
Happy reading 🤗
Apartemen Royal Orchid
Di balkon sebuah apartemen mewah, seorang wanita paruh baya sedang duduk di sebuah kursi kayu yang sengaja diletakan di luar. Ia sedang menikmati secangkir teh hijau hangat sambil memperhatikan keramaian di bawah dengan tangan kanan menggenggam cangkir keramik.
Terlihat gedung pencakar langit berjejer di sana dengan beraneka ragam bentuk bangunan, ia menghirup aroma teh hijau dan merilekskan sejenak pikirannya.
Semenjak kembali ke Indonesia, baru kali ini wanita itu memulai kembali rutinitas yang dulu sering dilakukan sebelum insiden kebakaran terjadi. Dahulu kala hampir setiap pagi dan sore dia bersantai di taman belakang rumahnya sambil memperhatikan kedua buah hatinya bermain bersama hewan peliharaan.
"Selamat pagi Ma," sapa Joe sambil mengancingkan manik hitam di lengan kemeja.
"Selamat pagi, Sayang."
Joe mencium pipi Mama Aura dan bergabung dengan wanita itu menikmati kopi yang sudah dibuatkan oleh asisten rumah tangganya.
Sebelum Mama Aura kembali ke Indonesia, Joe pun sering duduk santai sambil menikmati kopi di balkon apartemen. Pria itu duduk seorang diri hingga jam dinding menunjukan pukul 7 pagi, setelah itu baru berangkat ke kantor. Ia menjalankan kebiasaannya selama 2 tahun tanpa ada kawan yang menemani.
"Bagaimana keadaan perusahaan sekarang?" tanya Mama Aura, ia kembali menyeruput teh hijau kesukaannya.
Joe mengernyitkan dahi dan menatap aneh wanita tersebut.
"Mama bertanya sebagai ahli waris pemegang saham, kamu lupa jika ada hak Nyonya Aura di sana," ucap Mama Aura dengan sikap sombong.
Joe kembali berekspresi aneh, ia memutar bola mata malas dan mendengus kesal.
"Nyonya Aura memang ahli waris akan tetapi, Joe Kurniawanlah yang harus membanting tulang mengurusi semua masalah di kantor."
Mama Aura tertawa sambil mengacak-acak rambut anak sulungnya.
"Itu sudah menjadi tanggung jawabmu sebagai seorang pria dan anak sulung Keluarga Kurniawan. Jadi, saat menikah kamu sudah terbiasa mencari nafkah untuk keluarga."
Joe merinding setiap kali Mama Aura menyinggung persoalan pernikahan, ia tahu persis ujung dari perbincangan ini pasti akan berakhir pada pertanyaan kapan membawa calon istri kehadapan wanita itu.
Bukannya Joe tidak pernah menyukai lawan jenis hanya saja untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat menjalin kasih apalagi berkomitmen dengan seorang wanita. Bagaimana mungkin ia bahagia sementara akar persoalan belum terpecahkan.
"Stop Ma, Joe sudah tahu isi pikiran Mama saat ini apa," ia beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruang makan.
"Baik, Mama tidak akan menanyakan hal sama lagi padamu," wanita itu berjalan dalam diam di belakang anaknya yang sudah lebih dulu berjalan menuju ruang makan.
"Nyonya, makanan sudah siap apakah mau dihidangkan sekarang?" tanya Bi Diah seorang ART di apartemen tersebut.
__ADS_1
"Boleh, tolong siapkan sekarang jangan biarkan anak kesayanganku mati kelaparan karena hanya dia sumber keuangan kita, Bi!" bisik Mama Aura pada Bi Diah sebelum wanita itu duduk di kursi.
Bi Diah hanya tersenyum dan segera melaksanakan perintah majikannya. Ia menata meja makan, meletakan piring, sendok dan garpu. Setelah semua pekerjaan selesai, wanita berusia 55 tahun-an itu kembali ke dapur mencuci peralatan masak yang kotor.
"Hari ini Mama sengaja meminta Bi Diah membuatkan nasi kuning kesukaanmu."
Joe melongo melihat perubahan sikap mamanya, semenjak bertemu Ameera hidup wanita itu menjadi lebih berwarna dan seulas senyum selalu menghiasi bibirnya.
"Oh iya Ma, kapan hasil tes DNA keluar?" tanya Joe sebelum menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Paling cepat siang dan lambat sore."
"Namun Mama akan ke rumah sakit siang sekalian membesuk Ameera."
"Joe siapkan supir untuk mengantar ya!"
"Boleh Nak, minta dia sudah berada di parkiran sebelum pukul 1 siang," pinta Mama Aura pada Joe.
