BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
KABAR UNTUK MAMA AURA


__ADS_3

"Tidak mungkin aku terkena stroke!" air mata Tuan Ibrahim mengalir.


"Tapi Papa tidak usah cemas, Mark akan merawat dan menjaga Papa sama seperti dulu saat aku masih kecil."


Pria itu meraih tangan sang Papa, kemudian mengusapnya lembut.


"Mark janji tidak akan meninggalkan Papa sendiri."


"Syukurlah anakku pengertian, ia mau merawatku di saat sedang sakit. Terima kasih Ma, kamu meninggalkan permata hati begitu baik dan berbakti pada orang tua," batin pria itu dalam hati.


***


Setengah jam setelah Tuan Ibrahim masuk ruang rawat inap, seorang pria yang tak lain adalah Joe masuk ke dalam lift. Matanya berkilat, sudut bibir tersungging sekilas. Tanpa mengatakan apa-apa setiap orang yang melihat bisa menebak saat ini ia dalam suasana hati bahagia.


Tangannya sibuk merogoh ponsel dari dalam saku celana. Ia menghubungi seseorang yang berarti dalam hidup Joe yaitu Mama Aura.


"Mama, Joe sudah memberikan kemeja yang dikirimkan langsung dari sana. Kini barang tersebut sudah aman di tangan calon Papa baruku," ujar pria itu sambil menggoda Mama Aura.


"Dasar anak nakal, sembarangan saja kamu bicara. Dia itu teman Mama bukan calon Papa barumu!" ucap wanita paruh baya di seberang sana dengan ketus.


Joe hanya terkekeh pelan, matanya berbinar bahagia sebab ia selalu sukses menggoda sang Mama.


"Joe hanya bercanda tapi kalau memang Mama mau menjalin hubungan kembali dengan Dokter Firman, Joe selaku anak pertama memberikan izin asalkan pria itu benar-benar tulus mencintai Mama dan pastinya ia sudah duda."


"Joe tidak mau punya Papa yang memiliki hobi berbagi cinta dengan pasangannya yang lain. Sudah cukup Gladys menjadi korban dari kisah itu, Ma!"


"Ngaco kamu, Mama masih nyaman hidup sendiri. Bagi Mama melihat Gladys dan kamu hidup bahagia, hati ini sudah senang Joe."


"Apalagi jika kamu menikah dalam waktu dekat, Mama pasti akan sangat bahagia."


"Mulai memutar balikan fakta!" dengusnya kesal.


"Oh iya, Joe punya sebuah informasi yang pasti akan membuat Mama tercengang."


Pria itu mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Informasi apa?" tanya wanita itu penasaran.


"Saat Joe akan mengantarkan bingkisan kemeja untuk Dokter Firman, di IGD ramai para tenaga medis hilir mudik memberikan pertolongan untuk pasien."


"Tak sengaja Joe mendengar dokter itu berbicara dengan wali pasien dan korban harus menjalani operasi pengangkatan rahim akibat membentur benda keras mengakibatkan organ dalamnya rusak."


"Mama tahu siapa pasien itu?"


Wanita paruh baya itu menautkan kedua alis, mencoba menebak siapa orang yang dimaksud, "siapa? Jangan buat Mama penasaran!"


"Orang itu adalah Stevanie!"


Di seberang sana kedua mata Mama Aura terbelalak, mulutnya terbuka lebar, ia tak menyangka rival cinta putrinya kini terbaring di rumah sakit.

__ADS_1


Jujur, sebagai seorang ibu, wanita itu bahagia karena orang yang sudah menyakiti putrinya kini menerima ganjaran atas perbuatan jahat yang pernah dilakukan akan tetapi nalurinya sebagai seorang wanita sedih sebab Stevanie harus mengubur dalam-dalam impiannya untuk bisa hamil.


"Baguslah, tanpa mengotori tangan kita wanita jahat itu menerima karmanya sendiri."


"Tuhan memang adil pada kita, Joe."


"Benar Ma. Selain itu, ada 1 kabar lagi yang pasti membuat kita bersorak kegirangan."


"Apa itu, Joe?"


"Tuan Ibrahim juga mendapat teguran dari Tuhan, beliau terkena stroke dan tubuhnya mengalami kelumpuhan."


Lagi-lagi Mama Aura terperangah mendengar semua informasi yang diberikan putra sulungnya, membuat ia tak tahu harus berkata apa. Keheningan sejenak mewarnai percakapan antara ibu dan anak melalui sambungan telepon.


"Kita sudah melihat bagaimana tangan Tuhan bekerja, kini mereka menuai hasil yang sudah ditanam," ujar Joe.


"Kamu benar Joe, maka dari itu sebagai manusia kita jangan terlalu sombong, merendahkan bahkan menghina orang lain jadilah pribadi yang selalu rendah hati," nasihat wanita itu pada putranya.


"Baik Ma, akan Joe ingat selalu nasihat Mama."


