BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
KEJUTAN KECIL UNTUK ISTRI TERCINTA


__ADS_3

Halo semua pembaca setiaku, mohon maaf, author baru sempat update lagi. Dikarenakan kondisi tubuh tidak sehat akibat demam dan alhamdulillah hari ini sudah mulai membaik. Oke deh, mari kita lanjut...


Happy reading🍃


Gladys mengerjapkan mata tatkala sinar mentari pagi mengenai kelopak matanya yang masih terpejam. Dia mengedarkan pandangan ke ruang kosong di samping ranjang. Di sana, dia tidak menemukan sosok pria tampan yang amat dicintainya. Wanita berdaster ala emak-emak zaman kekinian itu duduk di sandaran ranjang.


"Tumben sekali Kak Mark jam segini sudah berangkat kerja. Biasanya dia akan membangunkanku jika hendak pergi," gumamnya seraya melirik jam weker merah muda yang berada di atas nakas. Berbentuk kucing, salah satu tokoh kartun kesukaan Gladys sejak dia masih kecil.


Wanita itu menyingkap selimut, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Baru empat langkah kaki jenjang itu meninggalkan tempat pembaringan, sepucuk surat tergeletak di atas meja rias. Dengan perlahan, dia mengulurkan tangan ke depan, meraih kertas putih tersebut.


Dear, Istriku tercinta


Maaf, aku berangkat kerja tanpa membangunkanmu seperti biasa. Sebenarnya, aku ingin membangunkanmu tapi melihat betapa nyenyaknya dirimu bergelung dalam selimut hangat, membuatku mengurungkan niatan itu dan lebih memilih berangkat kerja tanpa harus mengganggu mimpi indahmu.


Semoga kamu tidak marah karena aku berangkat tanpa memberikan ciuman selamat pagi untukmu. Meski begitu, cintaku padamu akan tetap sama, abadi dan kekal selamanya.


Peluk dan cium dari Suamimu tercinta, Papa Alpukat.


Kedua sudut bibir wanita itu tertarik ke atas. Sebuah senyuman tipis terukir di bibir mungil milik Gladys. Dia tersentuh oleh kalimat demi kalimat yang ditulis oleh suaminya.


Meski awalnya Gladys merasa kesal akibat Mark berangkat kerja tanpa memberikan kecupan selamat pagi, tapi hati wanita itu seketika berbunga-bunda serta merasa jutaan bahkan ribuan kupu-kupu tengah terbang mengelilingi tubuhnya.


"Kamu selalu bisa membuatku merasa bahagia, Kak. Meskipun hari ini aku terbangun tanpa melihat wajah tampanmu di sisiku, tapi dengan adanya surat ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rinduku padamu." Wanita itu mencium kerta tersebut dengan penuh cinta, lalu melipatnya kemudian meletakan kertas putih itu ke dalam laci meja rias.


Dengan hati yang dipenuhi bunga-bunga, Gladys berjalan ke sebuah ruangan yang berada tepat di samping kamarnya. Dia meraih gagang pintu kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Saat wanita itu berjalan melewati cermin westafel, lagi-lagi wanita itu tercengang akan pemandangan langka di depan mata.


Gladys tertegun sejenak, ketika netranya melihat sebuah memo ditempel di cermin tersebut.


Sweeatheart, siang nanti akan ada Naomi yang menjemputmu di rumah. Aku ingin menghabiskan malam berdua denganmu. Urusan Alpukat, kamu tenang saja. Akan ada Ayah, Bunda, Mama dan pria menyebalkan seperti Joe yang bersedia mengawasi buah cinta kita. Bersiaplah, dan gunakan waktu sebaik mungkin untuk mempercantik diri agar kamu semakin mempesona saat kita bertemu nanti malam!

__ADS_1


Singkat tapi sangat berkesan. Membuat wajah Gladys bersemu merah seperti buah tomat yang baru saja dipetik dari perkebunan.


"Aku tak sabar menanti hingga malam hari tiba," gumam Gladys seraya meraih sikat gigi serta menuangkan pasta gigi di atas bulu halus berwarna putih tersebut.


Tiga puluh menit berlalu, Gladys baru saja selesai mengeringkan rambut ketika seorang pelayan mengantarkan nampan berisi hidangan sarapan khusus untuk Ratu di rumah tersebut.


"Nyonya, Tuan Mark secara khusus meminta Bu Gendis memasakan sarapan ini untuk Anda," ujar salah satu pelayan yang ditugaskan oleh kepala pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar utama.


"Ya. Tolong kamu letakan nampan itu di atas nakas!" titah Gladys.


