
"Dasar bodoh!" ujar Mr. Lee seraya mengulurkan tangan lalu memeluk tubuh sintal kekasihnya. "Kamu benar-benar gila, Vanie!" bentaknya tanpa melepaskan pelukan. Kini mereka berdua terduduk di tanah.
"Ya, aku memang gila karena tidak tahu harus dengan cara apa lagi meyakinkanmu bahwa hati ini sudah kamu miliki," ucap Stevanie dengan kedua tangan memukul dada bidang Mr. Lee.
"Hanya cara ini yang terlintas dalam benakku untuk menghentikan kegilaan ini. Meskipun aku harus mati di hadapanmu, tapi aku rela asalkan kamu tahu betapa tulusnya cintaku padamu."
"Semua yang dikatakan Stevanie benar adanya, Mister Lee. Dia hanya mencintaimu seorang. Akulah saksi bagaimana sakitnya hati wanita baik dalam pelukanmu, saat kalian bertengkar."
Suara lembut di seberang sana menghentikan sejenak aktivitas peluk memeluk yang dilakukan oleh sepasang kekasih beda negara, adat dan budaya tapi disatukan dalam sebuah ikatan cinta. Semua orang menoleh ke sumber suara, para pengawal sudah bersiaga dengan senjata api di tangan dan siap menarik pelatuk ke arah wanita itu.
"Buang kembali senjata kalian!" titahnya pada para pengawal.
"Sweetheart," ucap Mark lirih seraya mendongakan kepala ke atas. Wanita di seberang sana tersenyum manis ke arahnya.
"Kamu ingat, saat kalian bertengkar. Itulah hari pertama aku bertemu kembali dengan mantan istri dari suamiku. Dia menangis ketika menceritakan awal mula pertengkaran yang terjadi diantara kalian."
"Rasa sakit yang dia rasakan, aku bisa merasakannya. Ketika menceritakan kebaikan, perhatian dan kasih sayang yang tulus diberikan olehmu, aku tahu saat itu juga, Stevanie sudah mencintaimu," tutur Gladys menceritakan awal mula pertemuan pertama setelah hampir satu tahun tidak bertemu.
Mr. Lee terdiam sejenak, dia menjauhkan tubuh Stevanie. Kemudian memandangi wajah cantik sang kekasih dengan intens. "Apakah yang diucapkan oleh Ameera benar?" tanyanya dengan mata berbinar.
Stevanie mengangguk. Detik berikutnya dia membenamkan wajah kembali di dada bidang Mr. Lee. "Sudah kukatakan, aku mencintaimu tapi kamu tidak percaya!"
Pria itu terkekeh, seraya mengusut air mata yang membasahi pipi Stevanie. "Maafkan aku karena pernah meragukan cintamu. Kedepannya, kejadian ini tak kan terulang lagi."
Percakapan mereka terhenti saat sebuah suara baritone seorang pria menggema menyadarkan Mr. Lee dan Stevanie yang sedang mencurahkan isi hati masing-masing.
__ADS_1
"Hei! Sampai kapan kalian akan berpelukan?" tanya Mark dengan wajah menahan amarah karena sejak tadi harus jadi penonton, menyaksikan keromantisan sepasang kekasih yang baru saja berbaikan.
"Menggangu saja!" teriak Stevanie dengan mengerucutkan bibir ke depan.
Mr. Lee menjentikan jemarinya, lalu para pengawal melepaskan ikatan yang membelit tangan Mark dan membawa Alpukat kepada orang tuanya.
Pria itu berjalan menghampiri Mark dan Gladys dengan menggandeng tangan Stevanie. Dia menatap sepasang suami istri itu secara bergantian. "Mark dan Ameera, tolong maafkan aku karena sudah berencana memisahkan kalian dengan anak tercinta. Sungguh, saat itu aku kalut hingga tak dapat berpikir dengan logis."
Terdengar suara hembusan napas kasar. Mark menarik napas dalam seraya berkata, "ya, cinta memang membuat orang jadi gila serta gelap mata. Untung saja kekasihmu datang tepat waktu dan menghentikan kegilaanmu itu. Jika tidak, aku bersumpah, sampai kapanpun akan mencarimu sampai ke ujung dunia. Bahkan, aku akan membunuh semua keturunanmu tanpa tersisa!"