"Siap Nyonya Bos," ia mengacungkan ibu jari ke udara.
Kemudian mereka melanjutkan sarapan hingga semua hidangan di atas meja tak tersisa.
Siang hari sesuai permintaan Mama Aura, seorang supir perusahaan yang diutus menjemput wanita itu sudah berada di parkiran apartemen yang terletak di depan gedung. Pria itu sudah menunggu nyonya besar keluarga Kurniawan selama kurang lebih 20 menit.
Tak berselang lama wanita yang ditunggu turun dan berjalan ke arah parkiran.
"Halo Pak, maaf membuatmu menunggu. Tadi saya harus menerima telpon dulu dari teman, maklum baru 3 hari sampai di Indonesia banyak orang meminta bertemu sambil ngerumpi," ucap Mama Aura panjang lebar.
"Tidak masalah Nyonya, saya bisa memakluminya," jawab supir itu ramah.
Perlahan-lahan mobil itu berjalan meninggalkan gedung apartemen. Mama Aura menghela napas dan memejamkan mata sebentar. Ia mengumpulkan keberanian sebelum menerima hasil tes DNA. Semua kemungkinan bisa saja terjadi sekarang yang harus dilakukannya adalah mempersiapkan diri menerima kenyataan pahit jika hasilnya berbanding terbalik dengan harapan.
"Nyonya sudah sampai!"
Teguran dari pria di depannya membawa kesadaran wanita itu kembali.
Mama Aura tidak sadar sudah berapa lama mobil yang ditumpanginya terparkir rapi di parkiran rumah sakit.
"Baik Pak, kamu bisa kembali ke kantor dan menjalankan tugasmu di sana. Saya bisa pulang naik taxi jika semua urusan selesai," ucap Mama Aura sebelum turun dari mobil.
Mama Aura menarik napas dalam dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit, ia menuju sebuah ruangan, menemui seorang pria. Saat sudah berada di depan pintu wanita itu berhenti sejenak tampak ragu tangannya mengetuk daun pintu dan suara bass mempersilakannya masuk.
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganmu? Mengapa wajahmu pucat sekali!" cecar Dokter Firman, pria itu menyentuh ujung dagu mantan kekasihnya, menggerakan ke kanan dan ke kiri bergantian.
"Dokter Firman, hentikan! Aku baik-baik saja." Mama Aura menepis tangan pria itu.
"Aku mengkhawatirkanmu, Ra. Apa itu salah," ucapn Dokter Firman lirih.
"Dokter, terima kasih sudah mengkhawatirkanku tapi sungguh, aku baik-baik saja."
"Tadi hanya sedikit gugup karena akan menerima hasil tes DNA milik Ameera," Mama Aura menjauhkan diri agar tak terlalu dekat dengan pria itu.
"Really?"
"Kamu coba tatap mataku, apakah ada setitik kebohongan di sana," ucap wanita itu.
Tanpa sadar Mama Aura sudah membangkitkan kembali memori indah saat Dokter Firman menjalin kasih dulu. Setiap kali ada keraguan dalam diri masing-masing salah satu dari mereka akan meminta menatap mata dan melihat adakah kebohongan di dalam sana.
Dokter Firman menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya, menyembunyikan raut wajah yang merona akibat malu dan ia memutuskan kembali ke kursi.
Aneh, mengapa aku seperti anak muda yang sedang jatuh cinta. Jantungku berdegup kencang setiap kali berada di dekat Aura. Padahal, kami sudah menjadi mantan seharusnya rasa itu sudah hilang kan!
"Dokter Firman, hasil tes DNA Ameera apakah sudah keluar?"
"Sudah, beberapa menit sebelum kamu datang seorang petugas laboratorium datang ke sini dan menyerahkan ini," Dokter Firman mengeluarkan amplop putih di bagian depan tertuliskan nama rumah sakit tempat ia berada saat ini.
"Bagaimana hasilnya?" Mama Aura beringsut dan mendudukan tubuhnya di kursi di hadapan Dokter Firman.
"Aku belum membukannya, sengaja menunggumu agar rasa penasaran di hatimu sirna."
"Bukalah!" titah Dokter Firman.
Akhirnya Mama Aura membuka amplop putih dan merobek ujungnya, ia mengeluarkan secarik kertas putih kemudian membacanya.
Bersambung
.
.
.
Kira-kira hasilnya apa nich? Hehe, tunggu jawabannya nanti sore ya Kak. Siang ini baru akan diketik soalnya author ngetik dadakan mirip tahu bulat biar fresh. 🤣 Bercanda guys. (^_^)
__ADS_1