Pria itu melirik ke arah arloji yang melingkar dipergelangan tangan, "Joe tutup dulu ya Ma, nanti kita sambung lagi. Assalamu a'laikum."


"Wa'alaikum salam."


Di dalam lift, Joe masih sibuk dengan ponsel miliknya, membuka email yang masuk dan membacanya hingga tak menyadari dari arah berlawanan seorang cantik pemilik mata sipit tengah berjalan ke arahnya.


Brugh!


Ponsel milik Joe terjatuh, membuat layarnya retak namun masih berfungsi dengan baik.


Suster Kirana terdiam dan mematung sejenak. Pupil mata matanya melebar, mulut terbuka lebar, seketika raut wajah gadis itu pucat.


"T-tuan, ma-maaf..."


"S-saya..."


Joe hanya berdecak kesal namun ia juga sadar bahwa kejadian itu bukan mutlak kesalahan gadis itu, "tidak perlu meminta maaf, ini juga kesalahan saya."


Pria itu langsung memungut ponselnya yang terjatuh tepat di hadapan Suster Kirana.


Saat gadis itu mau memungut benda itu, secara bersamaan Joe pun mengulurkan tangan ke depan. Tanpa sengaja tangan sepasang manusia yang berbeda jenis kelamin saling bersentuhan.


Baik Joe maupun Suster Kirana merasakan seperti ada sengatan listrik merambat dari tangan, berpindah ke hati dan menjalar ke seluruh tubuh.


Tubuh Joe menengang saat tangannya menyentuh punggung tangan gadis itu.


'Aneh, mengapa aku merasakan perasaan berbeda saat bersentuhan dengan gadis ini,' batin pria itu.


Cukup lama Joe menyentuh punggung tangan gadis itu.

__ADS_1


"Ehm, Tuan..."


Joe langsung menarik kembali tangannya, mengambil benda itu secepat kilat. "Saya juga minta maaf karena terlaku fokus dengan layar ponsel."


"Ponsel Anda rusak, jika berkenan biarkan saya bertanggung jawab," ujar Suster Kirana ragu.


"Ponsel Anda pasti harganya lebih mahal daripada gaji saya selama satu bulan di sini tapi setidaknya tolong terima niatan baik ini, Tuan!" gadis itu membungkuk hormat di hadapan Joe.


Joe terpaku, memperhatikan sosok gadis di hadapannya. Ia cantik seperti boneka Barbie, bibir ranum dan hidung mancung, "sungguh indah sekali ciptaan Mu ini Tuhan." Tanpa sadar sudut bibir pria itu tertarik ke atas.


"Tuan..." Suster Kirana melambaikan tangan di depan wajahnya.


"Apakah Anda baik-baik saja? Perlukah saya membawa Anda ke IGD?" gadis itu sedikit cemas melihat pria di hadapannya mematung tanpa suara.


"Tuan!"


Suara merdu itu kembali terdengar, membuat Joe berdehem guna menetralkan kembali pikirannya yang sempat melayang ke udara, "kamu tidak perlu bertanggung jawab. Toh ini juga merupakan kelalaian saya, seharusnya jangan terlaku fokus saat berjalan di tempat umum apalagi ini di rumah sakit yang notabene banyak pengunjung, tenaga media yang akan hilir mudik."


Mendengar itu, Suster Kirana bisa bernapas lega sebab ia tidak perlu bertanggung jawab memperbaiki ponsel milik pria asing yang berdiri di hadapannya.


"Baiklah Tuan, jika itu mau Anda," ujarnya sambil tersenyum ke arah Joe.


Seorang gadis seumuran Suster Kirana berjalan menghampirinya, "Kirana, ayo naik. Sebentar lagi pergantian shift kamu harus sampai lantai atas agar suster senior bisa melimpahkan tugasnya kepadamu."


"Oh baik, Suster. Anda duluan saja, nanti saya menyusul."


"Oke, aku duluan ya. Bye!"


"Tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Sekali lagi maaf atas kejadian tadi," ia membungkuk dengan hormat.


Kemudian ia berjalan menuju pintu lift di ujung koridor rumah sakit.


Joe memandangi punggung gadis itu dengan perasaan yang campur aduk, hingga tubuh Suster Kirana menghilang dibalik pintu lift.


"Suster Kirana, namanya cantik sama seperti paras gadis itu. Lucu dan bertanggung jawab."


Pria itu menggeleng-gelengkan kepala, "bodoh, apa yang sudah kamu ucapkan. Dasar mulut tak tahu diri, seharusnya kamu diam jangan berbicara omong kosong!" ia menepuk mulutnya menggunakan tangan.


"Sebaiknya aku pulang, mempersiapkan perizinan membangun perusahaan baru agar bisa bersaing dengan PT Indah Sentosa."


Bersambung


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak. Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. ☺

__ADS_1


Visual Joe Kurniawan



__ADS_2