
Suasana di pagi hari di sekitar taman kompleks perumahan elite Royal Harmoni di kawasan Jakarta Selatan terlihat ramai, dipadati pengunjung. Semua orang dari berbagai kalangan berkumpul menjadi satu dalam satu tempat. Kebetulan hari itu adalah hari libur jadi taman tersebut dibuka untuk umum. Banyak yang menjajakan makanan dan minuman di sekitar taman.
Keadaan akan semakin ramai manakala mentari mulai merangkak naik dan memberikan sinarnya bagi insan di bumi. Hampir sebagian pengunjung taman merupakan pasangan suami, istri beserta anaknya.
Pihak developer bukan hanya memberikan fasilitas kursi dan area bermain untuk anak, mereka juga menyediakan fasilitas publik lain seperti lapangan basket, lapangan bulu tangkis dan tempat fitness umum.
Setiap orang memiliki tujuan masing-masing datang ke taman tersebut. Ada yang sekedar duduk santai sambil mengawasi anak-anak bermain, berolahraga atau bahkan berkencan dengan pasangan.
Gladys membawa tubuh gembul Baby Andra atau yang biasa dipanggil Alpukat ke dalam sebuah stroller dan mendorongnya menuju taman. Dia ditemani Bi Mirna dan seorang bodyguard berjalan di antara kumpulan pengunjung yang tengah memadati taman.
Hari ini Gladys sengaja membawa putra kesayangan bermain di taman karena sudah seminggu ini si kecil hanya berdiam diri di rumah. Akibat pemberitaan yang beredar membuat Mark memutuskan untuk melarang istri tercinta ke luar rumah.
Wanita itu berjalan di samping Bi Mirna dengan tangan mendorong stroller.
"Anak Mama, hari ini kita main di taman ya. Kamu pasti senang karena bisa bermain di alam terbuka," ucap Gladys.
"Nyonya, saya bahagia akhirnya gosip tentang Anda sudah mulai hilang dari peredaran. Saya juga tidak menyangka, bahwa Nyonya Stevanie bersedia berbicara di depan public tentang kebenaran yang tersembunyi selama ini."
Wanita itu tersenyum lalu berkata, "Bibi juga mengira bahwa Stevanie belum berubah?" tanya Gladys dengan menautkan kedua alis. Kedua bola matanya masih menatap ke depan.
"Benar, Nyonya. Sangat mustahil sekali wanita angkuh seperti Nyonya Stevanie mau mengakui semua kesalahannya di depan orang lain, apalagi itu disiarkan secara langsung."
Bibir merahnya tersenyum manakala melihat putra kesayangan berteriak histeris melihat seekor anak kucing berjalan melewati mereka.
Wanita itu terkekeh. "Ya, awalnya aku juga ragu, dia akan membantuku di acara konferensi pers kemarin. Namun, rupanya dia menunjukan kesungguhan hatinya untuk berubah dan kembali ke jalan yang benar."
Gladys menarik napas sejenak, lalu menghembuskan secara perlahan. "Aku memang belum bisa melupakan semua kesalahan yang pernah diperbuat oleh mereka. Bibi pasti lebih tahu bagaimana perasaanku dulu. Namun, sebagai manusia, aku mencoba memaafkan meski butuh waktu lama mengobati luka yang pernah ditorehkan di dalam hati ini."
" tidak peduli dengan omongan orang lain yang mengatakan bodoh atau lainnya. Selama dia benar-benar tulus meminta maaf dan mau berubah, apa dayaku sebagai manusia biasa. Tuhan saja mau memaafkan, maka kita sebagai makhluk ciptaan-Nya harus ikhlas memaafkan juga, iya 'kan?"
__ADS_1
"Benar, Nyonya." Bi Mirna membantu Gladys mengangkat stroller si kecil melewati trotoar yang menghubungkan antara jalan raya dengan jalanan menuju taman.
"Kini aku yakin, tidak salah memberikan maaf pada Stevanie. Dia sudah berubah, Bi."
"Anda benar. Semoga Nyonya Stevanie segera menemukan kebahagiaannya."
Gladys dan Bi Mirna berjalan mengelilingi taman. Menyaksikan keseruan anak-anak kecil bermain bersama di area bermain khusus anak-anak.