"Baik, Nyonya." Pelayan wanita itu meletakan nampan tersebut di atas meja. Setelah melaksanakan semua perintah sang majikan, dia undur diri. Lalu keluar kamar dan menutup kembali pintu kamar tersebut.


Satu buah telur mata sapi, rebusan brokoli, beberapa potong udang segar goreng, dua buah sosis goreng serta satu gelas rasa vanila hangat terhidang di atas meja. Wanita itu tersenyum, ketika melihat setangkai mawar merah tergeletak di samping piring.


Gladys meraih bunga mawar itu. Matanya terpejam, menghirup aroma harum bunga mawar yang merupakan simbol keromantisan serta keinginan kuat menjaga pasangannya.


Wanita itu menghabiskan semua hidangan yang ada di dalam piring tanpa tersisa sedikit pun.


***


PT Indah Sentosa


Pintu ruangan diketuk, refleks Mark menghentikan sejenak aktivitasnya. Seorang pria muda, tampan dan gagah masih setia menunggu sang empunya ruangan memberikan izin padanya untuk masuk ke dalam ruangan CEO.


"Masuk!" seru Mark.


Dengan langkah penuh percaya diri, Barra melangkah masuk ke dalam ruangan. Pria muda itu menyerahkan iPad yang biasa digunakan untuk menyusun agenda kerja, serta mengerjakan beberapa pekerjaan yang diperintahkan oleh Mark untuknya.


"Ini beberapa hotel yang menurut saya sangat cocok untuk digunakan oleh Anda dan Nyonya Gladys nanti malam. Saya sudah bertanya pada pihak hotel dan mereka bersedia membantu mendekor ruangan khusus untuk kalian berdua."

__ADS_1


Mark menganggukan kepala, seraya tangannya menggeser layar iPad. Pria itu begitu fokus menatap benda pipih berukuran 12.9 inchi tersebut tanpa memperhatikan lingkungan sekitar.


"Bagaimana Tuan, apakah semua hotel yang saya tunjukan tidak sesuai selera Anda?" tanya Barra setelah menunggu hampir lima menit. Namun, pria berdarah campuran itu tidak memberikan respon sama sekali.


Pria bermata biru itu menggelengkan kepala, menyodorkan iPad yang sejak tadi berada dalam kuasanya. "Semua hotel yang kamu tunjukan memiliki reputasi bagus. Namun, aku lebih tertarik pada slide foto ketiga. Tolong kamu buat reservasi untuk malam ini!"


"Dan jangan lupa, minta pihak hotel mendekor ruangan khusus itu dengan sempurna. Jangan sampai ada yang terlewatkan! Aku ingin, malam ini menjadi malam yang sangat bersejarah bagi kami berdua."


Barra tersenyum seraya meraih benda itu kemudian mendekapnya dengan erat bagaikan sebuah benda berharga puluhan milyar.


Bagaimana mungkin tidak berharga. Di dalam benda tersebut tersimpan konsep, desain serta dekorasi yang ingin digunakan oleh pegawai hotel untuk mewujudkan rencana makan malam romantis bagi dua insan yang hampir saja kehilangan buah cinta mereka. Untuk itulah Barra menjaga baik-baik benda itu bahkan dia lebih berharga dari apa pun di dunia ini.


"Baik, Tuan. Akan saya pastikan, malam ini akan menjadi malam paling bersejarah bagi Anda dan Nyonya Gladys."


Mark tersenyum, pria itu bangkit dari kursi. Lalu melangkah menghampiri asistennya yang berdiri di depan meja kerja. Dia menepuk pundak Barra, sembari berkata, "aku selalu percaya bahwa kamu akan melakukan semua pekerjaan dengan baik. Minta Naomi mengantarkan istriku ke butik lalu ke salon. Berikan perawatan full body untuk istriku tercinta. Jika malam ini berhasil, aku akan memberikan kamu, kekasihmu dan Winda bonus. Sebagai ucapan terima kasih karena kalian sudah membantuku memberika kejutan untuk Gladys."


Barra memutar bola matanya dengan malas. Dia bosan setiap hari harus menjelaskan pada Mark bahwa diantara dirinya dengan Naomi tidak ada hubungan apa-apa. Meski di dalam lubuk hati yang terdalam, percikan api itu muncul tapi pria itu enggan mengutaraka isi hati. Sebab dia tidak ingin merusak hubungan pertemanan yang sudah dibangun sejak dulu kala.


"Tuan, Naomi bukan kekasih saya. Kami hanya berteman!" ucap Barra.


"Cepat atau lambat, status gadis itu akan berubah menjadi kekasihmu!"


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2