BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
GALAU


__ADS_3

Joe mengernyitkan dahi, pria itu tidak mengerti mengapa Mamanya begitu mendadak menolak ajakanya padahal belum ada satu jam wanita itu meminta diantar ke sebuah mall tapi kini membatalkan secara sepihak.


"Maksud Nyonya, saya dan Tuan Joe..."


"Benar sekali, kalian berdua pergi bersama. Hari masih panjang, tidak usah terburu-buru untuk kembali ke rumah. Nikmati saja momen berdua sambil makan, nonton bioskop atau duduk di taman menatap indahnya langit di sore hari."


"Tubuh Mama benar-benar lelah Joe, kamu tidak kasihan pada wanita tua renta sepertiku!" tanya Mama Aura dengan wajah memelas.


Ya, kali ini wanita paruh baya itu berakting layaknya seorang bintang sinetron di hadapan semua orang berharap rencananya berhasil mendekatkan putra sulung dengan perawat pribadi keluarga Kurniawan.


Pria itu berpikir sejenak. Sejak tujuh hari belakangan, Mama Aura sibuk membantu mengurusi si kecil akibat luka operasi membuat ruang gerak Gladys terbatas. Mengharuskan wanita itu mengganti popok, memandikan dan membawa tubuh mungil itu berjemur di bawah sinar matahari saat pagi hari.


"Bagaimana Suster, kamu mau ya pergi bersama putraku? Tenang saja, ia tidak akan macam-macam. Kalaupun melakukan hal aneh, saya akan memaksanya menikahimu segera," ucap Mama Aura tanpa menyaring kembali perkataannya.


"Aih, Mama selalu berkata sembarangan." Kemudian ia menjentikan jari, "oke, aku akan pergi bersama Suster Kirana. Kalian catat saja yang ingin dibeli."


Dada gadis itu berdebar lembut. Sebentar lagi mereka akan berada dalam mobil yang sama dan berbagi udara yang sama.


"Kirana, sebaiknya memang kamu pergi menemani Kak Joe. Aku tidak yakin Kakakku ini memiliki penilaian bagus terhadap sebuah produk untuk ibu dan bayi baru lahir," Gladys menyentuh tangan gadis berseragam putih itu dengan lembut.


"Kamu sudah tahu 'kan barang apa saja yang kuinginkan."


Gadis itu hanya menganggukan kepala tanpa berani menatap wajah Gladys apalagi Mama Aura. Ia benar-benar malu bila harus pergi berdua dengan lawan jenis.


Meskipun sudah berkali-kali Suster Kirana menjalin kasih namun entah mengapa untuk kali ini timbul perasaan berbeda. Di mata gadis itu Joe merupakan sosok pria bertanggung jawab, menyayangi keluarga dan sangat menghormati perempuan mungkin ketiga alasan itulah yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Suster, mari ikut denganku."

__ADS_1


Suster Kirana mengangguk tapi tubuhnya belum juga beranjak dari tempatnya. Berdiri tegak seperti Patung Pancoran yang terdapat di kawasan Jakarta Selatan.


"Hei ayo, mengapa kamu masih berdiri di situ!" ucap Joe sedikit tak sabaran.


"Joe, jangan pulang malam tapi sekalian saja besok pagi baru kamu kembali ke rumah. Nikmatilah waktu kebersamaan kalian berdua tanpa gangguan dari siapapun," Mama Aura terkekeh.


"I can't hear your voice, Mom!" pria itu melambaikan tangan ke udara sambil berjalan menuju lift.


"Kamu, selama bekerja menjadi perawat pribadi Gladys tidak boleh dengarkan kata-kata yang diucapkan oleh Mama. Beliau memang hobi menggodaku sejak kecil jadi jangan anggap serius semua perkataannya," seru Joe sambil menyalakan mesin mobil.


"Baik Tuan, saya akan selalu ingat perkataan Anda."


