BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
BONUS CHAPTER 01


__ADS_3

"Tuan Joe sudah menunggu di ruang rapat," ujar Winda sekretaris Mark yang berdiri di hadapan pria itu seraya membawa beberapa berkas lalu meletakannya di atas meja kerja.


Pria berdarah campuran Indo-Amerika itu menghentikan sejenak kegiatannya. Mark melirik ke arah Winda. "Kenapa tidak kamu minta dia masuk ke dalam ruanganku? Kamu tahu pria menyebalkan itu adalah iparku. Bagaimana jika dia kesal lalu membawa kabur istri dan anakku?"


"Maaf. Tadi Anda sedang bertemu klien jadi saya tidak berani mengganggu dan malah meminta Tuan Joe menunggu di ruang rapat."


"Lain kali kamu langsung memberitahuku. Meskipun aku sedang bertemu klien penting tapi urusan keluarga lebih penting dari segalanya." Mark menyugar rambutnya menggunakan jari.


Winda menganggukan kepala. "Baik, Tuan. Lain kali saya akan langsung memberitahu Anda." Wanita itu menundukan wajah tanda dia menyesali perbuatannya karena sudah membiarkan Joe menunggu di ruang rapat.


"Sudah, lebih baik kamu minta OB buatkan minuman untuk Joe. Sebentar lagi aku menemui pria itu di ruang rapat."


Mark segera meraih jas kerja yang digantung di standing hanger, lalu dia berjalan ke luar ruangan. Setelah pintu lift terbuka, pria tampan nan rupawan itu menekan tombol satu, tempat di mana ruang rapat berada.


Perlahan, dia membuka pintu ruang rapat. Di sana sudah ada Joe duduk dengan gelisah menanti kedatangan Mark.


"Joe!" sapa Mark. Pria itu menarik salah satu kursi lalu duduk di samping iparnya.


"Aku sudah menunggumu hampir tiga puluh menit, Mark! Kamu pikir waktuku tidak berharga hah!"


Joe meneguk gelas berisi es sirup di atas meja dalam sekali teguk. Dia kesal karena harus menunggu lama sahabat sekaligus iparnya itu. Padahal beberapa hari lalu mereka sudah berjanji akan bertemu di jam yang sudah di sesuaikan, tapi nyatanya pria itu harus menunggu sendirian di ruangan sepi tak berpenghuni tanpa ditemani oleh siapa pun.


"Sorry, Joe. Aku benar-benar tidak tahu jika kamu sudah tiba di kantor." Mark mengusap tengkuk lehernya seraya tersenyum kaku.


"Jika aku tahu kamu bertemu klien penting, sudah kutinggalkan kantor ini dan lebih memilih pergi sendiri menemui orang tua Kirana di kampung."

__ADS_1


Mark menoleh ke arah Joe. Dia melihat kilatan emosi terpancar di kedua bola mata indah milik iparnya. Pria itu menghela napas panjang dan menghembuskan secara perlahan.


"Baiklah, aku mengaku salah. Tolong maafkan aku." Mark menangkup kedua tangan di depan, memasang wajah penuh penyesalan. "Kumohon, jangan bawa kabur anak dan istriku hanya karena hal sepele."


Joe tersenyum menahan tawa. "Kamu gila! Mana mungkin aku membawa kabur istri dan anakmu hanya karena masalah ini." Joe meninju bahu Mark hingga pria itu meringis kesakitan.


"Ayo!" Joe bangkit dari kursi. Dia dan Mark berjalan ke luar kantor menuju parkiran mobil.


Saat tiba di parkiran mobil, Joe melempar kunci ke arah Mark. Dengan refleks, pria itu menangkap benda logam tersebut.


"Itu imbalan karena kamu sudah membuatku menunggu."


Tanpa berkomentar apa-apa, Mark segera melaksanakan perintah Joe. Dia menyalakan mesin mobil, kemudian melajukan kendaraan roda empat tersebut ke sebuah tempat.


***


Cafe dengan konsep outdoor ini sengaja dipilih oleh Gladys. Wanita berusia 22 tahun itu sengaja memilih cafe tersebut karena jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah sakit, tempat Suster Kirana bekerja.


