
Happy reading 🍃
Sebaiknya aku pura-pura tidak mengenalnya. Bisa gawat jika pria itu mengingat kejadian tempo hari dan menceritakan semua kejadian pada Dokter Firman. Bagaimana jika beliau mengurungkan niatnya memperkerjakanku sebagai perawat home care dan memintaku kembali ke Indonesia!"
"Sedangkan saat ini aku membutuhkan banyak uang untuk membayar hutang Papa tiriku akibat kalah berjudi," batin Suster Kirana.
Setelah gadis itu bergulat dengan pikirannya sendiri, akhirnya ia memutuskan memulai aksinya untuk menghindari Joe.
Gadis itu berjalan mengendap-endap agar suara langkah kakinya tidak terdengar oleh orang lain. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, memantau gerak gerik pria di depan sana.
Setelah tubuh gadis itu menjauh dari jangkauan Joe, ia memilih kursi paling pojok dekat tiang bangunan agar keberadaannya tidak diketahui oleh pria itu.
"Hufh, untung saja pria itu masih fokus menatap pintu ruang operasi. Jika tidak, tamatlah riwayatku. Setidaknya aku aman untuk beberapa menit kedepan. Selanjutnya, kuserahkan pada-Mu Tuhan," ucap Suster Kirana dalam hati.
Sementara itu Joe masih fokus menatap pintu ruang operasi di depan sana. Tatapan matanya tak pernah teralihkan, bahkan saat kedua dokter kepercayaan keluarga Kurniawan datang ke rumah sakit, pria itu masih setia menunggu.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya suara tangisan bayi terdengar memecah keheningan malam hari.
Semua orang bersuka cita menyambut kelahiran cucu pertama keluarga Kurniawan tapi sedetik kemudian raut wajah mereka berubah cemas sebab belum mengetahui kondisi Gladys pasca operasi caesar.
Beberapa menit kemudian, Dokter Calista muncul dari balik pintu. Ia merupakan dokter kandungan yang bertanggung jawab menangani Gladys selama berada di Australia.
"Kami butuh golongan darah O rhesus negatif. Kebetulan cadangan golongan darah tersebut di rumah sakit ini kosong dan kami juga sudah menghubungi beberapa rumah sakit tapi stok darah yang sama dengan Nyonya Gladys tidak ada. Mungkin dari pihak keluarga bisa mendonorkan darah untuk pasien," jelasnya sebelum Joe maupun anggota keluarga lain bertanya.
"Dokter, saya Kakak pasien. Kalian bisa memeriksanya siapa tahu cocok," ucap Joe ketika semua orang nampak kebingungan.
"Baik Tuan, Anda bisa ikut dengan saya," seorang perawat keluar dari ruang operasi setelah mendengar salah satu anggota keluarga memiliki golongan yang sama dengan pasien.
Tanpa menunggu waktu lama, Joe mengikuti perawat yang sudah berjalan duluan.
Dari jarak dua meter, bola mata pria itu menangkap sosok gadis cantik yang terhalang tiang bangunan. Perlahan tapi pasti, langkah kaki Joe melewati barisan kursi tunggu tempat Suster Kirana duduk.
Joe menoleh ke arah gadis itu dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat Suster Kirana duduk manis dengan menundukan wajah.
"Gadis itu, bukankah dia pernah menabrakku di rumah sakit," gumamnya dalam hati.
"Mati aku, nampaknya pria itu menoleh ke arahku. Gawat! Bagaimana ini!"
Tak mau terlalu memikirkan hal tak penting, Joe segera berjalan cepat menyusul Suster yang sudah berada di depan ruang laboratorium rumah sakit.
__ADS_1
Sesuai prosedur rumah sakit, setiap orang yang berencana mendonorkan darah diharuskan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum akhirnya diperbolehkan melakukan transfusi darah.
"Tuan silakan duduk di sana," ucap perawat ketika melihat Joe sudah masuk ke dalam ruangan. Ia menyiapkan semua peralatan, seperti alat tekanan darah dan termometer untuk mengetahui kesehatan fisik calon pendonor.
"Tekanan darah dan suhu tubuh Anda dalam kondisi baik, jadi kami bisa memperbolehkan Tuan untuk mendonorkan darah."
Perawat itu sibuk mencari kantong darah, satu set alat transfusi darah, sarung tangan sekali pakai, cairan normal salin dengan kadar 0.9% dan three way stop cock yang berfungsi sebagai konektor infus khusus bagi pasien yang memerlukan lebih dari satu cairan infus dalam waktu bersamaan.