Joe mengemudikan mobil, melaju di antara pohon-pohon kelapa yang tumbuh di samping kanan dan kiri bahu jalan.


Udara segar pesisi pantai berhembus lembut, menggoyangkan pohon kelapa seolah menari mengikuti terpaan angin. Langit cerah, cuaca hangat dan ditemani seorang gadis cantik melengkapi kebahagiaan pria jomblo seperti Joe Kurniawan.


Andai saja kita sudah resmi menjalin kasih, mungkin saat ini sudah kutarik dirimu dalam dekapan. Mencium bibir ranum itu hingga membuat kita sama-sama kehabisan oksigen.


***


"Ma, aku sudah bicara dengan Suster Kirana dan ia setuju bila kita menjodohkannya dengan Kak Joe. Namun, ada satu masalah yang mungkin akan menjadi bahan pertimbangan Mama dan Kak Joe."


Gladys membawa tubuh Baby Andra mendekati sumber pabrik susu yang saat ini menjadi tempat favorit baginya untuk melepas dahaga.


"Masalah apa, Sayang?" Mama Aura beringsut mendekati ranjang, tempat di mana putrinya duduk sambil menyusui Baby Andra.


"Kirana adalah gadis yatim. Sejak usia lima tahun Ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan. Menginjak usia sepuluh tahun, Ibunya menikah lagi. Selama tiga belas tahun, tidak sedikit pun kebahagiaan menyelimuti keluarga mereka. Papa tirinya selalu menghabiskan uang di meja judi dan kini Suster Kirana sedang berjuang mencari uang untuk membayar hutang pria brengsek itu!"

__ADS_1


Sorot mata wanita muda itu memancarkan percikan api kemarahan, luapan kekesalan, kekecewaan terhadap seorang pria membuatnya menyimpan dendam pada kaum Adam yang dengan tega memberikan penderitaan dan kesengsaraan bagi istri dan anaknya.


"Oh, jadi begitu rupanya," wanita itu meraih buah jeruk yang ada di atas nakas samping ranjang.


"Sejujurnya, Mama sih tidak keberatan dengan latar belakang keluarga gadis itu. Mau dia kaya, miskin, penjudi, bandar judi, atau mantan narapidana sekali pun tangan ini selalu terbuka lebar menerimanya."


"Mama belajar dari kesalahan orang tuanya Donny. Setelah mereka tahu kamu hamil anak di luar nikah dengan tidak berperasaan memintamu menjauhi anak muda itu."


"Oleh sebab itu, Mama tidak mau gadis lain merasakan perasaan yang sama sepertimu dulu. Setiap orang memiliki masa lalu, bila orang itu mau berubah, mengapa tidak kita berikan kesempatan sekali lagi. Siapa tahu kali ini dia benar-benar serius dan bertaubat," Mama Aura mulai memasukan buah berwarna orange itu ke dalam mulut.


Ah, kenapa tiba-tiba aku jadi teringat anak tidak tahu diri itu. Bukankah ia juga melakukan sebuah kesalahan hingga membuat aku dan Joe mengambil jalan terakhir untuk memisahkan putriku dengannya!


Selama ini diam-diam aku selalu memantau situasi mereka dan kabar terakhir yang kudengar baik Tuan Ibrahim, Mark dan Stevanie sudah menerima balasan atas semua kejahatan yang diperbuat di masa lalu.


Bahkan kini Mark sudah menggugat cerai Stevanie, itu artinya sebentar lagi wanita berhati iblis itu tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan keluarga Pieter dan Mark akan menjadi duda tapi tidak keren karena ia sudah pernah melukai hati putriku.


Ehm, sebaiknya aku segera diskusikan masalah ini dengan Joe. Aku ingin meminta pendapatnya.


Jujur saja, hatiku teriris bila melihat Alpukat harus tumbuh dewasa tanpa kehadiran seorang Papa. Meskipun nanti Joe dan Pak Reza memberikan kasih sayang padanya tapi tetap saja tidak akan sama.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2