BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
PISAH KAMAR


__ADS_3

Jam dinding menunjukan pukul 6 sore saat Mark menyelesaikan meeting terakhir bersama para karyawan mengevaluasi kinerja selama tiga bulan terakhir.


Selama meeting berlangsung, kilas balik pertengkarannya dengan Joe bagaikan sebuah kaset kusut yang selalu berputar memenuhi indera pendengar pria itu. Ia menjadi hilang akal saat membayangkan bagaimana kejamnya Stevanie saat mencelakai anak yang masih dalam kandungan Ameera.


"Aku tak menyangka, kamu tega mencelakai anakku sendiri, Vanie."


"Bagaimana jika bayi itu mati dan aku kehilangan kesempatan untuk bisa membesarkannya dengan kasih sayang."


Memikirkan kemungkinan itu membuat Mark semakin frustasi, ia langsung berlari dan menekan tombol lift untuk pergi ke lobi.


Ketika pintu lift berdenting dan terbuka, ia langsung keluar berlari menuju parkiran khusus petinggi perusahaan. Pria itu duduk dibalik kemudi, menyalakan mesin kendaraan lalu melesat membelah jalanan ibu kota yang cukup padat merayap. Menyalip kendaraan yang menghalanginya kemudian menyalakan klakson berkali-kali jika dibutuhkan.


Mark berubah seperti orang yang kehilangan akal, kini dalam benaknya hanya satu yaitu bertemu Stevanie dan meminta penjelasan dari istrinya sendiri.


Waktu yang seharusnya ditempuh 40 menit bisa dipercepat oleh Mark menjadi 30 menit. Setelah tiba di depan pintu masuk mansion, ia langsung turun dari mobil dan berjalan dengan langkah panjang masuk ke dalam aula utama. Lampu di lantai 2 dalam keadaan mati, itu menunjukan bahwa Stevanie tidak ada di rumah.


"Sial, kemana perginya wanita itu!" maki Mark.


"Pelayan, Nyonya kemana?" tanya Mark kesal.


"Nyonya belum pulang Tuan, mungkin sebentar lagi sampai."


"Tadi Nyonya berpesan agar saya segera menyiapkan makan malam jika Tuan pulang."


"Minta Nyonya menemuiku di ruang kerja saat ia sudah kembali!" titah Mark.


Pelayan tersebut hanya membungkuk.


Pria itu melangkah ke dalam lift menuju kamar tidur, setelah sampai langsung membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan kaos oblong dan celana pendek.


Ia menunggu kepulangan Stevanie sambil membaca buku seputar kehamilan di ruang kerja. Sudut bibirnya terangkat tatkala membayangkan dalam beberapa bulan kedepan bayi yang dinantikan akan lahir ke dunia.


"Menurut buku ini jenis kelamin bayi bisa terdeteksi lewat USG pada usia 14 minggu dan kini kandungan Ameera sudah memasuki minggu ke-17 itu artinya aku sudah bisa mengetahui anakku berjenis kelamin laki-laki atau perempuan," pria itu memandangi foto hasil USG yang didapat saat istri keduanya melakukan pemeriksaan di bulan ke-2 kehamilan.


Gambar titik hitam yang belum terlalu terbentuk membuat hatinya seketika berbunga-bunga seperti orang yang baru saja menang lotre. Ia berteriak kegirangan sambil menciumi foto tersebut.


"Nak, maafkan Papa belum bisa melindungimu tapi untuk kali tidak akan kubiarkan kamu tersakiti lagi," tangannya mengelus lembut foto tersebut.


"Sayang," ucap seorang wanita, kedua tangannya dipenuhi 4 tas kantong belanja. Kemudian ia berjalan menghampiri Mark, mencium pipi suaminya dan berpindah ke bibir akan tetapi pria itu menghindar.


Mark berjalan dan duduk di kursi dibalik meja kerjanya, "duduk!" ucap pria itu dingin.


Stevanie merasa aura dingin memenuhi ruang kerja dan seketika membuat bulu kudunya merinding.

__ADS_1


Mengapa sikap Mark berubah, apakah dia sudah mengetahui bahwa aku yang mencelakai Ameera?


Stevanie duduk dengan cemas, keringat sudah mulai membanjiri kening dan pelipisnya.


'Mati aku, jika sampai Mark tahu tamat sudah riwayatku! Bisa-bisa keluar dari ruang kerja tersisa hanya nama saja,' ucap Stevanie dalam hati.


Stevanie menatap Mark dengan perasaan campur aduk.


"Ada yang ingin kamu jelaskan kepadaku?"


Suara berat mampu menyadarkan kembali kesadaran Stevanie. Pria di depannya menyipitkan mata dan menunggu ia membuka suara.


Mendapat tatapan tajam dari Mark membuat Stevanie menciut, ia merasa saat ini sedang diintrogasi karena sudah melakukan kesalahan besar padahal buktinya hanya mendorong madunya tanpa sengaja karena wanita itu dendam akibat kehadiran Ameera membuat rumah tangganya tak harmonis lagi seperti dulu.