"Mama..." seru Alpukat. Mata almond seperti miliknya jernih dan indah itu berbinar bahagia melihat anak seusianya bermain di taman.
"Iya, Sayang. Kamu mau main di sana?" Wanita itu berjongkok di depan stroller milik anaknya. Dia mengelus rambut hitam Alpukat. Gladys terharu, diusianya yang belum genap satu tahun, sang putra sudah menunjukan kepintarannya. Sudah mulai bisa berjalan serta mahir mengucap kata Mama, Papa, mimik, nggak dan kosa kata lain yang sudah dikuasai oleh bocah berumur sebelas bulan itu.
"Ayo, Mama temani kamu bermain." Gladys mengangkat tubuh bayi itu dari stroller, mengecup dahi Alpukat. Aroma khas bayi menguar dari sana.
Wanita itu menurunkan Alpukat. Menggandeng tangannya lalu berjalan menuju area bermain anak.
"Bayi Nyonya, pandai sekali. Berapa usianya?" tanya seorang wanita mengenakan sweater dan celana jeans. Dia berada persis di samping Gladys, memperhatikan penampilan wanita itu dan putranya, dari atas kepala hingga ke ujung kaki.
"Wanita ini mencurigakan sekali. Mengapa dia menatapku dengan tatapan aneh," batin Gladys. Namun dengan cepat dia menangkis perasaan itu. "Terima kasih, Nyonya, atas pujian Anda. Usia anak saya sebelas bulan."
"Sebelas bulan tapi sudah bisa berjalan. Sungguh perkembangan motorik putra Anda bagus. Pasti Mama dan Papanya juga pintar."
"Anda terlalu memuji." Gladys menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tak lama berselang, dering ponsel Gladys berbunyi. Dia melambaikan tangan ke arah Bi Mirna, memberikan isyarat agar wanita itu mendekat dan menggantikan menjaga Alpukat.
"Bi, tolong jaga Alpukat. Aku akan menerima telepon penting," ucap Gladys sebelum meninggalkan area bermain anak.
Gladys berjalan menjauh, mencari tempat sepi. Lalu menggeser layar ponsel dan melakukan panggilan.
__ADS_1
Bi Mirna bermain bersama Alpukat. Dia membantu bayi itu naik ayunan dan mendorongnya dengan pelan. Dari jarak yang cukup jauh, pria bertubuh kekar dan tegap berdiri mengarahkan pandangan ke arah mereka.
"Mimik..." ucap Alpukat.
"Tuan Muda, mau minum?" tanya Bi Mirna. "Ayo, kita kembali ke sana. Akan Bibi berikan minum." Wanita itu menggandeng Alpukat, melangkahkan kaki menuju kursi semula.
"Aduh... Sakit!" pekik seorang Kakek. Pria berambut keperakan itu terjatuh tepat di depan bodyguard yang sejak tadi memperhatikan Bi Mirna dan Alpukat bermain.
"Kek, Kakek kenapa?" tanyanya sedikit panik.
"Nak, tolong. Sepertinya kaki Kakek terkilir." Pria tua itu menyentuh kakinya. "Kakek ke sini bersama anak dan cucu. Mereka ada di sana, tapi kaki Kakek terkilir dan sulit berjalan. Bisakah kamu tolong antarkan ke sana?" Dia menunjuk beberapa pasang suami istri, bermain bersama anaknya di dekat lapangan basket.
Bodyguard itu berpikir sejenak. Dia dilema. Antara menolong orang lain atau tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang bodyguard. Disaat pria bertubuh tegap itu berperang dengan pikirannya, Kakek berambut keperakan itu berkata, "tolonglah, Nak. Jika tidak segera ke sana, Kakek takut mereka khawatir dan mencari ke sana ke mari.
"Baiklah, Kek, tapi hanya sebentar saja karena saya sedang bertugas saat ini."
"Iya, Nak, tidak masalah." Lalu Kakek itu dipapah oleh bodyguard berjalan mendekati lapangam basket.
Sementara itu, Bi Mirna sudah sampai di kursi, tempat Gladys meletakan stroller milik anaknya. Wanita itu memberikan botol berisi air putih lalu membantu Alpukat minum. Tiba-tiba saja, seorang wanita asing mendekat.
Bersambung
.
.
.
Maaf, baru sempat update. 🙏
__ADS_1