
"Mama pasti bangga memiliki putra sepertimu, Nak. Tumbuh menjadi anak baik, berbakti pada orang tua dan bertanggung jawab."
"Papa terlalu memujiku," ujarnya sambil mengusap tengkuk.
"Oh iya Pa, kalau proyek kita berhasil direalisasikan, aku berencana mengadakan acara family gathering bersama seluruh karyawan perusahaan boleh tidak?"
"Aku ingin mengadakan acara tersebut di villa yang dulu pernah Papa gunakan saat masih ada Om Taufiq dan..."
Pria itu menghentikan sejenak kalimatnya, ia mengumpulkan seluruh keberanian untuk menyebut satu nama yang sejujurnya enggan diucapkan.
"Tidak usah memaksa jika mulutmu sulit mengucapkan. Kalau Papa boleh tahu, apakah kamu ingin bernostalgia sehingga memilih tempat yang sama?" tanya Tuan Ibrahim.
Manik mata berwarna biru itu menatap intens putranya mencari sebuah kebenaran yang sulit diungkapkan oleh mulut.
"Maafkan Papa karena membuatmu harus kehilangan Ameera. Jika dulu tua renta ini tahu bahwa gadis itu adalah Gladys pasti aku akan memperlakukannya dengan baik."
"Papa bodoh karena terhasut oleh mulut manis tapi beracun milik Maminya Stevanie hingga setuju menjodohkanmu dengan putrinya. Secara sepihak memutuskan tali perjodohan dengan rekan kerjaku padahal saat itu ia sedang berkabung. Anaknya dinyatakan tewas akibat kecelakaan, sementara Aura harus dirawat di rumah sakit jiwa akibat insiden tersebut."
"Sungguh, Papa benar-benar berdosa pada keluarga Kurniawan."
Tak sanggup menanggung rasa berdosa akibat kesalahannya di masa lalu, membuat Tuan Ibrahim menitikan air mata. Sungguh ia benar-benar menyesal sudah bersikap tidak adil terhadap sosok pria yang selama bertahun-tahun sudah membantunya membangun perusahaan hingga berjaya dan patut diperhitungkan di dunia bisnis.
"Sudahlah Pa, semua sudah terjadi. Kita berdo'a saja semoga Tuhan memberikan kesempatan untuk bertemu lagi dengan mereka."
Ia mengulurkan tangan untuk menyusut air mata di sudut mata Papanya, "saat ini yang terpenting adalah kesehatan Papa, kelak jika bertemu Alpukat kalian bisa bermain bersama. Papa mau kan bermain dengan anak Mark di taman belakang?"
"Tentu... Tentu saja Papa mau. Itu mimpiku selama ini, bermain bersama cucu dan bersenang-senang dengan mereka."
"Mark, kelak jika bertemu dengan Ameera lagi, minta ia untuk kembali ke sisimu. Papa akan merestui pernikahan kalian."
"Lantas, bagaimana dengan Stevanie?"
"Talak wanita itu, sebab pada dasarnya jodohmu itu Gladys bukan Stevanie."
"Papa!" ucap seorang wanita berusia 26 tahun.
Terdengar suara seorang wanita bersamaan dengan suara pintu terbuka membentur dinding dengan keras sontak membuat penghuni kamar terlonjak kaget.
Dengan cepat ia masuk ke dalam kamar. Wanita itu berkacak pinggang seraya berkata, "Papa tega meminta Mark menalakku setelah tahu siapa Ameera yang sebenarnya."
"Kamu memang pria tua bangka yang tak tahu diri. Dulu begitu mendukungku untuk memisahkan mereka tapi kini malah menusukku dari belakang. Sungguh licik!" ucap Stevanie berapi-api.
__ADS_1
Luapan emosi terlukis jelas di wajah tirus wanita itu, matanya melotot dan ia juga mengertakan gigi.
"Vanie, tidak sepantasnya kamu menghina Papa. Ia adalah mertuamu!" bentak Mark sambil berdiri di hadapan sang istri.
"Mertua apa Mark? Pria ini sudah tak menganggapku menantunya sejak tahu aku kehilangan rahim. Ia dengan teganya memintamu untuk menalakku. Apakah itu pantas disebut mertua?"
"Dan kamu tua bangka, lebih baik enyah dari sini. Tinggalkan dunia ini selama-lamanya!" teriak Stevanie.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus sebelah kanan wanita itu.
"Jaga ucapanmu. Pria yang kau hina itu adalah orang tuaku. Aku tak kan rela bila orang lain menghinanya. Jika kamu tak bisa menghargai Papaku lebih baik kita pisah!"