Siang itu, Gladys berjanji akan bertemu Suster Kirana untuk membahas kelanjutan hubungan antara wanita yang berprofesi sebagai perawat itu dengan Joe.


"Maaf, aku terlambat," ujar Suster Kirana seraya meletakan tas di kursi kosong di sampingnya. Gadis itu tersenyum ke arah Gladys yang tengah menyuapkan sepotong kue ke dalam mulut Alpukat.


Gladys begitu telaten mengurus putranya. Meskipun ada Bi Diah yang membantu mengurus si kecil tetapi wanita pemilik mata indah seperti almond tetap memberikan perhatian serta kasih sayang pada sang anak.


Ucapan Kirana menghentikan sejenak aktivitas Gladys. Wanita itu menatap gadis cantik di hadapannya. "Tidak masalah. Lagipula aku tidak terlalu lama menunggu."

__ADS_1


Tak berselang lama, seorang pelayan datang mengantarkan minuman dan beberapa cemilan lalu meletakannya di atas meja.


"Kakak tenang saja, suamiku pasti bisa meyakinkan orang tuamu," ucap Gladys seolah mengerti kegelisahan yang sedang menyelimuti hati Kirana.


"Namun aku tetap khawatir. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap orang tuaku, terlebih Ayah Tiriku. Dia akan mempersulit pria yang tengah dekat denganku." Gadis itu meraih gelas di hadapannya, kemudian meneguk es lemon tea.


"Benalu itu akan mencari beragam cara untuk mengeruk keuntungan atas hubungan yang tengah aku bina bersama Joe."


Gladys tersenyum dan melirik sejenak ke arah Kirana, lalu menyentuh tangan gadis itu yang berada di atas meja.


"Memangnya sebanyak apa harta yang akan dia minta sebagai mahar pernikahan? Kakak tahu kan, harta keluarga Kurniawan tidak akan habis hingga tujuh turunan."


"Aku tahu Gladys harta kalian berlimpah ruah tapi tetap saja yang sedang suamimu dan Kak Joe hadapi adalah pria gila harta. Dia akan menghalalkan segala macam cara untuk meraih yang diinginkan."


Suster Kirana menyenderkan punggung di sandaran kursi. Dia menghela napas panjang. Bahkan Gladys dan Bi Diah dapat mendengar dengusannya yang frustasi.


"Andai dulu aku tahu dia bukan pria yang pantas menjadi imam pengganti mendiang Ayah, sudah kuminta Ibu berpisah dengannya. Namun semua sudah terlambat karena Ibuku sangat mencintai suami barunya itu."


Jemari Suster Kirana saling meremas satu sama lain. Kepala gadis itu tertunduk, menahan butiran kristal agar tidak jatuh membasahi pipi. Dia merasa bersalah karena tak mampu berbuat banyak untuk melindungi Ibunya, padahal wanita setengah baya itu banyak berkorban demi kebahagiaan anak tercinta.


"Nasi sudah menjadi bubur. Jangan pernah kamu sesali apa yang sudah terjadi dalam hidup ini. Meskipun kalian selama bertahun-tahun hidup menderita tetapi yakinlah suatu saaf nanti benalu itu akan insyaf dan mau kembali ke jalan yang benar," jelas Gladys panjang lebar.


Air mata yang sejak tadi ditahan, kini jatuh sudah. Bertahun-tahun Suster Kirana meyakini dalam hati bahwa Ayah sambungnya itu suatu hari akan bertaubat tetapi kenyataannya pria itu tidak pernah berubah.


"Terkadang aku iri dengan kehidupan gadis di luaran sana. Mereka tampak bahagia karena memiliki keluarga utuh. Sedangkan aku harus hidup dibawah bayang-bayang pria jahat yang suka berjudi dan pemabuk berat seperti dia."

__ADS_1


"Jangan bersedih lagi, Kak. Sebentar lagi harapanmu akan terkabul. Kita akan menjadi satu keluarga dan kelak kebahagiaanmu akan bertambah karena Kak Joe akan dengan tulus memberika cinta dan kasih sayang untuk istri tercinta." Hibur Gladys.


__ADS_2