
Setelah mematikan sambungan telepon, Mama Aura berdiam diri di balkon. Pandangan mata wanita itu diarahkan ke pesisir pantai, memandangi birunya laut dan cerahnya sang mentari menyinari bumi. Rambut panjang hitam legam yang terurai milik wanita itu terbawa angin, ia memejamkan mata sejenak sambil menghirup udara, merentangkan kedua tangan dan menegadahkan kepala ke atas.
"Tuhan, haruskan aku bahagia karena mereka sudah mendapatkan balasan atas perbuatan jahat yang sudah dilakukan terhadap putriku."
"Aku tahu, bahagia diatas penderitaan orang lain bukan perbuatan terpuji tapi aku hanya manusia biasa bila melihat orang jahat terkena karma maka hatiku bahagia."
"Andaikan mereka tak menyakiti putriku, mungkin aku akan berempati. Bukankah semut akan menggigit bila disakiti, apalagi aku manusia biasa jika disenggol maka timbul perasaan ingin membalas."
Terjadi perang batin di hati wanita itu, ia bahagia karena kini mereka menderita namun jauh di lubuk hatinya Mama Aura juga merasa tak tega bila Stevanie dan Tuan Ibrahim menderita.
"Sudahlah, aku tak mau lagi memikirkan mereka, biarkan saja Stevanie dan Tuan Ibrahim menanggung semua buah dari perbuatannya terdahulu."
"Mama."
Wanita itu terperanjat, ia mengelus dadanya sambil berkata, "astaga Gladys, kamu bikin kaget saja. Untung jantung Mama tidak copot."
Gladys atau Ameera mendekat memeluk wanita paruh baya itu.
"Mama memikirkan apa?"
Mama Aura diam seketika, ia ragu untuk menjelaskan bahwa sebenarnya mertua dan istri pertama suaminya saat ini sedang berada di rumah sakit.
"Hanya memikirkan kira-kira kamu akan memberi nama siapa bayi itu," ujarnya sambil menunjuk perut Gladys.
"Kamu sudah memilih nama untuk Alpukat?"
Gladys masih memeluk tubuh sang Mama, wanita itu tidak tinggal diam, ia membalas pelukan putrinya dengan mengusap lembut gadis itu.
Gladys menggelengkan kepala, "belum Ma."
"Ya sudah, jangan dipaksakan yang penting kamu dan Alpukat sehat. Oh ya, sejauh ini apakah kamu mengalami kesulitan mendalami materi seputar bisnis?"
"Sejauh ini tidak Ma, semua aman terkendali."
"Baguslah, do'akan Kakakmu semoga dalam waktu dekat perusahaan kita sudah mulai beroperasi dan kamu bisa terjun langsung ke dunia bisnis."
"Oke Mama."
***
|| Jakarta, Indonesia ||
Sementara itu, di sebuah ruangan rawat inap, seorang wanita berusia 26 tahun baru saja membuka mata, ia baru terbangun setelah beberapa jam tertidur akibat obat bius yang diberikan kepadanya.
Ia merasakan bagian tangan yang terpasang gips dan perut terasa sakit, wanita itu meringis kesakitan tatkala luka akibat operasi terkena gesekan pakaian yang dikenakan.
__ADS_1
Mata indah wanita itu menangkap sosok seorang pria yang sedang duduk di sofa sambil membaca tumpukan laporan keuangan perusahaan. Pria itu masih belum puas dengan informasi yang diberikan oleh sekretarisnya sehingga ia membuka kembali laporan keuangan beberapa bulan yang lalu.
Terlalu sibuk memandangi tumpukan kertas di hadapannya, membuat pria itu tak menyadari Stevanie sudah terbangun dari tidurnya yang panjang.
"Mark!" ucap Stevanie lirih.
"Kamu sudah sadar. Butuh sesuatu?"
Stevanie menggelengkan kepala.
"Perutku sakit sekali, apa yang sebenarnya terjadi?" wanita itu hendak duduk namun akibat luka operasi yang belum sembuh membuatnya kesakitan dan ia hanya terbaring di atas ranjang.
"Kemarin kamu kecelakaan dan harus menjalankan operasi."
"Operasi apa?" Stevanie memincingkan mata.
"Mark, kamu menyutujui Dokter melakukan operasi apa?"
"Vanie, akibat kecelakaan yang terjadi kemarin rahimmu rusak dan Dokter meminta persetujuanku untuk mengangkat rahimmu."
"Jika rahimku diangkat, itu artinya aku selamanya tak kan punya harapan untuk hamil!"
Mark bergeming, ia hanya membeku duduk sambil menatap nanar wajah istrinya yang dulu pernah amat dicintai oleh pria itu.
"Benar Vanie," ujarnya lirih.
"Maafkan aku, Vanie. Ini semua demi kebaikanmu."
Mark memeluk erat tubuh istrinya untuk menenangkan wanita itu karena Stevanie sejak tadi menangis terus menyebabkan matanya bengkak dan memerah.
