aura sambil memakan beberapa kue yang sempat dibeli sebelum masuk ke dalam kereta. Gladys kecil begitu menikmati makanan tersebut hingga tak memedulikan tatapan mengerikan dari kakaknya.
"Pa, kenapa Joe selalu mengalah!" tanya Joe pada papanya, mulut kecilnya mengerucut kedepan.
"Joe, ingat tidak beberapa hari lalu saat akhir pekan kamu minta Papa mengajakmu bermain ke Taman Mini Indonesia Indah dan secara bersamaan Gladys juga meminta bermain ke Ancol."
"Namun Papa, Mama lebih mendahulukan keinginanmu ketimbang permintaan Gladys dan sekarang gantian Joe harus bersedia mengikuti keinginan Adikmu dulu baru setelah itu kita ke Museum," Papa Taufiq memberikan penjelasan pada putranya.
"Joe mengerti maksud Papa!"
Joe kecil hanya menganggukan kepala.
"Lagipula, kamu kan sebelumnya sudah pernah kesana, sementara Glayds baru kali ini bermain ke Gembira Loka," pria itu mengusap lembut rambut anaknya.
"Iya, Pa. Joe mengerti!"
"Good boy, kamu memang Kakak terbaik. Papa bangga padamu, Nak!"
__ADS_1
Tak terasa sudah tujuh jam berlalu, selama itu mereka duduk di dalam kereta eksekutif. Beberapa kali Gladys menggeliat dalam pangkuan mamanya, ini merupakan pengalaman pertama bagi gadis kecil itu berlibur menggunakan kereta api.
Biasanya mereka menggunakan pesawat namun kali ini ingin merasakan pengalaman berbeda sehingga Papa Taufiq selaku kepala keluarga memesan tiket kereta eksekutif untuk keluarganya.
Ketika tiba di Yogyakarta, fajar sudah menyingsing, suasana Pasar Malioboro sudah mulai padat. Para pedagang kaki lima mulai bersiap membuka lapaknya di sepanjang Jalan Malioboro.
"Aura, Menantuku!" Nenek Gladys menyambut kedatangan menantu serta cucunya dengan penuh suka cita.
"Assalamu a'laikum, Bu!" Mama Aura mencium tangan mertuanya diikuti Papa Taufiq dan Joe kecil secara bergantian.
"Wa'alaikum salam."
"Bagaimana perjalanan kalian, apakah menyenangkan?"
"Sangat menyenangkan Pak, bahkan anak-anak saking antusiasnya tidak mau berhenti bercanda. Taufiq sampai sakit kepala melihat tingkah mereka," Papa Taufiq memijat pelipis secara perlahan.
"Maklum saja Fiq, namanya anak kecil. Kelak sudah dewasa, kamu akan merindukan kebersamaan kalian."
"Oh iya, ini siapa. Cantik sekali!" tanya wanita paruh baya berusia sekitar 40 tahun-an lebih.
"Ini Gladys, Bu," jawab Mama Aura.
"Ayo Gladys, cium tangan Eyang Putri!" titah wanita itu.
"Halo Eyang!" gadis kecil itu mencium tangan sang nenek.
"Oalah, pintar sekali!"
"Iki putune sapa?" (Ini cucunya siapa sih).
"Putune Eyang Putli!" lanjut Gladys sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya. (Cucunya Eyang Putri).
"Duh, kamu sungguh menggemaskan sekali!" tak tahan dengan sikap menggemaskan Gladys, mertua Mama Aura menghujaninya dengan ciuman di seluruh wajah.
"Bu, sudah hentikan. Kasihan mereka baru saja datang tapi kamu malah membiarkannya berdiri."
"Oalah, lali aku, Mas!" (Oalah, lupa aku, Mas).
"Sudah, ayo masuk."
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Update lagi nich Kak. 🤗 Jangan lupa tinggalkan jejak cinta untuk Mimih Kucing.