Setelah semua prosedur dilakukan, perawat itu merekatkan selang kantong darah secara aseptik kemudian merapikan semua alat dan tak lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
"Sementara ini Tuan istirahat dulu di sini, akan ada perawat yang akan memonitor kondisi Anda pasca mendonorkan darah untuk Nyonya Gladys."
"Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap perawat itu sambil membawa wadah berisi kantong darah.
"Baiklah, yang penting kalian selamatkan Adikku," tangannya terangkat ke udara memberikan isyarat agar perawat itu segera membawa kantor darah dan memberikannya pada Gladys.
***
Kini Gladys sudah berada di ruang perawatan, ia sudah melewati masa kritis. Darah yang didonorkan oleh Joe sudah diberikan. Akibat kehilangan banyak darah, gadis itu membutuhkan sampai dua kantong darah untuk mengganti cairan darah yang hilang.
Mama Aura dengan penuh perhatian merawat putri tercinta. Ia dengan setia menunggu Gladys siuman dari pengaruh obat bius.
Bayi kecil hasil buah cinta Gladys dengan Mark untuk sementara waktu berada di ruang perawatan khusus bayi. Ia belum diperbolehkan menemui sang Mama.
"Apa Anda yakin, Bu?" tanya Bunda Meta ketika ia melihat wanita seusianya duduk di samping kursinya.
"Sangat yakin Bu, lagipula plasenta Alpukat belum dikuburkan. Tidak baik jika terlalu lama menunda menguburkannya," jawab Mama Aura dengan mata sayu.
"Baiklah, kami akan pulang ke rumah. Jika butuh apa-apa hubungi kami," timpal Ayah Reza.
"Dokter Firman dan Dokter Diana, kalian juga sebaiknya menginap di rumahku. Ada banyak kamar kosong di sana."
"Tapi Ra, aku tak mau membiarkanmu tinggal sendirian di sini. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?"
"Banyak Suster dan Dokter yang berjaga," tolak Mama Aura.
Secara tersirat, wanita itu tahu persis bahwa mantan kekasihnya itu ingin menemaninya di rumah sakit tapi sungguh saat ini ia hanya ingin berdua saja dengan Gladys, putrinya.
Dengan terpaksa Dokter Firman mengabulkan permintaan wanita itu. Ia menarik napas dalam dan berkata, "baik, aku akan pulang bersama Dokter Diana dan kedua orang tua angkat putrimu tapi biarkan Suster Kirana tetap di sini. Setidaknya ia bisa menemani Gladys di saat kamu ke toilet atau membeli makanan di kantin."
__ADS_1
"Oke, aku setuju."
"Suster Kirana, tolong jaga Nyonya Aura. Anggap saja ini latihan sebelum kamu benar-benar merawat Nyonya Gladys."
"Saya pasti akan menjaga beliau dengan baik, Dokter."
Kini hanya tersisa Mama Aura dan Suster Kirana. Dua wanita beda generasi itu duduk di kursi tunggu, tatapan mata keduanya kosong. Terjadi keheningan beberapa saat.
"Suster Kirana," suara Mama Aura mengawali percakapan.
"Iya Nyonya, apakah Anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya gugup.
Entah mengapa ia menjadi gugup bertemu dengan wanita di hadapannya ini padahal sebelumnya gadis itu bersikap biasa saja.
"Apakah kamu gugup?" tanya Mama Aura sambil melirik ke arah gadis itu.
"Saya?" tanyanya sambil mengangkat jari telunjuk ke arahnya, "tidak... Tentu saja tidak, Nyonya."
"Syukurlah. Saya pikir kamu grogi setelah bertemu Joe," goda wanita itu seraya menyenderkan kepala di tembokan.
"Tidak Nyonya, mana mungkin grogi."
Aduh mengapa Nyonya Aura bisa membaca pikiranku?
Bagaimana ia bisa tahu aku gugup setelah bertemu pria itu. Ini kedua kalinya kami bertemu tapi kenapa aku malah gugup sih.
Kedepannya, jika aku terus menerus gugup seperti ini bagaimana kinerjaku di mata Nyonya Aura. Bisa-bisa langsung dipecat pada hari pertama bekerja.
Suster Kirana melirik sekilas ke arah wanita anggun di sebelahnya. Wajah wanita itu sudah mulai muncul garis-garis halus di wajah, kerutan di sudut mata namun aura kecantikannya masih terpancar.
Diam-diam gadis itu mengagumi kecantikan alami wanita yang sebentar lagi akan menjadi majikannya.
"Suster, saya boleh minta tolong sesuatu?" tanya Mama Aura tiba-tiba, membuat Suster Kirana terlonjak dari kursi.
Ia pikir wanita paruh baya itu tertidur tapi ternyata perkiraannya salah.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.