"Kalau begini, aku tidak bisa memberikan pewaris untuk keluarga Pieter. Papa pasti kecewa padaku, Mark. Mengapa kamu jahat padaku?" tanyanya di sela isak tangis dalam pelukan pria itu.
"Selamanya aku tak kan bisa mengandung dan memiliki buah hati darimu," ia semakin mengeraskan volume tangisannya bahkan lebih kencang dari sebelumnya.
"Vanie, kamu harus ikhlas menerima cobaan ini."
"Mungkin saja ini adalah teguran dari Tuhan karena dulu kamu berniat melenyapkan nyawa bayi dalam kandungan Ameera."
Stevanie melepaskan diri dari pelukan pria itu, menatap sinis ke arahnya, "kamu pikir aku percaya dengan kata-kata yang barusan diucapkan, bullshits!"
"Itu cuma karanganmu saja kan, agar aku mencari Ameera. Setelah ketemu, kamu akan mendekatinya kemudian kalian menikah dan aku diceraikan olehmu!" ucap Stevanie berapi-api, ia meluapkan kemarahan dan kekesalannya pada Mark.
"Vanie, aku bicara apa adanya. Kurasa semua musibah yang menimpamu dan Papa adalah teguran dari Tuhan."
"Aku pun sudah mendapatkan teguran itu, Vanie. Sesaat sebelum ke rumah sakit, Winda memberitahu bahwa pegawai perusahaan yang ditempatkan di divisi keuangan membawa dana perusahaan dan kita bisa dipastikan rugi puluhan bahkan ratusan milyar."
__ADS_1
"Jadi maksudku, kita benar-benar bangkrut."
Mark menarik napas dalam sebelum berkata, "iya, kita bangkrut Vanie."
"Tidak. Aku tidak mau jatuh miskin Mark!"
Wanita itu menudingkan jari telunjuk ke arah Mark seraya berkata, "bagaimana aku menjalani kehidupan layaknya sosialita di luaran sana jika kamu miskin. Aku tak mau jadi gelandangan, hidup terlunta lunta, sementara karierku di dunia model sudah berakhir semenjak kamu menginginkan anak hasil buah cinta kita tapi buktinya kamu malah merampas impianku untuk menjadi seorang ibu!"
Stevanie sangat marah sehingga untuk pertama kalinya dalam menjalani bahtera rumah tangga bersama Mark, ia berani mengangkat tangan dan hendak memukul pria itu namun aktivitasnya terhenti sebab wanita itu merasakan sakit pada area yang terluka.
"Andai saja aku tidak terluka sudah kupukul kamu Mark," ucap Stevanie lirih sambil meringis kesakitan.
"Kamu memang pria payah, tak becus mengurus perusahaan. Di otakmu hanya ada Ameera bahkan ratusan karyawan menjadi korban akibat keegoisanmu!"
Pria itu tercengang, mendengar perkataan Stevanie secara terang-terangan, di hadapannya ia tega menghina suaminya sendiri.
"Vanie, jaga batasanmu. Aku ini suamimu dan kamu wajib menghormatiku."
"Suami apa? Hubungan diantara kita sudah berakhir semenjak kamu tidak lagi menyentuhku, Mark. Sekarang kamu malah berkata seolah-olah menjadi pria paling benar. Cih, sungguh menjijikan!"
Mark tersenyum sinis, sambil menoleh ke arah Stevanie yang masih meringis, "mungkin Nyonya Stevanie Hendrawan lupa, siapa yang sudah menghancurkan pertemuan penting antara saya dan Nona Lidya. Anda marah tanpa suatu alasan, menyiram klien penting perusahaan dan kini malah menyalahkan orang lain."
"Tadi kalau tidak salah dengar, Anda mengatakan hubungan diantara kita sudah berakhir, jika Nyonya Stevanie ingin, saya bisa mengabulkannya segera," ucap Mark sambil beranjak dari kursi.
'Gawat, jangan sampai Mark menjatuhkan talak padaku, aku tak mau jadi janda lagipula cintaku padanya masih sama seperti dulu,' batin Stevanie.
Ia mencekal pergelangan tangan pria itu dengan erat, "Mark tunggu, aku minta maaf karena sudah berkata kasar padamu. Tolong jangan kamu ambil hati," ujar Stevanie sambil memelas.
"Aku baru tahu sifat aslimu seperti apa Vanie, dan satu penyesalan dalam hidupku adalah sudah melepaskan Ameera demi mempertahankan istri durhaka sepertimu."
Mark melepaskan tangan Stevanie dari pergelangan tangannya, ia melengos tanpa memedulikan suara panggilan yang bersumber dari wanita itu.
Hati pria itu sakit bukan karena perkataan sang istri namun ia menyesal karena sudah menukar berlian demi seorang wanita yang tak pernah menghargai suaminya sendiri.
Kini ia tahu siapa wanita yang pantas untuk dipertahankan, mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya.
"Ameera sayang, kumohon kembalilah. Aku berjanji, jika kelak kita bertemu lagi akan kuberikan seluruh isi dunia ini untukmu dan si kecil asalkan kamu mau kembali kepadaku."
Pria itu terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju suatu tempat yang hanya ada ia seorang diri.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.