"Kak..." Gladys mendelik ke arah suaminya seraya menyenggol lengan Mark.
"Tidak apa-apa, biarkan suamimu mengutarakan isi hatinya padaku," cegah Mr. Lee. Kemudian dia berkata, "aku terima semua makian yang terucap dari mulutmu, Mark. Dan aku juga akan berlapang dada, jika kamu melaporkan kasus penculikan ini pada pihak kepolisian."
Stevanie melirik Mr. Lee, lalu dia menggelengkan kepala. Dadanya terasa sesak bila membayangkan akan berpisah dengan kekasih pujaan hati. Baru saja mereka berbaikan tapi kini kebahagiaan itu akan kembali lenyap.
"Sst... Tidak masalah. Aku rela masuk penjara untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahanku. Kuharap, kamu bersedia menunggu tapi jika suatu saat nanti menemukan pria yang lebih baik, pergilah dan kejar kebahagiaanmu!"
Mr. Lee mengusap sudut mata Stevanie dengan jari. "Wanita cantik sepertimu tidak pantas hidup bersama mantan narapidana."
"Jangan katakan itu. Aku bersedia menunggumu sampai kapanmu. Meskipun rambutku memutih dan kulitku keriput, aku akan setia menanti kebebasanmu."
Gladys terharu menyaksikan pemandangan langka di hadapannya. Dia merasa saat ini sedang menonton sebuah drama genre romantis tapi secara live. Tanpa sadar, sebuah butiran kristal mengambang di sudut mata. "Kami tidak akan melaporkanmu pada pihak yang berwajib. Asalkan kamu berjanji akan berubah dan tulus mencintai Kakak angkatku, itu sudah lebih dari cukup."
"Kamu serius?" tanya Stevanie dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Tentu saja. Insiden ini tidak menyebabkan korban. Nyawa anakku pun baik-baik saja. Ya, walaupun wajah suamiku sedikit lebam akibat tinjuan dari Mr. Lee, tapi akan sembuh dalam waktu beberapa hari kedepan."
Stevanie memeluk tubuh Gladys. "Terima kasih, Gladys. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas semua kebaikanmu pada kami."
"Cukup tunjukan padaku ketulusan cinta kalian dan kesungguhan hati untuk berubah menjadi insan yang lebih baik. Agar aku tidak sia-sia memberikan kepercayaan padamu dan Mr. Lee." Wanita itu mengusap punggung Stevanie.
"Kak, kamu setuju 'kan dengan keputusanku?" tanya Gladys sedikit merajuk. Dia bergelayut manja di lengan suaminya. Sementara tangan yang lain masih menggendong Alpukat yang tengah berceloteh sendiri.
Pria blasteran dengan wajah tampan nan rupawan itu menghela napas kasar. Lihatlah, sikap Gladys begitu menggemaskan. Apalagi jika wanita cantik itu sudah bergelayut manja serta berbicara dengan nada sensual, yang bisa dilakukan oleh Mark hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan sang istri.
"Apapun yang kamu ucapkan, aku akan menurutinya," ujar Mark. Lalu, pria itu melipat tangan ke dada. "Kulakukan ini semua demi Gladys dan sebagai ucapan terima kasih padamu, Vanie, karena sudah membantuku."
"Terima kasih, Mark," ucap Stevanie dan Mr. Lee hampir bersamaan.
"Aku berharap, semoga kamu benar-benar tulus mencintai Stevani. Meskipun dia tidak bisa menjadi wanita seutuhnya tapi tolong cintai dan sayangi dia." Mark menepuk pundak Mr. Lee.
Mr. Lee mengangguk. "Tentu saja, Mark. Aku akan tetap mencintai dia. Urusan anak, kami bisa mengadopsinya dari panti asuhan."
"Baguslah, aku percaya dengan semua perkataanmu. Tanggung jawab untuk melindungi dan mencintai Stevanie, kuserahkan padamu!" ucap Mark seraya menepuk pundak pria itu.
"Nikahi dia secepatnya. Jangan sampai ada pria lain menggantikan posisimu dihatinya," bisik Mark sebelum meninggalkan gedung.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.