"Ehm, itu..."


"Katakan yang jelas!"


"T-tidak ada yang ingin aku sampaikan."


Bodoh, mengapa kata-kata itu yang keluar dari bibirku. Astaga, bagaimana ini apa yang harus kulakukan!


"Aku berikan kamu kesempatan sekali lagi, katakan yang sejujurnya!" bentak Mark.


Stevanie tersentak mendengar suara bentakan pria itu, telinga berdengung dan ia menundukan wajah. Bibirnya komat kamit melafalkan beberapa do'a memohon agar Tuhan menyelamatkannya kali ini.


Aku hanya berusaha menyelamatkan pernikahan dari pelakor seperti Ameera.


Jika tanganku tak sengaja mendorongnya mengapa semua orang menyalahkanku.


"Vanie, katakan!" kini Mark semakin dibuat geram oleh sikap Stevanie. Tangannya mengepal di samping dan rahangnya mengeras.


Mark menggebrak meja dan berdiri dari kursi, kini ia duduk ditepian meja.


"Aku harus berkata apa Mark? Memang tidak ada yang harus kujelaskan!" Stevanie mencoba bersikap santai tapi dalam hatinya dipenuhi ketakutan.


"Apa benar, kamu yang sudah mendorong Ameera hingga ia harus dirawat di rumah sakit?"


"Kamu tahu dari mana?" tanya Stevani pura-pura polos.


"Oh, pasti dari Joe kan!" Stevanie melipat tangan ke dada.


"Kamu tahu, sejak kecil dia sudah tidak menyukaiku apalagi sekarang bisa saja pria itu menyimpan dendam dan memfitnahku."

__ADS_1


"Shut up!"


"Joe adalah sahabatku jadi kamu harus bisa menjaga mulut dan menghormatinya."


"Apa, menghormati! Enak saja, dia siapa kok harus dihormati!" ucap Stevanie sinis.


"Mark, dia itu membenciku jadi jangan terlalu percaya dengan ucapnnya," Stevanie mendekati suaminya. Ia mulai mengeluarkan jurus pemikat jiwa untuk meredakan emosi pria itu. Biasanya, dengan jurus ini ampuh meluluhkan hatinya karena kelemahan terbesar Mark terletak pada area sensitif yaitu bagian pundak dan perut.


Jemari lentik Stevanie bergerak menyentuh setiap bagian tubuh suaminya, sementara itu Mark nyaris terbuat dan terlena oleh sentuhan nakal istrinya akan tetapi bayangan foto hasil USG buah hatinya terlintas dan mengembalikan kesadarannya. Ia mendorong tubuh Stevanie hingga nyari terjatuh ke belakang.


"Mark!" pekik Stevanie.


Mark menjauhi wanita itu dan berkata "aku akan memaafkanmu asalkan berkata jujur. Katakan yang sebenarnya Vanie!" Mark kembali duduk di kursi dan mengusap wajahnya kasar.


"Demi gadis sialan itu kamu tega membentak dan mendorongku hingga nyaris terjatuh. Mark, aku adalah istri sahmu sepatutnya yang kamu bela adalah aku bukan ja*ang itu!"


"Cukup Vanie! Jangan lagi kamu sebut dia ja*ang maupun pelakor."


"Jika kamu membencinya bencilah aku karena Ameera tidak bersalah."


"Akulah yang sudah membawa dia masuk ke dalam istana kita dan menempatkannya dalam situasi sulit."


"Jadi, lampiaskan dendam dan kebencianmu padaku!" ucap Mark lirih.


"Aku mohon padamu Vanie, temui dia dan minta maaflah."


"Akibat perbuatanmu, aku hampir kehilangan anak dalam kandungan Ameera. Vanie, di dalam darah anak itu mengalir darahku, mengapa kamu tega mencelakai mereka!"


"Maaf, tidak akan pernah kulakukan! Sampai kapanpun, aku tidak akan menemui gadis itu apalagi memohon ampun padanya!" Stevanie bertolak pinggang dan membusungkan dada.


"Baik, jika itu maumu. Mulai detik ini, aku akan membatasi semua penggunaan kartu kredit, mengurangi semua fasilitas yang kuberi dan kita akan tidur terpisah!"


Mark bangun dari sofa dan pergi meninggalkan ruang kerja menuju kamar utama. Ia mengemasi semua pakaian dan memindahkannya ke kamar tamu.


Sementara itu, Stevanie hanya menggeram dan memukul sandaran kursi dan rasa bencinya terhadap Ameera semakin memuncak.


"Ameera, aku akan membuat perhitungan padamu. Lihat saja nanti!"


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


Selamat malam Kak, Mimih Kucing kembali update. Jangan lupa likenya ya. Besok akan ada kejutan di episode yang akan datang. ❤


__ADS_2