Emosi Mark sudah berada di ubun-ubun, hatinya sakit melihat pria berusia hampir lima puluh tahun itu dicaci maki di hadapannya sendiri oleh Stevanie.
Naluri pria itu sebagai seorang anak bangkit, otaknya memerintahkan mulutnya untuk segera bertindak sebelum terlambat.
Dengan penuh keyakinan, Mark berkata, "Stevanie Hendrawan, mulai detik ini aku haramkan tubuhku untuk disentuh. Dan kamu bukan lagi istriku!" ujar Mark secara lantang.
Ucapan lantang pria itu membuat tubuh Stevanie lunglai seketika. Ia merasa dikubur hidup-hidup dalam reruntuhan bangunan. Dadanya terasa sesak, otaknya tak bisa lagi berfungsi dengan baik.
"Sa-Sayang..."
"Kamu pikir aku akan diam saja melihat Papaku dihina olehmu. Meskipun kamu bukan istriku, aku akan tetap membela orang tuaku."
Mark menatap tajam ke arah Stevanie membuat wanita itu bergidik, bulu kudunya meremang seketika.
"Kumohon tolong tarik kembali kata-katamu. Aku... Tidak ingin berpisah denganmu, Mark."
Wanita itu menangkupkan tangan, memasang wajah memelas, berharap agar pria di hadapannya luluh dan mau menerimanya kembali.
"Vanie, seharusnya dari dulu aku melakukan ini."
"Kamu tahu, selama lima bulan ini sebenarnya aku telah memberikan kesempatan padamu untuk berubah tapi kenyataanya tingkahmu malah semakin diluar kendali."
"Jadi, aku sudah putuskan untuk berpisah denganmu. Besok akan kuurus semua surat-surat perceraian kita."
"Kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan apartemen dan mobil sebagai kompensasi dari perceraian ini."
"Tapi Mark, aku masih mencintaimu," wanita itu mencekal pergelangan tangan pria bertubuh jangkung itu.
__ADS_1
"Cintaku padamu sudah pudar Vanie. Maafkan aku," ujar Mark sambil berjalan meninggalkan kamar.
Kaki jenjang Mark melangkah keluar kamar, seorang perawat bernama Yusuf berdiri di ujung lorong mansion. Pria itu langsung memutuskan naik ke lantai atas setelah melihat Stevanie masuk, ia merasa cemas akan keselamatan Tuan Ibrahim karena selama lima bulan ini diantara mereka sering terjadi perselisihan tak jarang anak muda itu menjadi penengah di saat situasi sudah mulai memanas.
"Tuan."
"Kamu jaga Papaku, jangan biarkan beliau seorang diri di kamar. Jika butuh sesuatu bisa gunakan bell yang terletak di samping ranjang."
Kemudian Mark melanjutkan langkahnya. Dari belakang terlihat Stevanie mengejar.
"Selamat malam, No..."
"Diam kamu!" bentak Stevanie.
Wanita itu sengaja menabrak pundak Yusuf tanpa melirik sedikit pun ke arah pria itu.
Perawat itu tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala, "kehidupan rumah tangga tidak selamanya bahagia. Itulah sebabnya mengapa aku belum berani mengambil keputusan untuk meminang Suster Ochi karena mental belum siap dan tentunya kantong pun belum tebal," ucapnya.
Sementara itu Stevanie masih berusaha mengejar Mark, tangannya menggedor pintu hingga suasana mansion yang sepi berubah menjadi riuh. Para pelayan berkumpul di aula tengah, mereka terbangun setelah mendengar keributan berasal dari lantai dua.
"Mark!"
"Buka pintunya. Jangan talak aku. Kumohon padamu!"
"Mark, buka. Mari kita bicara baik-baik."
Namun Mark bergeming, ia sudah yakin dengan keputusannya untuk bercerai dari Stevanie. Sudah cukup pria itu bersabar selama ini dengan sikap egois, angkuh dari sang istri.
Dulu ia bisa menerima kekurangan Stevanie tapi pria itu tidak akan diam saja bila ada satu orang tega menghina apalagi mencaci maki Tuan Ibrahim.
Menurut Mark, pria paruh baya itu bukan hanya orang tuanya melainkan juga penyemangat hidup selain Ameera dan anak dalam kandungan gadis itu.
Bersambung
.
.
.
Oh iya, kemarin author baca komentar ada yang tanya kapan Mark bertemu Ameera. Sabar ya Kak, sebentar lagi akan ketemu. So, ditunggu aja ya kelanjutan ceritanya. 😊
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan kalian selama ini.